Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Pagi ini udara terasa lebih dingin. Embun menempel di kaca jendela, dan ayam tetangga baru saja berkokok. Senja berdiri di depan wastafel, membasuh wajahnya dengan tangan yang gemetar. Setelah itu ia kembali ke kamar.
Keadaan Senja masih lemah setelah semalaman mual dan menangis, sampai tidak bisa tidur. Tubuhnya gemetar karena kecemasan yang ia tekan rapat-rapat, seperti luka yang dipaksa tetap diam di bawah kulit.
Meskipun begitu, dia masih menaruh harapan bahwa pagi ini akan berbeda. Dia berharap dicintai, walau hanya sedikit.
Namun harapan itu patah sejak adiknya--Riyan, masuk dengan suara ketus.
"Kak! Top up game-ku sekarang! Aku lagi butuh buat event hari ini!" serunya, tanpa permisi, tanpa mengetuk pintu.
Senja mengeringkan sisa-sisa air di wajahnya dengan ujung kerah baju. "Yan, kakak nggak punya uang sekarang. Serius."
"Cuma dua ratus lima puluh ribu. Masa nggak ada? Buruan mana duitnya." Nada suaranya seperti menagih hutang. Tanpa empati. Tanpa sadar dunia kakaknya sudah runtuh diam-diam.
Senja menarik napas pelan, tapi terasa berat. "Rian… Kakak lagi nggak punya." Ia mengulang jawaban yang sama.
Rian mendengus. "Bullshit. Kamu kerja tiap hari. Masa nggak ada. Paling juga uangnya dipake sendiri. Atau kamu sembunyiin."
Senja terdiam. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang bisa ia tunjukkan.
"Nggak ada, Riyan. Kakak serius."
"BERHENTI BOHONG! KALO BENER NGERASA KELUARGA, MASA GITU AJA NGGAK BISA?!"
Suara Riyan memantul ke semua sudut rumah. Dan itu menarik atensi Winarti yang muncul dari dapur, membawa kain lap dan ekspresi yang sudah siap menyalahkan Senja.
"Ada apa lagi pagi-pagi sudah ribut?"
"Bu, Kak Senja pelit. Katanya nggak punya duit. Padahal kerja tiap hari!" Rian remaja kelas satu SMA itu mengadu.
Ibu menatap Senja dengan tatapan yang seperti sudah punya jawaban sebelum pertanyaan muncul.
"Bilang kamu nggak punya uang itu lucu, Sen. Kamu kerja, bukan? Atau… kamu pakai buat belanja on line terus?" tuduhnya.
"Gajianku 'kan buat belanja keluarga sehari-hari, Bu..."
"Halah, alasan."
Senja hanya menunduk akhirnya. Penjelasannya seakan dianggap kebohongan. Tidak ada lagi kalimat yang bisa membela diri tanpa membuat semuanya lebih buruk.
Bapaknya-Pandi- masih duduk di kursi, menyesap sebatang rokok. Dia tidak bicara, hanya memperhatikan dengan pandangan acuh tak acuh. Namun justru diamnya si bapak lebih menakutkan daripada amarah siapapun.
Riyan tiba-tiba masuk ke kamar Senja lebih jauh. Laci-laci dibuka paksa. Tas kerja ditumpahkan ke lantai. Buku, parfum, dompet, bahkan celana dalam ikut terlempar.
Semuanya kacau.
Seperti isi hidup Senja dibongkar paksa.
"Astaga... jangan! Itu barang-barang kakak!" cegah Senja, tapi Rian tidak peduli.
"Mana duitnya? Pasti ada! Kamu sembunyiin 'kan?!"
Senja mengejar, tapi langkahnya patah-patah. Kondisinya masih lemas. Tangannya gemetar ingin menahan, tapi takut menyentuh, takut membuat semuanya semakin meledak.
Riyan menggeledah lemari. Baju-baju jatuh, berhamburan. Dan di sanalah bencana terjadi. Sebuah benda kecil putih jatuh dari sela kaos yang terlipat.
Testpack.
Ada dua garis merah di benda itu, sebagai jawaban keras dan jelas tanpa harus dipertanyakan melalui lisan.
Benda kecil yang selama berhari-hari dia sembunyikan dengan penuh ketakutan jatuh tepat di depan kaki mereka.
Mata Winarti langsung tertuju pada testpack yang terkulai kaku di lantai. Wajahnya memucat sebelum pada detik berikutnya berubah merah padam seperti bara api yang tersulut bensin.
"Apa. Ini?" lirihnya. Tapi tekanan suaranya mengandung kemarahan yang menggelegak, sorot matanya mematikan.
