Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sore itu, hujan turun rintik-rintik, membasahi jendela kamar Nadia. Ia tengah merapikan beberapa berkas untuk bekerja besok. Ketika ponselnya bergetar pelan di atas meja. Seketika langkah tangannya terhenti saat nama Gibran muncul di layar.
Ada rasa kaget yang bercampur senang, seolah hatinya sudah lebih dulu tahu bahwa panggilan itu akan berarti sesuatu.
Nadia menelan ludah, lalu menjawab.
“Halo, Nadia…” suara Gibran terdengar di seberang sana, tenang namun mengandung jeda yang membuat Nadia menunggu.
“Halo, Gibran. Ada apa?” jawab Nadia, berusaha terdengar biasa, meski detak jantungnya mulai tak beraturan.
Gibran terdiam sesaat, seperti sedang menyusun kata.“Kamu sibuk nggak sore ini?”
Nadia menggeleng kecil, lupa bahwa Gibran tak bisa melihatnya.“Nggak juga. Kenapa?”
“Aku… ingin bertemu.”
Suara itu terdengar jujur, tanpa basa-basi. “Ada kafe kecil dekat taman kota. Kalau kamu berkenan, kita bisa mengobrol sebentar.”
Jantung Nadia seolah melonjak. Tangannya yang memegang ponsel sedikit bergetar, sementara senyum lebar perlahan terlukis di wajahnya.“Ketemu?” ulangnya pelan, memastikan ia tidak salah dengar.
“Iya. Kalau kamu mau.” Nada Gibran terdengar lebih lembut.
Nadia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.“Boleh saja,” jawabnya akhirnya. “Jam berapa?”
Gibran terdengar tersenyum.
“Setelah magrib. Aku jemput, atau kita ketemu langsung di sana?”
“Ketemu langsung aja,” sahut Nadia cepat, lalu tertawa kecil karena merasa terlalu bersemangat.“Aku akan datang.”
“Baik. Aku tunggu, Nadia.”
Telepon itu berakhir, namun Nadia masih memandangi ponselnya lama setelahnya. Dadanya terasa hangat, detak jantungnya tak kunjung melambat. Ia menekan telapak tangannya ke dada, mencoba memahami perasaan yang tiba-tiba hadir begitu nyata.
Kenapa ia begitu senang hanya karena ajakan bertemu?
Kenapa suaranya masih terngiang di kepala?
Nadia tersenyum sendiri. Mungkin, tanpa ia sadari, perasaan itu telah tumbuh perlahan...tenang, hangat, dan diam-diam mengambil tempat di hatinya. Dan kini, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri… apakah ini yang disebut cinta?
********
Lampu-lampu kafe itu memancarkan cahaya temaram yang hangat, berpadu dengan alunan musik pelan yang mengalir lembut di udara malam. Nadia melangkah masuk dengan jantung berdebar, jemarinya saling menggenggam gugup. Pandangannya menyapu ruangan...hingga akhirnya berhenti pada satu sosok di sudut dekat jendela.
Gibran.
Dari kejauhan, Nadia menahan napas. Malam ini, laki-laki itu tampak… berbeda. Kemeja gelap yang dikenakannya membingkai tubuhnya dengan sempurna, membuat kesan dewasa dan berwibawa semakin kuat. Wajahnya tegas namun tenang, seolah seluruh dunia bisa ia kendalikan hanya dengan tatapan mata itu.
Nadia menelan ludah.
Ia tak bisa memungkiri kenyataan bahwa Gibran memiliki paras yang menawan untuk ukuran laki-laki dewasa. Hidungnya mancung, rahangnya tegas, alisnya tebal dan rapi, sementara bibirnya yang sedikit tebal memberi kesan maskulin yang sulit diabaikan. Namun yang paling membuat Nadia terpaku adalah tatapan matanya...tajam, dalam, seakan menyimpan banyak cerita yang tak semua orang diizinkan membacanya.
Tak heran, beberapa pasang mata diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Gibran memang kerap menjadi pusat perhatian, bahkan tanpa berusaha.
