NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Lian Hilang!

Sudah 3 Minggu lebih Lian berada di desa terpencil ini, Minggu depa ia dan mahasiswa lain nya akan pulang. Subuh datang lebih cepat dari biasanya.

Lian terbangun sebelum azan terdengar. Udara dingin desa menyusup melalui celah tenda, membuat kulitnya merinding pelan. Ia duduk sejenak, menyesuaikan diri dengan kesunyian pagi, lalu meraih handuk dan perlengkapan mandi.

Kamar mandi darurat desa itu sederhana—airnya dingin, mengalir dari pipa kecil yang bersumber dari mata air pegunungan. Lian mandi pagi itu, membersihkan tubuh dan pikirannya. Air dingin membuatnya terjaga sepenuhnya.

Ia tidak mengeluh.

Dulu, bangun subuh adalah perjuangan.

Sholat sering ditunda.

Kadang ditinggalkan.

Namun kini, tanpa ada yang menyuruh, tanpa ada Haikal di sampingnya pun—kakinya melangkah sendiri ke sajadah.

Lian membentangkan sajadah di dalam tenda.

Ia berdiri menghadap kiblat, meluruskan niat. Bacaan sholatnya pelan, tertata, tidak tergesa. Setiap gerakan terasa lebih khusyuk dari sebelumnya—bukan karena ia tiba-tiba menjadi sempurna, melainkan karena hatinya kini lebih tenang.

Setelah salam, ia duduk lebih lama.

Berzikir sebentar.

Menundukkan kepala.

Bukan meminta banyak hal.

Hanya bersyukur.

Matahari sudah naik ketika Lian keluar dari tenda. Cahaya pagi menyentuh wajahnya lembut, udara terasa segar—bersih dari polusi dan kebisingan kota.

Belum sempat ia melangkah jauh, suara kecil memanggilnya.

“Kak Lian!”

Ia menoleh.

Anak-anak desa sudah berkumpul di dekat tenda. Ada yang membawa layangan, ada yang menenteng bola kain, ada pula yang hanya berdiri sambil tersenyum lebar.

“Kita main hari ini, kan?” tanya salah satu dari mereka penuh harap.

Lian tertawa kecil. “Main itu wajib.”

Anak-anak bersorak.

“Tapi…” Lian mengangkat satu jari. “Hari ini Kakak ikut kepala desa keliling dulu. Nanti sore kita main lagi.”

Wajah-wajah kecil itu sedikit kecewa, namun segera mengangguk.

“Iyaaa…”

Lian mengusap kepala mereka satu per satu sebelum melangkah pergi.

Di balai kecil desa, kepala desa sudah menunggu. Pria paruh baya itu menyambut Lian dengan ramah, menjelaskan rencana hari ini—meninjau sumber air, area pertanian, dan beberapa rumah warga yang akan dibantu mahasiswa.

Lian mendengarkan dengan serius.

Di belakang mereka—

dengan jarak yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh—

Haikal berjalan bersama dua rekannya.

Seragam lengkap.

Langkah mantap.

Wajah tanpa ekspresi.

Profesional.

Ia tidak menatap Lian terlalu lama. Tidak berjalan di sisinya. Tidak menunjukkan hubungan apa pun. Siapa pun yang melihat, akan mengira mereka hanya warga sipil dan pasukan pengamanan yang kebetulan berada di jalur yang sama.

Namun Haikal melihat segalanya.

Cara Lian berjalan.

Cara ia mendengarkan.

Cara ia sesekali menunduk sopan pada warga yang menyapa.

Matanya awas, menyapu setiap sudut desa. Tangannya sesekali menyentuh radio komunikasi di dadanya.

Seorang rekan mendekat dan berbisik, “Aman.”

Haikal mengangguk singkat.

Di tengah peninjauan, kepala desa berhenti sejenak.

“Terima kasih sudah datang sejauh ini,” katanya pada Lian. “Jarang ada mahasiswa yang mau benar-benar turun ke desa seperti ini.”

Lian tersenyum. “Saya belajar banyak di sini, Pak.”

Haikal mendengar itu.

Dan di dadanya, ada sesuatu yang bergerak pelan—

bukan rasa ingin melindungi yang membabi buta,

melainkan kebanggaan yang tenang.

Ia menjaga dari belakang.

Tidak mencampuri.

Tidak menginterupsi.

Profesional.

Namun setiap langkah Lian yang menjauh dari pandangannya,

ia pastikan masih berada dalam jangkauan.