Senja berusaha meraih testpack itu, tapi ibu lebih dulu mengambilnya. Genggamannya gemetar, bukan karena takut… tapi karena marah. Dan akhirnya pecah.
“SENJA!!! KAMU HAMIL?!”
Dunia seolah kiamat dalam satu teriakan ibu. Kata ‘hamil’ menggema di dinding-dinding yang dingin. Meremas hati hingga hancur.
Suara ibu mengguncang seluruh rumah.
Bapak di ruang tamu menurunkan koran.
Tetangga yang sedang menyapu di depan rumah menoleh penasaran. Beberapa ibu-ibu yang hendak pergi ke warung berhenti, pura-pura mengecek sandal, padahal menajamkan telinga. Tukang sayur yang mangkal di seberang jalan mendadak cosplay jadi CCTV hidup.
Senja berusaha bicara. "Bu… aku… aku bisa jelasin…"
"Jelasin apa?! Ini aib?! Berzina kamu!" Ibu berteriak sambil memukul meja dengan testpack di tangan.
Senja terlonjak kaget. Ketakutan tergores jelas di wajahnya. Bahunya beringsut penuh putus asa.
Bapak yang biasanya diam masa bodoh kini bangkit dari kursinya, membawa wajahnya yang keras. Langkah berat seakan mampu menggetarkan lantai.
Senja mundur takut. Mentalnya seolah dipaksa untuk siap menghadapi momen ketika keluarga berhenti menjadi rumah.
"Pak... Itu… bukan… aku bisa jelasin---"
PLAKKK!
Tamparan keras si bapak datang lebih cepat dari kata-kata yang mewakili penjelasan Senja. Kepala gadis itu terpelanting ke samping. Bibirnya robek sedikit. Cairan asin menyentuh permukaan lidah. Pandangannya seketika buram disertai denyut di kepala.
"Malu-maluin keluarga! Anak tak tahu diri! Siapa?! Siapa laki-lakinya?! JAWAB!" hardik Pandi.
Senja menunduk. Rahangnya gemetar. "Om---"
"Apa yang kamu katakan, Senja? Om?! Bisa-bisanya kamu dengan pria tua! Tidak punya otak kamu ya!" Suara Winarti memotong, tak memberi kesempatan untuk Senja untuk berkata lebih banyak.
Isak tangis Winarti terdengar pilu, bukan karena kecewa, tapi karena merasa kehormatan keluarganya tercoreng.
"Suruh bajingan itu datang sekarang." Kini ganti suara Pandi yang terdengar. Nadanya tak setinggi tadi, tapi berat seperti bersiap menerkam mangsa.
"Aku... nggak bisa, Pak," lirih Senja kian tertunduk, teringat nomor kontak Sagara yang saat ini bagaikan rumah tak berpenghuni. Seratus kali panggilan, tak satupun terdengar sautan.
Ibu seperti kehilangan kendali. Dia mencengkeram lengan Senja. "Kenapa nggak bisa? Karena om-omnya banyak? Karena kamu nggak tahu om yang mana bapak dari anak di perutmu itu?!"
"Bu… jangan bilang begitu… tolong." Air mata Senja jatuh tanpa bisa ditahan. Sakit, ucapan wanita yang telah melahirkannya itu bak belati.
"Kamu hamil tanpa suami, Senja! Apa yang mau kamu banggakan?!"
Riyan mundur dengan raut jijik, memandang kakaknya seperti penyakit kusta.
"Pantes! Pantes kamu nggak ngasih uang! Bu, Pak… Kak Senja udah kotor! Murahan banget. Jijik!"
Kata jijik itu menusuk dalam hingga mentok ke dasar hati.
Ibu memukul kuat lengan kecil Senja. "Kamu itu pembawa petaka!"
Suara ibu pecah histeris. "Kamu tahu nggak?! Anak hamil di luar nikah itu sial! Keluarga bisa kena hukuman! Rezeki seret! Nama baik jatuh! Kamu mau rumah ini kena murka Tuhan?!"
Ibu mendorong Senja ke arah pintu. "Keluar! Sebelum bencana turun ke keluarga ini! Kamu lebih baik hilang dari sini!"
Senja jatuh tersungkur. Telapak tangannya terbentur keramik dingin. Dia menahan sakit sambil menunduk. Air matanya terus berderai.
Senja ingin memohon belas kasih, ingin jelaskan, ingin bilang bahwa ia tidak meminta ini terjadi. Bahwa ia tidak pernah merencanakan rasa sakit ini. Bahwa semua kejadian itu bukan seperti yang mereka pikir. Akan tetapi setiap kalimat terasa sia-sia.
