Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Masa Lalu
Satu jam sebelumnya.
POV tuan Adrian.
"Pah, aku nggak mau tahu. Kamu harus ke perusahaan Wijaya. Minta uang ke anak tahu diuntung itu," teriakan nyonya Kusuma.
"Mah, apa uang yang kuberikan sudah habis?" kesal tuan Adrian.
"Tentu saja. Apa papa tahu untuk bayar listrik air sebulan, gaji para asisten rumah tangga? Belum lagi arisan mama?" omel nyonya Adrian Kusuma.
Tuan Adrian terdiam.
Uang hasil jual perusahaan Wijaya telah menipis. Modal usaha carut marut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Siang ini papa harus dapat lima ratus juta. Ada tawaran berlian dari nyonya Sentosa," nyonya Adrian Kusuma mendekati sang suami yang tampak kusut itu.
"Lima ratus juta? Apa aku tak salah dengar? Mama boros sekali," tanya tuan Adrian tak percaya. Tak percaya jika istrinya pintar sekali menghamburkan uang. Apalagi kondisi sedang tak menentu seperti ini.
"Mah, uang hasil jual perusahaan sebagian besar dipegang mama. Apa sudah ludes semua?" tuduh tuan Adrian.
"Sudah lah Pah. Kalau papa tak pergi, aku saja yang menemui anak tak tahu diuntung itu. Kalau perlu akan ku bongkar semua rahasia yang selama ini papa pendam," ancam nyonya Kusuma.
"Mah, selama ini kita sudah terlalu sadis pada Berlian," kata tuan Adrian.
"Papa menyesal? Asal papa tahu, sudah kewajiban dia untuk kasih uang ke kita. Orang tuanya," tandas nyonya Adrian Kusuma dengan menekan intonasi suara.
"Kalau kita nggak minta ke Berlian, mau minta siapa lagi? Mana bisa kita ngandelin Intan. Si Arya pasti pusing tujuh keliling sekarang, mikirin usahanya yang kolaps," ucap nyonya Kusuma.
Terdengar suara heel yang teratur menapak lantai, suaranya mendekati mereka.
"Pagi semua," sapa Intan dengan senyum manja.
"Mana Arya?" sambut tuan Adrian.
"Mas Arya nggak pulang dua hari," jelas Intan tanpa beban.
"Kok kamu bisa santai gitu? Nggak takut apa kalau suami kamu balik ke mantan istrinya," seru nyonya Adrian Kusuma.
"Ya enggak lah Mah. Tak mungkin mas Arya balik ke wanita mandul itu," ucap Intan dengan kepedean tingkat tinggi.
"Aku kesini mau minta uang Mah, Pah," kata Intan.
Tuan Adrian mengusap wajahnya kasar.
"Minta ke Arya dong," suruh nyonya Adrian Kusuma.
"Dia mana ada uang Mah," tukas Intan sewot.
"Pokoknya aku minta uang. Siang ini jadwalku perawatan," ujar Intan seraya menghentakkan kaki.
"Pah," panggil nyonya Adrian Kusuma.
"Baiklah, akan kutemui Berlian," sanggup tuan Adrian.
"Kalau tak mau kasih, ancam saja Berlian. Papa pasti tahu apa yang harus dilakukan," kata nyonya Kusuma.
Rencana nya rahasia itu akan dipakai saat situasi terjepit bagi keluarga Adrian Kusuma. Dan saat ini mereka dalam keadaan kesulitan keuangan.
.
.
Berlian duduk menyandarkan kepala pada sandaran kursi.
Ucapan tuan Adrian mengusik pikiran dan hatinya.
"Apa benar aku bukan anak kandung mereka? Kenapa mereka menyembunyikan sebegitu lama dariku?" pening sekali rasanya.
"Kalau memang benar, ayah bukan lah ayah kandungku? Lantas, siapa?" Berlian memijat pelipis nya
Bersamaan itu Maura masuk ke ruangan Berlian, untuk mengingatkan mou kerjasama yang kemarin diajukan Maya.
"Apa kamu sakit? Wajahmu pucat sekali," bilang Maura.
"Enggak kok, fine aja," ujar Berlian.
"Belum sarapan?" tanya Maura memperjelas, karena sang bos terlihat lesu tak bersemangat.
Maura duduk di depan meja Berlian, Berlian masih duduk dengan menyandar.
"Apa kedatangan ayah mu tadi mengganggu mu?" tanya Maura, tadi pagi Maura sengaja tak menemani Berlian yang bertemu dengan ayah nya.
Berlian menggeleng lemah.