Seolah merasakan tatapan itu, Gibran mendongak. Pandangan mereka bertemu.
Seketika, wajah Gibran melunak. Senyum kecil terbentuk di sudut bibirnya saat ia berdiri dan melangkah mendekat.
“Kamu sudah datang,” ucapnya pelan
ketika Nadia tiba di hadapannya.
“Iya… maaf, aku telat sedikit,” jawab Nadia, meski sebenarnya ia datang tepat waktu. Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, nyaris tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.
“Nggak apa-apa. Aku juga baru sampai,” kata Gibran sambil menarikkan kursi untuknya. “Duduk.”
Nadia mengangguk, duduk dengan gerakan canggung. Ia merapikan ujung gaunnya, lalu mendongak. Tatapan Gibran masih tertuju padanya...tenang, namun membuat Nadia merasa seolah sedang diperhatikan.
“Kamu kelihatan… cantik malam ini,” ujar Gibran tiba-tiba, sedikit ragu namun jujur.
Pipi Nadia seketika terasa panas.
“Terima kasih,” balasnya singkat, sambil tersenyum malu dan menunduk.
Hening sejenak menyelimuti mereka, bukan hening yang canggung, melainkan penuh makna. Nadia menyadari sesuatu...kehadiran Gibran di hadapannya membuat dunia terasa mengecil, seolah hanya ada mereka berdua di tengah keramaian kafe itu.
Dan di dalam hatinya, sebuah perasaan kembali berdesir lembut.
Beberapa menit kemudian, pelayan datang membawa dua cangkir kopi, memecah keheningan yang sejak tadi terasa lembut, bukan canggung. Uap tipis mengepul, membawa aroma yang hangat, mengisi ruang di antara mereka. Nadia menatap permukaan kopinya sesaat, lalu kembali mencuri pandang ke arah Gibran yang duduk berhadapan dengannya.
Laki-laki itu tidak banyak bicara. Sikapnya tetap sama..tenang, seperlunya, bahkan cenderung cuek. Namun justru di situlah Nadia mulai menyadari sesuatu yang berbeda.
“Kopinya jangan langsung diminum. Panas,” ucap Gibran datar, sambil mendorong cangkir Nadia sedikit menjauh dari tepi meja.
Nadia tertegun. Ia mengangguk kecil.
“Iya…”
Gibran melirik ke luar jendela.
“Kamu kehujanan waktu datang?”tanyanya.
Saat Nadia akan berangkat, hujan memang turun. Namun hanya sebentar.
“Nggak, tadi hujannya sudah reda.”
“Bagus. Aku lihat kamu nggak bawa jaket.”
Kalimat itu sederhana. Nada suaranya biasa saja. Tapi entah kenapa, dada Nadia terasa menghangat. Ia tersenyum kecil, jari-jarinya menggenggam cangkir kopi yang mulai hangat.
Mereka berbincang tentang hal-hal ringan...tentang hobi, tentang kafe itu, tentang hal-hal sepele yang seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun bagi Nadia, setiap detik terasa istimewa. Cara Gibran mendengarkan tanpa memotong, caranya menatap mata Nadia saat berbicara, bahkan jeda-jeda sunyi di antara mereka...semuanya membuat Nadia merasa… diperhatikan.
Sesekali, Gibran menggeser piring kecil ke arahnya.“Ini enak. Coba.”
Nadia menuruti, mencicipinya.
“Kamu tahu dari mana?”
“Aku sering ke sini.”
Nada itu tetap datar, tapi matanya menatap Nadia, seolah ingin memastikan gadis itu benar-benar menikmatinya.
Nadia tertawa kecil.“Kamu itu aneh, tahu nggak.”
“Kenapa?
“Kelihatannya cuek… tapi perhatian.”
Gibran terdiam. Tatapannya turun sesaat ke meja, lalu kembali pada Nadia.
“Aku tidak pandai bicara manis.”
“Aku tahu,” jawab Nadia pelan. “Dan itu nggak apa-apa.”
