"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Shift Malam (Ayah Magang)
"Jam dua lewat sepuluh."
Cayvion melirik jam tangan mahalnya yang berkilau dalam kegelapan kamar. Angka-angka itu menyala hijau, satu-satunya sumber cahaya selain lampu tidur remang-remang di sudut ruangan.
Suasana hening. Hanya ada suara rintik hujan sisa badai semalam yang mengetuk jendela kaca, beradu dengan suara napas berat dari ranjang kecil di depannya.
Cayvion melangkah masuk tanpa suara. Kakinya yang hanya berbalut kaus kaki menapak hati-hati di lantai parket, takut menimbulkan bunyi derit sekecil apapun. Dia menahan napas saat melewati kursi di samping tempat tidur.
Di sana, Hara tertidur dengan posisi yang pasti akan menyiksa lehernya besok pagi. Kepalanya terkulai miring di sandaran kursi yang keras, mulutnya sedikit terbuka, dan tangannya terkulai lemas memegang pinggiran baskom air yang sudah dingin.
Wanita itu kelelahan. Dia sudah berperang melawan demam Elio sendirian sejak empat jam yang lalu, menolak bantuan siapapun, termasuk menolak tawaran Cayvion untuk memanggil suster pribadi.
"Keras kepala," gumam Cayvion pelan, tapi ada nada kagum dalam suaranya. Dia mengambil selimut tipis dari lemari, lalu menyelimuti tubuh istrinya dengan gerakan sangat pelan. Hara bergerak sedikit, menggumamkan kata "kompres" dalam tidurnya, lalu kembali pulas.
Tugas Cayvion sekarang. Shift malam dimulai.
Dia mengambil baskom air dari dekat tangan Hara, membawanya ke kamar mandi dalam, dan menggantinya dengan air hangat baru. Dia memeras handuk kecil itu kuat-kuat sampai tidak ada air yang menetes.
Cayvion kembali ke sisi ranjang. Dia menatap Elio.
Bocah itu terlihat sangat kecil di tengah selimut tebal bergambar robot itu. Wajahnya yang biasanya datar dan sok dewasa, kini tampak rapuh. Rona merah tidak wajar masih menghiasi pipinya, meski napasnya sudah tidak secepat tadi.
Karena Rlio tidak mau dibawa ke rumah sakit, Akhirnya Cayvion memanggil Dokter Robert. Untung saja rumahnya tidak jauh, sehingga Elio bisa dengan cepat ditangani.
Dengan tangan gemetar—tangan yang sama yang biasa menandatangani keputusan pemecatan ratusan karyawan tanpa berkedip—Cayvion mengangkat handuk dingin dari dahi putranya dan meletakkan handuk hangat yang baru.
Elio melenguh pelan, keningnya berkerut karena gangguan itu, tapi matanya tetap terpejam.
Cayvion menarik kursi kecil ke sisi ranjang, duduk tepat di depan wajah anaknya. Dia menopang dagu, menatap lamat-lamat fitur wajah Elio yang diterangi cahaya lampu tidur kuning temaram.
Selama ini, dia selalu sibuk. Dia melihat anak-anaknya hanya sekilas saat sarapan atau saat mereka membuat kekacauan di kantornya. Dia tahu mereka kembar, dia tahu Elio mirip dengannya. Tapi dia tidak pernah benar-benar memperhatikannya.
Malam ini, dengan jarak sedekat ini, Cayvion seperti melihat cermin waktu.
Alis tebal yang menukik tajam itu... itu alisnya. Persis.Hidung mancung yang sedikit angkuh itu... cetakan hidungnya sendiri.
Bahkan garis bibir Elio yang tipis dan terkatup rapat saat tidur... itu adalah bibir Cayvion.
"Kamu mencuri wajah Papa seratus persen, ya?" bisik Cayvion, senyum tipis terukir di bibirnya. "Kasihan Mami, capek-capek mengandung sembilan bulan, cuma kebagian warna mata doang."
