Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 212
Dunia Rahasia: Labirin Bintang Kuno – Aula Utama.
Sensasi akibat teleportasi dimensi perlahan memudar.
Shi Hao membuka matanya. Dia mendapati dirinya berdiri di sebuah aula bawah tanah yang sangat luas—begitu luas hingga atapnya tertutup kegelapan abadi. Dinding aula terbuat dari batu hitam kuno yang dingin, dipenuhi lumut yang memancarkan cahaya hijau redup.
Di sampingnya, Tie Shan (Raksasa Batu) jatuh berlutut.
"Ugh... perjalanan dimensi ini... membuat perutku mual," keluh Tie Shan.
"Bangun, Tie Shan," suara Shi Hao terdengar rendah dan waspada. "Tahan napasmu. Jangan hirup udara di sini terlalu dalam."
Tie Shan mendongak. Dia baru menyadari sesuatu.
Hening. Terlalu hening.
Padahal, setidaknya ada 50 tim lain yang masuk melalui gerbang yang sama beberapa saat sebelum mereka. Seharusnya ada suara pertempuran, teriakan, atau langkah kaki.
Tapi yang ada hanyalah bau. Bau amis darah yang begitu pekat hingga terasa lengket di kulit.
"Tuan... di mana yang lain?" tanya Tie Shan, matanya menyapu kegelapan.
Shi Hao menunjuk ke tengah aula, di mana sebuah bukit kecil terlihat remang-remang di bawah sorotan cahaya hijau lumut.
"Mereka ada di sana."
Tie Shan menyipitkan mata batunya. Saat pandangannya fokus, wajahnya memucat.
Itu bukan bukit tanah. Itu adalah Gunung Mayat.
Ratusan mayat peserta turnamen bertumpuk di sana. Ada prajurit Klan Titan, murid Sekte Pedang, hingga ras bersayap.
Kondisi mereka mengerikan. Tubuh mereka kering kerontang seperti mumi yang terjemur ribuan tahun. Tidak ada setetes darah pun tersisa di tubuh mereka. Wajah mereka membeku dalam ekspresi teror absolut.
Dan di puncak tumpukan mayat itu... ada seseorang yang duduk santai, seolah sedang bersantai di taman bunga.
Seorang pria muda.
Dia sangat tampan. Wajahnya seputih giok, dengan garis rahang tegas dan hidung mancung yang sempurna. Rambut hitam panjangnya tergerai indah di punggungnya, kontras dengan jubah putih sutra yang dia kenakan—jubah yang kini ternoda oleh bercak-bercak merah segar.
Dia tampak seperti Dewa Muda yang turun dari lukisan.
Namun, di tangannya yang lentik, dia memegang sesuatu yang masih berdenyut.
Sebuah jantung raksasa berwarna biru—jantung seorang Jenderal Klan Titan.
Pria tampan itu mengangkat jantung itu ke bibirnya yang merah merekah, lalu menggigitnya seperti menggigit buah persik yang ranum.
KRES.
Darah biru muncrat, menodai pipi putihnya.
Pria itu mengunyah pelan, matanya terpejam menikmati rasa. Saat dia menelan, aura merah darah di sekujur tubuhnya berkedip, seolah kekuatannya bertambah sedikit.
Xing Tian (Si Pemangsa Bintang). Identitas: Kultivator Iblis Kuno. Ranah: Dewa Sejati (True God) - Tingkat Menengah (Dipulihkan).
Tie Shan mundur selangkah, kakinya gemetar hebat. Insting mendeteksi bahwa makhluk di depan ini adalah predator alamiah yang mustahil dikalahkan.
"Makanannya... dia memakan kultivator..." bisik Tie Shan ngeri.
Suara bisikan Tie Shan menggema di aula yang sunyi.
Pria tampan di atas tumpukan mayat itu berhenti mengunyah. Dia membuka matanya perlahan.
Matanya... tidak memiliki bagian putih. Seluruh bola matanya hitam pekat, dengan pupil merah darah yang berputar seperti pusaran galaksi.
Xing Tian menatap ke bawah, ke arah Shi Hao dan Tie Shan.
