Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Mimpi Atau Nyata (Prolog)
Cahaya bulan menembus celah gorden beludru, jatuh tepat di atas ranjang king size yang berantakan. Di sana, Bianca terengah. Keringat dingin membasahi piyama sutra hitamnya, membuat kain tipis itu melekat tidak nyaman di kulit. Napasnya memburu, mengisi keheningan kamar yang luas dan dingin. Jantungnya masih berdegup kencang, menyisakan sisa trauma dari sensasi jatuh yang baru saja ia rasakan.
"Lho... bukannya aku seharusnya mati bunuh diri dari atap Le Manoir d'Argent?" Bianca berucap lirih, tangannya gemetar meraba wajah dan lengannya yang seharusnya remuk berlumur darah, tak ubahnya buah semangka yang dijatuhkan dari ketinggian.
Ia bangkit, duduk di ranjang mewahnya, kebingungan. "Bagaimana bisa? Jadi tadi... hanya mimpi?" Ingatan tentang saat ia melangkah ke rooftop untuk mengakhiri hidupnya karena Hernan meninggalkannya begitu nyata, begitu tajam. Segalanya terasa begitu nyata.
Ia merasa baru saja mengalami hypnic jerk—sebuah sentakan hipnik yang biasa terjadi saat tidur. Namun, Bianca ingat betul bahwa itu bukan sekadar reaksi tubuh. Ia ingat setiap detail usahanya mengakhiri hidup; saat ia memanjat pembatas rooftop Le Manoir d'Argent dengan tangan gemetar, lalu menerjunkan dirinya ke kegelapan. Bahkan, ia masih bisa merasakan detik-detik ketika wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter sebelum terantuk trotoar beton di bawah apartemennya.
Ia meraba meja nakas dengan tangan yang masih gemetar, mencari ponsel atau jam untuk memastikan berapa lama ia jatuh dalam "mimpi" buruk itu. Seingatnya, ia melangkah keluar kamar menuju rooftop tepat pukul 21.44.
Matanya menyipit saat menatap angka digital yang menyala di kegelapan kamar. Pukul 21.50. Namun, bukan jamnya yang membuat jantung Bianca seolah berhenti berdetak, melainkan angka tahun yang tertera di sana.
Kalender itu menunjukkan waktu dua tahun yang lalu.
Bianca tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia bangkit dan berdiri di depan cermin besar setinggi plafon. Sosok yang terpantul di sana adalah dirinya di usia 23 tahun, tampak lebih segar, tanpa guratan depresi yang selama ini ia sembunyikan di balik makeup tebal.
Ini adalah masa di mana ia baru saja bertemu dengan Hernan de Valois. Jika sekarang ia berusia 23, artinya Hernan masih berusia 38 tahun, pria matang yang baru akan memulai permainan manipulasi yang menghancurkan hidup Bianca kelak.
Ia tidak sekadar bangun dari mimpi. Ia kembali ke titik di mana segalanya dimulai. Titik di mana ia masih menjadi wanita simpanan yang haus akan validasi, sebelum dendam mengubahnya menjadi antagonis yang paling dibenci di seluruh Paris.
Sambil mengusap piyama sutra hitamnya, seringai tipis yang dingin muncul di wajah Bianca. Jika semesta memberinya kesempatan untuk mengulang, maka kali ini, bukan dia yang akan melompat dari Le Manoir d'Argent.
Namun, di permukaan cermin itu, pantulannya sendiri sedang tersenyum licik dan dingin—padahal Bianca tahu benar wajahnya saat ini sedang kaku tanpa ekspresi.
"Cermin ini aneh... dia sedang tersenyum. Itu mirip denganku, tapi dia berbeda, matanya bengis sekali." gumamnya di hatinya meraba permukaan kaca dengan tatapan tidak percaya.
"Bonsoir (selamat malam), Bianca. Kau gagal mati? Selamat datang di kehidupan keduamu!"
"Kau... siapa kau? Ini tidak mungkin. Jangan mempermainkanku, berengsek!" Bianca melempar cermin itu di ranjang karena suara dan getarannya.
"Aku Lora... kau ingat? Kita sudah berteman sejak usiamu empat belas tahun. Ambillah cermin itu kembali. Aku bisa hadir di cermin mana saja di sekitarmu."