Cayvion mengulurkan jari telunjuknya, menyusuri garis rahang Elio tanpa menyentuh kulitnya, takut membangunkan bocah itu.
Tiba-tiba, rasa sesak memenuhi dada Cayvion. Rasa bersalah yang membuncah.
Dia melihat dirinya sendiri di sana. Cayvion kecil yang kesepian, yang selalu dituntut menjadi sempurna oleh ibunya, Alina. Cayvion kecil yang dilarang menangis, dilarang sakit, dilarang lemah.
Dan sekarang, dia melihat Elio. Bocah lima tahun yang sudah bicara soal saham. Bocah yang menahan diri untuk tidak menerima mainan demi harga diri.
"Kamu persis Papa," bisik Cayvion lagi, suaranya serak. "Keras kepala. Logis. Gengsian."
Cayvion mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Elio yang panas.
"Tapi kamu harus kuat. Dengar Papa? Kamu itu Alger. Darah Alger itu petarung. Kita nggak kalah sama virus cemen begini. Kita nggak kalah sama demam."
Cayvion meraih tangan mungil Elio yang terkulai di atas selimut. Tangan itu terasa membara. Cayvion menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar dan dingin, berusaha mentransfer kekuatannya, atau mungkin menyerap rasa sakitnya.
"Ayo sembuh. Besok kamu harus bangun. Kamu harus marahin Papa lagi karena grafik saham Papa merah. Siapa yang mau kasih nasihat investasi kalau kamu tidur terus?"
Seolah mendengar suara ayahnya menembus kabut demam, jemari kecil Elio bergerak.
Cengkeraman itu lemah, tapi nyata. Elio meremas jari telunjuk Cayvion.
Cayvion terkesiap. Dia menahan napas. "Elio?"
Mata bocah itu masih terpejam rapat, tapi bibirnya bergerak-gerak gelisah. Keningnya berkerut dalam, seolah sedang menahan beban berat dalam mimpinya.
"Papa..."
Suara itu lirih, pecah, dan sangat rapuh. Bukan suara Elio si jenius saham. Itu suara anak kecil yang ketakutan.
"Papa di sini, Nak. Papa di sini," jawab Cayvion cepat, mempererat genggamannya.
"Papa jangan pergi..." racau Elio, kepalanya menggeleng pelan di atas bantal, air mata merembes keluar dari sudut matanya yang tertutup. "Jangan kerja... Papa di sini aja... temenin Elio..."
Pertahanan Cayvion runtuh seketika.
Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada kerugian triliunan rupiah. Selama ini Elio selalu bersikap dingin, seolah tak butuh sosok ayah. 'Papa kerja aja cari uang', begitu kata Elio biasanya.
Ternyata itu semua bohong. Di balik logika dan sikap dinginnya, Elio hanyalah anak kecil yang rindu. Anak kecil yang ingin ditemani ayahnya saat sakit, bukan ditinggal bersama tumpukan mainan mahal.
"Papa nggak kerja," suara Cayvion bergetar hebat. Tenggorokannya sakit menahan isak. "Besok Papa bolos. Papa di sini. Papa temenin Elio sampai sembuh. Sumpah."
Elio tidak menjawab lagi. Napasnya perlahan menjadi lebih tenang setelah mendengar janji itu. Cengkeraman tangannya melonggar, tapi tidak lepas. Dia tertidur lagi, kali ini dengan damai.
Cayvion menunduk, menatap tautan tangan mereka. Tangan besar seorang CEO yang ditakuti dunia bisnis, kini takluk tak berdaya oleh tangan mungil yang sedang sakit.
Satu tetes air mata lolos dari pertahanan Cayvion. Jatuh menetes tepat di punggung tangan Elio.
Cepat-cepat dia menyekanya dengan punggung tangan. Seorang Alger tidak menangis. Tapi malam ini, dia bukan Alger sang CEO. Dia hanya seorang ayah yang baru saja belajar arti menjadi orang tua.