Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 ~ Mulai Lelah
Terkadang semua anak hanya ingin di akui, di berikan perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya di cukupi uang saja. Jika Ibu kandungnya saja memilih pergi dan meninggalkan Raina bersama Papa, maka Raina hanya bisa berharap jika dirinya bisa mendapatkan sedikit saja pengakuan dari Mama dan Papa. Namun, semua yang pernah dia lakukan, sama sekali tidak pernah terlihat dan dihargai oleh mereka.
Raina menatap Mama yang sedang tertidur setelah diberikan obat oleh Dokter. Meski sempat menolak, tapi Raina terus membujuknya untuk mau di suapi olehnya. Raina hanya ingin berbakti pada sosok yang membesarkannya, meski tanpa kasih sayang. Tapi, Mama tetap adalah orang yang membesarkannya.
''Aku pergi dulu Ma, nanti kesini lagi"
Raina pulang ke rumah, langsung menuju ke kamar untuk melihat keadaan Marvin. Ternyata suaminya sedang duduk di tempat tidur dengan sebuah tab masih di tangannya.
"Pergi kemana kau?" tanya Marvin, suaranya terlalu dingin. Tatapannya tidak beralih dari layar.
Raina berjalan mendekat padanya, berdiri di dekat tempat tidur. Melihat wajah dingin Marvin, membuatnya takut. Terakhir kali wajah yang seperti ini yang menyiksa fisiknya hingga trauma itu tidak bisa hilang.
"Em, a-aku menjenguk Mama di rumah sakit. Dia sedang sakit"
Barulah Marvin menoleh pada Raina, wajahnya masih begitu dingin. Seperti ada amarah yang tersembunyi. "Kenapa kau tidak bilang padaku?"
Raina melipat bibirnya, wajahnya penuh cemas dan ragu untuk menjawab ucapan Marvin barusan. "Em, aku ... aku hanya merasa ini urusanku, dan kamu tidak perlu tahu, Kak"
Sadarlah, Marvin sendiri yang bilang jika dia tidak pernah ingin tahu tentang kehidupan dan urusan Raina. Karena dimatanya dia hanya seorang perempuan pembawa sial yang membuat kekasihnya meninggal. Lalu sekarang, kenapa dia ingin tahu kemana Raina pergi. Bukankah, dia membencinya.
"Kita baru merencanakan perceraian, dan kau belum resmi menjadi mantan istriku. Jadi, jangan banyak bertingkah"
"Ya, aku minta maaf"
Raina pergi mendekat pada Marvin, duduk di pinggir tempat tidur. Mengingat hari ini adalah jadwal Dokter untuk memeriksa keadaan kakinya.
"Apa Dokternya sudah datang Kak? Bagaimana hasilnya?"
"Masih harus pakai gifs, belum bisa berjalan tanpa tongkat karena tulang retak belum sepenuhnya pulih"
Raina mengangguk pelan, dia menatap kaki Marvin yang memang masih terpasang gifs.
"Besok pengacara akan datang, kau bisa berbicara dulu, kau bisa meminta apa yang kau butuhkan. Uang, rumah, mobil, atau apapun itu sebagai kompensasi pernikahan ini"
Mata Raina terlihat sayu, sendu meski tidak mengeluarkan air mata. Dadanya cukup sesak mendengar penjelasan Marvin yang sudah pasti ingin menceraikannya. Menggigit bibirnya sendiri, seolah tidak rela jika sebentar lagi semua ini akan berakhir.
"Iya Kak"
Raina berlalu ke ruang ganti untuk mandi dan berendam. Menenangkan diri dan pikirannya. Mungkin perceraian memang yang terbaik untuk mereka, tapi entah kenapa hati seolah tidak pernah rela untuk itu.
"Sadarlah Raina, pernikahan ini memang tidak akan pernah berhasil. Apalagi yang kamu harapkan?"
Raina mengambil ponsel dekat bak mandi, membukanya dan mulai mencari tempat tinggal untuknya nanti, bahkan dia harus mempersiapkan dari sekarang. Karena Raina tidak punya tempat pulang. Orang tuanya pun tidak akan lagi menerimanya.
