NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Aula Bela Diri Keluarga Han.

Bangunan megah berlantai tiga itu berdiri kokoh di tengah kompleks keluarga. Riuh rendah suara teriakan latihan dan benturan senjata terdengar bahkan dari jarak seratus meter. Ini adalah jantung dari kekuatan masa depan Keluarga Han, tempat ratusan murid muda berlatih setiap hari di bawah pengawasan para instruktur.

Ketika Han Feng melangkah masuk ke gerbang utama Aula Bela Diri, suasana di sekitarnya sedikit berubah.

Beberapa murid yang sedang beristirahat di pinggir lapangan latihan menoleh. Awalnya mereka tidak peduli, mengira Han Feng hanyalah murid cabang biasa. Namun, ketika mereka mengenali wajah pucat dan fitur wajah Han Feng, bisik-bisik mulai terdengar.

"Hei, lihat itu... bukankah itu Tuan Muda Ketiga?"

"Han Feng? Si sampah itu? Sedang apa dia di sini? Bukankah dia hampir mati dipukuli Tuan Muda Han Lie beberapa hari yang lalu?"

"Mungkin dia datang untuk mengemis obat pada Tetua Aula?"

"Hahaha, menyedihkan sekali. Seharusnya dia sadar diri dan bersembunyi di lubang tikusnya."

Tatapan merendahkan, ejekan, dan tawa sinis menyambut kedatangan Han Feng. Bagi mereka, Han Feng adalah lelucon berjalan. Keberadaannya di tempat suci bagi para petarung ini dianggap sebagai sebuah penistaan.

Han Feng berjalan melewati kerumunan itu dengan wajah datar. Han Feng tidak marah. Di matanya, ejekan mereka hanyalah gonggongan anjing kecil yang tidak mengerti bahwa mereka sedang berhadapan dengan harimau yang sedang tidur. Han Feng tidak perlu membuktikan apa pun dengan kata-kata.

Han Feng langsung menuju ke meja pendaftaran di sudut aula, tempat seorang pria tua berjanggut putih sedang terkantuk-kantuk menjaga buku catatan. Pria tua itu adalah Tetua Xu, penjaga Aula Boneka Kayu. Tetua Xu dikenal netral dan tidak peduli dengan politik keluarga, dia hanya peduli pada bakat dan kemampuan.

"Tetua Xu," panggil Han Feng sopan.

Tetua Xu membuka matanya yang sayu, menatap Han Feng sejenak. Ada sedikit kilatan kebingungan di matanya. Dia bisa merasakan bahwa pemuda di depannya ini memiliki aura yang berbeda dari rumor yang beredar, meskipun dia tidak bisa menunjuk dengan tepat apa perbedaannya.

"Han Feng?" suara Tetua Xu serak. "Jarang sekali melihatmu di sini. Apa yang kau inginkan? Jika kau ingin mengajukan keluhan tentang pemukulan, pergilah ke Aula Penegakan Hukum, bukan ke sini."

"Saya tidak datang untuk mengeluh," jawab Han Feng tenang. "Saya ingin menantang Formasi Boneka Kayu Besi."

Hening.

Area di sekitar meja pendaftaran mendadak sunyi senyap. Para murid yang tadi berbisik-bisik kini terdiam, menatap Han Feng dengan mata terbelalak.

Formasi Boneka Kayu Besi?

Itu adalah ujian tingkat menengah! Boneka-boneka di dalamnya terbuat dari Kayu Besi Hitam yang sangat keras dan digerakkan oleh inti energi setara kultivator Pembentukan Tubuh Tingkat 3. Biasanya, hanya murid elit yang berani menantang ujian ini. Bagi murid biasa, masuk ke sana sama saja dengan mencari patah tulang.

"Kau... ingin menantang Formasi Boneka Kayu Besi?" Tetua Xu mengerutkan kening, nada suaranya penuh keraguan. "Nak, aku tahu kau mungkin putus asa atau marah karena nasibmu, tapi bunuh diri di sini akan merepotkanku. Tubuhmu tidak memiliki fluktuasi Qi yang kuat. Kau akan dihajar habis-habisan di dalam sana."

"Terima kasih atas peringatan Anda, Tetua. Tapi saya tahu batas kemampuan saya," kata Han Feng tegas, tanpa sedikit pun keraguan di matanya. Dia meletakkan lencananya di atas meja. "Mohon izinkan saya masuk."

Tetua Xu menatap mata Han Feng dalam-dalam selama beberapa detik. Dia mencari tanda-tanda kegilaan atau keputusasaan, tapi yang ditemukannya hanyalah ketenangan samudra yang dalam.

