Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Pulang ke Rumah
Vano mengajak Vanya makan di sebuah warung pecel lele di pinggir jalan. Vano memesan 1 nasi+ikan lele dan 1 nasi+ayam goreng. Vano juga memesan teh anget untuk dirinya dan es jeruk untuk Vanya.
"Cobain pake sambelnya, di jamin makin cetar membahana" Vano menyodorkan tempat sambal ke hadapan Vanya. Vanya yang menyukai pedas pun mulai menyendok sambal Lamongan khas warung pecel itu beberapa sendok.
"Gilak! Ini mah Mantul. Mantap Betul" Vanya menggebrak meja pelan tanda jika makanan yang ia makan sangatlah enak.
"Kenapa lo nggak suka lele?" tanya Vano.
Pasalnya tadi saat ia ingin memesan 2 porsi nasi+ikan lele, Vanya langsung menolak keras seolah sangat tidak menyukai hewan berkumis itu. Ahirnya Vano memesan kan Vanya nasi dengan lauk ayam goreng saja.
"Ya nggak suka aja. Lele kan biasanya makan tai" jawab Vanya santai.
"Anjir lo! Jangan jujur jujur amat lah" sinis Vano.
Mereka berdua pun ahirnya menghabiskan pesanan mereka hingga tandas. Minuman juga hampir habis sisa seperempat gelas saja.
"Tunggu sini! Gw mau bayar dulu" perintah Vano sambil beranjak dari duduknya.
Dengan patuh Vanya menunggu Vano membayar makanan dan minuman mereka tadi. Setelah selesai, mereka berdua pun keluar dari warung tenda itu menuju ke motor Vano yang di parkirkan 5 meter di seberang jalan.
"Habis berapa?" tanya Vanya.
"Empat puluh ribu" jawab Vano sambil menaiki motor nya.
"Empat puluh ribu? Semuanya? Gilak murah banget. Empat puluh ribu udah bisa bikin perut kenyang. Itu orang jualan apa sedekah?" cerocos Vanya dengan heboh.
"Murah? Emang biasanya lo kalo beli makan berapa?" tanya Vano dengan heran.
"Ah itu. Em gw biasanya makan habis lima puluhan. Makan nya habis segitu doang murah menurut gw" Vanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Oalah. Lo harus pinter nyari tempat makan murah. Ayok naik. Gw antar pulang"
'Waduh gw harus alasan apa nih? Apa gw tunjukin rumah orang aja kali ya yang jelek ' ucap batin Vanya.
"Eh gw pinjam uang lo aja deh limapuluh buat naik Taxi. Besok di sekolah gw ganti"
"Yakin lo? Ini udah jam sembilan malem loh. Gw anter aja deh. Atau nggak gw ikutin lo dari belakang?" tawar Vano.
"Nggak perlu, makasih. Gini gini gw sabuk hitam Karate sama Taekwondo loh" pamer Vanya.
"Masa sih?" tanya Vano tak percaya.
"Iya lah. Perlu di uji kah?" tanya Vanya dengan percaya diri.
Bukan nya tak percaya, namun Vano tak ingin melawan perempuan. Anti bagi seorang lelaki sejati sepertinya.
"Yaudah nih" Vano mengeluarkan uang 1 lembar pecahan 50 ribu dari dompet mahalnya.
"Lo kok percaya gitu aja sih minjemin duit ke orang yang baru lo kenal?" tanya Vanya sambil mengambil uang itu dari tangan Vano.
"Uang segitu mah receh buat gw. Lagian apa salahnya bantuin orang yang lagi kesusahan" jawab Vano enteng.
'Nih cowo sombong banget njir, tapi baik sih' pikir Vanya dalam hatinya.
"Pinjam hp lo dong buat pesen Taxi, gw nggak bawa hp hehe" pinta Vanya disertai cengiran khas nya.
Vano pun memberikan ponselnya kepada Vanya. Setelah berhasil memesan sebuah Taxi, ponsel itu langsung ia kembalikan kepada pemiliknya.
Vano menerima ponselnya tanpa melihat kemana alamat Vanya memesan Taxi. Ia tak terlalu peduli. Lagian mereka masih baru saja kenal.
"Eh itu Taxi nya udah dateng. Gw duluan ya Van" Vanya pun mulai berjalan menghampiri Taxi yang berhenti 3 langkah dari mereka berdua.
"Iya hati-hati Van" 'Loh nama kita hampir sama' ucap batin Vano seolah tersadar.
15 menit kemudian, Vanya sudah sampai di depan rumahnya. Para penjaga langsung melapor kepada Danu saat Taxi itu mulai memasuki gerbang. Dengan terburu-buru Danu dan Sinta menghampiri Vanya yang sedang membayar tagihan argo Taxi.
"Ya ampun sayanggg, kamu darimana aja sih?" Sinta langsung memeluk Vanya. Lalu ia membolak balik tubuh Vanya takut ada yang lecet.
"Astaga ma. Aku baik-baik aja ish" Vanya mengerucut kan bibirnya.