Pagi itu, matahari semakin tinggi.

Dan tanpa banyak kata, Haikal tahu—

Perubahan Lian bukan sekadar karena waktu.

Melainkan karena ia akhirnya menemukan alasan untuk pulang ke dirinya sendiri.

Pagi di desa itu berjalan pelan.

Lian melangkah menyusuri jalan tanah bersama kepala desa. Udara masih sejuk, aroma dedaunan basah bercampur tanah segar memenuhi paru-parunya. Rumah-rumah kayu berdiri berjajar dengan jarak yang tidak terlalu rapat, namun juga tidak berdesakan seperti di kota.

Mereka berhenti di sebuah area terbuka.

Di sana berdiri sumur tua besar, dindingnya terbuat dari batu yang sudah menghitam dimakan usia. Tali timba tergantung dengan bekas gesekan bertahun-tahun.

“Ini satu dari tiga sumur yang kami punya,” ujar kepala desa.

Lian mendekat, menunduk menatap ke dalam sumur. Airnya terlihat jernih, namun kedalamannya cukup mengkhawatirkan.

“Tiga?” ulang Lian pelan.

“Iya,” jawab kepala desa. “Satu di sini, satu di sebelah timur desa, satu lagi di dekat ladang.”

Lian berdiri tegak, menyapu pandangan ke sekeliling.

Desa ini memang tidak besar seperti kota. Namun tetap saja—

tiga sumur untuk ratusan jiwa…

terlalu sedikit.

“Air cukup?” tanya Lian.

“Cukup… tapi harus bergantian,” jawab kepala desa jujur.

Lian mengangguk pelan. Di kepalanya, catatan-catatan mulai tersusun rapi.

Ia berjalan lagi, kali ini menyusuri pinggir desa. Di sana, pepohonan tua berdiri menjulang, beberapa terlihat baru ditebang, menyisakan tunggul besar yang masih segar.

“Pak,” ujar Lian sambil menunjuk area itu, “apakah setiap tahun selalu ada penebangan pohon tua dan penanaman pohon baru?”

Kepala desa menoleh, lalu mengangguk. “Benar, Nak. Kami tanam ulang. Itu aturan adat di sini.”

“Bagus,” gumam Lian. Ia mencatat lagi dalam pikirannya.

Beberapa langkah di belakang mereka, Haikal berjalan bersama dua rekan tentaranya.

Langkahnya mantap.

Pandangan menyapu area.

Tangan sesekali menyentuh radio.

Namun matanya—

tidak pernah benar-benar lepas dari Lian.

Ia melihat bagaimana seorang pemuda ikut berjalan sedikit lebih dekat. Anak kepala desa.

Tubuhnya tinggi, wajahnya bersih, sorot matanya terlalu sering jatuh pada Lian. Terlalu lama. Terlalu terang.

Haikal mengingat wajah itu.

Dia.

Pemuda yang kemarin mencoba berdiri terlalu dekat.

Yang hari ini kembali mengambil posisi.

Lian berhenti melangkah.

“Satu hal lagi, Pak,” katanya. “Saya butuh sinyal.”

Kepala desa terdiam sejenak.

Belum sempat ia menjawab, suara lain menyela.

“Cukup jauh dari sini.”

Lian menoleh.

Anak kepala desa berdiri di sana, tangan di saku, wajahnya sedikit tersenyum.

“Butuh waktu dua hari,” lanjutnya santai. “Pulang-pergi.”

Lian mengangguk, sama sekali tidak terkejut. “Saya mengerti.”

Ia berpikir sejenak, lalu menoleh lagi pada pemuda itu.

“Boleh aku pinjam motormu?” tanyanya lugas.

Pemuda itu tampak terkejut—lalu jelas senang.

“Oh—boleh. Tentu,” ujarnya cepat sambil mengeluarkan kunci motor. Ia melangkah maju, jaraknya dengan Lian semakin dekat.

Terlalu dekat.

Tangan pemuda itu hampir menyentuh tangan Lian—

Namun kunci itu tidak pernah sampai.

Sebuah tangan lain lebih cepat meraihnya.

Haikal.

Gerakannya tenang, tapi tegas. Ia mengambil kunci motor itu tanpa suara, tanpa emosi di wajah—kecuali tatapan matanya yang dingin dan tajam, kini terkunci pada anak kepala desa.

Tatapan seorang prajurit.

Bukan ancaman.

Bukan juga amarah terbuka.

Tapi jelas: mundur.

