Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Hana terdiam. Ucapan suaminya sukses menghantam d4dany pagi ini. Air matanya sudah menggenang dipelupuk. Dadanya kembang kempis terasa sesak.
Dengan suara bergetar, Hana berkata, "Mas... Nifas aja aku belum selesai, aku belum bisa merawat badanku lagi. Ini... Ini aku juga udah pakai korset, biar nanti perutku seperti dulu lagi," air mata itu juga ikut menetes berjatuhan. Hana masih mencoba tersenyum, "A-aku mandi dulu ya, Mas... Pasti aku bau ya, habis masak. Sebentar ya... Nanti kita sarapan sama-sama."
Dzaki bangkit dari duduknya. Tanpa mau menatap Hana ia manjawab, "Nggak usah! Aku nggak nafsu makan lihat kamu!" setelah itu dirinya masuk ke dalam begitu saja.
Hana menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Ia bahkan sampai membekap mulutnya agar isakannya dapat tertahan. Kenapa harus Mona yang menjadi alat ukur suaminya? Rasanya sulit sekali berpikir positif dalam keadaan seperti ini. Hana rasa, akhir-akhir ini pun Mona seakan menjauh dari dirinya.
Entahlah.
*
*
Hari demi hari berlalu, sikap Dzaki semakin menunjukan rasa bencinya melihat Hana. Meskipun Dzaki masih kerap pulang, namun kini pria itu lebih memilih tidur di kamar satunya, dari pada satu ranjang dengan Hana.
Hana semakin merasa terhina dengan sikap Suaminya itu. Bahkan, ia sampai bertanya-tanya, apakah karena perubahannya itu yang membuat Suaminya benci? Ataukah, karena kematian bayinya? Semua itu bagaikan daun yang tertiup angin, melayang tanpa jelas kemana jawabanya.
Pagi ini, Hana bangun terlebih dulu. Dengan semangat penuh, bergegas masuk dalam kamar mandi, cepat mandi, sedikit berdandan, dan mengenakan daster yang lebih baik.
Wanita cantik berusia 23 tahun itu berdiri didepan kaca, sudah rapi dan wangi. Senyum Hana terpancar bahagia. "Aku harus segera bangunin Mas Dzaki. Pasti dia akan senang kalau melihat aku udah cantik gini," gumanya sambil menelisik penampilanya di depan cermin.
Pukul 06.15 pagi, Hana sudah selesai dengan masakannya.
Setelah mencuci tangan, ia bergegas ke kamar sebelah untuk membagunkan suaminya. Senyum Hana sudah merekah, tanganya juga sudah siap menarik handle pintu.
Namun, senyum Hana tiba-tiba pudar, ketika ia mendengar suara Dzaki tengah bertukar suara dengan seorang wanita.
Deg!
Hana tepis semua rasa yang menghantam hati serta pikiranya. Entah dorongan dari mana, pikiran dan hatinya tertuju pada 'Mona' sahabatnya sendiri.
Sekuat apa batinya menolak, namun isi kepalanya lebih dulu bekerja, hingga Hana reflek mencari ponselnya untuk mencoba menghubungi sahabatnya itu.
"Nomor berada dalam panggilan lain!"
Hana tatap tulisan yang tertera dalam gawainya. Sahabatnya berarti saat ini juga sedang melakukan panggilan telfon entah dengan siapa.
"Nggak, nggak! Aku nggak boleh punya pikiran jelek kek gini. Nggak... Mona sahabatku, nggak mungkin dia tega berbuat itu dengan Mas Dzaki," Hana mencoba tersenyum getir. Namun nyatanya lagi-lagi air mata itu menetes.
Ia kembali menyimpan gawainya, dan beranjak lagi ke kamar sebelah.
Dan masih sama, Dzaki masih sibuk bertelfonan dengan wanita itu. Tapi, semakin Hana menghatamkan pendengarannya, entah kenapa suara itu sangat mirip sekali dengan sahabatnya-Mona.
Ditambah, suara-suara laknat dari kedua mulut yang saling bersahutan.
Hana sudah tak kuat, ia ayunkan tangnya pada handle pintu, dan ternyata pintu itu tak terkunci.
Deg!
"Ya Allah, Mas... Kamu ngapain kaya gitu?" Hana terisak sambil membekap mulutnya, ketika melihat suaminya sedang melakukan ejak*lasi didepan ponselnya.
Dan seketika suara wanita tadi menghilang.
