"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Daftar Karakter Utama :
Rangga Dirgantara: Suami yang sempurna di mata publik. Tampan, kaya raya, dan sangat lembut. Namun, di balik pintu rumah, ia memiliki obsesi gelap dan kontrol yang absolut.
Alya Wijaya: Seorang wanita ceria yang merasa telah memenangkan "lotre kehidupan" dengan menikahi Arka, sebelum akhirnya menyadari bahwa hidupnya hanyalah sebuah skenario yang disusun Rangga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya matahari pagi masuk menembus celah gorden sutra di kamar utama mansion keluarga Dirgantara. Alya mengerjapkan mata, merasakan lengan kokoh melingkar erat di pinggangnya. Wangi sandalwood dan maskulin yang khas menyeruak—wangi Rangga
"Selamat pagi, Istriku," bisik Rangga. Suaranya serak khas orang bangun tidur, terdengar begitu seksi dan menenangkan.
Alya berbalik, menatap wajah suaminya yang tampak seperti malaikat saat terlelap. Rahang yang tegas, hidung mancung, dan bulu mata lentik. Siapa pun yang melihat Rangga akan iri pada Alya. Rangga adalah pengusaha muda sukses, dermawan, dan suami yang sangat memuja istrinya.
"Pagi, Mas. Jam berapa sekarang?" tanya Alya sambil mengusap pipi Rangga.
"Cukup pagi untuk kita menghabiskan waktu berdua sebelum aku ke kantor," jawab Rangga sambil mengecup kening Alya lama. "Aku sudah meminta Bi Surti menyiapkan sarapan kesukaanmu. Pancakes dengan stroberi segar."
Alya tersenyum, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Mas, bicara soal kantor... kemarin Pak Rendi tidak masuk. Apa kamu tahu sesuatu? Maksudku, dia kan asisten pribadimu yang paling rajin."
Gerakan tangan Arka yang sedang membelai rambut Alya terhenti selama satu detik—hanya satu detik—sebelum kembali normal. Matanya yang hitam pekat menatap Alya dalam-dalam.
"Dia mengundurkan diri, Alya. Katanya ingin pindah ke luar kota secara mendadak. Kenapa? Kamu mengkhawatirkannya?"
"Bukan begitu, hanya saja... dia tidak berpamitan padaku. Padahal kami sering bekerja sama untuk proyekmu." ucap alya.
Rangga bangkit dari tempat tidur, punggungnya yang tegap membelakangi Alya. "Dia tidak perlu berpamitan padamu. Baginya, kau adalah istri bosnya. Dan bagiku, kau adalah milikku.
Fokuslah padaku saja, Sayang. Itu sudah cukup." ucap Rangga. Kalimat itu terdengar seperti perhatian, tapi entah mengapa terasa seperti peringatan.
Setelah Rangga berangkat kantor, Alya mencoba menyibukkan diri di perpustakaan rumah. Namun, rasa penasaran tentang Pak Rendi terus menghantuinya. Rendi adalah satu-satunya orang yang pernah memperingatkan Alya tentang "sifat asli" Rangga sebelum mereka menikah, meski saat itu Alya menganggapnya hanya lelucon.
Alya berjalan menuju ruang kerja Rangga di lantai dua—ruangan yang biasanya selalu terkunci. Namun hari ini, pintu itu sedikit terbuka.
Dengan jantung berdegup kencang, Alya masuk. Ruangan itu rapi, dingin, dan beraroma kopi. Di atas meja kerja Rangga, terdapat sebuah tablet yang menyala.
Alya mendekat dan melihat sebuah aplikasi pemantau sedang terbuka. Matanya terbelalak.
Layar itu menampilkan belasan kotak kecil yang merupakan siaran langsung CCTV. Bukan CCTV rumah ini, melainkan: Kamar kos lama Alya (yang sudah kosong), Rumah orang tua Alya di desa.
Bahkan... tas tangan yang sering dibawa Alya.
Di dalam tas itu, tersembunyi sebuah pelacak GPS berbentuk kancing kecil.
"Mencari sesuatu, Sayang?"
Suara itu berasal dari ambang pintu. Alya tersentak hingga hampir menjatuhkan tablet itu.
Rangga berdiri di sana, masih mengenakan jas lengkap, namun tatapannya tidak lagi lembut. Ia tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Mas... kamu... kamu memasang pelacak di tas ku?" suara Alya bergetar.
Rangga berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar seperti detak jantung yang memburu. Ia mengambil tablet itu dari tangan Alya dan meletakkannya kembali ke meja dengan tenang.
"Dunia ini berbahaya, Alya. Banyak pria brengsek di luar sana yang ingin mengambilmu dariku. Aku hanya memastikan kau selalu aman di bawah pengawasanku. Kau tidak suka aku melindungimu?".Rangga mencengkeram lembut dagu Alya, memaksanya menatap mata yang penuh dengan kegelapan itu.
"Jangan pernah masuk ke sini tanpa izin lagi, Alya. Aku mencintaimu, tapi aku benci jika milikku mulai menjadi anak nakal."
Bersambung....
- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/