Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 10: ALIANSI YANG TAK TERDUGA
Vanya berdiri di tengah rumah kontrakan kami yang sempit.
Lampunya redup. Cuma lima watt. Cahayanya kuning kusam. Vanya keliatan pucat di bawah cahaya itu. Basah kuyup. Bajunya nempel di badan. Rambutnya netes-netes air.
Ibu langsung ambil handuk lusuh dari jemuran. "Nak, keringkan dulu badanmu. Nanti sakit."
Vanya terima handuk itu. Tangannya gemetar. "Terima kasih, Tante."
Aku masih berdiri di depan dia. Jantung berdetak cepat. Amplop cokelat tebal di tangan Vanya itu... apa isinya?
"Vanya... apa maksudmu kamu punya bukti?"
Vanya liat aku. Matanya merah. Kayak abis nangis lama. "Sat... aku... aku tau semuanya. Aku tau kenapa kamu gak lolos. Aku tau kenapa nama-nama yang lolos itu semua anak orang kaya. Karena... karena mereka bayar."
"Bayar?"
Vanya ngangguk. Dia lap mukanya pake handuk. Terus dia duduk di lantai. Gak ada kursi di rumah kami. Cuma kasur ayah sama lantai semen dingin.
Aku duduk di sebelahnya. Ibu juga duduk. Ayah dari kasur natap kami dengan tatapan penuh tanya.
Vanya buka amplop cokelat itu. Dia keluarin beberapa lembar foto. Foto yang dicetak di kertas biasa. Agak buram. Tapi keliatan jelas.
Dia serahin foto pertama ke aku.
Aku liat.
Foto itu... foto Pak Bambang dan Pak Julian. Mereka berdiri di sebuah ruangan. Kayak ruang kantor. Di depan mereka ada seorang laki-laki pake jas mahal. Laki-laki itu lagi serahin amplop cokelat tebal ke tangan Pak Bambang. Pak Julian di sebelahnya senyum-senyum.
"Ini... ini foto apa?"
Vanya ambil napas dalam. "Itu foto ayahnya Bagas. Dia lagi kasih uang suap ke Pak Bambang sama Pak Julian. Aku... aku yang foto."
Aku liat Vanya. "Kamu yang foto? Kapan?"
"Seminggu sebelum ujian seleksi. Waktu itu aku masih... masih kaya. Ayahku masih punya perusahaan. Ayahnya Bagas dateng ke kantor ayahku buat ngobrol soal bisnis. Terus mereka ngobrol juga soal beasiswa kedokteran. Aku... aku kebetulan lewat. Aku denger pembicaraan mereka."
Vanya keluarin foto kedua. Foto yang sama. Tapi angle berbeda. Kali ini keliatan jelas muka ayahnya Bagas lagi ngasih amplop ke Pak Bambang.
"Mereka bilang... mereka bilang beasiswa itu bisa dibeli. Lima ratus juta per kursi. Ayahnya Bagas bayar lima ratus juta buat Bagas. Terus dia juga bayar buat anak-anak temennya. Total dia bayar dua setengah miliar. Buat lima kursi beasiswa."
Aku beku.
Lima ratus juta per kursi.
Dua setengah miliar.
Uang segitu... uang segitu bisa buat hidup keluarga aku puluhan tahun. Tapi mereka pakai cuma buat beli beasiswa yang seharusnya gratis.
Ibu tutup mulut. Matanya berkaca-kaca. "Astaga... mereka... mereka jual beasiswa yang buat anak miskin? Mereka... mereka benar-benar tidak punya hati..."
Ayah dari kasur juga nangis. "Satria... Satria berjuang keras... Satria kerja sampe tangannya luka... tapi mereka... mereka curi hakmu dengan uang haram... Ya Allah... Ya Allah ini dunia memang sudah rusak..."
Aku pegang foto itu erat. Tanganku gemetar. "Vanya... kenapa kamu foto ini? Kenapa kamu simpen?"
Vanya nunduk. Dia nangis lagi. "Karena... karena ayahku juga mau lakuin hal yang sama. Ayahku juga mau bayar beasiswa buat aku. Waktu itu aku seneng. Aku pikir... aku pikir itu hal biasa. Orang kaya memang bisa beli apapun. Termasuk masa depan."
Dia lap air matanya pake ujung bajunya yang basah. "Tapi... tapi setelah ayahku kabur. Setelah aku jadi miskin. Setelah aku ngerasain gimana rasanya dihina. Dijauhin. Direndahkan. Aku baru sadar... aku baru sadar betapa jahatnya aku. Betapa jahatnya sistem ini."
