NovelToon NovelToon
Exs Mr.Playboy

Exs Mr.Playboy

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Nikahmuda / Duda / Tamat
Popularitas:8.1M
Nilai: 5
Nama Author: Vey Vii

Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.

Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.

Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.

Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.

Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?

---
WARNING 21+

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunny sakit

Setelah sampai di rumahnya, Alex langsung berlari memasuki kamar Sunny, ia melihat gadis kecilnya terbaring lemah sambil memakai selimut tebal.

"Ma, bukankah tadi siang dia sehat?" tanya Alex pada ibu mertuanya yang duduk di tepi kasur.

"Iya, mama juga nggak tau kenapa tiba-tiba demam mendadak. Sunny bilang tubuhnya dingin, di menggigil, tapi suhunya mencapai 40 derajat celcius." Nyonya Gio beediri dan memberi ruang pada Alex untuk mendekati putrinya.

"Sudah telpon dokter?" tanya Alex.

"Sudah, sebentar lagi dokternya akan sampai."

Alex sangat khawatir, ia memeriksa suhu tubuh Sunny berkali-kali dengan menempelkan telapak tangan di dahinya.

"Daddy," ucap Sunny, lirih.

"Ya, Sayang. Daddy di sini." Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Sunny.

"Sunny kangen mommy," ujar Sunny, wajah gadis itu nampak pucat pasi.

Deg!!!

Rasanya jantung Alex berhenti berdetak saat itu juga, apakah Sunny juga merasakan sesuatu seperti dirinya, rasa cinta dan kehilangan yang begitu besar seakan-akan perasaan itu menghancurkan dirinya perlahan.

"Daddy tau, Sayang. Kamu harus sehat, setelah itu, kita berkunjung ke makam mommy," ucap Alex.

"Janji?" Sunny tersenyum sambil menyodorkan jari kelingkingnya di hadapan Alex, bibir dan wajah pucat itu nampak seperti wajah Melanie saat wanita itu hampir meninggal.

Tubuh Alex gemetar, bayang-bayang atas kematian Melanie masih melekat kuat dalam ingatannya, luka yang masih menganga lebar seakan tersiram cuka setiap harinya saat Sunny selalu mengatakan dia merindukan ibunya.

Alex menautkankan jari kelingkingnya dengan Sunny, ia berjanji akan membawa Sunny berkunjung ke makan Melanie setelah gadis kecil itu sembuh, dan Alex akan menepati janjinya tanpa menunggu hari peringatan kematian Melanie.

Beberapa saat kemudian, dokter datang dengan tergesa-gesa. Alex langsung menyambut ramah dan mempersilahkan dokter berumur lebih dari enam puluh tahun itu memeriksa Sunny, dia adalah dokter Alan, dokter yang sudah mengabdi pada keluarga besar Rendra selama puluhan tahun, termasuk dokter yang mendampingi pengobatan Melanie sejak awal.

"Bagaimana, Dok?" tanya Alex.

"Demamnya cukup tinggi, tapi saya tau Sunny tidak memiliki alergi apapun selain hujan, tekanan darah lumayan rendah, sepertinya akhir-akhir ini dia sering mengalami pusing atau sakit kepala, hanya saja dia tidak memberitahu kalian."

"Saya akan memberikan paracetamol dan beberapa vitamin. Sunny sepertinya hanya kelelahan atau sedang terlalu banyak pikiran."

"Tolong, sebagai orang dewasa, kita seharusnya bisa mengartikan kalimat-kalimat polos dari anak sekecil Sunny, mungkin ia membutuhkan sesuatu yang mungkin tidak bisa dia ungkapkan secara terang-terangan."

Dokter menjelaskan panjang lebar tentang kondisi pasien kecilnya, mengamati kondisi kesehatan Sunny sejak bayi, membuat dokter tersebut sangat paham apa yang Sunny alami.

"Akhir-akhir ini dia memang selalu meminta tinggal bersamaku, Dok. Tapi aku belum siap, aku belum bisa mempercayakan Sunny di rawat oleh orang lain, aku masih kesulitan kalau harus merawatnya sendiri," jelas Alex, ia lalu menceritakan hal-hal yang terjadi pada Sunny akhir-akhir ini.

"Tuan Alex, menjadi orang tua itu memang sulit, kalau mudah, mungkin saya dan istri saya sudah membuat sepuluh anak dalam pernikahan kami yang sudah mencapai 40 tahun ini, tapi kami membatasinya, karena kami sudah merasa kurang mampu."

"Setiap anak itu unik, Sunny tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ibu, tapi dia tetap menjadi anak yang sangat ceria, kita tidak tau bagaimana perasaannya, tapi dia terlihat tegar karena dia masih memiliki orang-orang yang berada di sekelilingnya."

"Bukankah permintaan Sunny itu mudah, Tuan Alex? Anda sudah harus mulai mempercayai orang lain, karena Sunny sangat membutuhkannya."

Wejangan dari dokter membuat Alex sadar, bahwa dirinya terlalu takut akan hal-hal yang belum tentu terjadi. Tapi itu wajar, karena Sunny adalah hidupnya, dan jika sedikit saja Sunny tersakiti, maka ia juga akan merasakan sakit yang luar biasa pedih.

Setelah dokter memberikan resep obat, nyonya Gio langsung meminta pelayannya pergi ke apotek untuk membeli obat-obat tersebut.

Dokter Alan pamit, Alex mengantarnya sampai ke depan pintu utama.

