NovelToon NovelToon
Benci Tapi Menikah?

Benci Tapi Menikah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Konflik etika
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fareed Feeza

Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Gian menghabiskan sarapannya dengan lahap, setelah selesai dia menyerahkan tas kerjanya pada Nisa. Tak perlu di jelaskan Nisa sudah tau dia harus melakukan apa.

Dengan langkah pelan Nisa mengikuti Gian menuju luar rumah, dia tidak berani sama sekali berjalan mendahului.

Sampai di depan pintu kemudi, Gian mengambil tas itu dari tangan Nisa dan kembali menyodorkan tangannya, dia meminta Nisa untuk mencium punggung tangannya, tapi tidak lewat kata-kata hanya gerakan saja dan Nisa langsung paham.

"Nanti sore aku pulang cepat." Kata Gian sebelum menutup pintu mobilnya, dia sama sekali tidak meminta tanggapan Nisa ... pria itu langsung tancap gas meninggalkan rumah.

"Maksudnya apa kalau dia pulang cepat? Aku tidak mengerti bagian itu." Gumam Nisa.

Baru saja Nisa berbalik untuk masuk ke dalam rumah, tapi suara yang tak asing lagi memanggilnya dari arah pagar.

"Nisa .... "

Nisa langsung menengok dengan cepat, "Ibu ... Ayah? Dari tadi aku nunggu kalian." Ucap Nisa yang sudah sedekat itu bagai orang tua dengan anak kandungnya.

"Maaf kamu tidak memberitahu, Ibu yang gak sabaran buat joging, katanya gak usah kasih tau anak-anak." Ucap Akbar.

Lulu tersenyum, "Biar kalian sarapan romantis berdua."

"Ibu bisa aja, oh ya ... Nisa udah siapin sarapan, di makan ya."

"Kami habis makan bubur tadi di ujung jalan, menunya apa?" Tanya Akbar.

"Oh begitu yasudah tak apa Yah. Aku masak nasi rempah telur."

"Waduh Bu, sosah nolak kalau yang ini."

"Ayo yah." Ajak Lulu, kemudian kedua paruh baya itu berjalan di depan Nisa dengan semangat menuju ruang makan.

Nisa menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan kedua mertuanya itu. "Menyenangkan sekali mereka." Gumamnya.

***

"Suamiku korupsi." Kata Arabela saat bercerita pada Ranti di sebuah cafe milik Gian, tapi sayangnya Gian sedang bertugas di cabang lain saat itu.

"Jadi selama ini, kekayaan yang di iming-imingi itu adalah hasil korupsi?" Ranti berdecak, pasalnya dia sempat merasa iri saat Arabela menikah dengan pria mapan.

Arabela pulang ke Indonesia, karena sang suami sedang menjalani proses hukum, semua hartanya juga ikut di sita ... Harapan Arabela satu-satunya adalah rumah orang tuanya di Indonesia. Ekonomi orang tuanya pun ikut goyah karena selama dia menikah ... Semua kebutuhan orang tuanya di cukupi oleh pihak suaminya sebagai syarat pernikahan. Papa Bela juga sudah memutuskan berhenti bekerja, karena sudah yakin hidupnya akan terjamin setelah anaknya menikah.

"Papa shock, dia sempet dh bawa ke RS kemarin ... Darahnya tinggi banget, pasti ini semua gara-gara masalah rumah tanggaku." Kata Arabela dengan wajah sendunya.

Karma di bayar tunai, dulu keluargamu merendahkan Gian ... Tapi lihat sekarang ... Keluargamu ada di posisi rendah tanpa campur tangan Gian. Batin Ranti.

"Um ... Aku turut sedih dengan apa yang kamu alami ya Bel, semoga semuanya cepat berlalu."

Arabela mengangguk pelan, matanya langsung melirik ke arah ruang karyawan cafe. "Gian kok belum kelihatan ya?" Ucapnya.

"Gak tau deh, mungkin di cabang lain, atau mungkin memang belum datang." Sahut Ranti dengan santai sambil menikmati kopi hangatnya.

"Dia belum punya pacar kan? Atau dia sudah menikah?"

"Hm setauku belum sih."

Mau apa dia nanya kayak gitu!

"Ranti ... Kamu masih lama disini?"

"Aku ada klien nanti siang, makanya pas kamu minta ketemu aku ajak disini, biar gak bolak balik."

