Kanaya harus rela kehilangan impiannya untuk melanjutkan studinya keluar negeri karena harus menggantikan kakak sepupunya menikah dengan seorang pria bernama Bryan Anugerah yang merupakan CEO dari perusahaan Anugerah Group.
Bryan yang masih mencintai mantan calon istrinya itu sudah menyatakan bahwa tidak akan pernah mencintai Kanaya.
Namun seiring berjalannya waktu perasaan Bryan mulai berubah kepada Kanaya.
Mampukah Bryan mencuri hati Kanaya?
Dan berhasil kah Kanaya mempertahankan tembok dihatinya untuk tidak jatuh hati kepada Bryan?
Yuk Langsung saja baca kisah Bryan dan Kanaya di Love Me Honey
Happy reading ..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri_tidur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
...9...
“lu apa-apaan si ngomong kayak gitu sama orang tua, gak sopan amat”
“ lah kan gue ngomong faktanya dia sebagai orang tua itu harusnya punya tanggung jawab penuh buat ngawasi anaknya”
"iyaiya uda gausa marah lagi, lagian gue heran kenapa lu yang marah kan gue yang disenggol sama anak itu” namun Bryan tidak menanggapi omongan Kanaya itu
“lu gapapa kan” tanya Bryan
“iya gapapa”. Bryan menatap Kanaya dari ujung kepala hingga ujung kaki dan menemukan luka goresan yang sedikit berdarah di bagian kaki Kanaya.
“ ini lu bilang gapapa” Bryan berjongkok lalu memegang kaki Kanaya untuk melihat luka gores itu.
“eh eh udah gapapa kok cuma luka kecil aja” ucap Kanaya yang hendak melangkah mundur karena kaget Bryan yang tiba-tiba saja berjongkok, namun dengan cepat Bryan menahan kaki Kanaya.
“lu duduk sini dulu biar gue ambil kotak P3K dimobil, ga ada penolakan”.
Mendengar omongan itu Kanaya hanya menurut saja untuk duduk, dan setelah itu Bryan berlari kearah parkiran.Walaupun hanya luka gores biasa Bryan tetap sangat berhati-hati mengobatinya.
“ lu harus lebih hati-hati lain kali jangan sampai luka kaya gini lagi”
“iya tapi ini kan cuma luka kecil aja”
“ jangan sepele sama luka kecil” ucap Bryan datar. Dia kenapa si batin Kanaya yang merasa heran dengan sikap Bryan hari ini.
Sepulangnya dari pesta tadi Kanaya memutuskan untuk langsung beristirahat sedangkan Bryan memilih untuk melanjutkan pekerjaan yang belum dia selesaikan kemarin sambil mengecek beberapa laporan mengenai perkembangan cabang perusahaannya diluar negeri yang masuk di emailnya.
Pagi hari seperti biasanya Kanaya bangun pagi untuk menyiapkan segala keperluan Bryan pergi ke kantor. Kanaya sudah mulai terbiasa untuk bangun pagi dan melakukan tugasnya sebagai istri tanpa adanya paksaan seperti pertama kali dia melakukannya.
“yan bangun udah pagi”
menggoyang-goyangkan tubuh Bryan
“euum masi ngantuk” jawab Bryan dengan suara yang sedikit serak lalu kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Kanaya yang melihat itu kemudian langsung menarik selimut itu hingga seluruh tubuh Bryan terlihat, dan tentu saja itu berhasil membuat Bryan bangun lalu dengan langkah gontai berjalan memasuki kamar mandi.
“nay pakein” ucap Bryan sambil menyodorkan dasi berwarna hitam ke arah Kanaya.
“kan bisa pake sendiri kayak biasanya”
“lu mau gue kutuk karena udah durhaka sama suami”
“ck sini-sini” mengambil dasi itu lalu memasangkannya dileher Bryan.
“kalo nurut ginikan enak”
“berisik lu” ucap Kanaya yang telah selesai memasang dasi lalu berjalan hendak membuka pintu kamar. Namun dengan segera Bryan menggapai tangan Kanaya
“apaan si lu”
“mulai hari ini panggil gue dengan sebutan yang lebih sopan, gue ini lebih tua dari lu”
“ haha kemarin udah dipanggil om tapi ga mau”
“ya gak harus om juga itu terlalu tua, panggil yang sewajarnya la sebagai suami”
“bilang aja mau di panggil sayang kan, ngaku” menatap Bryan dengan senyuman mengejek.
Bryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
“ya kan wajar aja manggil sayang kita juga udah suami istri, lagian biar orang tua kita juga dengarnya bakalan senang karena kita udah keliatan akrab” ucap Bryan mencari alasan.
