NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
​Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Emas Merah dari Negeri Seberang

Di sebuah ruangan yang pengap dan gelap di pinggiran Trowulan, cahaya hanya berasal dari sebatang lilin yang hampir habis. Bayangan hitam yang panjang menari-nari di dinding batu yang lembap. Seorang pria duduk di kursi kayu jati yang diukir indah, namun wajahnya tersembunyi di balik tudung kain sutra hitam yang tebal. Hanya jemarinya yang mengenakan cincin batu akik besar yang terlihat berkilat terkena cahaya remang.

​Di depannya, seorang kurir berpakaian saudagar asing bersujud rendah. Di atas meja kayu di antara mereka, terletak beberapa peti kayu kecil yang terbuka, menampakkan tumpukan kepingan emas murni dengan stempel resmi Dinasti Ming.

​"Ini adalah angsuran kedua dari Tuan Besar Kasim Wei Zhong," bisik sang kurir dalam bahasa yang sangat hati-hati. "Tuan kami hanya meminta satu hal: Kepala Lin Feng harus segera dipisahkan dari tubuhnya sebelum ia sempat bicara dengan siapapun yang memiliki telinga di istana Majapahit."

​Pria misterius itu mengelus dagunya yang tertutup bayangan. Suaranya terdengar berat dan serak, sebuah suara yang biasa memberikan perintah di gedung-gedung pemerintahan Majapahit.

​"Gajah Mada telah gagal," desis pria itu, nada bicaranya mengandung kebencian yang dalam terhadap sang Mahapatih. "Patih itu terlalu banyak pertimbangan. Dia bilang pemuda itu punya 'sorot mata kebenaran'. Omong kosong! Keadilan hanya milik mereka yang memiliki emas terbanyak."

​Ia mengambil satu keping emas, menimbangnya di telapak tangan, lalu tersenyum tipis di balik kegelapan.

​"Kaisar Ming mungkin menganggap Lin Feng pengkhianat, tapi bagiku, Lin Feng adalah kunci untuk mendapatkan kekayaan yang tak akan habis tujuh turunan. Dengan emas ini, aku bisa membeli pengaruh, membungkam mulut para prajurit, dan pelan-pelan merongrong kekuasaan Gajah Mada dari dalam."

​Pria misterius itu kemudian mengeluarkan sebuah gulungan peta wilayah Hutan Tarik dan sekitarnya. Ia menandai sebuah titik dengan kukunya yang panjang.

​"Jangan gunakan pasukan resmi. Kerahkan kelompok Gagak Hitam—pembunuh bayaran yang tidak punya nurani. Katakan pada mereka, sasarannya sedang terluka akibat pukulan Brajamusti. Dia pasti bersembunyi di sekitar lereng pegunungan untuk mencari tabib."

​"Bagaimana jika Mahapatih mengetahuinya, Gusti?" tanya sang kurir ragu.

​Pria bertudung itu terkekeh dingin, sebuah suara yang menyerupai gesekan logam. "Biarkan Gajah Mada sibuk dengan lukanya. Sementara itu, tikus-tikusku akan menyelesaikan pekerjaan ini dalam senyap. Majapahit tidak butuh pahlawan asing, Majapahit hanya butuh kestabilan... dan emas."

​Ia mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar sang kurir pergi. Saat ruangan kembali sepi, pria itu menggumam pelan pada kegelapan.

​"Lin Feng... kau pikir kau bisa lari dari kegelapan? Di negeri ini, kegelapan punya mata dan telinga yang jauh lebih banyak daripada yang kau bayangkan."

Malam turun dengan begitu pekat di lereng pegunungan. Suara jangkrik yang biasanya ramai mendadak senyap, seolah alam tahu maut sedang merayap di antara semak belukar. Di dalam gubuk, Ki Ageng Bang Wetan tiba-tiba berhenti mengunyah sirih. Matanya yang tua mendadak berkilat tajam.

​"Joko, padamkan lilinnya. Kita kedatangan tamu yang tidak tahu tata krama," bisik Ki Ageng pelan namun penuh penekanan.

​Belum sempat Joko bergerak, suara desingan anak panah menembus dinding bambu, memadamkan lilin dan nyaris mengenai kepala Joko. "Waduh! Mas Lin, kita diserbu!" teriak Joko sambil menjatuhkan diri ke lantai.

​Pintu gubuk hancur ditendang. Enam orang berpakaian serba hitam dengan topeng menyerupai paruh burung gagak melompat masuk. Mereka adalah kelompok Gagak Hitam, pembunuh bayaran yang terkenal efisien dan kejam.

