"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Erlangga Mulai Melawan
"Kenapa kalian terus menjadikanku boneka? Aku sudah capek Ayah, Ibu. Tidakkah kalian sedikit punya hati, selama ini aku terus menurut. Aku lakukan semua perintah kalian, bahkan jika sebenarnya yang kalian inginkan bertentangan dengan hati nuraniku. Jika kalian membahas tentang balas budi, kenapa tidak bunuh saja aku sejak dulu." Ucap Erlangga.
"Silahkan saja kalian atur pernikahanku, tapi jangan memintaku ikut campur. Aku akan tetap menikahi Mirna seperti yang kalian semua inginkan. Tapi, jangan paksa aku mencintainya. Memperlakukannya seperti seorang Istri sungguhan. Sungguh aku tidak bisa, Ayah... Ibu... Jika kalian tetap mengatur juga hatiku, mungkin lebih baik aku mati." Ucap Erlangga frustasi.
Kemudian kembali masuk ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Membiarkan Juragan Karsa dan Bu Ningsih mematung melihat keberanian Erlangga.
"Angga kesurupan Yah? Kok bisa-bisanya melawan omongan kita berdua?" Tanya Bu Ningsih sangat kesal.
"Dia butuh waktu, biarkan saja. Yang penting saat ijab dia tidak lari." Jawab Juragan Karsa.
Di mana Mirna? Kenapa dia juga sudah beberapa hari tidak ikut makan malam di meja?" Tanya Juragan Karsa mulai penasaran.
"Katanya mual, kayaknya masuk angin. Tahu sendiri kan keponakan Ibu itu kalau pas shift malam jaga UGD suka tidak tidur." Jawab Bu Ningsih sepengetahuannya saja.
"Lagian kenapa tidak ambil cuti."
"Masih 10 hari lagi Yah, nanti ambil cuti pas kurang 3 hari dari pernikahannya saja. Jadi lebih banyak libur setelah menikah jauh lebih baik tho. Dia bisa pergi bulan madu, Erlangga gak akan menolak jika urusan ranjang." Ucap Bu Ningsih.
"Ya semoga saja, anak itu bisa melakukannya." Ucap Juragan Karsa.
Sementara itu di kamarnya, Mirna sedang meringkuk lemas di ranjang.
Dreettt
Dreettt
Dreettt
"Halo..." Ucap Mirna mengangkat telepon tanpa melihat dulu kontak yang sedang menghubunginya.
"Batalkan rencana pernikahanmu itu Mirna. Aku tidak sudi berbagi tubuhmu." Suara seorang pria terdengar marah, Mirna yang tadinya memejamkan mata, langsung membukanya dan melotot tajam.
"Sudah aku bilang, hubungan kita telah berakhir sejak hari itu. Aku tidak mau lagi berhubungan dengan pria pecundang seperti dirimu." Jawab Mirna dengan suara tertahan.
"Terserah, asal kamu masih bisa aku temui. Menikahlah sesuka hatimu. Ingat itu Mirna, aku punya kartu AS untuk menghancurkan hidupmu." Ucap seseorang itu semakin mengancam.
Tut
Setelah mengucapkan kalimat ancamannya, pria yang tidak diketahui namanya itu langsung menutup sambungan telepon.
"Brengsek! Berani sekali dia mengancamku. Dia pikir aku akan takut? Aku tahu itu hanya ancaman kosong yang sebenarnya dia tak punya bukti kuat untuk menjatuhkanku." Umpat Mirna setelah melempar ponselnya.
"Kurang sepuluh hari lagi Erlangga."
Sementara Dira duduk di bale-bale sambil membaca pesan masuk. Bibirnya tersungging senyuman miring tipis.
Senyuman yang sama seperti saat menghadapi lawan bisnis yang curang. Atau senyuman yang pernah dia berikan pada mantan suaminya dulu saat bermain api dengan Dara. Senyuman mematikan pertanda Dira sudah siap menarik pelatuk untuk musuhnya.
"Sebenarnya ini bukan urusanku, tapi kamu sudah datang ke rumahku. Kamu sopan, aku akan segan. Tapi kehadiranmu hanya untuk memfitnahku, maka lihat bagaimana aku membalasmu. Kak Elang hanya masa lalu, bahkan buku kosong yang tidak pernah tertulis apa pun tentangku. Jika dia mencintaiku, itu urusannya. Salah sendiri dulu dia meninggalkanku."
