Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Ghost in the Bookstore
Malam itu, kemegahan White Rose Mansion menjadi saksi bisu sebuah eksekusi tanpa pengadilan. Langit sedang tidak bersahabat, guntur menggelegar di kejauhan, seolah ikut mengutuk kekejaman yang sedang terjadi di dalam rumah itu.
"Keluar!"
Suara Leo menggelegar, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin. Tangan kokohnya mencengkeram lengan Liora dengan begitu kuat hingga dipastikan akan meninggalkan bekas keunguan di sana. Ia menyeret Liora menuju pintu besar, tidak peduli pada rintihan kesakitan yang keluar dari bibir gadis itu.
"Leo! Hentikan! Kau sudah gila?!" Eleanor berteriak, air mata membasahi wajahnya yang mulai keriput. Ia mencoba menarik tangan putranya, namun Leo seperti monster yang tidak memiliki saraf perasaan.
"Aku melakukan ini untuk melindungimu, Ibu! Dia hanya rayap yang sedang memakan kemurahan hatimu!" Leo menyentak Liora hingga gadis itu tersungkur di teras depan yang mulai basah oleh tempias hujan.
Liora tidak melawan. Ia hanya memeluk tas kecilnya—satu-satunya miliknya yang tersisa. Ia menatap Eleanor dengan tatapan hancur. "Nyonya... terima kasih untuk segalanya. Maafkan saya karena hanya membawa masalah ke rumah ini."
"Liora, jangan pergi, Nak!" Eleanor meronta, namun Leo mengunci pintu besar itu dari dalam, memisahkan mereka.
Di luar, Liora berdiri dengan tubuh bergetar. Hujan turun dengan sangat deras, membasahi gaun sutra pemberian Eleanor yang kini terasa seperti kain kafan yang mendinginkan jiwanya. Ia melangkah dengan kaki telanjang menyusuri jalanan aspal yang kasar. Ia tidak punya arah, tidak punya tujuan, dan hampir tidak punya alasan untuk terus bernapas.
Namun, di kegelapan malam itu, sebuah lampu mobil menyala terang di depannya. Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di sampingnya.
Pintunya terbuka, dan muncullah Jacob, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Leo yang selama ini diam-diam mengamati penderitaan Liora. Berbeda dengan bosnya yang berhati batu, Jacob masih memiliki nurani yang utuh.
"Liora? Masuklah, cepat!" Jacob menarik Liora masuk ke dalam mobil. Ia segera menyelimuti bahu gadis itu dengan jaket tebalnya.
"Jacob... Tuan Leo akan membunuhmu jika dia tahu," bisik Liora dengan suara yang nyaris hilang.
Jacob menghela napas panjang sembari mengemudikan mobilnya menjauh dari area mansion.
"Biarkan saja. Aku sudah terlalu lama melihatnya berbuat semena-mena. Aku tidak membantumu karena aku menyukaimu, Liora. Aku membantumu karena aku masih ingin menganggap diriku manusia. Tidak ada orang yang pantas diperlakukan seperti binatang."
Malam itu, Jacob membawa Liora ke sebuah apartemen kecil di pinggiran kota yang tenang—jauh dari jangkauan radar Leo. Ia bahkan sudah menyiapkan sedikit uang tabungan dan sebuah tawaran pekerjaan di sebuah toko buku milik kenalannya.
"Tinggallah di sini. Mulailah hidup baru. Jangan pernah kembali ke Caelum Empire, dan jangan pernah biarkan Leo menemukanmu lagi. Dia adalah racun bagi orang-orang sepertimu," ucap Jacob tegas.
Satu minggu berlalu. Liora mulai bekerja di toko buku itu. Ia memakai kacamata dan menggulung rambutnya agar tak mudah dikenali. Ia mulai belajar untuk bernapas lagi, meski setiap hirupan udara terasa hambar.
Sementara itu, di kediaman Leo, suasana semakin mencekam. Eleanor tidak mau bicara padanya, dan mansion itu terasa lebih sepi dari kuburan. Leo duduk di ruang kerjanya, menatap laporan yang dikirim Jacob.
"Kau yakin dia sudah pergi dari kota ini?" tanya Leo dengan nada datar, namun ada sesuatu yang mengusik pikirannya sesuatu yang ia sebut sebagai 'kepuasan', namun rasanya lebih mirip dengan 'kekosongan'.
"Benar, Tuan. Menurut informasi, dia sudah naik bus ke desa terpencil. Dia tidak akan mengganggu hidup Anda lagi," jawab Jacob dengan wajah tanpa ekspresi, berbohong dengan sangat rapi demi menyelamatkan satu nyawa yang tersisa.
Leo terdiam. Ia memutar gelas wiskinya. Seharusnya ia merasa tenang karena "sampah" itu sudah dibersihkan. Namun, bayangan lesung pipi Liora yang penuh luka malam itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Bagus," ucap Leo pendek. "Jangan pernah sebut namanya lagi di hadapanku."
Leo berpikir ia telah menang. Ia tidak tahu bahwa Jacob telah mengkhianatinya untuk pertama kali, dan ia juga tidak tahu bahwa di sudut kota yang kecil, Liora sedang membangun benteng untuk hatinya sendiri sebuah benteng yang suatu hari nanti akan membuat Leo menyadari bahwa bernapas tanpa kehadiran gadis yang ia injak itu adalah hukuman yang paling menyiksa.
"Leo memenangkan ego-nya, namun ia kehilangan satu-satunya cahaya yang pernah mencoba menerangi kegelapannya."
"Kebaikan Jacob adalah oksigen yang dicuri dari takdir Leo, membiarkan Liora hidup untuk menjadi penyesalan terbesar pria itu kelak."
"Liora belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah dengan menganggap Leo Alexander Caelum sudah mati dalam ingatannya."