Duke Arland.
Seorang Duke yang dingin dan kejam. Selama menikah, dia mengabaikan istrinya yang sangat menyayanginya, hingga sebuah kejadian dimana dirinya harus berpisah dengan istrinya, Violeta.
Setelah kepergian istrinya, dia bertekad akan mencari istrinya, namun hasilnya nihil.
......
Violeta istri yang sangat mencintai suaminya. Selama pernikahannya, ia tidak di anggap ada, hingga sebuah kenyataan yang membuatnya harus pergi dari kediaman Duke.
Kenyataan yang membuatnya hancur berkeping-keping. Violeta yang putus asa pun mencoba bunuh diri, sehingga jiwa asing menemani tubuhnya.
Lima tahun kemudian.
Keduanya di pertemukan kembali dengan kehidupan masing-masing. Dimana keduanya telah memiliki seorang anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku membenci mu Duke
Kesatria Lio tercengang, baru kali ini dia terasa di intimidasi oleh seorang anak kecil. Matanya tajam seakan menghunuskan pedang ke arah lehernya. "Ehem, ada perlu apa? Yang Mulia Duke tidak bisa bertemu dengan sembarangan orang."
"Oh begitu?" Alfred menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum simpul. "Jangan menyesalinya sebelum menanyakannya. Aku pastikan, Yang Mulia Duke akan menyesal."
Dengan jurus cepat, Kesatria Lio menghunuskan pedang ke leher Alfred. "Beraninya, anak kecil seperti dirimu mengancam Tuan, Duke."
Alfred dengan tenang menyingkirkan pedang yang menojong ke lehernya, jari telunjuknya terluka. Kesatria Lio semakin kagum dengan anak seusianya yang tak takut dengan darah. "Violeta, apa Kesatria mengenal nama orang itu?"
Tangan Kesatria Lio bergetar, pedang itu perlahan turun. "Siapa kamu, hah?!" Kesatria Lio langsung menarik tangan anak kecil itu ke lantai atas.
"Yang Mulia Duke," Laki-laki gagah yang tengah fokus itu langsung mengangkat wajahnya. Salah satu alisnya terangkat, menandakan dia keheranan melihat anak kecil yang di bawa oleh Kesatria Lio. Anak kecil yang ia ingat, tengah bersiteru dengan istrinya.
"Ada apa?"
"Ini tentang," Kesatrio Lio menjeda, dia melirik anak kecil di sampingnya dengan wajah datarnya. "Tentang ..."
"Violeta!" Alfred langsung memotong ucapan Kesatria Lio yang sedikit gugup.
Wajahnya terasa pias, keringat dingin langsung keluar di dahinya. Jantungnya seakan meledak, matanya kini berair yang siap jatuh dari kedua matanya."Katakan! dari mana kamu tahu nama itu?"
"Violeta, apa hubungannya dengan Yang Mulia Duke?"
Duke Aland semakin membeku, nama itu, nama yang terus memenuhi pikirannya. Selama lima tahun ini dia mencari nama itu, nama yang selalu membuatnya gila. "Darimana kamu tahu nama itu?"
"Yang Mulia Duke, jangan tertipu bisa saja ..."
Alfred tertawa mengejek, "Aku bukan anak kecil yang otaknya tidak berfungsi. aku baru berumur lima tahun, ibunya ku sendirilah yang sudah mendidik ku."
"Kamu jangan coba-coba menipu ku,"
"Memiliki tahi lalat di belakang hidungnya?" tanya Alfred.
Tubuh Duke Aland semakin menegang, ia pernah melihat tahi lalat di belakang telinga kirinya. "Violeta, dia istri ku." Duke Aland mengambil sebuah kertas yang di gulung di dalam lacinya, ia membuka lukisan itu, lalu memperlihatkan pada Alfred. "Apa yang kamu maksud ini?"
Alfred mengepalkan tangannya, giginya semakin bergetar. Telinganya terasa panas saat ada seseorang yang mengejeknya tidak memiliki ayah, kadang ia iri melihat anak-anak yang seumuran dengannya di limpahkan kasih sayang, tertawa bersama dan bermain bersama.
deg
deg
deg
Duke Aland berjongkok, di tatap mata Alfred yang menatap dingin, seperti tombak es yang siap menghunuskan ke jantungnya, dadanya naik turun, bibirnya terkatup rapat menandakan anak itu tengah siap bertarung.
"Apa hubungan mu dengannya?"
Duke Aland memegang kedua bahu Alfred, ada sedikit harapan di mata Duke Aland, jika di teliti wajah anak di depannya mirip dengannya sewaktu kecil, bahkan Kesatria Lio pun yang tadinya membahas kedua bocah kedua temannya. Anak laki-laki itu mirip dengannya, sedangkan yang perempuan mirip dengan Violeta.
Alfred melangkah mundur, jadi laki-laki ini yang sangat ia benci, "Aku membenci mu Duke. Aku, aku sangat membenci mu, anggap saja, kita tidak pernah bertemu." Alfred langsung membalikkan tubuhnya, berlari ke luar ruangan itu, sepanjang turun dari anak tangga, Alfred terus memanggil nama adiknya. Hidupnya terasa pahit, Duke Aland bahagia bersama istri dan anaknya, sedangkan dirinya dan ibunya, adiknya. Aronz bisa tersenyum bahagia, makan dengan enak, tidur dengan nyaman, sedangkan dirinya. Harus berusaha keras melihat ibunya demi hidupnya dan dirinya.
"Ada apa kakak?" tanya Aleta, sejak tadi ia ikut dengan Aronz, melihat kamarnya dan mendengarkan cerita Aronz, namun setelah menyadari sang kakak hilang. Barulah dia dan Aronz mencari keberadaan kakaknya.
"Ikut Kakak, kita harus pulang." Tanpa basa-basi, Alfred menarik lengan Aleta sedikit berlari.
"Kakak jangan seperti ini," tegur Aleta seraya menoleh ke belakang melihat Aronz yang juga mengejar dan memanggil namanya.
"Ikut kakak. jangan menoleh ke belakang. Kakak akan menceritakan semuanya, yang jelas kita harus keluar, kita harus bertemu dengan ibu," ujarnya seraya terus mempercepat langkah kakinya.
Aleta tak menanyakan apa-apa lagi, jika menyangkut ibunya, ia akan diam mendengarkan. Kereta yang di tumpanginya telah berjalan melewati gerbang Duke, menyisakan Aronz yang terus memanggil namanya.
"Kusir, lebih cepat." Alfred ceroboh, ia mengungkapkan identitasnya karena tidak tahan emosinya. Ternyata benar yang di katakan gurunya, ia tidak bisa menahan emosinya.
Sedangkan Duke Aland, tubuhnya meregang, seolah tidak bisa melakukan apapun di iringi deraian air mata, hingga Kesatria Lio menyadarkan dirinya.
"Tuan, tuan, tuan sadarlah, Tuan muda telah pergi," ujar Kesatria Lio meringis.
akoh mampir Thor