Nadia menyadari betapa ia mulai menyukai setiap perlakuan Gibran...cara laki-laki itu memastikan ia nyaman, cara ia memperhatikan tanpa banyak kata, cara ia hadir tanpa perlu menjanjikan apa pun. Tidak terang-terangan. Tidak berlebihan. Tapi nyata.
Gibran berdiri lebih dulu saat waktu hampir larut.“Sudah malam. Kamu sebaiknya pulang.”
Nadia mengangguk, sedikit enggan.
“Iya…”
Di depan kafe, angin malam berhembus pelan. Gibran membuka payung, lalu berdiri lebih dekat agar Nadia tidak kehujanan sisa gerimis. Jarak mereka begitu dekat hingga Nadia bisa mencium aroma samar parfumnya.
“Hati-hati di jalan,” ucap Gibran pelan.
Nadia menatapnya, matanya berbinar.
“Terima kasih… untuk malam ini.”
Gibran mengangguk singkat. Namun sebelum berbalik, ia berkata,“Lain kali… kita ke sini lagi. Kalau kamu mau.”
Nadia tersenyum tipis, "Boleh saja."
"Mm... atau mau aku antar pulang, sudah malam takut terjadi apa-apa di jalan." Gibran menawari tumpangan.
Nadia menggeleng pelan, "Tida usah. Lahi pula aku bawa motor sendiri. Kalau aku di antar pulang olehmu, motorku bagaimana?"
"Gampang, nanti... aku menyuruh teman untuk mengantarkan motormu ke rumah," balas Gibran.
Nadia kembali menggeleng. "Tidak usah, aku pulang sendiri saja."
Gibran tidak mau memaksa, "Ya sudah. Hati-hati di jalan."
Nadia mengangguk, gadis itu segera meninggalkan Gibran yang masih setia memandangi arah kepergian gadis itu lebih lama dari yang seharusnya.
Begitu ia yakin Nadia sudah benar-benar pergi, Gibran menarik napas panjang, berat, seolah baru saja melepaskan sesuatu yang sejak tadi ia tahan di dadanya.
“Bodoh…” gumamnya pelan.
Ia mengusap wajahnya kasar, lalu terkekeh hambar. Dalam kepalanya, adegan malam itu berulang...tatapan Nadia yang lembut, senyum malunya, caranya mendengarkan dengan penuh perhatian. Dan bersamaan dengan itu, rasa sesal mulai merayap pelan.
Kenapa ia harus bersikap sok cool?
Kenapa ia memilih diam, bicara seperlunya, berpura-pura tenang seperti tak ada apa-apa?
“Harusnya tadi aku lebih santai,” ujarnya lagi pada diri sendiri. “Bercanda sedikit kek. Cerita yang aneh-aneh. Ketawa bareng…”
Gibran menyandarkan punggungnya pada tiang kafe, menatap langit malam yang gelap. Ia membayangkan bagaimana seharusnya malam itu berjalan...Nadia tertawa lepas, matanya berbinar lebih terang, suasana yang lebih hangat tanpa sekat-sekat tak kasatmata yang ia ciptakan sendiri.
Namun kenyataannya, ia kaku.
Bukan karena tidak ingin, tapi karena tidak terbiasa.Tidak biasa merasa gugup hanya karena duduk berhadapan dengan satu orang.
Tidak biasa memikirkan setiap kata, takut terlalu jauh, takut terlalu terlihat.
“Canggung amat sih, Bran,” gumamnya lirih, kali ini sambil tersenyum kecil.
Ia tahu, di balik sikap cueknya, hatinya justru sedang berisik. Ada keinginan kuat untuk lebih dekat, untuk mengenal Nadia tanpa jarak. Namun naluri lamanya...untuk menjaga batas, untuk tidak terlalu membuka diri...masih terlalu kuat.
Gibran menutup mata sejenak, lalu menghembuskan napas perlahan.
“Mungkin… lain kali,” katanya pelan, seolah berjanji pada dirinya sendiri. “Lain kali aku akan lebih jujur. Lebih jadi diriku sendiri."
bersambung....