NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 18

Pagi berikutnya,

Cahaya matahari nembus kaca besar Raven Medika, bikin lantai marmer putih itu kelihatan hampir steril banget.

Suara langkah kecil anak-anak pasien bergema pelan di koridor pediatri, diiringi tawa Lyra yang ngebantu mereka milih mainan dari kotak besar warna pastel.

“Yang ini buat kamu, ya, Nael. Tapi jangan gigit lagi bonekanya, Dokter Lyra nggak mau perut kamu sakit,” katanya lembut sambil senyum kecil.

Anak itu ketawa pelan, “Hehe iya, Dok.”

Suasana hangat itu—anehnya—beradu kontras sama langkah berat seseorang di lorong luar.

Sepatu hitam polisi. Jas abu-abu dengan emblem kepolisian di dada kiri.

Itu Normeen Magnus.

Tangan Magnus lagi pegang map tebal penuh surat dan data digital.

Wajahnya kaku kayak biasa, tapi ada satu helai rambut jatuh di depan matanya—tanda dia belum sempat istirahat dari semalam.

> “Surat penangkapan… udah resmi disetujui,” gumamnya lirih, nadanya datar tapi dingin.

Dia berhenti di depan resepsionis Raven, nunjukin ID dan map-nya.

“Letnan Normeen Magnus. Aku perlu konfirmasi surat untuk satu nama—dokter Pharma Revalen.”

Resepsionisnya sempat melongo. “D-dokter Pharma masih aktif di unit bedah. Ada yang terjadi, Pak Magnus?”

Magnus diam sebentar, ngebalik halaman map itu.

> “Ada indikasi keterlibatan dalam operasi ilegal. Masih dugaan… tapi aku nggak suka nunggu kalau bau darah udah muncul.”

Dia jalan pelan ke arah lift, tapi sebelum masuk, dia liat sosok di ujung lorong—Lyra.

Masih pakai jas putih, rambutnya digelung setengah, dan wajahnya capek tapi lembut.

Mereka saling pandang sebentar.

Lyra keliatan bingung. “Magnus? Kau ngapain di sini pagi-pagi?”

Magnus berhenti, suaranya lebih lembut tapi tetap tegas.

> “Nyari seseorang.”

“Pharma?”

Dia nggak jawab langsung. Cuma menarik napas panjang dan akhirnya ngasih senyum tipis—senyum yang terlalu hambar buat disebut tenang.

> “Kau masih percaya dia nggak bersalah, ya?”

Lyra menunduk sebentar. “Kalau aku nggak percaya… siapa lagi yang bisa?”

Magnus menatapnya lama, lalu akhirnya berkata pelan,

> “Aku harap keyakinanmu nggak bikin kamu hancur.”

Dia lanjut masuk ke lift, pintunya menutup dengan bunyi lembut ting.

Sementara Lyra cuma berdiri, ngerasain hawa dingin yang tiba-tiba nyusup ke udara

---

Masih di pagi itu.

Magnus keluar dari lift dengan wajah masih super serius—ya, kayak biasa, auranya tuh udah cukup buat bikin satu ruangan langsung ngerasa kayak sidang hukum dadakan.

Tapi yang nggak dia expect: koridor pediatri rame sama anak-anak yang lagi main bareng Lyra.

("Lloh..lyra?, ko tiba tiba disini.."),batin magnus

Suara tawa kecil bergema, ada yang lari-lari bawa boneka dinosaurus, ada yang tarik infus sambil pura-pura jadi pahlawan super (Lyra udah mau stres tapi masih senyum).

Dan pas Magnus lewat, BOOM!

Satu bocah nyelonong nabrak betisnya keras banget sampai kertas-kertas di tangan Magnus hampir jatuh.

“WAAH! MONSTER BESAR!!” jerit si bocah, langsung sembunyi di belakang Lyra.

Lyra yang lagi jongkok bantu anak lain cuma bisa melongo, “Eh? Siapa—oh… Magnus?”

Magnus mendengus pelan, nahan diri biar nggak keliatan jengkel.

“Monster besar? Aku polisi, anak kecil.”

Anak itu ngintip dari balik jas Lyra, wajahnya sok berani. “Polisi juga bisa jahat kalau mukanya kayak monster!”

Lyra langsung ketawa ngakak sampe nyaris jatuh duduk.

“HAHA—ampun, Magnus! Bocah-bocah ini emang nggak punya filter.”

Magnus ngebetulin kerah bajunya, napasnya panjang banget, kayak satu tarikan buat nahan ego seorang kapten.

> “Aku bukan monster. Aku menjaga orang-orang kayak kalian supaya nggak kenapa-kenapa.”

Anak-anak malah makin deket. Satu narik badge Magnus, satu lagi nyentuh jas abu-abunya.

“Berat banget! Ini baju anti-peluru ya, Om?”

