Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
"Mbak Siska, pelankan suara Mbak! Jangan lari!"
Arlan mencoba menahan tarikan tangan Siska yang terasa sangat dingin dan gemetar. Di koridor yang biasanya hanya berisi langkah kaki teratur para karyawan, kini terdengar suara teriakan dari arah lobi yang menembus hingga ke lantai sepuluh.
"Gimana bisa pelan, Arlan? Aku tadi lihat sendiri di monitor CCTV lobi. Paman Tegar, Pak Wirawan, dia bawa orang-orang berbadan besar. Mereka nggak pakai seragam kantor. Mereka langsung menuju lift VIP!"
Arlan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu darurat. Dia menatap wajah Siska yang sudah berurai air mata.
{Apa yang sudah kulakukan? Aku cuma mau meluruskan angka, tapi kenapa sekarang nyawa orang lain jadi taruhannya?}
"Mbak Siska, Mbak harus pergi ke ruangan HRD sekarang. Jangan bareng saya. Kalau mereka cari saya, Mbak jangan sampai terseret," ucap Arlan dengan nada yang berusaha ditenangkan, meskipun dadanya terasa sesak.
"Kamu bicara apa, Lan? Aku yang kasih kamu map itu! Kalau kamu kena, aku juga kena! Kita harus ke basement sekarang juga!"
"Nggak bisa, Mbak. Kalau saya lari, Pak Yudha sendirian di dalam sana menghadapi Pak Wirawan. Saya nggak bisa biarkan beliau pasang badan buat kesalahan yang bukan beliau buat."
Tiba-tiba, suara denting lift VIP terdengar sangat nyaring. Arlan dan Siska membeku. Dari kejauhan, pintu lift terbuka dan keluarlah seorang pria tua dengan setelan jas mahal yang sangat rapi. Di belakangnya, tiga orang pria bertampang garang mengikuti dengan langkah yang berat.
Pak Wirawan. Pria itu berjalan dengan aura kekuasaan yang bisa membuat siapa pun menunduk.
"Mana anak daerah itu?" suara Pak Wirawan tidak berteriak, tapi getarannya membuat bulu kuduk Arlan berdiri.
Tegar, yang tadinya pucat pasi, tiba-tiba berlari keluar dari ruangan Pak Yudha menuju pamannya. Dia menunjuk ke arah Arlan yang masih berdiri di dekat Siska.
"Itu dia, Paman! Itu orang yang sudah memfitnah Tegar! Dia yang menyebarkan data palsu itu ke para kurir di bawah!" teriak Tegar dengan suara yang serak karena tangis dan amarah.
Pak Wirawan berhenti tepat lima meter di depan Arlan. Dia menatap Arlan dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan yang sangat merendahkan.
"Kamu yang namanya Arlan?"
Arlan menelan ludah. Dia merasakan getaran di sakunya, tapi dia tidak berani melihat layar sistemnya sekarang.
"Iya, Pak. Saya Arlan Dirgantara."
"Kamu tahu berapa lama saya membangun nama baik keluarga ini di Megantara Group? Dan kamu, seorang bocah yang baru belajar cara mengikat dasi, pikir bisa menghancurkan semuanya dalam satu malam?"
[Peringatan: Tekanan Mental Terdeteksi] [Saran Sistem: Jangan menjawab dengan nada menantang. Gunakan fakta bahwa Pak Yudha memegang kendali penuh atas bukti tersebut.]
{Sistem, apa gunanya fakta kalau orang-orang di depanku ini tidak peduli pada kebenaran?}
"Saya tidak bermaksud menghancurkan siapa pun, Pak. Saya hanya menjalankan tugas untuk memastikan hak para pekerja diberikan sebagaimana mestinya," jawab Arlan dengan suara yang sedikit bergetar.
Pak Wirawan tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat dingin di telinga Arlan.
"Hak para pekerja? Kamu pikir ini yayasan sosial? Ini bisnis, Arlan. Di bisnis, yang kuat yang mengatur aturan. Dan sekarang, aturannya adalah kamu harus mengakui bahwa semua data itu adalah rekayasamu sendiri."
"Tapi itu semua benar, Pak! Mas Tegar sendiri yang memindahkan dana tersebut ke akun bonusnya!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Arlan. Bukan dari Pak Wirawan, tapi dari salah satu orang suruhannya yang bergerak sangat cepat. Arlan terhuyung ke belakang, menabrak dinding koridor. Sudut bibirnya terasa perih dan asin.
"Arlan!" Siska berteriak histeris, tapi dia segera ditarik mundur oleh karyawan lain yang mulai berkumpul untuk menonton.
"Sekali lagi," ucap Pak Wirawan sambil mendekati Arlan. "Katakan di depan semua orang, bahwa kamu sengaja menjebak Tegar karena kamu iri dengan posisinya."
Arlan memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Dia mendongak, menatap mata Pak Wirawan. Di saat yang sama, dia teringat wajah ibunya.
{Ibu bilang, lebih baik makan nasi garam daripada makan daging hasil mencuri. Kalau aku menyerah sekarang, aku sama saja dengan mencuri harga diri para kurir itu, Bu.}
"Saya... saya tidak akan pernah mengatakan hal yang tidak saya lakukan, Pak," ucap Arlan dengan penekanan pada setiap katanya.
"Kamu keras kepala juga ya. Kamu nggak pikirkan ibumu di desa? Saya tahu di mana dia tinggal. Saya bisa membuat sawah kecil kalian menghilang dalam satu malam."