“hmm benar juga si, yaudah kalau gitu aku bakalan belajar lebih sopan lagi sama suami tapi untuk sekarang ini aku panggil kak aja ya, kalau manggil sayang butuh waktu biar terbiasa”
“okey gimana nyamannya aja dulu” ucap Bryan lalu menggenggam kembali tangan Kanaya dan berjalan bersama menuju meja makan untuk sarapan.
Seperti biasa Bryan akan berangkat ke kantor bersama dengan asisten Jo yang setiap paginya sudah standby dirumah. Sebelum Bryan memasuki mobil dia menyodorkan tangannya ke arah Kanaya.
”kenapa?” tanya Kanaya
“cium tangan dulu” Kanaya pun menuruti kemaun Bryan, namun setelah Kanaya selesai mencium tangan suaminya dengan cepat Bryan menarik sedikit tangan Kanaya lalu mencium kening istrinya itu.
“aku berangkat dulu istriku” ucap Bryan dan langsung memasuki mobil tanpa menunggu perkataan apa yang akan dilontarkan Kanaya selanjutnya. Dan tinggallah Kanaya seorang diri dengan ekspresi yang bingung akan apa yang terjadi barusan.
Didalam mobil
“Jo”
“iya tuan muda”
“tolong kamu cari tahu segalanya tentang istri saya dan laporkan semuanya kepada saya”
“baik tuan muda akan segera saya lakukan”.
Hari ini Kanaya berangkat ke restoran sedikit lebih siang dari biasanya karena dia tadi keasikan menonton drama korea setelah sarapan hingga lupa waktu.
“Pa ma kanaya berangkat dulu ya”
“iya hati-hati nak jangan ngebut” ucap mama
“ okey ma”.
Kanaya pun mengendarai mobilnya menuju restoran. Saat Kanaya masih dalam perjalanan menuju restoran tiba-tiba ponsel nya berbunyi terlihat nama kak Tomy yang tertera di layar ponsel lalu Kanaya pun menepikan mobilnya untuk menjawab panggilan dari kak Tomy.
“hallo dek”
terdengar suara kak Tomy diseberang sana
“iya kak Tom”
“ kamu nanti sore sibuk enggak?”
“enggak kok kak, kenapa emang kak?”
“ah itu kakak mau ajak kamu buat cari-cari souvenir pernikahan kakak nanti”
“ah bisa bisa kak”
“yaudah nanti kamu kakak jemput ya”
“eh gausah kak, kak Tomy sama kak Tari langsung aja ketempatnya, nanti aku nyusul kak”
“oke kalau gitu nanti kamu hati-hati ya dek, bye” sambungan telepon mereka pun terputus dan Kanaya kembali melajukan mobilnya menuju restoran.
“permisi pak ini data laporan mengenai nona Kanaya yang tuan muda minta tadi pagi” ucap asisten Jo sambil menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Bryan.
“ ah ya terimakasih” sambil menerima amplop coklat itu.
“ kalau begitu saya permisi dulu tuan muda” ucap asisten Jo lalu meninggalkan ruangan kerja Bryan.
Bryan membaca data laporan itu dan dia merasa kagum kepada Kanaya, karena selama ini dia tidak pernah tau kalau Kanaya itu seorang yang sangat mandiri dan pekerja keras yang dia pikir selama ini Kanaya itu hanya seorang gadis manja yang suka berfoya-foya. “Gadis yang unik” batin Bryan setelah selesai membaca segala informasi mengenai Kanaya.
Saat Bryan sedang menandatangani berkas-berkas, tiba-tiba pena Bryan terjatuh ke lantai dan dia segera mengambilnya lalu tanpa sengaja dilihatnya beberapa sticky note yang tertempel di bagian samping bawah mejanya, ya sticky note yang selalu diselipkan Kanaya dikotak bekal Bryan. Melihat itu Bryan tiba-tiba saja merasa kangen dengan Kanaya, akhir-akhir ini Bryan memang merasakan ada sesuatu perubahan didalam dirinya seperti jika dekat Kanaya jantungnya akan berpacu dengan cepat sekali, dia juga merasa nyaman jika berada di dekat Kanaya dan muncul rasa untuk memiliki Kanaya sepenuhnya.
“Apa aku mulai menyukai Kanaya” “ah enggak..enggak, ga mungkin itu terjadi, aku masih mencintai Rima” “argh tapi saat ini aku benar-benar merindukannya” Bryan berbicara kepada dirinya sendiri. Lalu Bryan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.