“Om Magnus udah bunuh berapa penjahat?”

“Om, Om, pistolnya beneran bisa ‘dor’ gak?”

Magnus akhirnya… menyerah.

Dia jongkok pelan biar sejajar sama mereka.

> “Aku nggak bunuh siapa-siapa. Aku cuma menangkap orang jahat.”

Lyra berdiri di belakang, nahan tawa sambil nyender di dinding.

“Hebat juga, ya. Jarang banget ada anak-anak yang berani nyerang reputasi Letnan Magnus kayak gini.”

Magnus melirik ke arah Lyra, senyumnya muncul sekilas—bukan senyum lembut, tapi… kayak manusia normal untuk pertama kalinya.

> “Mungkin mereka nggak takut karena mereka udah biasa sama kamu.”

Lyra angkat alis. “Oh? Jadi aku penyebabnya nih?”

> “Kau bikin tempat ini terasa aman,” jawabnya datar, tapi jujur banget sampai Lyra sempet bengong sebentar.

Anak-anak langsung nyorakin, “WAAH OM MAGNUS PUJIIII~”

Lyra ngerah ke Magnus, “Tuh kan, diliat bocah.”

Magnus cuma geleng pelan, nyelipin map-nya lagi, dan mau jalan—tapi bocah yang nabrak tadi nyodorin mainan dinosaurus ke dia.

“Biar Om nggak marah lagi!” katanya polos.

Magnus nerima mainan itu, tapi dengan wajah super kaku.

> “Terima kasih. Akan… kupakai sebagai pengingat.”

Lyra cuma nyengir, “Kalau kau pajang di kantor polisi, aku pengen liat ekspresi anak buahmu.”

---

Lyrs itu duduk di kursi kecil, menggendong bocah laki-laki mungil berusia lima tahun. Anak itu nempel di dada Lyra, matanya setengah tertutup, tenang banget. Cahaya matahari sore nyusup lewat jendela, nyentuh rambut Lyra sampai kelihatan kayak kilau madu.

Magnus sempat narik napas pelan. “Kau selalu begini setiap selesai shift, Dokter Lyra?” suaranya berat tapi nada lembutnya nggak bisa disembunyiin.

Lyra noleh, masih ngelus kepala anak itu. “Kadang. Mereka takut tidur kalau nggak ada yang nemenin. Aku cuma duduk di sini sampai mereka tenang.”

Magnus jalan masuk, langkahnya pelan supaya nggak ganggu. “Anak itu…?”

“Namanya Alen,” jawab Lyra lirih. “Kedua orang tuanya meninggal waktu ledakan di dermaga minggu lalu. Dia belum tahu apa-apa.”

Ada jeda. Magnus nutup matanya sebentar, mungkin ngerasa bersalah karena dia juga bagian dari tim yang datang ke lokasi.

“Dia kuat,” gumam Magnus akhirnya. “Sama kayak orang yang ngerawat dia.”

Lyra senyum kecil. “Heh, aku cuma dokter, bukan pahlawan.”

“Tapi pahlawan nggak selalu bawa senjata,” balas Magnus pelan.

Mereka sempat diam lagi. Heningnya bukan canggung—lebih ke tenang, kayak dua dunia yang akhirnya berhenti berlari.

Di luar, suara sirine samar. Di dalam ruangan, cuma ada napas Lyra dan anak kecil yang mulai tertidur.

Magnus akhirnya berkata pelan, “Aku cuma datang buat periksa surat penahanan Kaon. Tapi… kayaknya aku dapat lebih dari itu.”

Lyra ngedongak, bingung. “Maksudmu?”

Magnus menatapnya lama. “Sedikit alasan untuk percaya… bahwa masih ada yang layak diperjuangkan.”

Lyra: “Kamu ngomong gitu ke semua orang, atau aku harus tersipu sekarang?”

Magnus ngakak kecil, langkahnya mundur pelan. “Kalau aku ngomong ke semua orang, efeknya nggak sekuat ini.”

Magnus berdiri diam beberapa detik di depan ranjang anak itu. Tatapannya berubah — bukan lagi polisi yang tegas dan dingin, tapi seseorang yang sedang ngebuka lembar lama yang udah berdebu di kepalanya.

Lyra ngeliat perubahan ekspresinya. “Kamu kenapa?” tanyanya pelan, masih gendong Alen yang udah mulai tidur pulas.

Magnus ngerespon dengan suara rendah, agak serak, “Anak itu… mirip aku dulu.”

Lyra berkedip. “Maksudmu?”

Magnus menarik kursi di sebelah ranjang, duduk, sikunya disandarin ke lutut. Pandangannya kosong, tapi matanya dalem banget.