"Baiklah," Tetua Xu akhirnya menghela napas. Dia mengambil lencana Han Feng dan mencatatnya. "Tapi ingat, boneka-boneka itu tidak punya mata. Jika kau merasa tidak sanggup, segera teriak menyerah. Formasi akan berhenti otomatis."

"Mengerti."

Han Feng mengambil kembali lencananya dan berjalan menuju pintu besi besar di belakang meja pendaftaran.

"Dia gila," bisik seorang murid. "Benar-benar gila."

"Ayo kita tonton! Aku ingin melihat berapa detik dia bisa bertahan sebelum dilempar keluar dengan hidung patah!"

Kerumunan murid segera berbondong-bondong menuju area penonton yang terletak di lantai dua, di mana mereka bisa melihat ke dalam arena Formasi Boneka Kayu Besi melalui kaca kristal pengamat.

Di dalam arena.

Ruangan itu luas dan kosong, lantainya terbuat dari batu biru yang keras. Di tengah ruangan, berdiri lima buah boneka mekanik setinggi dua meter. Tubuh mereka terbuat dari kayu hitam yang mengkilap, sendi-sendi mereka dilapisi logam perunggu. Lengan boneka-boneka itu panjang dan kekar, siap menghancurkan apa pun yang mendekat.

Han Feng berdiri di titik awal. Pintu besi di belakangnya tertutup dengan dentuman berat.

"Mulai!" Suara Tetua Xu menggema melalui pengeras suara magis.

Seketika, mata kelima boneka itu menyala merah.

Klotak! Klotak!

Suara mekanisme gigi roda berputar terdengar. Kelima boneka itu bergerak serentak. Kecepatan mereka jauh lebih cepat daripada manusia biasa. Mereka mengepung Han Feng dari lima arah, menutup semua jalur pelarian.

Boneka pertama melesat dari arah depan, tinju kayu besinya yang seukuran kepala manusia menghantam lurus ke arah dada Han Feng. Angin pukulan itu saja sudah cukup membuat rambut Han Feng berkibar ke belakang.

Di anjungan penonton, banyak murid menahan napas. Mereka membayangkan tubuh Han Feng akan remuk seketika.

Namun, di mata Han Feng, gerakan boneka itu... biasa saja.

Persepsi Sutra Hati Naga Purba membuat Han Feng bisa melihat aliran energi yang menggerakkan boneka itu.

Han Feng tidak mundur. Dia menggeser kaki kirinya sedikit ke samping, memutar bahunya dengan presisi milimeter.

Wuuush!

Tinju boneka itu meleset, hanya menyapu udara di samping telinga Han Feng.

"Apa?!" seru para penonton di atas. "Dia menghindarinya?!"

Sebelum boneka pertama sempat menarik kembali tinjunya, Han Feng sudah bergerak. Ini bukan waktunya untuk bermain bertahan. Han Feng ingin menguji daya hancurnya.

Tangan kanan Han Feng berubah menjadi cakar. Urat-urat di punggung tangannya menonjol. Aura membunuh yang dingin meledak dari tubuhnya.

Cakar Naga Pencabut Nyawa: Jurus Pertama - Robekan Naga Tanah!

Han Feng mencengkeram lengan boneka kayu itu. Jari-jarinya yang sekeras baja menancap masuk ke dalam kayu besi yang terkenal keras itu seolah menancap ke dalam tahu busuk.

KRAK!

Dengan sentakan kuat dari otot punggung dan pinggangnya, Han Feng menarik lengannya.

Suara kayu patah terdengar memekakkan telinga.

Lengan boneka kayu besi itu putus.

Han Feng tidak berhenti. Dia menggunakan lengan boneka yang putus itu sebagai senjata, memutarnya dengan keras untuk menghantam boneka kedua yang menyerang dari belakang.

BRAKK!

Kepala boneka kedua hancur berkeping-keping dihantam oleh potongan lengan temannya sendiri.

Di anjungan penonton, rahang semua orang jatuh ke lantai. Keheningan yang mencekam melanda seluruh aula.

Ini bukan pertarungan. Ini adalah pembantaian sepihak.

Seorang "sampah" tanpa meridian yang berfungsi, sedang menghancurkan boneka kayu besi—yang biasanya membutuhkan sepuluh kali pukulan penuh tenaga dari kultivator Tingkat 3 untuk digores—hanya dengan tangan kosong?

"Bagaimana mungkin..." Tetua Xu yang mengawasi dari samping arena berdiri dari kursinya, matanya melotot tak percaya. "Kekuatan fisik macam apa itu? Dia tidak menggunakan Qi untuk meledakkan serangan, itu murni kekuatan otot dan teknik cakar yang mengerikan!"

1
Gege
mantabbb...gass thorrr lagee
Bambang Purwanto
👍bagus sekali ceritanya
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!