Vanya liat aku. Matanya merah. Penuh penyesalan. "Sat... aku minta maaf. Aku minta maaf udah ngehina kamu. Aku minta maaf udah ketawa waktu kamu dilempar sampah. Aku minta maaf... aku jahat. Aku egois. Aku... aku pantas dihukum."
Aku diem. Gak tau harus ngomong apa.
Vanya nangis makin keras. "Tapi sekarang aku tau. Aku tau betapa kejamnya dunia ini buat orang-orang kayak kamu. Kayak kita sekarang. Dan aku... aku gak mau diem aja. Aku mau balikin keadilan yang seharusnya ada. Aku mau bantuin kamu. Bantuin aku juga. Bantuin semua anak miskin yang haknya dicuri."
Dia keluarin foto-foto lain. Ada sekitar sepuluh foto. Semua foto transaksi uang suap. Ada foto ayahnya Keyla. Ada foto orang tua murid kaya lainnya. Semua lagi kasih amplop ke Pak Bambang dan Pak Julian.
"Ini semua bukti. Aku simpen di hape. Aku cetak tadi sore pake uang terakhir yang aku punya. Aku... aku mau kasih ini ke kamu. Buat kamu lawan mereka."
Aku liat foto-foto itu. Bukti yang jelas. Bukti korupsi. Bukti pencurian masa depan anak-anak miskin.
Tapi...
"Vanya... kenapa kamu bantuin aku? Kamu bisa aja simpen foto ini. Kamu bisa aja diem. Kamu gak bakal rugi apa-apa."
Vanya geleng. Dia liat aku dengan tatapan penuh tekad. "Aku rugi, Sat. Aku rugi hati nurani aku. Aku udah terlalu lama jadi orang jahat. Aku udah terlalu lama ngehina orang lain. Sekarang aku mau menebus dosaku. Aku mau jadi orang baik. Meskipun... meskipun aku gak tau apakah aku bisa."
Dia pegang tangan aku. Tangannya dingin. Basah. "Sat... bantu aku juga melawan mereka. Aku sendirian gak kuat. Tapi kalau kita bareng... mungkin kita bisa menang."
Aku liat Vanya. Cewek yang dulu sombong. Angkuh. Jahat.
Sekarang... sekarang dia jadi kayak aku. Lemah. Terluka. Butuh bantuan.
Aku ulurin tangan.
Vanya liat tangan aku. Bingung.
"Kita lawan mereka bersama-sama."
Vanya nangis lagi. Tapi kali ini dia senyum. Dia pegang tangan aku. Erat.
"Terima kasih, Sat... terima kasih..."
Tiba-tiba pintu terbuka lagi.
Adrian masuk. Napasnya ngos-ngosan. Bajunya juga basah. "Sat! Gue denger dari tetangga lu ada tamu! Gue langsung... eh? Vanya?"
Adrian liat Vanya. Bingung.
"Vanya kenapa ada di sini?"
Aku berdiri. "Dri, Vanya bawa bukti. Bukti korupsi beasiswa."
Adrian melotot. "Serius?!"
Aku kasih foto-foto itu ke Adrian. Dia liat satu per satu. Mukanya berubah. Dari bingung jadi marah. Dari marah jadi... jadi penuh kebencian.
"Ini... ini nyata? Mereka beneran jual beasiswa?"
Vanya ngangguk. "Iya. Lima ratus juta per kursi. Total mereka dapet miliaran rupiah dari sepuluh kursi beasiswa."
Adrian remas foto itu. Tangannya gemetar. "Mereka... mereka hewan. Mereka bukan manusia. Mereka... mereka curi masa depan kita. Mereka curi harapan kita. Demi uang."
Dia liat aku. Liat Vanya. "Sat, Vanya... gue ikut. Gue ikut lawan mereka. Apapun resikonya. Gue gak peduli."
Aku senyum. Untuk pertama kali sejak pagi tadi, aku senyum.
"Makasih, Dri."
Kami bertiga duduk di lantai. Di rumah kontrakan yang sempit. Di bawah lampu lima watt yang redup.
Kami mulai bicara. Mulai rencana.
"Kita harus laporin ini ke pihak berwenang," kata Adrian. "Kita bawa bukti ini ke polisi. Atau ke dinas pendidikan. Atau ke KPK."
Vanya geleng. "Gak semudah itu, Dri. Pak Bambang punya koneksi. Dia kenal banyak orang penting. Polisi juga ada yang dia suap. Kalau kita langsung lapor ke polisi, bisa-bisa kita yang kena."