“Aku lahir di zona abu-abu. Daerah perang. Nggak ada sekolah, nggak ada rumah yang bener-bener ‘aman’. Orang tuaku…” ia berhenti sejenak, napasnya berat. “Mereka meninggal waktu aku delapan tahun. Aku diambil sama militer, dibesarin buat jadi alat.”

Lyra diem. Tangannya otomatis ngerangkul Alen lebih erat, kayak ngerasain nyeri yang Magnus ceritain.

Magnus lanjut, suaranya kayak bergetar halus. “Kau tahu… waktu kecil, aku nggak nangis pas mereka ninggal. Aku cuma marah. Aku pikir kalau aku kuat, aku nggak bakal kehilangan lagi. Tapi ternyata ‘kuat’ itu cuma cara lain buat nyembunyiin luka.”

Dia nyengir kecil tapi tanpa senyum beneran. “Aku belajar nembak sebelum aku bisa baca. Aku tahu kode militer sebelum tahu cara ngucapin ‘selamat pagi’. Lucu, ya?”

Lyra balas dengan nada lembut tapi tulus banget, “Bukan lucu, Magnus. Itu tragis.”

Mereka saling tatap sebentar — bukan tatapan romantis, tapi dua jiwa yang sama-sama retak, saling liat bekas luka satu sama lain.

Magnus akhirnya berdiri, ngelihat Alen sekali lagi. “Aku harap dia nggak harus tumbuh kayak aku.”

Terus dia menoleh ke Lyra, senyum tipis. “Kalau dia punya dokter kayak kamu… mungkin dia nggak perlu belajar kuat dengan cara yang salah.”

Lyra cuma bisa ngangguk kecil, matanya agak merah. “Kamu masih marah sama masa lalumu?”

Magnus nyengir tipis lagi. “Dulu iya. Sekarang? Mungkin aku udah mulai belajar berdamai. Soalnya… untuk pertama kalinya, aku lihat orang yang nggak cuma nyembuhin luka fisik.”

Dia nunjuk halus ke Lyra.

Lyra agak tersipu, tapi nadanya tetap lembut. “Heh… kamu harus belajar cara muji yang lebih halus, Kapten.”

Magnus nunduk dikit, nada suaranya lebih pelan, tapi jujur. “Kalau halus, nanti kamu nggak sadar kalau kamu berarti.”

—.

Magnus berdiri lagi setelah percakapan itu, ngelirik jam di pergelangan tangannya—udah lewat tengah hari. Ia narik napas panjang, berusaha nyembunyiin sesuatu yang barusan terasa di dadanya.

“Baiklah, Dokter,” katanya singkat, suaranya balik lagi ke nada profesional khas Magnus. “Aku harus balik ke markas. Masih ada laporan lanjutan soal D.J.D.”

Lyra ngangguk, nada suaranya lembut tapi matanya masih ngikutin tiap gerakan Magnus. “Hati-hati di jalan. Dunia di luar sana… belum tentu seaman ruang anak-anak ini.”

Magnus berhenti di ambang pintu, balik sedikit, kasih senyum tipis yang nyaris nggak keliatan. “Aku tahu. Tapi setidaknya… sekarang aku tahu kenapa tempat seperti ini harus dijaga.”

Langkahnya berat tapi mantap waktu dia ninggalin ruang anak. Begitu keluar dari bangsal, suasana langsung berubah—dingin, formal, penuh langkah sepatu polisi yang bergema di koridor Raven Medika.

Begitu sampai di ruang koordinasi, Magnus langsung disambut Paul.

“Surat penangkapan tambahan buat Terra dan Vos udah keluar. Tapi ada satu hal aneh.”

Magnus ngangkat alis. “Apa?”

Paul ngasih berkas tablet ke tangannya. “Pharma—nggak muncul di daftar aktivitas Raven sejak pagi. Tapi sistem nyatet ada sinyal pribadi dia di luar kota. Tanpa izin kepolisian.”

Magnus langsung ngeh. Rahangnya mengeras, ekspresinya berubah ke mode serius penuh. “Pharma…” dia gumam pelan. “Kayaknya kita mulai ngeliat potongan puzzle yang ilang.”

Paul nyeletuk setengah bercanda tapi tegang, “Gue bilang juga apa. Orang itu terlalu bersih buat nggak nyembunyiin sesuatu.”

Magnus nutup file itu dan berdiri tegak. “Kirim tim pemantauan. Aku yang urus laporan ke pusat. Kalau dia benar keluar tanpa izin, berarti dia bukan sekadar dokter.”

Paul nyengir miring. “Udah kuduga. Jadi… mulai berburu lagi, ya, Kapten?”

Magnus balas lirih tapi dingin, “Selalu.”

Dia jalan pergi ke ruang pusat operasi dengan langkah cepat. Di matanya, nggak ada sisa lembut dari percakapan barusan—hanya tatapan seseorang yang tahu: perang belum selesai, cuma berganti bentuk.

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!