Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21—Kehebohan di rumah
“Alya, mau nggak ikut konser bareng aku malam ini?” perkataan itu kembali terngiang di kepalanya. Wajah dia memerah mengingat perkataan tersebut.
Lalu bagaikan bocah yang mendapatkan mainan ia sangat senang, ini adalah pertama kalinya ia akan keluar dengan lawan jenis—kendati dia terbilang populer dan banyak didekati pria, namun belum pernah ada yang membuat dia tertarik, kebanyakan hanyalah para pria yang mudah ditebak terlihat kegilaan dengannya.
Tapi rahmat selalu berbeda, itulah yang buat ia tertarik. Jadi bisa dibilang dia itu sebenarnya sangat kikuk masalah beginian.
Alya menyiapkan berbagai pakaian menarik. Ia jelas ingin membuat kesan bagus di pandangan pertama, berbagai cara ia lakukan. Menggeledah dan menelusuri satu persatu pakaian. Namun bagaimanapun tak menemukan yang cocok, ia akan mendecakan lidah, emosi, mengumpat, bilang sialan. Lalu melempar pakaian ke sembarang arah.
Ibu Dhea melihat tingkah laku anak semata wayangnya bagaikan menatap bocah kasmaran. Ia bertanya apa ia ingin pergi kencan dengan seseorang? Melihat tumpukan pakaian yang amat menggunung, si ibu hanya berpikir demikian.
Lantas, wajah Alya memberang. Memerah laksana tomat, dengan gerakan ragu ia menggelengkan kepala. Kaparat, insting seorang ibu memang ngeri?. Pikirnya, namun tingkah laku yang ia lakukan sangat mencurigakan hingga Dhea tergelak, tertawa, ngakak tujuh turunan.
Dari reaksi wajah menggemaskan sang gadis ia asumsikan itu benar.
Bagaimanapun si anak menyangkal, Dhea dengan naluri keibuannya mengabaikan itu. Ia menduga anaknya telah jadi gadis tulen, hendak main sama cowok—yang benar 100% Ia pun mendekati Alya meski si bocah berseru dengan wajah merah, menyuruh menjauh.
Namun tak diindahkah, malah dimulai pelajaran oleh pemateri ibu Dhe. Ibu itu menjelaskan berbagai tata kesopanan saat berkencan dengan pria, penataan rambut, dan style pakaian. Sangat panjang lebar beliau menjelaskan. Waktu terlewat tiga puluh menit.
Kejadian barusan terdengar dari telinga bapaknya Armand, dia terkejut sekaligus syok. Ada bocah sinting yang berani mengajak anak gadisnya keluar, maka dengan naluri kebapakan yang kolot.
Armand berdiri kaku di ambang pintu kamar. Wajahnya tegang. Rahangnya mengeras.
“Siapa?” tanyanya pendek penuh penekanan.
Alya semakin memberang karena bapaknya malah ikut-ikutan. Dhea menoleh santai, ia paham anak gadisnya terlalu malu untuk menjelaskan.
“Bukan siapa-siapa,” jawab Alya cepat.
“Kalau bukan siapa-siapa, kenapa lemari kamar kamu kayak habis kena razia? Ibumu juga ikut-ikutan merias dirimu, ini janggal!”
Dhea menutup mulut menahan tawa. “Yah, anakmu ini mau pergi konser, katanya.”
“Konser?” Nada Armand naik setengah oktaf. “Sama siapa?”
Sunyi. Dhea ngakak tujuh turunan, melihat Alya yang berusaha menjawab malu-malu.
Alya merasa jantungnya berdetak sampai ke telinga. Nama itu hampir saja meluncur. Rahmat. Ia menggigit bibir. “Teman.”
“Teman itu spesies apa? Laki-laki atau perempuan?”
Dhea akhirnya tak tahan dan tertawa lagi. “Pak, jangan diinterogasi kayak tersangka korupsi.”
“emang tersangka korupsi diinterogasi? Orang mereka dibela” Armand melangkah masuk. Aura protektifnya terasa jelas. “Sebut gih.Nama.”
Alya menunduk. Kalau sudah begini ia tidak bisa mengalah. waktu hening 30 detik, mulut Alya terbuka dan tertutup, seperti kesulitan untuk menyebut nama saja …
“Rahmat,” jawanya pada akhirnya.
Nama itu menggantung di udara. Ruangan hening seketika.
Armand menganggukan kepala. “Jadi anak muda itu ya …” lalu tersenyum mengacungkan jempol. “Kalau bocah itu mah gpp, aman-aman saja. Bapak dukung kalian!”
Alya memerah. Cepat banget! Perubahan situasinya langsung berubah jadi mendukung.
Sementara Dhea bertanya-tanya kepada Armand bagaimana dia bisa mengenal anak itu. Jadilah cerita panjang, lima belas menit ia bercerita, dua puluh menit.
Armand banyak cerita tentang rahmat, dhea mengangguk.. 25 menit lewat. Alya mulai jengah, kalau gini dandan dia gak kelar-kelar.
“UDAH! SANA PERGI! AKU MAU SIAP-SIAP JANGAN GANGGU!”
Maka ia pun berseru. Menyuruh semua orang pergi, mengusir bapak dan ibunya dari kamar, lalu menutup pintu kasar. Ia sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk bersiap-siap.