Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gamam
Tama dan Sasa duduk di barisan kedua. Gadis itu masih tetap menggandeng tangannya meski tepat di sampingnya ada mamanya. Semakin dilihat Sasa malah makin caper. Tama memilih membiarkannya saja, tak peduli Dirga dari depan sana melotot kesal. Tama hanya membalasnya dengan tatapan masa bodoh. Selain itu juga karena kehadiran Kara dengan kedua sahabatnya membuat semua pasang mata berfokus pada mereka. Setelah sedikit drama ribut Kara dengan om nya akhirnya gadis itu bisa duduk manis di depan penghulu.
“Belum ditanya, bocil! Udah main teriak sah aja lo!” cibir Tama, saat Sasa berteriak begitu kencang setelah Dirga selesai mengucap ijab kabul.
“Tapi kalo kayak gitu udah sah, Bang. Sasa kan selain baca teks ijab kabul, liat referensi vidio di youtube juga.” Ucap Sasa.
"Iya tapikan belum ditanya!"
"Tapi kan-" belum selesai berucap, Tama membungkam bibir Sasa dengan tangannya.
"Iya udah terserah lo. Tapi sekarang diem! berdo'a" ucap Tama begitu melepas tangannya. Ia membantu Sasa menengadahkan kedua tangannya, gadis itu malah tersenyum manis.
Acara dilanjut dengan mengabadikan moment melalui foto. Sasa tentu paling gercep soal foto-foto. Ia tak sungkah gabung berfoto dengan Kara dan kedua temannya, sementara pada orang tua mulai mengobrol ringan sambil menikmati kudapan.
"Sasa mau foto dulu, Abang tunggu sini yah!" pamitnya.
Tama hanya mengangguk asal, ia lantas menghampiri Dirga untuk memberikan selamat pada lelaki itu.
“Kayaknya lo yang harus siap-siap gila karena punya istri kayak Kara.” batin Tama seraya melangkah menghampiri empat gadis yang masih asik berfoto ria saat keluarga besar mereka menikmati hidangan yang telah di siapkan. Tama tentu memilih pulang lebih awal karena menunggu sang mama yang sedang asik bersama teman lamanya tentu akan memakan waktu yang tak sedikit. Untuk menunggu sebenarnya ia tak keberatan, namun keberadaan Sasa membuatnya terusik. Gadis itu terlalu berisik untuknya.
“Abang mau foto bareng Sasa yah?” ucap Sasa begitu Tama tiba di dekatnya.
“Nggak, kan tadi udah. Minggir dikit lah gue mau ngasih selamat ke kakak ipar lo!”
“Oke silahkan Abang nya Sasa tersayang.” Ucap Sasa seraya menjauh dari Kara, “Abis ngasih ucapan selamat kita makan yah, Bang. Sasa udah laper. Sasa ke ruang makan duluan deh siapin buat abang, ntar abang langsung kesana aja yah.” Lanjutnya.
“Iya sana, ntar gue nyusul. Pilihin yang enak-enak.”
“Siap laksanakan!” balas Sasa sambil hormat kemudian berlalu ke ruang makan.
“Akhirnya pergi juga tuh bocil.” Ucap Tama lirih.
“Lucu yah adek gue, Tam.” Ucap Kara.
“Lucu dari mana? Ngeselin yang ada. Ngomong kagak ada berentinya kayak petasan gantung, brisik terus.” balas Tama.
“Nggak boleh kayak gitu, Tam. Justru yang berisik itu asik, ntar kalo dia ngejauh baru deh lo ketar ketir. Kayak Dirga ke gue dulu, so bilang jatuh cinta sama gue itu mustahil tapi nyatanya kita nikah.”
“Amit-amit dah kalo gue sampe ketar ketir ditinggal bocil kayak dia. Adek ipar lo bukan selera gue, dia bocil banget taunya jajan doang.” Jawab Tama.
“Jangan lama-lama ngobrolnya! Katanya tadi mau pulang.” Ucap Dirga yang baru saja bergabung, dia benar-benar tak bisa membiarkan istrinya berlama-lama dengan Tama.
“Elah lima menit juga belum, Ga. Pelit amat jadi laki.” Cibir Tama.
“Gue pamit deh. Selamat yah Ra, udah sah sama My Dirgantara nya lo. Kalo dia macem-macem atau bikin lo nangis tinggal bilang aja ke gue. Bakal gue kasih pelajaran.”
“Siapa lo mau ngasih pelajaran segala? Gue pasti jaga istri gue baik-baik, kalau pun suatu saat dia nangis udah pasti gue yang bakal bikin dia senyum lagi.”