Dia tersenyum. Senyum yang sangat manis, namun membuat darah siapa pun yang melihatnya membeku.
"Ah... Tamu baru," suara Xing Tian lembut dan merdu, seperti penyair yang sedang membacakan puisi.
Dia melempar sisa jantung Titan yang sudah setengah dimakan itu ke samping.
"Kalian datang sedikit terlambat. Hidangan pembukanya agak tidak enak," Xing Tian menunjuk mayat Titan di bawahnya. "Terlalu banyak otot, kurang renyah."
Xing Tian berdiri perlahan di atas mayat-mayat itu. Dia menjilat sisa darah di jarinya.
"Tapi kau..."
Tatapan mata hitam Xing Tian terkunci langsung pada Shi Hao. Hidungnya mengendus udara.
"Wangi sekali."
"Darahmu... berbau seperti Bintang yang baru lahir. Ada aroma Naga... ada aroma Kehampaan... dan ada aroma Nirwana yang lezat."
Xing Tian menjilat bibirnya lagi, kali ini dengan nafsu makan yang tak tertahan.
"Sudah seribu tahun aku tidak mencium aroma semewah ini. Kau pasti hidangan utamanya, bukan?"
Shi Hao berdiri tegak, Wajahnya datar, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Kau punya selera makan yang menjijikkan, Orang Tua," kata Shi Hao dingin. "Memakan mayat tidak akan membuatmu kenyang."
"Lancang," Xing Tian tertawa kecil. "Tapi aku suka makanan yang berani melawan. Dagingnya jadi lebih alot dan gurih."
WUSH.
Tanpa peringatan, Xing Tian menghilang.
Tidak ada ledakan tanah, tidak ada suara angin. Dia hanya lenyap.
"Tie Shan! Kanan!" teriak Shi Hao.
Tie Shan bereaksi terlambat. Dia baru saja menoleh ke kanan ketika tangan pucat Xing Tian sudah berada satu inci di depan dada batunya.
"Keras di luar, lembut di dalam," bisik Xing Tian di telinga Tie Shan.
Tangan Xing Tian berubah menjadi cakar energi merah.
JLEB!
Tangan itu menembus dada batu Tie Shan semudah menembus kertas basah.
"ARGHHH!" Tie Shan meraung kesakitan.
Xing Tian menyeringai, hendak meremas inti jiwa Tie Shan yang ada di dalam sana.
Namun, sebelum dia bisa melakukannya...
BLARR!
Sebuah tendangan yang dilapisi api Abu-abu menghantam sisi kepala Xing Tian.
Shi Hao telah bergerak.
Tendangan itu begitu keras hingga leher Xing Tian berbunyi krek. Tubuh Xing Tian terpental ke samping, melepaskan tangannya dari dada Tie Shan.
Tie Shan jatuh terduduk, memegangi lubang di dadanya. Darah bercucuran.
Xing Tian mendarat dengan anggun beberapa tombak jauhnya. Dia memiringkan kepalanya yang tadi lehernya patah kembali ke posisi semula dengan bunyi klak.
Tidak ada rasa sakit di wajahnya. Hanya senyum yang makin lebar.
"Cepat," puji Xing Tian. "Sangat cepat."
Shi Hao berdiri di depan Tie Shan, pedang Leviathan Asura kini sudah berada di tangannya.
"Tie Shan," kata Shi Hao tanpa menoleh. "Mundur. Cari Shu Ling dan Luo Tian. Jangan mati."
"T-Tuan..." Tie Shan terbatuk.
"PERGI!" bentak Shi Hao.
Tie Shan menggertakkan gigi, lalu merangkak mundur menuju lorong gelap, meninggalkan Shi Hao sendirian menghadapi monster itu.
Shi Hao menatap Xing Tian.
"Kau menginginkan jantungku?" tanya Shi Hao.
Shi Hao mengalirkan Qi Dewa Sejati-nya. Jubahnya berkibar, aura abu-abu menyelimuti tubuhnya, melawan aura merah darah milik Xing Tian.
"Ambil sendiri kalau bisa."
Xing Tian tertawa, tawanya bergema mengerikan di seluruh labirin.
"Dengan senang hati, Makanan Kecil."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