Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Day -2
"tok...tok..tok..".
Suara ketukan pintu dari arah luar. Namun, Aira tetap tak bergeming dari tidurnya. Akhirnya seorang maid pun masuk ke dalam kamar Aira untuk membangunkannya.
"Nona Aira, sudah waktunya untuk anda pergi berlatih". Ucap maid lembut.
Aira membuka matanya yang masih berat, dan melihat maid yang berdiri di samping tempat tidurnya. "Hmm... apa sudah waktunya?" tanya Aira
Maid itu tersenyum dan mengangguk. "Ya, Nona Aira. Anda memiliki jadwal latihan dengan Tabib Elian hari ini. Anda tidak boleh terlambat."
Aira mengangguk dan perlahan-lahan bangun dari tempat tidurnya. Dia meregangkan tubuhnya yang masih lelah dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian latihannya.
"Tabib Elian, ya?" Aira bertanya pada dirinya sendiri sambil mengenakan pakaian latihannya. "Sepertinya aku akan berlatih dengan mudah."
Aira tersenyum, merasa sedikit lebih santai karena hari ini latihannya dengan Guru Elian, tabib yang terkenal dengan kemampuan penyembuhannya.
Aira berjalan ke arah ruang latihan, di mana Guru Elian sudah menunggunya. "Selahati, Guru Elian," kata Aira dengan hormat.
(Selahati adalah salam hormat)
Guru Elian tersenyum dan membungkuk. "Selahati, Aira. Hari ini kita akan fokus pada latihan penyembuhan. Kamu memiliki kemampuan es yang luar biasa, tapi kamu juga harus belajar untuk menyembuhkan luka-luka yang kamu terima."
Aira hanya terdiam memandangi wajah guru Elian tanpa berkedip dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"FOKUS AIRA...FOKUS...". Teriak Magnitius dari arah paviliun. Raut murka tergambar diwajahnya.
"Iya..iya..". Elak Aira tanpa menoleh. Tatapannya terus tertuju pada guru Elian.
"Sangat tampan bukan? Aku tidak bisa menyia-nyiakan ketampanannya". Isi pikiran Aira.
Tingkah Aira membuat Magnitius semakin mengerang. Magnitius mengembuskan napas frustrasi,
"Aira, fokus! Kamu tidak bisa terus-menerus memandangi Guru Elian seperti itu!"
Aira tersenyum manis dan akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Magnitius, yang jauh di sana "Magnitius. Aku hanya... terpesona."
"Terpesona? Guru Elian adalah gurumu, Aira! Tunjukkan sedikit rasa hormat!"
Aira tertawa kecil dan mengangguk, "Baiklah, baiklah. Aku akan fokus."
Guru Elian yang tadinya diam, akhirnya berbicara, "Aira, mari kita lanjutkan latihan penyembuhan"
Kali ini bukan pedang yang Aira genggam, melainkan tongkat kristal es yang indah dan berkilau.
"Tongkat es?". Tanya Aira
"Peganglah yang erat, pejamkan mata dan rasakan dinginnya es mengalir ke seluruh tubuhmu". Titah Guru Elian
Aira memegangnya dengan lembut, mengikuti seluruh runtutan perintah sang guru. "Bagus Aira!". Ucap guru Elian.
"Kalau kamu merasa ada yang aneh dengan tubuhmu, jangan pernah membuka mata". Sambungnya.
Aira mengangguk faham dan menyelesaikan latihan hari ini bersama guru Elian lebih cepat dari yang Aira kira.
"Sudah selesai? ". Tanya Aira kecewa.
"Sudah nona Aira. Terimakasih. Anda memang hebat bisa menguasai ilmu sihir dengan sangat cepat, dan detail". Puni guru Elian.
"Baiklah. Kalian semua,bubar". Kata Magnitius dingin.
Magnitius menatap Aira tajam. "Ikut aku".
"Aku?". Tanya Aira menunjuk dirinya sendiri.
Merasa tidak ada sahutan, Aira pasrah mengikuti Magnitius dari belakang. Ia berjalan menatap punggung Magnitius yang begitu lebar.
"Siapa yang menyuruhmu membuntutiku!". Magnitius berkata dengan keras.
Semua yang mendengar ucapannya bergetar ketakutan seperti para maid di pinggir sana yang berjalan mundur dengan wajah yang menunduk.
Sementara Aira? Tentu tidak. Dengan wajah polosnya ia bergerak cepat ke samping kiri Magnitius. "Di sini?". Aira bertanya sambil menatap pria di sebelahnya.
Tanpa berkata Magnitius melanjutkan langkah kakinya. Aira menggelakkan kepala, merasa sedikit lelah dengan sikap Magnitius yang kasar.
"Apa sih, Magnitius? Kenapa kamu begitu serius?" tanya Aira sambil berjalan di samping Magnitius.
Magnitius tidak menjawab, tapi terus berjalan menuju ke arah sebuah ruangan yang terletak di ujung koridor. Aira mengikuti dia, rasa ingin tahunya semakin besar.
Ketika mereka tiba di depan ruangan, Magnitius berhenti dan membuka pintu. "Masuk," katanya dengan nada yang masih kasar.
Aira mengangkat alis, tapi tetap masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu adalah sebuah ruang pelatihan khusus, dengan dinding-dinding yang dilapisi dengan perisai energi dan lantai yang terbuat dari batu hitam yang keras. Di tengah ruangan, terdapat sebuah patung besar yang berbentuk seperti seekor naga es, dengan mata yang berkilau seperti kristal.
"Tempat apa ini? Sangat menyeramkan".
"Ini lah Tenebrous". Jawab Magnitius.
Aira melihat sekeliling ruangan, merasa sedikit takut. "Apa yang akan kita lakukan di sini, Magnitius?" tanya Aira
"Aku akan menggagahimu. Dengan begitu, kau akan sepenuhnya milikku dan menjadi ratu vampir di kerajaan ini". Jawabnya
"Berhenti mengatakan hal bodoh!". Decak Aira sedikit gelisah
Magnitius menatap Aira dengan serius, "Kamu akan menghadapi ujian, Aira. Ujian untuk membuktikan bahwa kamu sudah siap menjadi seorang putri es yang sejati."
"Hmm....baiklah". Aira menyanggupi. "Jika di Gardarium ada kristal darah. Lalu disini ada apa?".
Magnitius menekan sebuah knop yang terbuat dari batu yang terletak di atas meja bundar di tengah-tengah ruangan Tenebrous.
Tiba-tiba, ruangan Tenebrous mulai berubah. Dinding-dinding ruangan mulai berputar, dan sebuah altar batu hitam muncul dari lantai. Di atas altar, terdapat sebuah kristal hitam yang berkilau dengan energi gelap.
Aira melihat kristal itu, merasa sedikit takut. "Apa itu?" tanya Aira.
Magnitius tersenyum, "Itu adalah Kristal Umbra, kristal yang mengandung energi kegelapan. Dengan kristal ini, kamu akan menghadapi ujianmu yang lebih berat, Aira."