NovelToon NovelToon
Lelaki Manipulatif

Lelaki Manipulatif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Duda / Berbaikan
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.

Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.

Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harusnya First date!

Langkah kaki mereka menuju tempat parkiran yang di mana Guno akan mengambil motornya untuk membawa Tama ke dokter. Mungkin karena suasana sekolah sudah lumayan sepi, Guno sedikit berani membawa Tama dari awal tempat mereka bertemu.

" Yuk naik! "

Tama menganggukkan kepalanya kemudian dia menaiki motor itu, Guno membawa motornya itu dengan kehati-hatian yang cukup tinggi, seperti laju yang tidak terlalu cepat, kemudian jarang menyalip lalu taat peraturan tidak menerobos lampu merah dan dia juga sesekali mengelus lutut Tama untuk memberikan rasa aman dan nyaman pada Tama ketika dibonceng olehnya.

Sampainya didepan klinik, Guno langsung menyuruh Tama untuk turun.

" Hati - hati " ucapnya sembari memegangi tangan Tama yang menempel pada pinggangnya.

Pun Guno memparkirkan motornya itu dengan baik, kemudian setelahnya dia langsung menggenggam tangan Tama dan membawanya ke tempat antrian.

" Nomor 105, mau nunggu? "

Tanpa banyak bicara Tama hanya bisa mengganggukan kepala menuruti perkataan Guno.

mereka duduk di bangku antrian, rasa canggung begitu sangat kental di sini sesekali Guno melihat Tama menggaruk punggung lehernya kemudian kakinya tidak bisa diam juga Guno melihat tangan Tama bergetar. Anak gadis yang sedang dijaganya ini langsung ditenangkan oleh tangan pria berumur tiga puluh lima tahun. Di usapnya punggung tangan Tama dengan ibu jari Guno.

" Gakpapa, disini tidak ada yang kita kenal "

" Kalau ternyata ada yang melihat dan mereka kenal kita, bagaimana? "

" Gakpapa, hubungan kita baik saja kan? Toh ini diluar jam sekolah saya juga pakai jaket tidak mencerminkan seorang guru "

Tama menghembuskan nafasnya, kemudian nomor antrian terus berlanjut dipanggil hingga, tak terasa nomor 105 sudah menggema di lorong klinik yang dihuni oleh banyaknya pasien yang sedang menunggu untuk diperiksa kesehatannya.

" 105! "

Guno menepuk paha Tama beberapa kali,

" Giliran kamu! "

Pun Tama berdiri namun dia bukan langsung beranjak pergi tapi malah menunggu Guno untuk ikut berdiri juga.

" Ayo masuk! " ucap Guno sembari menunjuk ruang periksa menggunakan wajahnya.

" Sama bapak masuknya " ucap Tama tiba - tiba.

Disini Guno merasa dirinya diperlukan oleh Tama, entah kenapa begitu mendengar Tama berkata seperti itu Guno langsung merasa dirinya adalah lelaki sejati, dengan bangganya dia langsung berdiri kemudian mengambil tasnya dan menggandeng Tama masuk kedalam.

Seperti biasa seorang dokter pastinya menanyakan apa yang pasien rasakan, pun Tama langsung menjelaskan kejadiannya. Guno tertegun, tak menyangka kalau gadis belia ini harus mendapatkan kekerasaan yang cukup parah dan itu dilakukan oleh pacar yang seharusnya melindungi dia bukan malah menyiksanya.

Luka - luka yang Tama tunjukkan tidak di area tangan saja melainkan ada di area punggung juga di area paha. Pun bukan sekedar dipelintir tapi ada beberapa bekas sundutan rokok. Guno terkejut melihatnya, pasalnya ketika pak Ilham memperlihatkan pertengkaran mereka yang muncul di cctv itu tidak separah yang sekarang Tama tunjukkan.