"Kamu darimana sayang? Kenapa harus diem-diem pergi dari rumah? Tadi kamu bilang nya sakit loh" Danu ikut mencemaskan putri kesayangannya itu.
"Aku... Em..... " Vanya seolah enggan untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Kamu ada masalah apa sih? Coba sini cerita sama mama sayang"
"Ayo masuk dulu. Diluar dingin, angin nya kenceng" ajak Danu sambil menggandeng istri dan putrinya.
Saat mereka sudah sampai di ruang keluarga, tiba-tiba Fian datang sambil berlari lalu memeluk Vanya erat. Nafas nya terdengar ngos-ngosan.
"Jangan pergi-pergi lagi plisss. Kalau mau kemana-mana itu bilang. Kakak hampir setengah mati khawatirin kamu" ucap Fian setelah nafasnya sudah sedikit teratur.
Setelah merasa Fian sudah lebih tenang, Vanya mendorong kakaknya begitu saja.
"Aku cape. Mau ke kamar dulu" pamit Vanya.
"Putri kita kenapa sayang? Nggak biasanya dia begitu" Vanya masih bisa mendengar ucapan papanya dengan jelas. Namun ia tetap melangkahkan kakinya tanpa menoleh sedikitpun.
Danu dan Fian pun mengabari semua yang tadi ikut membantu dalam pencarian Vanya. Sehingga saat Vanya baru sampai di kamarnya, ponsel mahal dan ponsel android di atas meja langsung berbunyi terus tanpa henti.
"Duo rempong nih pasti. Berisik banget" meski enggan, Vanya tetap mengambil salah satu ponselnya.
GenZ Girl👀
Vanya : B E R I S I K
Rain : Woi anjir lo ya
Rain : Bisa-bisanya lo minggat beneran
Rain : Bosen lo ya jadi anak orang kaya? Mau jadi gembel lo hah?
Rain : Gw khawatir banget anjir waktu kak Fian telpon
Lea : Gw yang lagi dinner juga kaget woiiiii
Lea : Gak kira-kira lo ya kalo bikin gebrakan
Lea : Istighfar Vanya Istighfar
Rain : Nah coba lo nyebut. Ikutin tuh Ustazah Lele
Lea : Hujan lo mending diem ya
Rain : Ceritain plisss semua nya
Lea : Iya plisss! Gw juga KEPO
Vanya : Besok. Gw ngantuk. Bye zeyengkuhhh
Rain :Woi anjir jangan bikin penasaran setan
Lea : Udah ganggu kencan gw, sekarang malah mau bikin gw mati penasaran lo ya
Lea : Eh besok gw ngga akan telat lagi loh
Rain : Ga percaya
Lea : Besok gw di jemput ayang
Vanya : Iya iya yang punya ayang. sungkem deh
Rain : Woi Vanya ceritain dulu woiiiiii
Vanya : Besok
Lea : Gw tunggu loh. Awas lo kalo sampe lupa. Gw tagih sampe kiamat
Rain : Duain deh
*****
Pukul 6 tepat, Vanya sudah siap dengan seragam lengkap. Rambutnya ia kuncir kuda agar tidak membuat gatal saat memakai helm. Setelah semua siap, Vanya langsung turun ke lantai 1 tempat dimana meja makan berada.
Disana sudah ada Mama dan Papanya. Saat Vanya ingin duduk di salah satu kursi, Fian datang mendekat ke arahnya. Vanya pun langsung tidak jadi duduk.
"Ma, pa aku sarapan di sekolah aja ya. Lagi pengen rawon" Vanya berpamitan sambil menyalimi kedua orang tuanya.
"Rawon? Yaudah nanti papa pesenin ke pak Joko ya" Danu menyebutkan sebuah nama kepala koki yang ada di sekolah Vanya.
"Iya pa, makasih ya"
"Kakak anter ya Van?" tawar Fian.
"Nggak perlu kak. Aku naik motor aja" Vanya pun langsung pergi meninggalkan ruangan.
'Kenapa kamu jadi se dingin ini sih Van sama kakak?' Fian bertanya-tanya di dalam hati.
"Aku langsung berangkat aja ya ma, pa" pamit Fian. Setelah menyalimi tangan kedua orangtuanya, Fian langsung pergi begitu saja.
"Kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih sama mereka berdua?" tanya Sinta setelah Fian tak terlihat lagi.
"Iya. Aku juga ngerasanya gitu sayang" jawab Danu.
"Dan putri kita berubah aneh semenjak kedatangan Lyora" Sinta mulai menerka-nerka.
"Jangan-jangan Vanya suka sama kakaknya sendiri" sebuah pemikiran gila terlintas di otaknya. Ia seorang ibu, pasti lebih peka terhadap semua anak-anak nya.
"Nggak mungkin lah sayang" Danu mencoba menyangkal.
"Terus kalau iya gimana pa? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sinta frustasi.
"Sudah sayang. Jangan pikirkan hal yang tidak mungkin terjadi" Danu mencoba menenangkan istrinya.
"Semoga aja deh pa. Mama cuman bisa berdoa yang terbaik untuk kedua anak kita" ucap Sinta penuh harap.