"Baiklah kalau begitu. Ini berkas kerjasama dengan perusahaan iklan yang diajukan bagian marketing kemarin," beritahu Maura.
Maura keluar sesudahnya, memberi sang sahabat dengan ruang pribadinya.
Ponsel Berlian berdering setelah pintu tertutup rapat.
"Arya?" Berlian membalik layar ponsel, malas untuk mengangkatnya.
Teror mantan suami dan keluarga, menguji kesabaran Berlian luar biasa.
Berlian membuka berkas yang diserahkan Maura barusan, tapi fokus pikirannya kacau saat ini.
Beberapa kali helaan nafas terlihat di raut wajah Berlian.
Ingin melepas, tapi masa lalu tetap lah terkait.
Berlian memijat pelipis nya lagi, penat seakan enggan pergi meninggalkannya.
Pertanyaan, aku anak siapa berlarian di otaknya.
Wajah tuan Wiranata melintas sesekali, membuat Berlian menggelengkan kepala.
"Apa memang ada kaitan dengan tuan Wiranata?" otak Berlian loading lama kali ini.
Benang kusut sangat sulit diurai. Sampai siang waktu istirahat, Berlian belum menemukan jawabannya.
Ponsel Berlian kembali berdering.
Beberapa kali bergetar, Berlian baru membalik layar ponsel. Ada nama ayahnya di sana.
"Sudah kamu transfer belum?" todong tuan Adrian Kusuma.
"Aku nggak punya uang," tukas Berlian.
"Aku nggak mau tahu, siang ini harus ada," paksa tuan Adrian.
"Aku bukan sapi perah mu tuan Adrian yang terhormat," kesal hati Berlian.
"Apa kamu tak mengindahkan apa yang kubilang tadi pagi?" seru tuan Adrian.
"Dengan ucapan anda, tidak bisa memaksa saya untuk memberikan uang secara cuma-cuma. Apalagi anda mengatakan aku bukan anak kandung anda, jadi secara tidak langsung itu melepas tanggung jawab untuk tidak memberi apapun pada anda tuan Adrian. Seperti yang sering anda koarkan bahwa seorang anak harus berbakti pada orang tuanya," kata Berlian dengan nada penuh penekanan. Berlian yang rapuh beberapa saat tadi telah hilang digantikan rasa marah saat berbicara dengan pria yang selama ini dianggap Berlian sebagai ayahnya.
"Kau," tuan Adrian syok mendengar jawaban Berlian.
"Baiklah, kalau tak ada yang disampaikan saya tutup panggilan anda," kata Berlian. Tak ada aku, kamu, ayah atau panggilan apapun itu yang mempererat hubungan dalam keluarga. Berlian memperlebar jarak hubungan dengan keluarga.
"Tunggu!" cegah tuan Adrian.
Berlian diam.
"Apa kamu tak penasaran siapa ayah kandungmu? Harusnya kamu berterima kasih karena aku telah memungut mu, Berlian Putri Wiranata," perkataan tuan Adrian bak petir menyambar.
"Kamu adalah anak yang terbuang," kata tuan Adrian memprovokasi.
"Diam!" teriak Berlian sambil menutup telinganya.
"Tidak, sebelum kamu memberi uang yang aku minta," tuan Adrian tak mengindahkan teriakan Berlian.
Tut... Tut.... Panggilan terputus setelah Berlian menekan ikon merah di layar ponsel.
Berlian menangis tersedu. Ucapan tuan Adrian membuatnya down.
Maura datang tergopoh setelah terdengar teriakan Berlian.
"Apa yang terjadi?" tanya Maura melihat keadaan Berlian yang kacau.
Tadi Maura tinggalkan Berlian di ruangannya, untuk memberi ruang pada sahabatnya itu.
"A... A... Aku bukan keluarga para bajingan itu Maura," suara Berlian terisak.
Maura memeluk Berlian, membiarkannya terisak di bahu nya.
"Aku anak yang terbuang, bahkan ayah kandung ku telah membuang ku," tubuh Berlian terguncang karena isakan tangis.
Maura diam, belum tahu musti mengatakan apa. Sementara Maura biarkan Berlian meluapkan emosi nya terlebih dahulu.
.
.
Like, komen and vote nya guysss.
Nonton voli di pinggir lapangan, tepuk tangan riuh terdengar###Update datang di waktu bersamaan, yang banyak like lah yang popular.
Yang diturunkan pemain inti, pemain cadangan duduk di pinggir###Dukungan kalian author nanti, tunggu sampai up terakhir.
💖