NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Gelap gulita menyelimuti hutan pulau itu, hanya bermodalkan sebatang kayu yang menyala sebagai obor darurat di tangannya.

Rizal yang nekat masuk ke hutan malam-malam untuk mencari tanaman obat tradisional demi menurunkan demam Aisyah harus berjuang menembus semak belukar yang tajam.

Ia mengabaikan rasa takutnya pada binatang buas; dipikirannya hanya ada wajah pucat Aisyah yang sedang bertarung dengan maut.

"Harus ada daun sirih hutan atau apa pun yang bisa mendinginkan lukanya," gumam Rizal dengan napas terengah-engah.

Ia terus menggali ingatannya tentang tanaman herbal sambil menyisir rimbunnya pepohonan.

Sampai beberapa jam kemudian, saat Rizal baru saja kembali ke pinggir pantai dengan segenggam dedaunan yang ia tumbuk kasar, sebuah suara bising yang sangat akrab memecah kesunyian malam.

Suara baling-baling yang membelah udara semakin lama semakin menderu kencang di atas kepala mereka.

Di dalam kabin helikopter yang sedang menyisir koordinat terakhir, salah satu petugas mengarahkan lampu sorot raksasa ke daratan.

"Lihat, sepertinya ada asap!" ucap tim SAR sambil menunjuk ke arah titik merah kecil di tengah kegelapan pantai.

"Ada sisa api unggun dan tulisan besar di atas pasir!"

Intan, yang duduk di samping Ustadz Yudiz, langsung menempelkan wajahnya ke kaca helikopter.

Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.

Lampu sorot helikopter kemudian menyinari sesosok pria yang sedang berlari tertatih-tatih di pinggir pantai sambil melambaikan tangannya dengan histeris ke arah langit.

"AYAH! ITU AYAH!" teriak Intan histeris, air matanya tumpah seketika.

Rizal jatuh berlutut di samping tubuh Aisyah yang masih tak sadarkan diri, menatap cahaya terang dari langit dengan tangis syukur yang pecah.

Pertolongan yang ia nantikan akhirnya datang tepat sebelum kegelapan benar-benar merenggut segalanya.

Helikopter mendarat dengan deru angin yang menerbangkan pasir pantai.

Begitu pintu terbuka, tim penyelamat langsung bergerak taktis.

Petugas medis yang segera memberikan penanganan darurat untuk infeksi luka Aisyah sebelum mereka dievakuasi langsung berlutut di samping tubuh lemah itu.

Mereka memasangkan masker oksigen dan membersihkan luka di tangan Aisyah yang sudah membiru dengan cairan antiseptik.

"Tekanan darahnya rendah, dia mengalami syok sepsis ringan karena infeksi. Segera pasang infus!" seru salah satu petugas medis kepada rekannya.

Di tengah hiruk-pikuk penyelamatan itu, Intan berlari keluar dari helikopter dengan kaki gemetar.

Ia melihat sosok pria yang selama ini menjadi pelindungnya kini tampak begitu hancur; baju robek, kulit terbakar matahari, dan wajah penuh jelaga.

Rizal berdiri dengan sisa tenaganya, matanya memerah menatap putrinya yang kini sudah mengenakan jilbab rapi.

Kerinduan dan rasa syukur meledak di dadanya. Intan memeluk Rizal sambil menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di dada bidang ayahnya yang terasa panas dan kotor.

"Ayah, Intan kira Ayah dan Mama..." suara Intan terputus oleh isak tangis yang hebat.

Rizal mendekap erat putri semata wanitanya itu, menciumi puncak kepalanya berkali-kali.

"Ayah di sini, Sayang. Ayah tidak akan meninggalkanmu. Lihat, Mama juga sedang ditangani. Kita akan pulang bersama-sama."

Ustadz Yudiz yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa menunduk syukur, menyaksikan pemandangan haru itu.

Di bawah sorot lampu helikopter yang membelah kegelapan pulau, sebuah keluarga yang hampir tercerai-berai oleh maut kini kembali dipersatukan oleh takdir yang ajaib.

Suara gemuruh baling-baling helikopter memecah keheningan langit malam saat burung besi itu melesat meninggalkan pulau terpencil menuju daratan.

Di dalam kabin yang sempit namun penuh dengan peralatan medis, suasana terasa begitu tegang sekaligus penuh haru.

Mereka semua berada di dalam helikopter menuju rumah sakit.

Petugas medis masih sibuk memantau monitor jantung dan memastikan aliran infus ke tubuh Aisyah tetap lancar.

Intan duduk di sudut kabin, tangannya tak lepas menggenggam jemari ayahnya, seolah takut jika ia melepasnya sebentar saja, ayahnya akan menghilang lagi.

Rizal melihat istrinya yang masih memejamkan matanya dengan masker oksigen menutupi sebagian wajah pucatnya.

Luka di tangan Aisyah sudah dibalut rapi dengan perban putih bersih, namun suhu tubuhnya masih terasa panas saat Rizal mengusap keningnya.

"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," bisik Rizal lirih, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin helikopter.

Ia menoleh ke arah Intan yang masih sesenggukan di sampingnya.

Rizal menarik napas panjang, merasakan aroma antiseptik bercampur bau laut yang masih melekat di tubuhnya.

