NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Gerbang Pegunungan yang Angkuh

Udara di kaki Pegunungan Mo-Yun tidak lagi berbau tanah basah hutan, melainkan aroma dingin yang tajam, seperti bau salju yang belum jatuh. Di depan Guiren, jalan setapak yang mereka daki selama berhari-hari berakhir pada sebuah pelataran batu luas yang dipayungi oleh lengkungan gerbang raksasa. Gerbang itu terbuat dari batu hitam yang dipahat menyerupai sapuan kuas raksasa, dengan tulisan "Mo-Yun" yang memancarkan aura otoritas yang menekan.

Guiren berdiri mematung. Tongkat kayunya mengetuk lantai batu dengan bunyi yang kering di tengah luasnya pelataran. Di belakangnya, Xiaolian merapatkan tubuh, tangannya menggenggam erat kain jubah Guiren yang kini dipenuhi noda kotor.

"Siapa yang mengizinkan pengemis naik sampai ke sini?"

Suara itu datang dari arah pilar gerbang. Melalui Visi Qi-nya yang masih sedikit kabur karena kelelahan mental, Guiren melihat dua siluet energi yang berdiri tegak. Mereka mengenakan seragam sekte berwarna abu-abu awan, dengan pedang tergantung di pinggang, lambang status yang membuat mereka merasa memiliki gunung ini.

Guiren menundukkan kepala sedikit, gestur yang lebih mirip upaya menjaga keseimbangan daripada penghormatan. "Saya membawa rekomendasi dari Paviliun Awan Hijau."

Salah satu penjaga melangkah maju. Suara sepatunya di atas batu terdengar seperti derap kaki kuda yang sombong. Ia tidak segera mengambil surat itu, melainkan mengitari Guiren dengan tatapan yang bisa dirasakan dinginnya meski mata Guiren tertutup kain.

"Rekomendasi?" Penjaga itu tertawa singkat, suara yang menghina. "Lihat dirimu. Kau butuh tongkat untuk sekadar berdiri. Pakaianmu lebih cocok untuk menyeka lantai dapur kami. Dan kau berani datang ke gerbang Mo-Yun?"

Ia kemudian melirik Xiaolian yang gemetar di balik punggung Guiren. Dengan kasar, penjaga itu menarik bahu Xiaolian agar gadis itu terlihat jelas. "Dan apa ini? Kau pikir sekte ini adalah panti asuhan? Kau datang untuk berlatih atau untuk membuang beban?"

Xiaolian terpekik pelan, tangannya yang menggenggam jubah Guiren semakin kencang hingga kukunya memutih. Ia menunduk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang pucat.

Guiren tidak bergerak. Tangannya yang memegang tongkat mengencang, namun ia tidak mengangkatnya. Ia merasakan kemarahan yang tumpul di dadanya, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk rasa takut yang ia rasakan dari detak jantung Xiaolian yang berpacu di belakangnya. Dunia kultivator ternyata tidak jauh berbeda dengan pasar gelap Qing-He, hanya saja di sini, kekejamannya dibungkus dengan kain sutra dan batu pahat yang megah.

"Gadis ini adalah urusan saya," ucap Guiren datar. "Saya hanya meminta hak untuk mengikuti ujian."

Penjaga kedua mendekat, meludah ke samping kaki Guiren. "Hak? Hak hanya milik mereka yang memiliki mata untuk melihat jalan, atau tangan yang tidak gemetar karena lapar. Mengajarkan orang cacat sepertimu hanya akan membuang-buang tinta berharga sekte kami. Kau hanya akan menjadi noda di atas kanvas Mo-Yun yang bersih."

Penjaga pertama merenggut amplop kulit dari tangan Guiren. Ia tidak membukanya, hanya membolak-baliknya dengan jijik seolah benda itu berlumuran kotoran. "Jika Nyonya Zhu memang mengirimmu, dia pasti sedang bercanda. Atau mungkin dia hanya ingin melihat seberapa jauh seorang pengemis buta bisa merangkak naik gunung sebelum akhirnya menyerah."

Ia melemparkan kembali amplop itu ke lantai batu, tepat di depan kaki Guiren.

"Tunggu di sini. Jangan bergeser dari garis batas. Jika kau atau beban kecilmu itu melangkah masuk tanpa izin, aku akan memastikan kaki kalian tidak akan bisa digunakan untuk merangkak turun," ancamnya.

Kedua penjaga itu kembali ke posisi mereka, mengabaikan Guiren seolah ia hanyalah sebongkah batu yang tak sengaja menggelinding ke pelataran.

Guiren membungkuk perlahan, meraba lantai batu yang dingin sampai jemarinya menyentuh amplop surat tersebut. Ia bisa merasakan tatapan mata orang-orang, mungkin calon murid lain yang mulai berdatangan, yang menatap mereka dengan campuran rasa jijik dan kasihan.

"Kakak... ." suara Xiaolian bergetar, hampir pecah. "Kita pergi saja... tempat ini menakutkan."

Guiren berdiri tegak kembali, memasukkan amplop itu ke dalam jubahnya. Ia meraba tangan Xiaolian, meremasnya pelan sebagai tanda bahwa ia masih di sana. Kemarahan yang tadi tumpul kini mengendap menjadi tekad yang dingin dan pekat seperti tinta di dasar wadah dantiannya.

"Kita tidak punya rumah untuk pulang, Lian’er," bisik Guiren, hanya untuk adiknya. "Dunia ini memang membenci mereka yang lemah. Maka kita hanya perlu menjadi cukup tajam hingga mereka tidak bisa menyentuh kita tanpa terluka."

Mereka tetap berdiri di sana, di bawah bayang-bayang gerbang batu yang angkuh. Kabut mulai turun dari puncak gunung, menyelimuti tubuh mereka yang kedinginan, namun Guiren tidak bergeming. Ia menunggu. Menunggu celah di mana kemampuannya tidak lagi dinilai dari penampilannya, melainkan dari kedalaman duka yang mampu ia tumpahkan ke atas kertas.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!