"Aku harus mempersiapkan semuanya sebelum pergi dari sini"
Saat masih terus mencari informasi tentang beberapa kontrakan. Ponselnya berdering karena panggilan masuk, Raina cukup menghela napas pelan melihat nama yang tertera di layar.
"Hallo Kak Haris"
"Rain, maaf mengganggu kamu. Tapi aku ada kabar yang harus di sampaikan sama kamu. Bagaimana jika lakukan operasi mata, kita bisa cari donor matanya. Kamu sudah tidak periksa lagi sejak terakhir kali"
Raina tersenyum tipis, mungkin diantara semua orang ada Dokter Haris yang begitu perhatian padanya. Mungkin karena dulu dia pernah jadi senior Raina saat kuliah, dan sekarang tiba-tiba bertemu lagi saat dia sudah menjadi Dokter terkenal dan menangani Raina.
"Tidak untuk saat ini Kak, aku sedang mencari tempat tinggal dulu"
"Tempat tinggal? Maksud kamu apa? Bukannya kamu tinggal di rumah Tuan Marvin?"
Raina tersenyum tipis, tanpa sadar air mata mengalir tanpa bisa di cegah. Bahkan Raina sudah tidak bisa menahannya lagi, ketika membayangkan takdirnya setelah dia bercerai dengan Marvin nanti.
"Kami akan berpisah Kak" lirih Raina, sebenarnya merasa malu, karena pernikahan yang masih terlalu singkat.
"Hah? Bagaimana bisa? Kalian baru menikah, kenapa bisa tiba-tiba kalian akan berpisah?"
Akhirnya Raina terisak, tidak bisa menahan lagi semua beban yang ada dalam pikirannya. Rasanya sudah terlalu lelah untuk memendam semuanya sendirian. Raina tidak bisa lagi terus kuat, di tengah terpaan badai yang terlalu hebat pada tubuh rapuh ini.
"Pernikahan ini tidak pernah di inginkan siapapun. Aku hanya pengganti, dan sekarang aku harus mengakhiri semuanya Kak"
"Ya ampun Rain, kenapa bisa seperti ini? Lalu kamu akan pergi kemana? Dan kenapa harus mencari tempat tinggal, kau bisa kembali ke rumah orang tuamu"
Isak tangisnya malah semakin kencang, dada yang sesak, bahkan semuanya terlalu menekan hidupnya yang sudah hampir menyerah.
"Tidak bisa Kak, aku harus pergi meninggalkan kota"
"Rain, datanglah ke rumahku. Biar aku bantu kamu memikirkan semuanya. Istriku juga sudah mengizinkan kamu datang, dia juga ingin tahu semuanya. Istriku juga akan bisa membantumu"
Raina semakin terisak, mungkin Haris di kirim Tuhan untuk memberikan bantuan padanya. Dalam kesendirian yang dipenuhi rasa bingung, Raina akhirnya menemukan seseorang yang ingin mendengarkan keluh kesahnya dan kebingungannya ini.
"Terima kasih Kak, terima kasih untuk semuanya"
Suara keras ketukan di pintu kamar mandi membuat Raina langsung mematikan sambungan telepon.
"Kenapa kau selalu lama berada di dalam kamar mandi? Buka!"
Suara bariton itu terdengar di balik pintu kamar mandi. Raina memang sudah terlalu lama di dalam kamar mandi, bahkan air di dalam bak sudah berubah dingin tanpa dia sadari. Segera Raina keluar dari bak mandi dan membersihkan tubuhnya di shower.
Marvin menunggunya, namun terlalu lama Raina berada di dalam kamar mandi, sehingga dia menyusulnya. Entah kenapa sekarang selalu lebih cepat cemas hanya karena hal seperti ini.
"Iya Kak, aku keenakan berendam tadi" Raina sudah membuka pintu, menggunakan baju handuknya.
"Sudah ku bilang aku tidak mau sampai kau mati di rumahku"
"Tenang saja Kak, aku tidak akan mati disini"
Bersambung
👍
pergi dari rumah Marvin,,