Maggie adalah seorang gadis kecil yang tidak pernah dianggap oleh daddynya karena ia terlahir dari rahim wanita yang tidak diinginkan yaitu rahim seorang gadis desa yang bekerja sebagai pembantu.
Gadis berusia 2 tahun ini mencoba mengambil hati daddynya dengan berbagai cara namun sia-sia. Sampai suatu saat ia lelah dan menerima tawaran mommynya untuk pergi ke tempat yang jauh disanalah mereka memulai hidup baru dan mengubah takdir hidup mereka, saat itulah gadis kecil ini perlahan-lahan mulai melupakan sosok daddy yang begitu ia idamkan.
Apakah mereka akan bertemu kembali? ikuti terus novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lala Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Rekaman
"Aku tidak akan membiarkan apa yang sudah ada dalam genggamanku pergi begitu saja. Aku akan pergi tapi sebelumnya aku akan membuat semua hartamu jatuh ke tanganku" gumam Nina sambil menatap pintu itu
Nina mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Kamu cari tau di mama keberadaan wanita itu dan anaknya. Kita perlu bergerak sekarang" ucap Nina dalam teleponnya
"Baik Nyonya" ucap seorang pria misterius
(Hmmm jangan mencoba untuk main-main denganku jika tidak ingin anakmu dan gadis kampung itu dalam bahaya) batin Nina dibalik senyum liciknya
*****
Di Belahan bumi lain
Semenjak gagal dalam berumah tangga, wanita beranak satu ini berubah menjadi gadis yang sulit di sentuh. Ayahnya betul-betul menepati janjinya bahwa ia akan merubah putri kesayangan menjadi mutiara yang berharga.
Wanita sederhana yang dulu dipandang sebelah mata saat ini telah menjadi wanita karier dan berubah dalam sekejap baik penampilannya maupun status hidupnya apalagi ia dilindungi oleh kekuasaan ayahnya.
Banyak kolega bisnis ayahnya yang berusaha untuk menjodohkan anak mereka dengannya namun tidak satupun yang ditanggapi. Walaupun demikian Mey tetaplah seorang yang berhati mulia dan selalu tersenyum dengan orang lain. Ayah Devid tidak mau memaksa putrinya walaupun sudah berstatus janda.
Mey bergabung dalam devisi keuangan dan di sana tidak ada seorangpun yang tau jika dia adalah putri dari pemilik perusahaan. Tentu hal itu atas permintaan Mey karena tidak mau kelihatan menonjol sebelum perusahaan diambil alih olehnya karena saat ini ia masih dalam tahap belajar.
"Sayang, hari ini rapat pemegang saham dan pasti akan dihadiri oleh mantan ayah mertuamu juga. Apa kamu mau ikut?" tanya ayah Devid pada putrinya saat mereka sementara makan malam
Deg
"Aku nggak ikut ayah. Please jangan buat mereka menemukan aku dan putriku, aku hanya ingin hidup tenang" jawab Mey penuh harap
"Sesuai keinginan kamu sayang" ucap ayah Devid mantap
Novi yang dari tadi hanya diam dikejutkan dengan pertanyaan ayah Devid
"Nak, apa kamu juga ingin bekerja?"
"Hah? aku?" ucap Novi sambil menunjuk dirinya sendiri
"Iya kamu" balas ayah Devid
"Ahmmm aku cuma tamat SMA ayah, lagian aku lebih nyaman menemani Maggie" ucapnya sambil tersenyum kaku
Tuan Devid meminta Novi untuk memanggilnya ayah seperti Mey karena ia tidak mau ada perbedaan.
"Aku aja cuma tamatan SMP tapi mau berusaha" ucap Mey
Ya, Mey cuma tamat SMP tapi tidak menjadi masalah besar buat dia untuk berjuang menjadi seorang pemilik perusahaan. Apalagi dia memang anak yang dasarnya pintar seperti mendiang ibunya jadi semua tidak kelihatan sulit.
"Lalu Maggie nanti siapa yang jagain?" ucap Novi
"Meggie bisa dijaga bi Marta, iyakan de?" tanya Mey pada putrinya
"Ade udah becal mom, jadi ga boleh di jaga lagi" ucap Maggie yang dari tadi fokus dengan makanannya
"Iya becal, mgomong aja belum jelas narsisnya kegedean" kata Mey malas jika putrinya yang mulai cerewet
"Mom! teman-teman ade cuma di antal ga di jaga. Malulah maca ade di jaga telus" ucap Maggie memelas
"Iya deh iya tuan putri, tapi jangan nakal ya?" kata Mey
"Ciap ibu negala" jawa Maggie memberi hormat pada mommynya dan itu memgundang tawa dari semua orang yang ada di meja makan.
