NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: KETIKA KORBAN BERTEMU PENGHINA

#

Enam bulan. Enam bulan Dyon kerja tanpa henti di kota sebelah.

Tabungannya sekarang Rp 12.000.000. Dua belas juta masih jauh dari cukup buat kuliah, tapi... progres. Dia nggak menyerah.

Hari ini, Sabtu, dia pulang ke kota asal sebentar aja. Ada surat penting yang harus diambil dari sekolah lama surat pindah sekolah yang tertinggal. Dia butuh itu buat daftar di sekolah baru di kota tempat dia kerja sekarang. Sekolah malam khusus buat anak-anak yang sambil kerja.

Dyon nggak mau berhenti sekolah selamanya. Dia... dia harus lulus SMA. Harus dapet ijazah. Biar bisa kuliah nanti. Biar bisa jadi arsitek.

Biar... biar bisa balik ke Ismi dengan kepala tegak.

Naik bus pagi tiga jam perjalanan. Duduk di kursi paling belakang yang sempit, sebelah jendela. Ngeliatin pemandangan yang lewat sawah, gunung, langit.

Rindu.

Rindu sama kota ini.

Rindu sama... Ismi.

Tapi dia nggak akan ketemu dia. Nggak sekarang. Belum waktunya.

*Belum layak.*

---

Sampai kota. Turun dari bus jalan ke sekolah lama. Jalanan familiar. Gang-gang yang pernah dia lewatin tiap hari. Warung tempat dia beli nasi bungkus murah.

Semua... masih sama.

Tapi dia... udah beda.

Badannya lebih berotot hasil kerja berat enam bulan. Kulitnya lebih gelap gosong kena panas. Tangan penuh kapalan tebal, keras.

Wajahnya... lebih dewasa. Mata lebih tajam. Ada... sesuatu yang berubah.

Sampai sekolah. Ke ruang TU ambil surat pindah. Mbak-mbak TU yang biasanya jutek malah senyum liat dia.

"Dyon? Astaga, kamu... kamu udah gede banget! Kemana aja?"

"Kerja, Mbak," jawab Dyon singkat.

"Kerja dimana?"

"Kota sebelah."

"Oh... terus ini surat pindah buat apa?"

"Mau lanjut sekolah di sana, Mbak. Sekolah malam."

"Wah, bagus! Semangat ya! Nggak nyerah meskipun harus kerja sambil sekolah. Hebat!"

Dyon senyum tipis—terima surat, terus keluar.

Jam dua siang. Panas terik. Perutnya keroncongan dari pagi cuma minum air doang.

Dia jalan ke warung langganan Warung Bu Siti, yang jual nasi bungkus Rp 7.000. Murah, tapi enak.

Tapi...

Di jalan, dia liat sesuatu.

Seseorang.

Duduk di pinggir jalan di bawah pohon rindang. Baju lusuh robek di beberapa tempat. Celana kotor. Rambut gondrong, berminyak. Kurus kering tulang menonjol di mana-mana.

Muka... familiar.

Dyon berhenti. Ngeliatin lama.

Jantungnya... berhenti sedetik.

Arman.

Arman Hartawan.

Preman sekolah yang dulu nyiksa dia habis-habisan. Yang dulu mukul dia, tendang dia, ludahin dia, hina dia di depan banyak orang.

Sekarang...

Sekarang duduk di pinggir jalan kayak gelandangan.

Mata kosong. Bibir kering pecah-pecah. Tangan gemetar mungkin kelaparan.

Dyon diem di tempat nggak gerak. Pikiran kacau.

*Ini... ini Arman? Beneran dia?*

Arman nggak nyadar Dyon di sana. Dia cuma ngeliatin tanah kosong, hampa.

Dyon bisa pergi. Bisa pura-pura nggak liat. Bisa... bisa bales dendam.

Tapi...

Kakinya melangkah maju. Pelan.

Mendekat.

Arman nengadah liat Dyon. Mata melebar kaget, takut.

"Dyon..." suaranya serak kayak nggak dipake ngomong berhari-hari.

Dyon berdiri di depan Arman diam. Ngeliatin dari atas ke bawah.

*Ini... ini yang dulu nyiksa aku. Ini yang dulu bilang aku sampah. Ini yang dulu...*

Tapi kenapa...

Kenapa dadanya sesak liat Arman kayak gini?

"Lo... lo mau mukul gue?" tanya Arman pelan suara gemetar. "Gue... gue ngerti kalau lo mau. Gue... gue pantas."

Dyon diam.

"Gue... gue minta maaf, Dyon," Arman nunduk dalam. Jidat hampir nyentuh tanah. "Gue... gue jahat sama lo. Gue... gue nyiksa lo. Gue buat hidup lo sengsara. Dan sekarang... sekarang gue ngerasain karma. Gue... gue ngerasain gimana rasanya jadi lo."

Air mata Arman jatuh netes ke tanah berdebu. "Maafin gue... kumohon... maafin gue..."

Dyon ngepal tangan keras. Kuku nusuk telapak.