" Kok bisa si Iwan sundut rokok ke punggung kamu, kamu dibawa ke tempat sepi atau gimana?! "

" Aku diseret sama teman - temannya ke tempat sepi, disana aku dipaksa buka baju tapi aku gak mau. Terus dua dari mereka memegangi tanganku, entah setan apa yang sudah merasuki tubuh Iwan, dia menyalakan rokok lalu disundutkan ke punggung aku "

" Kamu punya bukti kalau mereka melakukan ini? "

Tama mengangguk pelan,

" Apa buktinya? "

" Rekaman dari hp teman Iwan "

" Namanya? "

" Febri, Febriansyah! "

Guno terdiam lalu tangannya membuka ponsel yang sedari tadi dipegangnya. Sedangkan dokter yang memeriksa Tama, menyuruhnya berbaring dikasur. Tensi darah, suhu badan, detak jantung semuanya normal.

Setelah selesai pemeriksaan, dokter langsung mengetik di mejanya dan Tama duduk kembali di samping Guno.

" Mungkin ini fase penyembuhannya bisa menghabiskan waktu dua Minggu lebih, karena kan ini seperti luka bakar akan sedikit sulit menghilangkannya "

Guno dan Tama menyimak,

" Saya ajukan konseling untuk kakaknya karena ini sudah termasuk kedalam kasus pembully-an, Sudah hanya itu saja jika ada keluhan yang lain silahkan datang kembali " Tambah pak Dokter.

" Baik dok, terimakasih ya " ucap Guno.

" Ya sama - sama " pak Dokter.

Guno dan Tama-pun keluar dari ruang pemeriksaan, mereka berjalan menuju pengambilan obat.

" Kenapa kamu gak ngomong sama guru Bk, soal kamu dibully Iwan CS?! "

" Saya takut, kalau saya ngelapor yang ada pulang sekolah saya dicegat dan kejadian seperti ini akan tambah parah "

" Masalahnya ini sudah keterlaluan! "

" Iya saya tahu, tapi menurut saya sebaiknya yang seperti ini tidak perlu diperpanjang pak "

" Heh! yang selamat dan tenang hidupnya juga kamu bukan saya! Bisa - bisanya sama pasangan dia begitu. Baru pacaran belum nikah, apa gak marah ibu kamu kalau tahu semuanya "

Namun Tama hanya diam saja ketika Guno menggerutu.

" Kamu diancam ya sama dia? "

Tama menggelengkan kepalanya

" Jujur saja kamu tidak perlu takut "

" Enggak pak, saya tidak diancam. Saya hanya cari aman! "

Guno menghembuskan nafas beratnya kemudian tak lama dari itu nomor antrian Tama dipanggil.

" nomor 105!!!! "

Guno yang mendengar angka tersebut langsung berdiri menghampiri Mbak apoteker dan membayar administrasi.

" semuanya tujuh puluh lima ribu ya kak! " ucap mba apoteker.

Guno mengeluarkan uangnya dari dalam dompet sempat dia terhenti sebentar karena ternyata uang cash yang dia pegang hanyalah seratus ribu. Dengan terpaksa karena dia merasa bertanggung jawab atas Tama akhirnya uang seratus ribu itu diberikannya dan dia menerima kembalian uang dengan jumlah dua puluh lima ribu rupiah.

Hati Guno bergeming " Duh, harus ngambil uang lagi dong ke ATM! " Guno menghampiri Tama yang masih duduk di kursi.

" Kita ke ATM dulu ya ambil uang cash! "

" Atm-nya jauh gak? "

" Lumayan! "

" kalau jauh saya minta pulang saja pak "

" kamu nggak akan makan bakso dulu gitu sama saya ? "

" Lain kali saja ya pak "

Guno menggangguk - anggukkan kepalanya, kemudian dia mengajak Tama " Ayo! " untuk pergi ke parkiran dan Guno siap mengantarkan Tama sampai ke rumahnya.

***********************

Setelah selesai mengantar Tama pulang, Guno kini melaju menuju rumahnya. Di perjalanan Guno berbicara pada dirinya sendiri.

" Harusnya hari ini first date tapi kenapa sih dia susah banget diajak makan doang padahal cuma bakso! Apa jangan-jangan Tama masih malu ya sama gue? Tapi masa sih masih malu? Orang dia yang nyamperin duluan! "

Guno menelan ludah kemudian dia menggigit giginya sendiri sembari matanya fokus melihat ke jalanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!