"Kalau sekarang aku terkesan membantu, itu hanya wujud kepedulian saja. Tidak ada maksud dan tujuan yang bisa digunakan untuk memfitnahku. Dan mungkin... Aku hanya ingin masyarakat tahu bahwa aku bukan seorang janda sembarangan. Jangan pernah menyinggungku meskipun aku hanya seorang pendatang di sini." Ucap Dira tajam, bicara dengan dirinya sendiri.
Hari ini, Erlangga tidak bekerja. Entah mengapa sejak semalam berani bicara melawan orang tua angkatnya. Keinginan memberontak itu semakin kuat, mereka boleh memaksanya menikahi Mirna. Karena menolak pun rasanya percuma. Cinta sejatinya tak ingin mengarungi perahu bahtera rumah tangga bersamanya. Tapi Erlangga akan memperjuangkan kembali cita-citanya menjadi seorang Arsitek.
"Sudah siang, kamu tidak kerja?" Tegur Juragan Karsa yang melihat Erlangga tidak memakai seragam dinasnya.
"Tidak..." Jawab Erlangga mulai cuek.
"Maksudmu menjawab tidak apa Angga?" Suara Juragan Karsa mulai meninggi.
"Aku akan mengajukan surat pengunduran diri dari Sekretaris Desa, Ayah. Dan setelah menikah aku akan pergi ke kota untuk bekerja. Ayah tahu sendiri aku Sarjana Teknik, cita-cita menjadi Arsitektur. Dan sudah lima tahun aku mengabdi di Kantor Desa atas desakan dan tuntutan balas budi. Aku rasa waktuku berbakti sudah lebih dari cukup." Tegas Erlangga.
"Kamu akan meninggalkan aku Mas? Kamu membiarkan aku hidup sendirian setelah kita menikah?" Sahut Mirna.
"Tugasku hanya untuk menikahimu, Mirna. Bukan membangun rumah tangga denganmu. Jadi, setelah acara pernikahan selesai. Aku akan ke luar kota, untuk mengejar impianku yang tertunda. Tentang kamu bagaimana di sini? Itu urusanmu dengan Ayah Ibu. Tanyakan pada mereka bagaimana nasibmu? Karena jujur dengan menikahimu saja, hidupku sudah hancur." Ucap Erlangga.
Syok...
Bahkan saking tidak percayanya, Juragan Karsa sampai hampir roboh. Anak yang dia besarkan itu, sekarang sudah berani membalikkan omongannya.
Sedangkan Mirna mengepalkan kedua tangannya. Apa artinya pernikahan jika dia ditinggalkan usai acara ijab kabul. Sungguh harga diri Mirna terluka, tapi dia tetap akan bertahan. Mirna yakin bisa menaklukkan Erlangga.
Kedatangan Erlangga di Kantor Desa membuat kehebohan bagi sebagian warga. Apalagi tidak biasanya dia datang tanpa seragam dinas yang menjadi kebanggaan kedua orang tua angkatnya.
Melepas jabatan sebagai ASN Desa, demi cita-cita dan pelarian. Benar, tujuan Erlangga yang sebenarnya adalah pergi untuk menghindari Dira. Rasanya tidak sanggup hidup satu langit, satu udara dengan wanita yang dicintainya tapi justru menolaknya mentah-mentah karena pernikahan sialan yang tidak pernah dia harapkan.
Pengecut...
Tidak... Tidak... Lebih tepatnya Erlangga adalah seorang PECUNDANG SEJATI. Tidak berani memperjuangkan cintanya sendiri. Ditolak sekali saja, nyalinya langsung ciut seperti kerupuk yang disiram air panas. Nyeesss... Seketika melempem.
"Denger gak Erlangga mundur dari Sekretaris Desa?" Tanya Bu Wati.
"Iya... Katanya setelah Ijab Kabul dia mau pergi bekerja ke luar kota." Ucap Ibu lainnya.
"Kasihan juga sih si Mirna. Itulah akibatnya kalau memaksa orang. Sudah tahu Erlangga tidak cinta, tapi malah memaksa Erlangga menikahinya. Kayak Perempuan gak laku saja."
Obrolan Bu Wati dan Ibu Ibu yang lainnya yang membantu Dira memasak untuk makan tukang.
"Dasar... Tidak sabaran." Gumam Dira.
"Tenang Kak Angga, kamu akan menerima kejutan di hari Pernikahanmu. Kejutan yang datang bukan dariku, tapi dari seseorang yang menuntut keadilan terhadap perbuatan Mirna di masa lalu." Ucap Dira menyeringai.
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