Pengen marah. Pengen teriak. Pengen bilang: "Lo pikir minta maaf cukup?! Lo pikir penyesalan bisa balikin semua yang lo lakuin?!"

Tapi...

Yang keluar cuma... napas panjang.

Dyon jalan—ke warung Bu Siti. Beli nasi bungkus dua. Satu buat dia, satu...

Balik ke tempat Arman. Taruh nasi bungkus di sebelah Arman—di tanah.

"Makan," kata Dyon—datar.

Arman nengadah—mata merah, basah. "Dyon... lo... lo ngasih gue makan?"

"Iya. Sebelum gue berubah pikiran."

Arman ambil nasi bungkus—tangan gemetar parah. Buka—nasi putih, tempe goreng, sambel. Sederhana. Tapi buat Arman sekarang... kayak harta karun.

Dia makan—cepet, lahap. Air mata masih ngalir. Ngunyah sambil nangis.

"Makasih..." bisiknya di sela makan. "Makasih, Dyon... lo... lo baik banget..."

Dyon duduk di tanah—agak jauh dari Arman. Buka nasi bungkusnya sendiri. Makan—pelan.

Hening sebentar. Cuma suara mereka ngunyah.

"Kenapa lo... kenapa lo ngasih gue makan?" tanya Arman pelan—nggak ngerti. "Gue... gue nyiksa lo. Gue... gue harusnya musuh lo."

Dyon berhenti ngunyah. Ngeliatin Arman—lama.

"Lo tau nggak," kata Dyon pelan. "Waktu gue disiksa sama lo... gue sering mikir: kalau suatu hari gue punya kesempatan buat bales dendam, gue... gue bakal lakuin. Gue bakal bikin lo ngerasain apa yang gue rasain."

Arman diam—nunduk.

"Tapi sekarang gue liat lo kayak gini," Dyon lanjut. Suaranya... nggak ada dendam. Cuma... lelah. "Gue... gue nggak ngerasa seneng. Gue nggak ngerasa puas. Yang gue rasain cuma... kasian."

Arman nangis lagi—keras.

"Gue nggak akan maafin semua yang lo lakuin," kata Dyon—tegas tapi tenang. "Gue nggak akan lupa gimana lo mukul gue, tendang gue, ludahin gue. Gue nggak akan lupa gimana lo bikin hidup gue jadi neraka."

Dia berdiri—selesai makan. Buang bungkus nasi ke tempat sampah terdekat.

"Tapi gue juga nggak akan jadi orang kejam kayak lo," lanjut Dyon—ngeliatin Arman yang masih duduk, nangis. "Gue nggak akan biarkan kebencian meracuni hati gue. Karena... kalau gue benci lo selamanya, berarti gue nggak beda sama lo."

Arman nengadah—mata bengkak, basah. "Dyon... lo... lo beneran orang baik. Gue... gue nggak pantas dikasih kebaikan sama lo."

"Mungkin," Dyon senyum pahit. "Tapi kebaikan bukan soal pantas atau nggak. Kebaikan... itu pilihan. Dan gue... gue pilih buat nggak jadi kayak lo."

Dyon jalan—pergi, ninggalin Arman yang masih nangis di bawah pohon.

Tapi sebelum terlalu jauh, dia nengok sebentar.

"Arman," panggil Dyon.

Arman nengadah.

"Hidup lo... hidup lo masih panjang," kata Dyon. "Lo masih bisa berubah. Masih bisa jadi orang yang lebih baik. Jangan... jangan sia-siain kesempatan kedua yang Tuhan kasih."

Arman ngangguk—pelan, sambil nangis.

Dyon pergi—beneran kali ini.

---

Sore hari. Dyon balik ke gubuk lama—gubuk yang udah dia tinggalin enam bulan.

Pintu masih ada. Tapi udah berkarat. Kunci masih sama—dia buka pelan.

Masuk—gelap, bau apek. Debu dimana-mana. Kasur tipis masih di pojok—tapi udah berjamur.

Dia bersihin—pelan. Sapu debu pakai sapu lidi yang masih ada di pojok. Lap meja plastik yang penuh debu.

Kemalaman. Bus terakhir ke kota sebelah udah berangkat jam lima tadi. Jadi... dia harus nginep di sini semalam.

Tidur di kasur tipis yang lembab—dingin. Selimut tipis yang udah bolong di sana-sini.

Tapi... entah kenapa... dia merasa... tenang.

Dia buka hape butut—layar retak. Buka foto Ismi.

Jilbab putih. Senyum manis. Mata berbinar.

"Ismi..." bisiknya ke foto. "Aku... aku udah lebih kuat sekarang. Aku... aku sekolah lagi. Kerja sambil sekolah. Aku... aku nggak akan menyerah."

Air mata keluar—pelan.

"Tunggu aku... sebentar lagi. Sebentar lagi aku balik. Janji."

Dia tidur—peluk hape di dada. Foto Ismi masih nyala di layar.

---

**BERSAMBUNG**

---

**KETIKA KORBAN BERTEMU PENGHINA**

*-

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!