NovelToon NovelToon
Lembayung Senja

Lembayung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Romantis / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: PapaBian

"Lembayung Senja" mengisahkan perjalanan Arka, seorang siswa puitis dan ceroboh, yang nekat menembos pagar batas antara guru dan murid demi memenangkan hati Ibu Senja. Di setiap upayanya menyatakan cinta lewat puisi-puisi tingkat dewa, Arka justru terperosok ke dalam lubang komedi yang memalukan. Namun, di balik tawa dan salah paham, terdapat sebuah proses pendewasaan yang menyakitkan bagi Arka: memahami bahwa tidak semua puisi memiliki ending bahagia, dan bahwa kadang-kadang, cinta terlarang hanyalah sebuah prosa pendek yang harus selesai di tengah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PapaBian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Gelang Tali dan Kertas yang Tertelan

Dunia ini adalah sebuah perbandingan besar yang melelahkan, sebuah deretan simile yang tidak pernah menemukan titik temunya. Kita selalu dipaksa untuk menjadi 'seperti' sesuatu yang lain—menjadi rajin seperti semut, menjadi kuat seperti baja, atau menjadi patuh seperti kerbau yang dicolok hidungnya oleh kurikulum pendidikan yang kaku,. Aku sering berpikir bahwa keberadaanku di kelas 12 IPA ini adalah sebuah kesalahan sintaksis dalam sebuah kalimat yang agung. Aku adalah sebuah diksi puitis yang dipaksa meringkuk di antara simbol-simbol integral dan hukum termodinamika yang dingin,. Bagiku, kebenaran tidak ditemukan dalam angka-angka mutlak, melainkan dalam ambiguitas sebuah sajak yang bisa ditafsirkan dengan seribu cara,.

Pagi itu, Selasa yang terasa lebih lembap dari biasanya, aku duduk di pojok kelas sambil membetulkan kacamata tebal yang terus-menerus melorot ke ujung hidungku. Di sampingku, Bimo sibuk memainkan joystick pada HP Nokia-nya, mungkin sedang mencoba memecahkan rekor Snake sambil sesekali memaki pelan. Suasana kelas riuh dengan suara seragam yang bergesekan dan tawa-tawa kosong yang terdengar seperti kaset pita yang sudah kusut,. Aku tidak peduli. Perhatianku tersita sepenuhnya pada sosok yang baru saja melangkah masuk melewati ambang pintu.

Ibu Senja.

Hari ini ia mengenakan blouse putih dengan motif bunga-bunga kecil berwarna biru langit dan rok span yang membungkus kakinya dengan anggun. Namun, ada satu detail kecil yang membuat jiwaku mendadak bergolak: sebuah gelang tali sederhana yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Bagiku, itu bukan sekadar perhiasan murah; itu adalah belenggu keindahan yang ingin aku lepaskan, sebuah garis batas yang memisahkan dunia profesionalnya dengan dunia imajinasiku. Ia meletakkan tumpukan buku di atas meja, lalu menatap kami dengan mata di balik kacamata bulatnya yang memancarkan ketegasan yang lembut.

"Selamat pagi semuanya. Hari ini kita akan belajar tentang majas simile atau perbandingan," suaranya mengalir seperti air pegunungan yang menyejukkan ruang kelas yang pengap ini. "Saya ingin kalian membuat satu bait puisi singkat yang menggunakan perbandingan untuk menggambarkan sesuatu yang kalian anggap berharga. Ada yang mau mencoba maju?".

Kelas mendadak senyap, seolah-olah oksigen baru saja ditarik paksa dari ruangan. Anak-anak IPA ini, yang biasanya jago menghitung kecepatan cahaya, mendadak kehilangan kemampuan berbicara saat dihadapkan pada rasa. Bimo menyenggol lenganku dengan keras.

"Woi, Ka! Maju lo! Ini kan jatah lo banget. Kasih tau lah kemampuan 'dukun' lo itu," bisik Bimo sambil menyeringai, menggunakan istilah "dukun" untuk mengejek kecenderunganku yang sering berkomat-kamit menghafal sajak,.

"Gue nggak butuh dorongan lo, Bim. Ini masalah panggilan jiwa," balasku dengan nada yang kucoba buat sedingin mungkin, meski tanganku mulai berkeringat dingin,.

Aku menarik napas dalam-dalam. Di dalam saku celanaku, aku sudah menyiapkan "senjata cadangan": sebuah kertas kecil yang berisi puisi yang kusembelih semalam suntuk di bawah temaram lampu belajar,. Aku berdiri, membetulkan letak kacamata yang melorot, dan melangkah maju ke depan kelas dengan gaya yang kucoba buat se-elegan mungkin.

Aku berdiri di depan Bu Senja. Jarak kami hanya terpisah oleh meja kayu yang penuh coretan tipe-x. Bau aroma kopi instan yang bercampur dengan wangi buku tua menyeruak dari arahnya, membuat kepalaku sedikit pening oleh euforia.

"Silakan, Arka. Kita tunggu puisi similenya," ucap Bu Senja sambil memberikan senyum penyemangat yang, bagiku, terasa seperti undangan untuk masuk ke dalam hatinya,.

Aku membuka kertas itu diam-diam di telapak tanganku. Aku sudah bertekad untuk memujinya secara halus, menggunakan bunga sebagai metafora kehadirannya di tengah bebalnya kelas ini,.