"Tuan Alex, kamu adalah laki-laki kuat, tidak mudah untuk menjadi orang tua tunggal, namun saya yakin, Melanie tidak pernah salah memilih pasangan."

Kata-kata terakhir sebelum dokter itu keluar dari rumah, membuat hati Alex sedikit menghangat. Ya, dia merasa lebih baik sekarang.

Dengan perasaan khawatir yang mulai kabur, Alex kembali ke kamar Sunny, ia melihat gadis kecilnya masih tertidur pulas.

"Ma, aku akan menginap dan tidur di kamar ini. Mama boleh istirahat," ucap Alex.

"Kamu pasti lelah, Alex. Tidurlah di kamar, biar mama yang jagain Sunny."

"Nggak, Ma. Mama yang seharusnya lebih menjaga kesehatan, kalau tiba-tiba tengah malam Sunny terbangun, mama akan kurang tidur, jadi sebaiknya mama yang istirahat di kamar. Aku akan mandi sebentar."

Nyonya Gio tersenyum menatap menantunya yang begitu baik dan penuh perhatian, ia merasa beruntung karena Melanie membawa seseorang yang sangat baik untuk melengkapi keluarganya.

"Terimakasih, Nak. Mama akan suruh pelayan mengantarkan kopi," ucap nyonya Gio, kemudian berlalu pergi keluar dari kamar.

Setelah memastikan Sunny tidur nyenyak, Alex bergegas mandi dengan buru-buru, ia tidak mau saat Sunny terbangun lalu ia tidak ada di sampingnya.

Benar saja, saat Alex kembali setelah mengganti baju, Sunny sudah mengigau memanggil-manggil ibunya.

"Mommy ... Mommy."

Alex langsung duduk di tepian kasur, berusaha menyadarkan putrinya.

"Sayang, Bangun. Ini daddy," ujar Alex, ia mengangkat tubuh Sunny dan memangkunya.

"Sayang, Sunny, bangun, Nak."

Perlahan, Sunny membuka matanya, ia mengerjap pelan kemudian langsung memeluk erat Alex.

"Daddy!"

"Apa kamu mimpi buruk?" tanya Alex, Sunny mengangguk, tetap dengan posisi memeluk Alex erat.

"Ada apa? ceritakan pada daddy," pinta Alex, namun Sunny sepertinya enggan bercerita, ia hanya terus mempererat pelukannya.

Alex tidak memaksa, ia membiarkan sang putri menenangkan diri dengan memeluk dirinya, sampai ketukan pintu mengejutkan mereka.

"Ya, masuk!" perintah Alex. Seorang pelayan membawa nampan berisi obat dan vitamin untuk Sunny, lengkap dengan air putih dan kopi untuk Alex.

"Terimakasih," ucap Alex.

Dan inilah saatnya untuk membujuk Sunny meminum obat, anak itu termasuk anak yang menolak keras meminum obat jenis apapun.

"Ayo, Sayang. Yang ini obat penurun panas, cuma satu. Ini vitamin, nggak pahit, kok," jelas Alex.

"Nggak mau!" tolak Sunny.

"Ayo, Sayang. Setelah demamnya turun, kita bisa ke makam mommy. Daddy kan sudah janji," bujuknya lagi.

"Nggak mau!" Lagi-lagi Sunny menolak.

"Baiklah, daddy akan belikan boneka baru."

"Nggak mau."

"Mainan baru?"

"Nggak mau, daddy. Nggak mau!" Sunny tetap menggelengkan kepalanya kuat.

Alex sudah kehilangan akal, setiap kali Sunny demam, batuk, atau pilek, inilah yang selalu ia alami, membujuk putrinya yang setengah mati menolak obat.

"Baiklah, Daddy janji, Hari ulangtahun kesayangan daddy ini, akan di rayakan di rumah daddy dan setelah itu Sunny juga bisa tinggal bersama daddy, bagaimana?"

Hening beberapa saat, Sunny tampak berpikir serius.

"Setuju!" Sunny berteriak riang.

Alex langsung membantu Sunny meminum obat dan vitaminnya, ia tersenyum senang akhirnya mampu membujuk putrinya.

🖤🖤🖤

1
ZrLee Darman
🤣🤣🤣🤣🤣
ZrLee Darman
oh ya Allah Nora sebegitu polos nya kamu...ngakakkk 🤣🤣🤣🤣
ZrLee Darman
berasap ga' tuh 🤣
ZrLee Darman
ingat ily brownis jgn gosong ya
Mutia
Aku bingung disini nama ibu Felicia Nerisa atau Anindita, apa aku yg salah
Irma Dwi
kog foto aq dipajang di situ sih Thor
Irma Dwi
😭
Irma Dwi
visual nya kog cakep2 sih
Irma Dwi
🥰
Irma Dwi
part pertama sudah mengandung bawang
Lismardiana
Biasa
🌺Ulie
keren.. konfliknya tidak terlalu berat, sukses buat outhor dan jangan lupa katya2 barunya.. apresi banget tanpa batas ya buat penulis dan tetap semangat
Sri Wahyuni
Luar biasa
Fitria Astutik
👍
Gita mujiati
Luar biasa
Gita mujiati
Lumayan
安呢
Luar biasa
Juleha. Siti
jodohny alex si nora y thor
Puspita Sari
ternyata emaknya Aroon si Samantha anak yg dipungut juga tapi di ceritanya Aron hayley sombongnya ga ketulungan wkwkwjj
Puspita Sari
abis haid lsg gempur gmn ga lsg jadi kan dlm masa subur itu udh gtu digempurnya ber ronde ronde/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!