Ibu membuka pintu selebar-lebarnya. Sinar matahari pagi menerobos masuk, menyilaukan mata Senja. Perlahan, satu per satu tetangga mendekat. Tidak ada yang menolong. Tidak ada yang bertanya apakah dia baik-baik saja. Hanya ada bisikan yang menusuk telinga.
"Ya Tuhan…"
"Kayaknya itu anak yang kerja di kafe itu ya?"
"Pantas sering pulang malam… kerjaannya pacaran nggak jelas."
"Jadi beneran hamil?"
"Kasihan orang tuanya…"
Kata kasihan terasa seperti belati yang baru saja diangkat dari bara api, panas dan membakar.
Senja mengangkat kepala. "Bu… aku masih anak ibu anak bapak. Tolong… jangan usir aku. Aku… aku takut. Aku nggak punya siapa-siapa."
Winarti menunjuk pintu. Ujung telunjuknya bergetar, mata membelalak. "Mulai hari ini kamu bukan anakku! Langkah kakimu bukan langkah keluarga ini lagi!"
Pandi maju, berhenti di sebelah ibu. Suaranya rendah, tapi lebih menyakitkan daripada teriakan manapun. "Kalau kamu tetap tinggal, kamu menghancurkan kami. Jadi pergi, Senja. Sekarang."
Senja memegang perutnya. Kondisinya lemah bercampur takut. Diusap air matanya dengan kasar, bukan untuk menghapus sedih, tapi untuk memaksanya tetap berdiri.
Dengan lutut gemetar, Senja berjalan ke kamar, mengemasi barang-barang seadanya. Di dalamnya tidak ada harapan. Hanya dua stel baju, dompet kosong hanya terselip KTP, ponsel retak, dan keputus asa'an.
Dia menatap ibu dan bapak terakhir kali. "Aku… nggak pernah mau bikin malu. Aku nggak sengaja. Aku cuma… khilaf."
Ibu terkesiap, tapi tidak luluh. "Khilaf itu bukan pembenaran dosa."
Senja mengangguk pelan, menyerah pada kenyataan. "Baik. Kalau memang keberadaanku membawa sial untuk kalian… aku pergi."
Riyan menertawakan dengan sinis. "Bagus! Pergi aja! Malu punya kakak kayak kamu!"
"Semoga suatu hari… kalian punya alasan untuk bangga."
"Aku yang akan menjadi kebanggaan bapak dan ibu," ucap Riyan penuh percaya diri. Ibu mengangguk tegas, membenarkan ucapan itu. Sedangkan ayah sudah kembali ke kursi, menghidupkan rokok.
Senja melangkah keluar. Kakinya hampir tersandung ambang pintu. Segar udara pagi terasa menusuk paru-paru, seperti menolak keberadaannya.
Di teras ia berhenti. Menatap rumah yang pernah ia percayai. Tempat ia tumbuh. Tempat ia berusaha berguna. Tempat yang kini mengusirnya.
Ketika pintu rumah menutup keras di belakangnya, suara itu terdengar seperti akhir dari sebuah hubungan darah.
DUARRR!
Seperti dunia memutuskan hubungan dengannya.
Ia melangkah pergi, membawa bayi yang baru sebesar denyut harapan. Tanpa kata maaf. Tanpa pelukan. Tanpa siapa pun menahan.
Senja berjalan gontai. Tangisnya pecah bukan karena dia lemah, tapi karena dia dipaksa kuat terlalu sering. Perutnya berdenyut pelan, seolah kehidupan kecil di dalamnya ikut merasakan kepedihan itu.
Senja meraba perutnya, berbisik dalam gemetar. "Maaf… ibu nggak hebat. Tapi kita akan bertahan… ya? Kita harus bertahan…"
Dia terus berjalan pelan, meninggalkan rumah, meninggalkan masa lalu, meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi perlindungan.
Di belakangnya, ibu-ibu masih bergosip. Riyan menutup pintu dan memutar kunci dari dalam. Bapak lebih memilih rokok dan kopi daripada anaknya. Dan ibunya menangis bukan karena kehilangan Senja… tapi karena takut mereka ditimpa sial.
Pagi ini bukan tentang top up game.
Bukan tentang uang. Bukan tentang testpack. Pagi ini tentang bagaimana rumah bisa berubah menjadi tempat pertama yang menghancurkan hati seorang gadis polos. Senja resmi tidak punya rumah.
Bersambung~~