Pemuda itu refleks menghentikan langkahnya.

Haikal beralih menatap Lian.

“Saya akan menemani,” ucapnya datar.

“Selama perjalanan.”

Lalu ia menambahkan, dengan nada profesional yang tidak bisa dibantah siapa pun,

“Ini tugas saya untuk menjaga.”

Sunyi sesaat.

Kepala desa menelan ludah kecil, lalu mengangguk. “Baik… tentu.”

Anak kepala desa tersenyum kaku, lalu mundur satu langkah.

Lian menatap Haikal.

Sekilas.

Dan di sudut bibirnya—

senyum kecil hampir muncul.

Cemburu.

Dan kali ini—

tidak disembunyikan dengan baik.

“Baik, Mas,” jawab Lian ringan.

Haikal mengangguk singkat.

Ia menyerahkan kunci motor itu ke tangannya sendiri—bukan ke Lian, bukan ke siapa pun.

Profesional.

Namun di dalam dadanya, ada satu hal yang sangat tidak profesional:

Ia tahu.

Ia melihat.

Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mendekat terlalu jauh.

Bukan hari ini.

Bukan di wilayah tugasnya.

Dan bukan pada istrinya.

Motor itu melaju perlahan meninggalkan desa.

Suara mesinnya memecah kesunyian hutan yang membentang luas di kanan dan kiri jalan tanah. Pepohonan tinggi menjulang, daunnya saling berdesakan, menciptakan lorong alami yang seolah menelan mereka berdua ke dalam dunia yang terpisah dari siapa pun.

Haikal mengemudi dengan fokus penuh.

Punggungnya tegak. Pandangannya lurus ke depan. Tangannya mantap di setang motor. Ia terlihat seperti biasa—tenang, terkendali, profesional.

Namun sejak beberapa menit lalu, ada sesuatu yang berbeda.

Lian melingkarkan kedua lengannya di pinggang Haikal.

Bukan ragu.

Bukan sekadar pegangan.

Pelukannya sempurna—cukup erat untuk terasa, cukup lembut untuk tidak mengganggu. Seolah tubuhnya sudah hafal tempat itu.

Haikal menegang sepersekian detik.

Refleks seorang prajurit.

Namun ia tidak menyingkirkan tangan Lian. Tidak memperingatkan. Tidak menegur. Ia membiarkan pelukan itu ada—diam-diam mengakui bahwa ia juga membutuhkannya.

Angin pagi menyapu wajah mereka.

Rambut Lian yang terikat sederhana bergoyang pelan, beberapa helainya menyentuh leher Haikal. Tanpa sadar, Lian mendekatkan tubuhnya sedikit lagi.

Dagunya bersandar nyaman di bahu Haikal.

Bukan karena jalan bergelombang.

Bukan karena lelah.

Hanya karena ingin.

Haikal merasakan berat kecil itu di bahunya. Napasnya sedikit tertahan, lalu kembali stabil. Ia menyesuaikan kecepatan motor—lebih pelan.

Hutan di sekitar mereka terasa hidup.

Cahaya matahari menyelinap di sela daun, menciptakan bayangan panjang di tanah. Burung-burung beterbangan rendah, dan sesekali terdengar suara ranting patah entah oleh apa.

Jalanan sepi.

Terlalu sepi.

Haikal tetap waspada. Matanya sesekali memeriksa spion. Namun setiap kali ia menggeser bahu sedikit, Lian menyesuaikan diri—tanpa membuka mata, tanpa bicara.

“Aman?” tanya Lian pelan, suaranya nyaris kalah oleh angin.

“Aman,” jawab Haikal singkat.

Lian mengangguk kecil, pipinya sedikit menekan bahu Haikal.

Ia menutup mata.

Ada rasa tenang yang jarang ia rasakan. Jalan sunyi. Hutan luas. Dan pria di depannya—bukan lagi bayangan, bukan lagi kenangan, tapi nyata.

“Aku suka hutan,” gumam Lian tiba-tiba.

“Sunyi… tapi nggak kosong.”

Haikal tidak menoleh, namun sudut bibirnya bergerak tipis.

“Di sini banyak titik buta,” jawabnya refleks. “Sunyi kadang berbahaya.”

Lian tersenyum kecil. “Makanya kamu di sini.”

Kalimat itu sederhana.

Namun membuat Haikal menarik napas dalam.

Motor terus melaju, menyusuri jalan yang belum jelas ujungnya. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada janji.

Hanya dua orang yang duduk dalam satu arah.