Darah Arlan mendidih mendengar ancaman itu. Rasa takutnya tiba-tiba berubah menjadi kemarahan yang luar biasa.
"Silakan, Pak. Silakan ambil semuanya. Tapi Bapak tidak akan pernah bisa mengambil kebenaran yang sudah tersebar di bawah sana. Para kurir itu sudah tahu. Dan mereka tidak akan diam saja."
Pak Wirawan terlihat sangat murka. Dia mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk membawa Arlan pergi secara paksa.
"Bawa dia ke ruangan bawah. Pastikan dia mau bicara sebelum polisi datang ke sini untuk mengurus kerusuhan di lobi."
"Berhenti!"
Suara bariton Pak Yudha terdengar dari pintu ruangannya. Beliau keluar dengan ponsel di telinganya.
"Wirawan, jangan pernah menyentuh karyawan saya di wilayah saya!"
"Karyawanmu? Dia ini kriminal, Yudha! Dia sudah merusak stabilitas perusahaan!" balas Pak Wirawan dengan suara meninggi.
"Yang merusak stabilitas adalah keponakanmu yang rakus itu. Aku baru saja mengirimkan seluruh data itu ke direktur utama dan dewan komisaris. Dan tebak apa? Mereka sedang dalam perjalanan ke sini bersama tim audit independen."
Wajah Pak Wirawan sedikit berubah, tapi dia mencoba tetap tenang. "Kamu pikir mereka akan percaya pada manajer divisi sepertimu daripada aku?"
"Mungkin mereka nggak akan percaya padaku, Wirawan. Tapi mereka akan percaya pada ribuan orang di bawah sana yang sekarang sedang diliput oleh tiga stasiun televisi nasional. Kamu mau Megantara Group hancur hanya karena ingin melindungi keponakanmu yang mencuri empat ratus juta?"
Suasana di lantai sepuluh menjadi sangat hening. Tegar tampak lemas dan hampir jatuh ke lantai. Pak Wirawan menatap tajam ke arah Pak Yudha, lalu beralih ke Arlan yang masih bersandar di dinding dengan bibir berdarah.
"Kamu beruntung hari ini, bocah," desis Pak Wirawan. Dia berbalik dan melangkah masuk kembali ke lift VIP bersama orang-orangnya, meninggalkan Tegar yang sekarang berdiri sendirian tanpa pembelaan.
Pak Yudha mendekati Arlan. Beliau menepuk bahu Arlan dengan perlahan.
"Kamu nggak apa-apa, Lan?"
"Saya... saya nggak apa-apa, Pak. Terima kasih banyak."
"Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada Maya. Dia yang tadi nekat menghubungi pers dan memastikan kerumunan kurir itu tetap tertib di bawah."
Arlan mencari sosok Maya di antara kerumunan karyawan. Dia melihat Maya berdiri di pojok ruangan, sedang memegang ponselnya dengan tangan yang masih gemetar. Maya hanya memberikan senyum kecil dan anggukan kepala kepada Arlan.
[Status: Konflik Utama Mereda] [Hadiah: Kelulusan Masa Percobaan Otomatis, Peningkatan Keamanan Data +100]
Arlan menarik napas panjang. Dia merasa sangat lelah, jauh lebih lelah daripada saat dia begadang mengerjakan data semalaman. Dia berjalan perlahan menuju mejanya, mengabaikan tatapan semua orang yang kini melihatnya dengan rasa hormat, bukan lagi rasa kasihan.
Tegar masih berdiri di tengah koridor, wajahnya menunduk dalam. Saat Arlan melewatinya, Tegar sama sekali tidak berani menoleh.
"Mas Tegar," panggil Arlan pelan.
Tegar tersentak. Dia menatap Arlan dengan mata yang penuh ketakutan.
"Angka itu tidak pernah berbohong, Mas. Yang berbohong itu cuma keinginan kita untuk terlihat lebih hebat dari yang sebenarnya."
Arlan duduk di kursi kerjanya yang berisik di samping server. Dia menyalakan komputernya. Saat monitor menyala, sebuah pesan singkat muncul di sudut matanya dari sistem.
[Misi Selesai: Bertahan dari Badai] [Hadiah Emosional: Anda baru saja membuktikan bahwa kejujuran adalah senjata paling mematikan.]
Arlan menutup matanya sejenak. Dia teringat kembali pada rasa panas di pipinya akibat tamparan tadi. Dia menyentuh sudut bibirnya yang perih. Tapi di dalam hatinya, dia merasa sangat tenang.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari ibunya.
[Ibu: Lan, tadi Ibu lihat di berita ada keributan di gedung besar mirip kantormu. Kamu baik-baik saja kan, Nak? Kalau takut, pulang saja ya.]
Arlan mengetik jawaban dengan jari yang mantap.
[Arlan: Arlan baik-baik saja, Bu. Malah sekarang Arlan sudah resmi jadi karyawan tetap. Ibu nggak usah khawatir lagi, ya. Nanti sore Arlan telepon.]
Dia meletakkan ponselnya dan mulai bekerja kembali. Hari ini adalah hari pertamanya yang sesungguhnya di Megantara Group. Dia bukan lagi semut yang takut pada gunung. Dia adalah bagian dari gunung itu, dan dia akan memastikan bahwa gunung ini tetap berdiri kokoh di atas kebenaran.
Di luar sana, suara klakson para kurir terdengar seperti sorak-sorai kemenangan bagi Arlan. Kejujuran memang mahal harganya, tapi kelegaan yang dibawanya tidak akan pernah bisa dibeli dengan jam tangan emas mana pun di dunia ini.