Aku mikir. "Terus kita harus gimana?"
Vanya keluarin hapenya. Hape jadul yang udah retak layarnya. "Kita harus kumpulin bukti lebih banyak. Foto ini aja gak cukup. Kita butuh rekaman suara. Atau dokumen transaksi. Atau kesaksian orang dalam."
"Orang dalam? Siapa?"
"Pak Joko. Pegawai TU. Dia tau semua. Dia pernah bilang ke aku dulu, sebelum ayah aku kabur, bahwa dia capek liat korupsi di sekolah. Tapi dia takut lapor karena dia butuh kerja."
Aku inget Pak Joko. Dia yang bilang ke aku bahwa beasiswa udah diatur.
"Kita bisa minta bantuan dia?"
Vanya ngangguk. "Mungkin. Kalau kita jelasin bahwa kita serius. Bahwa kita punya bukti. Mungkin dia mau bantuin."
Adrian tepuk tangan sekali. "Oke. Jadi rencana kita: kita dekatin Pak Joko. Kita minta dia kasih dokumen atau rekaman yang bisa buktiin korupsi. Terus kita kumpulin semua bukti. Baru kita laporin ke media. Biar heboh. Biar masyarakat tau. Biar mereka gak bisa tutupin."
Aku ngangguk. "Tapi kita harus hati-hati. Kalau mereka tau kita lagi nyelidikin, mereka bisa ancam kita. Atau lebih parah... mereka bisa sakitin kita."
Vanya liat aku. "Aku gak takut, Sat. Aku udah gak punya apa-apa lagi. Ayahku kabur. Ibuku gila. Hartaku habis. Aku... aku cuma punya harga diri yang tersisa. Dan aku gak mau harga diri itu diinjak-injak lagi oleh orang-orang kayak Pak Bambang."
Adrian juga liat aku. "Gue juga gak takut. Nyokap gue di rumah sakit gara-gara cari uang buat gue. Gue harus buktiin bahwa pengorbanan dia gak sia-sia. Gue harus buktiin bahwa anak kayak kita juga bisa menang."
Aku liat mereka berdua. Dua orang yang baru aku kenal beberapa minggu. Tapi udah jadi... jadi keluarga.
"Oke. Kita lakukan ini. Kita lawan mereka. Bukan cuma buat kita. Tapi buat semua anak miskin yang haknya dicuri."
Kami bertiga tempelkan tangan di tengah. Kayak tim.
"Buat keadilan," bisik aku.
"Buat keadilan," ulang Vanya.
"Buat keadilan," ulang Adrian.
Ibu dari pojok nangis. Tapi dia senyum. "Kalian... kalian anak-anak yang hebat. Ibu doain kalian menang."
Ayah dari kasur juga senyum. Meskipun matanya berkaca-kaca. "Satria... ayah bangga sama kamu. Kamu... kamu berani. Kamu berjuang bukan cuma buat dirimu. Tapi buat orang lain. Itu... itu yang namanya pahlawan."
Aku senyum ke ayah. "Aku belajar dari ayah, Yah. Ayah yang ngajarin aku untuk gak pernah menyerah."
***
Malam itu kami bertiga tidur di rumah kontrakan kami.
Vanya tidur di samping ibu. Ibu kasih dia selimut tipis yang itu-itu aja.
Adrian tidur di sebelah aku. Di lantai. Beralaskan kardus bekas.
Kami gak tidur nyenyak. Terlalu banyak yang dipikirkan.
Tapi untuk pertama kalinya... aku ngerasa gak sendirian.
Aku punya teman.
Teman yang mau berjuang bareng.
***
Yang kami gak tau...
Di luar, di ujung gang, ada seorang laki-laki berdiri di bawah lampu jalan yang redup.
Pria itu pake jaket hitam. Topi hitam. Muka gak keliatan jelas.
Dia natap rumah kontrakan kami. Lama.
Terus dia keluarin hape. Dia telpon seseorang.
"Bos... mereka lagi ngumpul. Tiga anak itu. Satria, Adrian, sama Vanya. Kayaknya mereka lagi rencana sesuatu."
Suara dari seberang telpon. Berat. Mengerikan.
"Awasi mereka. Jangan sampe mereka tau. Laporin semua gerak-gerik mereka ke aku. Kalau mereka mulai nyelidikin terlalu dalam... kau tau apa yang harus dilakukan."
Pria itu senyum miring. Senyum yang kejam. "Siap, Bos."
Dia matiin telpon.
Dia jalan pergi. Menghilang dalam kegelapan malam.
***
*