“Gue nggak ngomong sama lo, Ga. Gue ngomong sama Kara.”
“Dah lah gue pamit. Awas lupa pesen gue, jangan telat ngangkat.” Ucap Tama. “Ra, lo juga harus ingetin laki lo jangan sampe telat ngangkat.” Lanjutnya sambil berlalu pergi.
Ck! Tama berdecak lirih, ia sudah susah payah menghindari Sasa tapi lagi-lagi gadis itu muncul dan langsung menarik tangannya.
"Kan Sasa udah bilang tadi, makan dulu!"
"Katanya pilihin yang enak-enak ntar abang nyusul? udah Sasa pilihin loh, spesial buat abang."
Tama mengambil menyendok pudding yang dipilihkan Sasa dan melahapnya. "udah yah, gue balik."
"Masih banyak yang bang lainnya, udah Sasa pilihin juga." kali ini Sasa menyodorkan kue cokelat.
"Buat lo aja, gue ikhlas."
"Tapi Sasa udah pilihin buat abang. Minimalnya hargailah usaha Sasa. Kan tadi juga abang yang minta dipilihin." Sasa berucap memelas.
Tama menghela nafas panjang, menghabiskan satu persatu makanan yang dipilihkan gadis cerewet di depannya. Entahlah dia selalu tak bisa menolak permintaan Sasa. Padahal dulu dia bisa dengan blak-blakan menolak permintaan para gadis, kenapa sekarang nggak bisa?
Tama mengusap wajahnya kasar begitu piring di depannya akhirnya kosong.
Sasa menatapnya dengan wajah puas, seolah baru saja memenangkan sesuatu yang besar.
“Nah kan bisa,” ucap gadis itu ringan. “Nanti kalo Sasa nggak ada yang milihin, abang pasti malah lupa makan.”
“Pede amat lo,” sahut Tama, bangkit dari kursinya. “Gue ini hidup sebelum kenal lo.”
“Iya, tapi sekarang kan udah kenal,” jawab Sasa cepat, lalu nyengir.
Langkah Tama terhenti sesaat.
Jawaban itu terlalu sederhana, tapi entah kenapa bikin dadanya terasa aneh—kayak ada yang nyenggol dari dalam.
“Lo tuh ngeselin,” gumam Tama, setengah serius.
“Tau. Tapi abang tetep di sini kan?” balas Sasa santai.
Tama mendengus, mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ia seharusnya sudah pulang dari tadi. Seharusnya. Tapi kakinya terasa berat melangkah, sementara suara Sasa yang katanya berisik itu malah jadi semacam latar yang tanpa sadar ia cari.
“Gue nggak betah sama orang berisik,” katanya lagi, lebih ke pembelaan diri.
“Terus kenapa abang nggak kabur aja dari tadi?” tanya Sasa, menatapnya lurus. Kali ini tanpa bercanda.
Tama tercekat.
Ia tak punya jawaban yang siap.
Karena kalau jujur, ia juga heran. Kenapa ia tetap di situ. Kenapa ia masih menanggapi ocehan Sasa. Kenapa tangan gadis itu yang sejak tadi nyaris tak lepas darinya terasa… biasa saja. Bahkan terlalu biasa untuk sesuatu yang seharusnya ia hindari.
“Lo tuh bocil,” ulang Tama, lebih pelan.
Sasa mengangguk. “Iya, bocil. Tapi bocil juga punya perasaan, Bang.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, ringan, tanpa tuntutan. Tapi justru itu yang bikin Tama makin tak nyaman. Ia membenci fakta bahwa ucapan sesederhana itu berhasil membuatnya terdiam.
“Udah, gue pulang beneran,” ucapnya akhirnya, melangkah menjauh.
Sasa tak mengejar.
Hanya melambaikan tangan kecilnya sambil tersenyum, seolah yakin Tama akan menoleh.
Dan benar saja di ambang pintu, Tama berhenti.
Ia menoleh sekilas, mendapati Sasa masih berdiri di sana, menatap punggungnya tanpa ekspresi berlebihan.
Ck.
Makin parah.
Tama keluar dari rumah itu dengan satu kesimpulan yang tak ingin ia akui
Sasa bukan sekadar gadis berisik yang mengganggu ketenangannya.
Dan justru itu yang membuatnya bingung.
yang senyam senyum
ke tawa ngakak
geleng-geleng kepala
senyum lagi
ngakak lagi
ampe aku baca pagi-pagi depan paksu, malah di curigai 🤣🤣🤣🤣
ini semua karena micin, yang gurih, gemes dan genes🤣
awas aja kalau bang tam tam hanya becandain anak orang🙄
sabar ya sa