"Intan, terima kasih sudah kuat selama Ayah dan Mama tidak ada," ucap Rizal dengan mata berkaca-kaca.

Intan hanya bisa mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di bahu Rizal yang terasa kasar karena luka bakar matahari.

Di ketinggian ribuan kaki itu, di antara awan hitam dan kerlip lampu kota yang mulai terlihat di kejauhan, Rizal merasa hidupnya baru saja diberikan kesempatan kedua.

Ia berjanji dalam hati, setelah badai ini berlalu, ia akan menjaga keluarga kecilnya dengan jauh lebih baik lagi.

Angin kencang dari baling-baling helikopter menyambut kedatangan mereka di atas gedung tinggi itu.

Begitu pintu terbuka, tim medis rumah sakit sudah bersiap dengan brankar dorong.

Suasana menjadi sangat tegang dan terburu-buru.

Helikopter mendarat di atap rumah sakit dan Aisyah segera dilarikan ke ruang IGD melalui jalur evakuasi cepat.

Rizal dan Intan hanya bisa berlari mengikuti brankar itu hingga depan pintu kaca otomatis bertuliskan "Dilarang Masuk".

Langkah mereka terhenti di sana, hanya bisa menatap punggung para perawat yang mendorong Aisyah masuk ke dalam ruang tindakan yang terang benderang.

Rizal tertatih, tubuhnya yang juga penuh luka bakar matahari dan lecet seolah baru merasakan sakitnya sekarang. Namun, matanya tak lepas dari pintu itu.

Luka infeksi membuat Aisyah yang masih kehilangan kesadarannya masuk ke dalam kondisi kritis.

Dokter segera melakukan tindakan pembersihan luka secara intensif dan memberikan antibiotik dosis tinggi melalui infus untuk memerangi bakteri yang sudah masuk ke aliran darahnya.

Di ruang tunggu yang dingin, Intan memeluk ayahnya erat.

"Ayah, Mama akan bangun kan?"

Rizal terdiam, tenggorokannya tercekat. Penjelasan dokter jaga tadi masih terngiang di telinganya; infeksi tersebut memicu sepsis yang membuat organ tubuh Aisyah sangat lemah. Dan masih belum tahu kapan Aisyah sadar, karena tubuhnya butuh waktu untuk melawan racun dari infeksi tersebut.

"Kita sudah berjuang di pulau itu, Intan. Mama juga pejuang yang kuat. Sekarang kita serahkan pada dokter dan pemilik nyawa," bisik Rizal dengan suara serak.

Rizal duduk di kursi tunggu dengan pandangan kosong, sementara Intan mengeluarkan tasbihnya, melanjutkan hafalan yang sempat terhenti, memohon agar napas ibunya tetap berhembus.

Malam itu, lorong rumah sakit menjadi saksi bisu penantian panjang sebuah keluarga yang sedang berada di titik nadir.

Ketegangan yang memuncak selama berhari-hari akhirnya menuntut balas pada tubuh Rizal.

Setelah berjuang hidup di pulau terpencil, memanjat pohon kelapa, hingga terjaga sepanjang malam menjaga Aisyah, pertahanannya runtuh tepat di depan pintu ruang isolasi.

Rizal yang akhirnya ambruk karena kelelahan setelah memaksakan diri berjaga di depan ruang IGD jatuh tersungkur ke lantai rumah sakit yang dingin.

Kesadarannya seolah terenggut seketika; tubuhnya yang penuh luka bakar matahari dan dehidrasi berat tidak lagi sanggup menopang beban mental dan fisik yang begitu hebat.

"Ayah!" teriak Intan histeris, mencoba menahan tubuh ayahnya yang lunglai, namun tenaganya tak cukup kuat.

Melihat situasi darurat itu, Ustadz Yudiz memanggil perawat dengan suara lantang yang membelah keheningan koridor rumah sakit.

"Suster! Tolong! Ada pasien pingsan di sini!" seru Ustadz Yudiz sambil dengan sigap membantu menyangga kepala Rizal agar tidak terbentur lantai.

Beberapa perawat segera datang membawa brankar tambahan.

Mereka dengan cepat memeriksa denyut nadi dan suhu tubuh Rizal yang ternyata juga sangat tinggi.

"Beliau mengalami kelelahan ekstrem dan dehidrasi akut. Tekanan darahnya turun drastis," ujar salah satu perawat sambil memasangkan selang oksigen ke hidung Rizal.

Kini, di rumah sakit itu, dua orang tua Intan terbaring tak berdaya di ruangan yang berbeda. Intan berdiri di tengah lorong, menatap brankar ayahnya yang didorong menjauh, sementara ibunya masih berjuang di dalam IGD.

Ia merasa dunianya kembali berguncang, namun tangan Ustadz Yudiz yang tenang menepuk bahunya.

"Sabar, Intan. Ayahmu hanya butuh istirahat. Dia sudah berjuang sangat keras sebagai pahlawan untuk ibumu. Sekarang, kamu harus jadi pahlawan dengan doa-doamu," bisik Ustadz Yudiz menguatkan.

1
Lizam Alby
lohhh ko Rizal yg JD wali kan dia bpak sambung
my name is pho: terima kasih kak. Thor revisi sebentar
total 1 replies
mfi Pebrian
cerita nya bagus......semangat untuk up nya yah KK.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya" Dialah sang pewaris" terimakasih
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!