Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 RTJ
Malam di dataran tinggi Utara biasanya hanya milik angin dan es, namun malam ini, atmosfer di sekitar perkemahan Suku Nomaden terasa berbeda. Udara yang seharusnya membeku kini terasa statis, penuh dengan muatan energi yang membuat bulu kuduk berdiri. Di depan tenda utama, Long Chen berdiri tegak, membiarkan jubahnya berkibar ditiup angin kencang. Di tangannya, kunci kristal pemberian ibunya memancarkan cahaya putih suam-suam kuku.
Batu Guntur keluar dari tenda sambil mengusap sisa lemak daging dari janggutnya. Ia menatap Long Chen, lalu menatap area salju yang telah menguap di sekeliling pangeran muda itu. "Kau bergerak lebih cepat dari dugaanku, Nak. Energi Yang di tubuhmu itu... ia tidak hanya bangun, ia sedang mengamuk."
"Aku tidak punya waktu untuk membiarkannya tenang, Ketua Batu," jawab Long Chen tanpa menoleh. "Setiap detik aku menunggu, setetes darah Lin Xi jatuh ke tanah Gunung Tengkorak. Aku tidak akan membiarkan Long Tian membakar tempat ini hanya untuk menangkap bayanganku."
Satu muncul dari kegelapan, membawa dua ekor kuda berbulu tebal yang tampak gelisah. "Kuda-kuda ini merasakan energi aneh dari arah kaki gunung, Pangeran. Formasi Sembilan Penekan Arwah itu... mereka sudah mulai mengaktifkannya. Aku melihat pilar-pilar cahaya ungu mulai naik di ufuk timur."
Long Chen memejamkan mata, mencoba merasakan aliran energi tersebut. Di kehidupan sebelumnya—atau mungkin di dalam fragmen ingatan yang ditinggalkan ibunya—ia tahu bahwa formasi ini bekerja dengan cara menghisap vitalitas dari tanah untuk menciptakan penjara energi. Jika dibiarkan, dalam tiga hari, wilayah ini akan menjadi padang gurun yang mati.
"Ketua Batu, tetaplah di sini dan lindungi orang-orangmu," perintah Long Chen. "Garda Langit tidak akan menyerang secara fisik selama mereka pikir aku masih terjebak di dalam formasi. Mereka ingin aku menyerah karena rasa bersalah melihat suku ini menderita."
Batu Guntur mendengus, namun matanya menunjukkan rasa hormat. "Kau pikir kami pengecut? Suku Nomaden tidak takut api alkimia."
"Ini bukan soal keberanian, tapi soal strategi," Long Chen berbalik, menatap pria raksasa itu dengan senyum tipis. "Jika kau ikut, mereka akan menyebut ini pemberontakan suku. Jika aku pergi sendiri, ini hanyalah 'pertikaian antar saudara'. Biarkan aku yang menjadi pusat perhatian mereka."
Long Chen dan Satu memacu kuda mereka menembus badai salju. Alurnya terasa lambat bagi Long Chen; setiap deru napas kuda dan setiap kepingan salju yang menghantam wajahnya terasa seperti jam pasir yang meneteskan waktu dengan sangat pelan.
"Satu, berikan aku botol itu," ucap Long Chen di tengah perjalanan.
Satu merogoh sakunya dan memberikan sebuah botol porselen kecil berisi minyak esensial bunga krisan—barang yang selalu dibawa Lin Xi dulu. Long Chen menghirup aromanya sejenak. Bau ini mengingatkannya pada sore hari yang tenang di paviliun kerajaan, saat Lin Xi mengeluh tentang beratnya baju zirah sambil meminum teh bersamanya. Detail kecil itu, aroma itu, menjadi jangkar bagi kewarasannya di tengah amarah yang membara.
"Kita akan menyerang dari titik terlemah, yaitu pilar ketujuh di arah barat laut," kata Long Chen. "Di sana, energi Yang alami dari matahari terbenam paling banyak terserap. Itu adalah celah bagi kekuatanku."
Saat mereka mendekati garis formasi, pemandangan menjadi mengerikan. Tanah di sekitar pilar ungu itu tampak retak, dan rumput-rumput kecil yang biasanya bertahan di salju kini layu dan menghitam. Belasan prajurit Garda Langit berjaga dengan tombak perak mereka, wajah mereka tertutup pelindung besi.