Cermin itu. Di sana, tergeletak cermin genggam kuningan kini seolah memancarkan aura dingin menyedot udara di sekitarnya.
Suara itu berasal dari Lora, begitu Bianca menamainya. Lora sebenarnya adalah cermin genggam antik berbahan kuningan dengan ukiran rumit, pemberian dari neneknya, Geneviève Wolfe, saat Bianca berulang tahun ke-14. Sejak ayahnya, Adrien Wolfe, meninggal dunia ketika ia masih berusia 10 tahun, Bianca sering mengajak Lora bicara untuk membunuh kesepian sekaligus melampiaskan rindu pada sosok ayahnya. Kini, entitas di balik cermin itu seolah hidup, menatapnya dengan binar kemenangan yang mengerikan.
"Siapa yang menarikmu kembali dari aspal dingin itu jika bukan aku?" Suara dari pantulan itu terdengar lebih berat, memenuhi rongga kepala Bianca. Mulai sekarang, kau tidak lagi berjalan sendirian. Aku yang akan menuntun setiap langkahmu, mengatur setiap tarikan napasmu. Ambil cermin itu..."
"Ini tidak mungkin. Lora hanyalah halusinasi masa kecilku. Kau hanya benda mati!"
"Ambil dan tataplah cermin itu... Aku di situ."
Bianca melangkah ragu, tangannya terulur perlahan menyentuh gagang kuningan tersebut. "Apakah tidak apa-apa? Aku takut kau akan menyedotku ke dalam sana."
Lora tertawa jahat. "Kau terlalu banyak membaca fiksi. Aku nyata, Bianca, cara kerjaku tidak serendah itu."
"Bersiaplah. Hernan akan pulang dalam keadaan mabuk berat dan meminta jatah padamu. Layani dia seperti biasa."
"Dari mana kau tahu dia akan kembali ke sini? Dia bahkan akan menikahi Aurèlie Moreau, mantan pacarnya yang mengkhianatinya. Padahal jelas aku jauh lebih muda dan stabil, meski memang Aurèlie seorang artis."
"Kau lupa? Ini dua tahun sebelum kejadian itu. Kau kembali ke masa lalu. Inilah saatnya kau menguras hartanya lebih banyak. Ingat, setiap gairah yang kau berikan pada lelaki itu, dia akan memberikan harta apa pun yang kau minta."
"Kau serius? Apa pun??" Bianca antusias. Selama ini, Hernan hanya menjatah beberapa juta Euro, dan Bianca tidak pernah protes karena menganggap jumlah itu sudah sangat banyak.
"Aku serius. Hanya satu pantangannya... jangan pernah menikah."
"Kau gila? Itu adalah tujuanku mau bersama pria matang itu... aku mencintainya, Lora. Mengikatnya sebagai suami dalam janji suci adalah keinginanku, bukan sekadar simpanan. Kau bilang aku bisa minta apa saja, kan?"
Lora tertawa, suara parau itu memantul di permukaan kaca, terdengar lebih dingin dari sebelumnya. "Cinta? Kau baru saja mati karena 'cinta' yang kau agungkan itu. Apa kau belum cukup belajar? Jangan seperti keledai!"
Sosok di cermin mencondongkan wajahnya, binar matanya berubah tajam. "Mintalah berlian, mintalah apartemen mewah di jantung Paris, mintalah saham di perusahaannya. Aku akan mewujudkannya. Tapi begitu kau mengikat diri dalam janji suci, kau kehilangan kendali. Dan di kehidupan ini, kendali adalah segalanya."
"Tapi Lora—"
"Tidak ada tapi-tapian!! Kau ingin balas dendam atau si dungu untuk kedua kalinya? Simpanan yang jauh lebih berkuasa daripada istri yang dikhianati."
Suara pintu utama di apartemen yang terbuka.
"Dia datang, Hapus air matamu. Tunjukkan padanya gairah yang akan membuatnya menyerahkan isinya padamu tanpa perlu pernikahan."
Bianca menghapus air mata, menyisir rambut kusutnya menggunakan jemari tangan. Meski ada banyak hal yang ingin Bianca tanyakan, namun ditahannya dulu.
...****************...
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?