"Kalau gitu, aku pamit ya ... Makasi banget udah mau dengerin curhatan aku."

"Oke Bela, keep spirit ya!"

Mereke berdua pun akhirnya berpisah di cafe milik Gian.

Dari kejauhan Ranti melihat jelas jika Arabela menaiki taksi sebagai alat transportasinya.

Dulu, mobil keluaran terbaru sering banget kamu pamerin Bel ... Memang nasib orang tidak ada yang tahu. Tapi selamat atas kehancuranmu. Batin Ranti yang ternyata sedari dulu tidak menyukai Arabela.

.

.

Bela turun dari taksi di depan sebuah rumah yang dulu sering dia kunjungi, kali ini wanita itu berada tepat di depan pagar rumah Gian.

Dia menarik nafas terlebih dahulu, lalu menghembuskannya perlahan sebelum tangannya menekan bel yang ada di dekat pagar.

*Suara bel.

2x dia menekan bel, dan pada akhirnya terdengar suara orang dari dalam sedang membuka pagar itu.

Pagar di buka sedikit, muncul wajah cantik dan polos menyembul dari balik pintu pagar. "Siapa ya?"

"Arabela ... Kamu?"

"Aku Nisa." Ucapnya tanpa mengulurkan tangan, karena Bela juga hanya menyebutkan nama tanpa mengulurkan tangannya.

"Boleh masuk?" Tanya Bela.

"Ada keperluan apa? Dengan siapa?"

Menyebalkan sekali, apa dia art baru disini?

"Tante Lulu, aku mau bertemu dengannya."

"Baiklah ... Silahkan masuk." Kata Nisa, matanya terus mengawasi Bela, memastikan wanita ini tidak membahayakan.

"Tunggu disini, aku panggil Ibu dulu." Nisa mempersilahkan Bela duduk kursi teras taman yang ada di depan rumah.

Beberapa saat Nisa berada di dalam, lalu Lulu keluar tentunya dengan mengajak Nisa.

"Tante ... " Bela langsung berlari dan memeluk Lulu erat.

Lulu sama sekali tak membalas pelukan Bela, kedua tangannya lurus menjulur ke bawah.

"Ada apa ini?" Tanya Lulu heran, karena sudah bertahun-tahun Arabela tak pernah muncul lagi di depan matanya.

"Tante ... dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku mau meminta maaf atas semua sikapku dan juga keluargaku dulu, karena sudah merendahkan Gian. Sekarang aku merasakan penyesalan itu Tante, begitu cepat karma datang pada kehidupanku."

Lulu langsung melepas pelukan Bela, "Tenangkan dirimu Bela, tante dan om Akbar sudah memaafkan."

"Tapi Gian ... Gian bagaiman Tante." Bela perlahan mulai meneteskan air matanya.

*Suara klakson mobil di luar pagar.

Sedang asyik menikmati drama secara langsung, Nisa langsung bergerak cepat saat mendengar suara amobil suaminya datang untuk minta di buka kan pagar.

Nisa mengunci pagar kembali saat mobil Gian sudah masuk ke dalam halaman. Anehnya pria itu tidak langsung keluar dari mobil, hingga Nisa masih berdiri mematung di dekat pintu kemudi, menunggu untuk mengambil alih tas kerja Gian seperti biasanya.

Untuk apa wanita itu datang kesini? Batin Gian, saat dari dalam mobil melihat ke arah kursi teras, mantan kekasihnya sedang berinteraksi dengan ibunya.

Lamunan Gian terhenti kala Nisa mengetuk kaca mobilnya.

"Lama sekali." Kata Nisa.

Gian tak berkata apapun, dia langsung memberikan tas kerjanya ... Tapi wajahnya masih fokus melihat ke arah depan, dimana saat ini Bela juga sedang menatapnya dengan wajah sembab.

"Gian ... " Lirih Bela, wanita itu berjalan perlahan mendekat pada Gian, pria yang dulu selalu antusias saat melihatnya ... selalu ingin di peluk dan dekat dengannya, tapi tatapan pria itu kali ini berbeda ... Sangat jauh berbeda, saat ini Gian menatap Bela seperti menatap orang asing.

"Ibu, apa-apaan ini?" Tanya Gian pada Lulu yang berdiri di belakang Arabela.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!