Dzaki segera mengenakan boxernya lagi. Dirinya bangkit, menatap Hana dengan amarah yang siap meledak. "Sialan, aku sampe lupa mengunci pintu," geram batinya.
"MAS... KAMU HABIS VIDEO CALL SAMA SIAPA?" teriak Hana, tangisnya pecah. "Siapa wanita itu, Mas? Kenapa kamu sampai melakukan video mesum kaya gitu sama dia?! Ya Allah...." Hana sampai frustasi, menarik kuat rambutnya, bingung harus seperti apa mengekspresikan kecewanya.
Dzaki mendekat, dalam keadaan telanjang dada dengan boxer pendek itu, matanya terhunus tajam.
"Lancang sekali kamu masuk dalam kamarku, Hana! Sudah ku bilang, ketuk dulu-"
Hana mengusap kasar air matanya. Wajahnya terangkat lebih dekat, "Kenapa? Kenapa, ha? Aku nggak boleh masuk kamar suamiku sendiri? Jadi, selama ini kamu tidur sendiri biar bisa video call mesum sama gundikmu 'kan, Mas?" Bentak Hana tak kalah menajamkan matanya.
D4danya bergemuruh hebat, hingga nafasnya memburu.
Plak!
Wajah Hana terhempas, Dzaki dengan tega menamparnya. "Aku sudah muak hidup sama kamu! Lihat tubuhmu? Sama sekali nggak menarik lagi! Jadi, jangan salahkan aku jika cari pelampiasan di luar!"
Duar!
Hati Hana bagai tersambar petir pagi itu. Tangisanya berubah menjadi raungan. Dzaki berlalu keluar begitu saja. "Kamu tega, Mas... Kamu jahat...." suara Hana tercekat dalam tenggorokan saja.
Sementra di luar, Dzaki segera bersiap-siap mandi dan pergi ke kantor begitu saja.
Hana sudah keluar, ia terdiam, duduk di kursi sambil memandangi beberapa lauk masakannya yang selalu terabaikan, pada akhirnya dingin tertiup angin.
Tatapan Hana kosong, air matanya luruh. Dadanya kembali sesak, ucapan Dzaki kembali berputar dalam kepalanya. Jika sudah seperti ini, kepedihannya bertambah dua kali lipat.
Di sela isakannya, Hana mendengar suara motor berhenti memasuki garansinya. Hana bangkit, ia usap sisa air matanya, melihat sahabatnya-Mona datang sambil melepas helmnya.
"Han... Ada apa? Kok kaya habis nangis begitu?" Mona segera mendekat, Hana tersenyum getir diambang pintu, tengah menyambut.
Tak banyak jawaban, Hana hanya mengajak sahabatnya itu untuk masuk. Kedua wanita itu sudah duduk di sofa ruang tamu. Tak lupa, Mona membawakan oleh-oleh untuknya.
"Kamu habis dari Malang, Mon?" tanya Hana setelah melihat bingkisan keripik apel khas Kota Malang.
Mona mengangguk. "Iya, Han... Kan kemaren aku habis dari sana, aku diajakin jalan sama seseorang...." tawa kecilnya memecah suasana.
Hana juga ikut tersenyum, tatapanya masih melekat pada kalimat 'Kota Malang' yang tertera. Perasaan Hana mulai tak enak. Dua hari yang lalu, suaminya juga membuat story dalam Whatsaapnya, ketika pria berusia 28 tahun itu mengabadikan sebuah foto resort terbaru di malang.
"Apa semua ini hanya kebetulan aja, atau memang?" batin Hana menggantung, kala Mona mengusap lenganya.
Hana menoleh, "Han... Kenapa? Sepertinya kamu lagi sedih? Kamu ke inget bayi kamu, ya?" Mona mencoba bersimpati. Wanita berusia 25 tahun itu memeluk tubuh sahabatnya sejenak, mengusap lengan Hana, sambil berkata kembali. "Aku juga tahu kok, rasanya kehilangan itu seperti apa. Aku udah melewati semua itu."
Begitu Mona menarik tubuhnya, Hana masih bersikap tenang. Sorot matanya lebih dingin, namun sikapnya ia buat sehangat mungkin.
"Makasih ya, Mon... Aku udah mengikhlaskan anak aku kok! Tapi...."
"Tapi, apa?" sela Mona menatap serius.
Hana menarik napas dalam, "Tapi ini bukan tentang bayiku... Tapi, Mas Dzaki!"
Uhuk-uhuk!