"Siapa di sana?!" teriak salah satu penjaga saat melihat siluet kuda mendekat.
Long Chen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia turun dari kuda dengan gerakan yang sangat ringan, hampir seperti melayang. Ia mengangkat kunci kristal itu tinggi-tinggi.
"Warisan Cahaya: Tahap Pertama—Penyucian!"
Cahaya putih yang murni meledak dari kristal tersebut. Berbeda dengan cahaya cermin milik Long Tian yang bersifat menghancurkan, cahaya ini terasa lembut namun sangat padat. Saat cahaya itu menyentuh pilar ungu formasi, terdengar suara berdesis seperti air yang menyiram bara api.
Prajurit Garda Langit yang mencoba menyerang mendadak terpaku. Mereka tidak merasa sakit, namun senjata mereka terasa sangat berat, dan keinginan mereka untuk bertarung seolah-olah menguap begitu saja. Ini adalah sifat unik dari energi Yang milik Long Chen—ia tidak menghancurkan fisik, melainkan 'menetralkan' niat jahat.
"Apa yang terjadi?! Tanganku tidak bisa bergerak!" teriak salah satu prajurit dengan panik.
Long Chen berjalan melewati mereka dengan tenang. Setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya yang bersinar di atas salju. Satu mengikuti di belakang, membelalakkan mata melihat tuannya yang dulu dianggap "lemah" kini berjalan menembus barisan elit seolah-olah mereka hanyalah ilusi.
"Jangan sakiti mereka, Satu," ucap Long Chen pelan. "Mereka hanya menjalankan perintah. Target kita adalah inti formasi."
Di saat yang sama, jauh di dalam penjara bawah tanah Gunung Tengkorak, Lin Xi duduk bersandar di dinding es. Rantai di pergelangan tangannya terbuat dari Baja Pengikat Arwah, yang setiap detik menyedot energi Yin-nya untuk disalurkan ke sebuah altar besar di tengah ruangan.
Hua Ling duduk di depan altar itu, memegang cermin kecil dan sedang menyisir rambut peraknya sendiri dengan santai.
"Kau tahu, Lin Xi," ucap Hua Ling dengan suara merdu. "Rambutmu jauh lebih indah sekarang daripada saat masih hitam. Perak adalah warna para dewa yang telah jatuh. Kau terlihat seperti ratu yang sedang menunggu eksekusinya."
Lin Xi mengangkat kepalanya perlahan. Mata merah delimanya berkilat di kegelapan. "Kenapa kau tidak langsung membunuhku, Hua Ling? Kau punya banyak kesempatan."
Hua Ling berhenti menyisir. Ia berjalan mendekati Lin Xi, ujung jarinya yang lentik menyentuh dagu Lin Xi. "Membunuhmu? Oh, itu terlalu mubazir. Kau adalah satu-satunya wadah yang berhasil menyatukan energi Yin Arwah tanpa menjadi gila dalam hitungan jam. Tubuhmu... adalah kunci untuk menghidupkan kembali 'Ibu'. Beliau telah tertidur selama ribuan tahun di bawah gunung ini, menunggu darah seorang jenderal yang murni untuk bangkit kembali."
Lin Xi tersenyum sinis, sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya yang pecah. "Jadi kau hanya seorang pelayan yang mencari tuan baru? Kupikir kau punya harga diri yang lebih tinggi dari itu."
Plak!
Hua Ling menampar wajah Lin Xi, namun ekspresinya tetap cantik dan tenang. "Jaga bicaramu. Saat 'Ibu' bangun, dunia ini akan menjadi taman bunga Manjusaka yang abadi. Tidak akan ada lagi perang, tidak akan ada lagi penderitaan... hanya ada kedamaian dalam pelukan kematian."
Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Debu jatuh dari langit-langit gua. Hua Ling menoleh ke arah pintu masuk dengan dahi berkerut.
"Energi ini... murni, hangat, dan sangat menyebalkan," gumam Hua Ling. "Pangeran kecilmu rupanya lebih gigih dari yang kukira. Dia baru saja menghancurkan salah satu pilar Formasi Sembilan Penekan."