"Ehem..." aku berdehem, mencoba menemukan frekuensi suara yang paling maskulin. "Bunga itu... bunga itu layu... seperti... jika tidak disiram oleh kasih sayang yang tulus dari sang pemilik taman...".

Namun, bencana itu datang tanpa diundang. Saat aku sedang berada di puncak emosiku, sebuah saraf di punggungku seolah terjepit secara mendadak. Rasa sakit yang tajam menusuk tulang belakangku, membuat logatku berubah drastis. Suaraku yang tadinya berat mendadak menjadi pelan, tinggi, dan aneh. Aku mulai terbatuk-batuk hebat, wajahku memerah menahan sakit dan malu. Di tengah kepanikan itu, tanganku tidak sengaja memasukkan kertas kecil yang berisi puisi cadangan tadi ke dalam mulut—sebuah refleks bodoh karena aku tidak ingin ada yang melihat naskah "rahasia" itu jika aku pingsan,.

"Uhuk! Uhuk!" Aku terbatuk semakin keras. Dan sebelum aku sempat menyadarinya, kertas kecil yang kering itu tersangkut di tenggorokanku, lalu tertelan sepenuhnya.

"Arka! Kamu kenapa?" Bu Senja berdiri dengan wajah panik. Ia segera menghampiriku dan, dengan kekuatan yang tidak kusangka-sangka, menepuk-nepuk punggungku cukup keras.

Efeknya instan. Tepukan itu membuat perutku bereaksi. Rasa mual yang hebat menghantam ulu hatiku, dan dalam hitungan detik, aku muntah tepat di ubin lantai kelas yang putih bersih.

Keheningan melanda seisi kelas. Hanya ada suara kipas angin yang berderit di langit-langit. Aku membeku, menatap cairan di lantai dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Semesta memang selalu punya cara yang sangat kreatif untuk menghancurkan momen puitisku.

"Gila! Arka makan kertas beneran!" suara tawa Rian meledak, memecah kesunyian.

"Woi, Ka! Lo laper apa gimana? Pantesan lo puitis, kertas aja lo makan, hahahaha!" Bimo tertawa sampai air matanya keluar, memukul-mukul meja dengan HP-nya,.

"Cupu banget lo, Ka! Masa baca puisi aja sampe muntah-muntah gitu. Mabok sastra lo ya?" celetuk yang lain dari barisan belakang,.

Aku ingin rasanya menghilang, menjadi molekul gas yang menguap begitu saja ke atmosfer. Aku menunduk, tidak berani menatap mata siapa pun. Namun, di tengah gemuruh tawa itu, aku merasakan sebuah tangan lembut menyentuh bahuku.

"Sudah, sudah! Diam semuanya! Tidak ada yang boleh tertawa!" Bu Senja bersuara dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya, membuat kelas seketika senyap. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit rasa kasihan, namun juga ada binar geli yang tertahan di sudut matanya.

"Arka, kamu tidak apa-apa? Sebaiknya kamu ke UKS sebentar untuk istirahat," ucapnya lembut. Ia kemudian menoleh ke arah kelas dan melanjutkan, "Anak-anak, jangan mengejek Arka. Bagi saya, apa yang Arka lakukan tadi adalah bentuk dedikasi yang luar biasa terhadap kata-kata. Puisinya memang sangat 'mengena' sampai membuat pencernaannya sendiri tidak sanggup menanggung keindahannya.",.

Ia mengambil buku nilainya, lalu menuliskan sesuatu di sana. "Arka, saya beri kamu nilai 85 untuk tugas ini. Saya hargai keberanianmu untuk benar-benar 'menelan' karyamu sendiri demi sebuah penampilan. Itu adalah komitmen yang jarang saya temui.".

Aku terpana. Nilai 85? Di tengah kehancuran harga diriku, ia justru memberiku apresiasi yang tidak masuk akal. Aku berjalan kembali ke bangkuku dengan langkah gontai, mengabaikan bisikan-bisikan jahat dari teman-temanku. Bimo menyambutku dengan cengiran lebar.

"Gokil lo, Ka. Nilai 85 cuma modal muntah. Besok-besok kalau disuruh bikin prosa, lo mau pingsan di depan kelas biar dapet 90?" bisik Bimo sambil tertawa kecil,.

Aku tidak menyahut. Aku hanya duduk diam, merasakan sisa rasa kertas di pangkal tenggorokanku yang terasa pahit, namun juga anehnya terasa manis,. Aku menatap Bu Senja yang kembali menjelaskan tentang rima dan bait seolah tidak terjadi bencana apa pun. Aku menyadari satu hal: di matanya, aku mungkin hanya seorang murid yang "bebal" namun "bersemangat secara berlebihan". Tapi bagiku, muntah di depannya adalah sebuah pengorbanan suci. Aku telah memberikan segalanya untuknya—bahkan isi perutku sendiri.

Hari itu, aku belajar bahwa metafora memang bisa menggigit lidah, dan terkadang, cinta bukan hanya soal rima yang indah, tapi juga tentang bagaimana kita bertahan hidup setelah melakukan hal paling memalukan di depan orang yang kita puja,. Aku menyentuh sakuku, masih ada kartu telepon koin di sana—benda mati yang diam seperti perasaanku yang belum juga ia sadari. Kelak, aku akan menuliskan semua ini, namun untuk sekarang, aku hanya ingin pulang dan berkumur sebanyak mungkin agar rasa kertas ini hilang dari ingatanku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!