Satu memikul tanggung jawab.

Satu menyandarkan kepercayaan.

Dan di tengah hutan yang luas dan sunyi itu, Haikal sadar—

Ini bukan sekadar perjalanan mencari sinyal.

Ini adalah perjalanan di mana ia, untuk pertama kalinya,

tidak merasa sendirian di tengah tugas.

Motor itu masih melaju stabil.

Hutan semakin rapat. Cahaya matahari makin jarang menembus dedaunan. Jalan tanah menyempit, hanya cukup dilewati satu kendaraan.

Haikal memperlambat laju motor.

Instingnya bergetar—perasaan tak nyaman yang selama bertahun-tahun bertugas selalu menjadi pertanda bahaya. Matanya bergerak cepat, memindai kanan dan kiri.

Terlalu sunyi.

Tidak ada suara burung.

Tidak ada serangga.

“Lian—” Haikal hendak bicara.

Namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Sesuatu melayang dari balik semak.

Benda kecil, bulat, menghantam tanah tepat di depan roda motor.

PSSHHH—!

Asap putih keabu-abuan langsung menyembur tebal, menyebar cepat, menelan jalan dan pepohonan dalam hitungan detik.

“Pegangan!” teriak Haikal refleks.

Ia membanting setang motor ke kanan, menghindari sumber ledakan kecil itu. Motor tergelincir, roda depan kehilangan kendali.

Tubuh mereka terlempar.

Haikal memeluk Lian sekuat tenaga, membalikkan badan agar punggungnya yang lebih dulu menghantam tanah.

BRUK!

Pandangan Haikal buram.

Asap itu bukan asap biasa.

Baunya menusuk—manis, pahit, membuat dada terasa berat. Napasnya tercekat, kepalanya berdenyut keras.

“Lian…!” suaranya serak.

Ia mencoba bangkit, namun seluruh tubuhnya melemah. Dunia berputar. Pendengarannya berdenging.

Langkah-langkah kaki terdengar samar. Cepat. Teratur.

Haikal berusaha meraih senjatanya—tangannya gemetar, jari-jarinya mati rasa.

Ini bius…

Pikiran itu muncul terlambat.

Kelopak matanya terasa berat. Napasnya makin pendek. Pandangan terakhir yang ia tangkap hanyalah asap tebal dan bayangan hitam yang mendekat.

“Lian—” bisiknya lagi.

Lalu semuanya gelap.

Entah berapa lama waktu berlalu.

Dua jam.

Mata Haikal terbuka perlahan.

Sakit.

Itu hal pertama yang ia rasakan.

Kepalanya seperti dipukul berkali-kali. Tenggorokannya kering. Tubuhnya terasa berat, seolah baru saja ditarik dari dasar laut.

Ia mengerang pelan dan mencoba duduk.

“Gh—”

Tangannya menekan tanah. Pandangannya masih kabur, tapi hutan itu… ia mengenalnya.

Masih di tempat yang sama.

Asap sudah hilang. Matahari sudah bergeser, cahayanya jatuh lebih miring di antara pepohonan.

Motor tergeletak beberapa meter darinya—setangnya bengkok, salah satu spion pecah.

Haikal tersentak.

“Lian!”

Ia bangkit dengan panik, nyeri di sekujur tubuh diabaikannya. Matanya bergerak liar, menyapu setiap sudut hutan.

“Lian!” suaranya menggema, keras, penuh urgensi.

Tidak ada jawaban.

Jantungnya berdegup liar.

Ia berlari terseok menuju motor, melihat sekeliling—tanah bekas gesekan, daun-daun terinjak, jejak kaki.

Lebih dari satu.

Dan jejak itu… menjauh dari jalan.

“Tidak… tidak… tidak…”

Tangannya mengepal keras sampai gemetar. Napasnya memburu. Dada Haikal terasa sesak, bukan karena bius, tapi karena satu kenyataan yang menghantamnya tanpa ampun.

Lian tidak ada.

Istrinya hilang.

Ia menoleh ke segala arah, memanggil lagi—lebih keras, lebih putus asa.

“LIAN!!!”

Hutan tetap diam.

Sunyi yang tadi terasa damai, kini berubah menjadi mimpi buruk.

Haikal berdiri di tengah jalan tanah itu, sendirian, tubuhnya masih lemah, senjatanya entah di mana, dan satu hal berputar tak henti di kepalanya—

Ia gagal menjaga istrinya.

Dan itu adalah kegagalan yang tidak akan pernah ia maafkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!