Masing-masing sudah berada di dalam kamar mereka kecuali Mey dan Maggie yang masih satu kamar. Mey belum mau pisah kamar dengan putri kecilnya.
"Mom, tapan tita tetemu daddy?" tanya Maggie yang mungkin sudah rindu sama daddynya.
"Apa kamu sangat ingin bertemu dengan daddymu
"Ga mom. Tata ta Novi, daddy udah puna dede tecil dali tante jahat. Belalti daddy ga ingat tita lagi tan?" ucap Maggie dengan wajah sedihnya
"Ade masih punya mommy, opa, ka Novi, bi Marta, dengan semua yang ada di rumah ini yang sayang sama ade, jadi jangan sedih ya?" ucap Mey dengan hati yang pilu karena tidak bisa memberi keluarga yang utuh pada putri kecilnya.
"Iya mom. Ade cayang mommy" keduanya berpelukan dan terlelap dengan perasaan masing-masing.
*****
Hari ini Nina keluar dari rumah sakit tapi hanya dijemput oleh sopir keluarga Adipati.
Alfa lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor atau di apartemen. sejak perdebatan itu, Alfa jarang kelihatan . Orang tua Alfa juga tidak pernah menghubunginya sekedar bertanya kabar. Hal itu membuatnya sedih karena pernah membentak mamanya.
"Semua ini salahku. Seharusnya aku mengikuti saran mereka.. pasti papa dan mama tau tentang semuanya sehingga memaksaku menikahi Mey bahkan ayah melarang agar anaknya Nina tidak boleh menggunakan nama keluarga Adipaty. siapa sebenarnya Nina?" ucap Alfa yang duduk di kursi kebwsaranya dengan menyesal.
hari semakin gelap, semua karyawan telah pulang namun tidak dengan Alfa yang masih betah di ruanganya. Roky terpaksa menunggu hingga tuan mudanya mau pulang.
Malam ini mereka pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan akhir-akhir ini Alfa sering makan di luar karena tiba di mansion langsung menuju kamar. ya, sejak kejadian di Rumah Sakit, Alfa sudah tidak sekamar dengan Nina lagi karena ia sudah menempati kamarnya yang dulu dipakai oleh mantan isteri dan putri kecilnya.
Saat tiba di mamsion Alfa melangkah pergi ke kamar setelah Roky si asistennya pulang ke apartemennya. Alfa sama sekali tidak peduli dengan Nina yang sejak tadi menunggunya di ruang keluarga.
"Sayang, baru pulang?" tanya Nina lembut namun tidak ada jawaban dan terus melangkah.
"Sayang!! kamu kenapa sih? pulang selalu malam dan kadang tak juga pulang, memangnya kamu ke mana aja?" ucap Nina yang mulai emosi
"Apa urusanmu? urus saja anak harammu itu!" kata Alfa yang ikut terpancing emosi
"Kenapa sekarang kamu berubah? apa karena wanita kaampungan itu dengan anaknya?" Nina terus memprovokasi Alfa
"Tutup mulutmu dan jangan pernah berkata ****** kepadanya Karena dia lebih terhormat darimu" tegas Alfa
"Hahahaha sejak kapan kamu membelanya? bukannya dulu kamu sendiri yang memberi julukan ****** kepadanya?" ucap Nina lagi membuat Alfa sadar kalau dia yang memulai semuanya
"Sayang kita harus bicara dan kita harus menyelesaikan masalah kita dengan baik" lanjut Nina
"Aku cape seharian bekerja dan aku juga malas berurusan denganmu. Menyingkir dariku" hardik Alfa
Ialu melangkah pergi ke kamar yang sudah beberapa hari ini ia tempati. Di sana ia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan keluar lalu duduk bersandar di kepala tempat tidur.
Alfa mengambil sebuah boneka beruang yang ditinggalkan di atas tempat tidur beberapa bulan yang lalu. Sekilas bayang-bayang perjuangan seorang gadis kecil untuk mengambil hatinya tapi tidak sekalipun ia pedulikan.
(Nak, apakah ini yang kamu rasakan saat tidak ada orang yang peduli padamu? maafkan daddy yang sudah menyia-nyiakan kesempatan itu. Di mana kamu sekarang? kenapa sampai sekarang orang-orang daddy tidak bisa menemukan kamu, apakah kamu baik-baik saja?) batin Alfa
seperti ada suara hati yang menuntunya untuk membuka laci meja rias yang ada di dalam kamar itu.
Alfa bangun dan mendekat lalu menarik laci itu. Di sana tidak ada apa-apa hanya sebuah Flash disck yang terletak di sana. Ia mengambil dan menghidupkan laptopnya lalu mencolok Flash disck itu dan di sana hanya ada satu file berupa vodeo dengan penasaran iapun membukanya.
****
-Bersambung-