Lin Xi merasakan getaran itu juga. Di dalam dadanya, 'Benih Yang' yang ditanamkan Long Chen berdenyut hangat, seolah memberikan sinyal bahwa sang pemilik sudah dekat. Harapan yang sempat meredup kini kembali menyala terang.
"Dia akan membakar gunung ini, Hua Ling," ucap Lin Xi dengan suara penuh keyakinan. "Dan kau akan menjadi orang pertama yang menjadi abunya."
Hua Ling tertawa, namun kali ini ada nada kegelisahan di suaranya. "Kalau begitu, mari kita buat sambutan yang meriah. Aku akan mengirimkan 'bayangan' untuk menjemputnya."
Kembali ke lereng Gunung Tengkorak, Long Chen berhasil menembus baris pertahanan pertama. Namun, ia tidak melanjutkan serangannya dengan kekerasan. Alurnya menjadi sedikit "ringan" ketika ia menemukan sebuah kedai teh kecil yang anehnya berdiri kokoh di tengah jalur pendakian menuju markas sekte.
Di depan kedai itu, seorang pria tua bertopi bambu sedang duduk santai sambil meniup sup panas.
"Anak muda, perjalananmu masih jauh," ucap pria tua itu tanpa menatap Long Chen. "Kenapa tidak duduk sebentar? Teh di sini sangat enak, dan kabarnya, siapa pun yang tidak meminum teh ini tidak akan pernah bisa melihat pintu masuk istana yang sebenarnya."
Satu sudah bersiap menghunus belatinya. "Pangeran, ini pasti jebakan."
Long Chen menahan tangan Satu. Ia menatap pria tua itu, lalu menatap jalur pendakian yang tiba-tiba diselimuti kabut tebal yang tidak alami. Ia tersenyum dan duduk di bangku kayu di depan pria itu.
"Satu cangkir teh, Pak Tua. Tapi aku tidak punya uang emas untuk membayarnya," ucap Long Chen santai.
"Aku tidak butuh emas," kata pria itu sambil menuangkan cairan hijau jernih ke cangkir tanah liat. "Aku hanya ingin tahu... jika kau harus memilih antara menyelamatkan wanita itu atau menyelamatkan jutaan orang di Kekaisaran, mana yang akan kau ambil?"
Long Chen mengambil cangkir itu, menyesapnya perlahan. Rasa teh itu sangat pahit di awal, namun berakhir dengan rasa manis yang tertinggal di pangkal lidah—persis seperti perjalanan hidupnya sejauh ini.
"Pertanyaanmu salah, Pak Tua," jawab Long Chen setelah meletakkan cangkirnya.
"Oh? Salah di bagian mana?"
"Jika aku bahkan tidak bisa menyelamatkan wanita yang kucintai, bagaimana mungkin aku punya kualifikasi untuk menyelamatkan jutaan orang? Kekaisaran yang dibangun di atas pengorbanan cinta yang tulus hanyalah sebuah istana pasir yang menunggu pasang."
Pria tua itu tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak hingga topi bambunya miring. "Jawaban yang sangat sombong... dan sangat jujur. Bagus! Majulah. Tapi hati-hati, teh ini memiliki efek samping."
"Efek samping?" tanya Satu bingung.
Tiba-tiba, tubuh Long Chen mulai bersinar terang. Cahaya Yang di tubuhnya yang tadinya liar kini menjadi sangat terkontrol dan tenang. Teh itu rupanya adalah katalisator untuk menyeimbangkan energinya.
Namun, saat Long Chen berdiri, ia menyadari sesuatu yang aneh. Wajah pria tua itu berubah menjadi wajah Long Tian, Pangeran Pertama, yang sedang tersenyum licik.
"Ilusi?" bisik Long Chen.
"Bukan ilusi, Adikku," suara Long Tian bergema dari segala penjuru kabut. "Itu adalah racun pembalik indra. Sekarang, setiap kali kau melihat kawanmu, kau akan melihat musuhmu. Dan setiap kali kau ingin menyerangku, kau justru akan melukai dirimu sendiri."
Long Chen menoleh ke arah Satu, namun yang ia lihat bukan lagi pengawal setianya, melainkan sosok raksasa mengerikan dengan belati berlumuran darah yang siap menerkamnya.
"Satu... menjauhlah dariku!" teriak Long Chen sambil menahan tangannya yang mulai bercahaya.