​Lin Feng, meski dadanya masih terasa nyeri, segera menyambar pedang tipisnya. Ia berdiri tegak, memancarkan aura dingin yang membekukan ruangan.

​"Kalian tidak belajar dari kesalahan rekan kalian di dermaga," ucap Lin Feng dingin.

​Pertarungan Pecah!

​Lin Feng & Pedang Enam Harmoni: Dua pembunuh menyerang Lin Feng dengan rantai berduri. Lin Feng melesat, gerakannya meski belum pulih sempurna tetaplah secepat bayangan. Pedangnya berdenting, memercikkan api saat beradu dengan rantai. Ia menggunakan teknik Langkah Awan untuk berpindah posisi, sesekali mengirimkan totokan jari ke arah sendi lawan, meski ia menghindari penggunaan Zhua Tai agar luka dalamnya tidak pecah kembali.

​Ki Ageng Bang Wetan yang Tak Terduga: Di sudut lain, Ki Ageng menghadapi tiga pembunuh hanya dengan sebatang tongkat bambu penyangga jemuran. Gerakannya sangat tenang, seperti sedang menari. Namun, setiap kali tongkatnya mendarat, terdengar suara tulang retak. Ki Ageng bukanlah sekadar tabib; ia adalah pendekar tua yang telah lama menyembunyikan taringnya.

​Aksi Joko si Gemuk: Joko tidak tinggal diam. Meski terlihat kikuk, ia menggunakan berat badannya dengan cerdik. Ia menyambar panci besar berisi air panas dan melemparkannya ke arah pembunuh yang mencoba menyerang Ki Ageng dari belakang. "Makan ini, Gagak Jelek!" teriaknya sambil mengayunkan alu penumbuk padi yang besar, menjatuhkan satu lawan hingga pingsan dengan sekali hantam.

​Pemimpin Gagak Hitam, seorang pria tinggi dengan pedang melengkung yang beracun, maju mengincar Lin Feng. Ia tahu Lin Feng sedang terluka dalam.

​"Mati kau, buronan!" teriak sang pemimpin sambil menebas secara vertikal.

​Lin Feng merasakan panas di dadanya bergejolak. Darah mulai merembes di sudut bibirnya. Namun, ia tidak mundur. Ia memutar pedangnya, menciptakan pusaran angin yang menangkis tebasan beracun itu. Dengan satu gerakan akrobatik, ia menendang dada lawan, lalu menggunakan hulu pedangnya untuk menghantam titik saraf di bahu sang pemimpin.

​Sang pemimpin terjerat langkahnya sendiri, terperosok keluar gubuk. Ki Ageng segera menyusul ke halaman dan dengan satu hentakan tangan kosong, ia mengirimkan gelombang tenaga dalam yang membuat dua pembunuh lainnya terpental ke semak-semak.

​Halaman gubuk kini dipenuhi oleh tubuh-tubuh anggota Gagak Hitam yang mengerang kesakitan. Lin Feng berdiri bersandar pada tiang pintu, napasnya memburu, wajahnya kembali memucat.

​"Mereka dikirim oleh tikus yang kita bicarakan tadi pagi," ucap Ki Ageng sambil memeriksa salah satu pembunuh yang tewas. Di balik pakaian pembunuh itu, ia menemukan sebuah kepingan emas dengan stempel Dinasti Ming—bukti nyata adanya pengkhianatan di dalam lingkaran pejabat Majapahit.

​Lin Feng menatap kepingan emas itu dengan geram. "Emas ini... adalah darah dari negeriku yang digunakan untuk menumpahkan darah di negeri ini."

​Joko, yang masih memegang alu dengan gemetar, mendekat. "Mas Lin, sepertinya tempat ini sudah tidak aman lagi. Kalau Gagak Hitam bisa sampai ke sini, berarti tikus-tikus itu punya penciuman yang tajam."

​Ki Ageng mengangguk setuju. "Kita harus pergi sebelum pasukan yang lebih besar datang. Lin Feng, lukamu belum sembuh, tapi kau harus belajar bergerak dalam pelarian. Kita akan menuju ke arah Gunung Penanggungan, di sana ada tempat suci yang tidak berani dimasuki sembarang orang."

1
anggita
like iklan👍👆 moga novelnya lancar jaya.
anggita
ilmu Tiongkok vs Nusantara Jawa🔥
anggita
ada cerita sejarahnya juga... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!