Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Panggung Penghinaan dan Kejutan Tak Terlihat
Matahari naik tinggi di atas Arena Langit Cerah, menyinari ribuan murid yang berkumpul dalam formasi melingkar. Sorak-sorai membahana, menciptakan getaran yang bisa dirasakan hingga ke akar-akar gunung. Di tribun utama, para tetua agung duduk dengan jubah berkibar, memandang rendah ke arah arena seolah-olah mereka adalah dewa yang sedang menyaksikan semut bertarung.
Di sudut paling belakang barisan murid sekte luar, Lu Chen berdiri dengan tenang. Dia mengenakan pakaian pelayan abu-abu yang sudah dicuci bersih, namun tetap terlihat sangat kontras di antara jubah-jubah sutra biru milik murid lainnya. Di bahunya, Ignis dalam wujud semut biasa tampak tertidur, namun antenanya terus memantau setiap fluktuasi energi di sekeliling mereka.
"Lihat itu, si Penjinak Semut benar-benar berani datang!" bisik seorang murid perempuan di dekatnya sambil tertawa kecil.
"Dia mungkin berharap lawannya akan pingsan karena tertawa," timpal yang lain.
Lu Chen tidak bergeming. Fokusnya tertuju pada layar transparan sistem yang hanya dia yang bisa melihat.
[Analisis Arena: Terdeteksi 120 Partisipan Tahap Pengumpulan Roh.]
[Target Utama: Han Wei (Tahap Pengumpulan Roh - Level 4).]
[Peringatan: Han Feng (Murid Inti) sedang mengawasi Anda dari tribun atas dengan niat membunuh.]
"Lu Chen! Maju ke Arena nomor empat!" suara wasit menggelegar, memanggil namanya untuk babak penyisihan pertama.
Saat Lu Chen melangkah menuju panggung batu, kerumunan itu terdiam sejenak sebelum meledak dalam ejekan yang lebih keras. Di atas panggung, lawan Lu Chen sudah menunggu. Dia adalah Zhao Mo, seorang murid bertubuh kekar yang dikenal memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata. Zhao Mo menyeringai, memutar-mutar sebuah gada besi besar di tangannya.
"Hei, sampah! Aku dengar kau suka serangga," kata Zhao Mo dengan suara menggelegar. "Bagaimana kalau aku menginjakmu dan semutmu itu sampai menjadi pasta?"
Lu Chen naik ke panggung dan membungkuk sopan, sebuah akting yang sempurna sebagai murid lemah. "Mohon bimbingannya, Kakak Zhao."
"Lu Chen, haruskah aku membakar organ dalamnya sekarang?" transmisi suara Ignis terdengar kesal. "Manusia berotot ini bau keringat, aku benci baunya."
"Sabar, Ignis," balas Lu Chen dalam hati. "Ingat misinya: menang dalam satu serangan tanpa menggunakan energi spiritual yang terlihat. Kita akan menggunakan 'Getaran Naga'."
Wasit mengangkat tangannya. "Mulai!"
Zhao Mo tidak membuang waktu. Dia meraung dan menerjang maju, mengangkat gada besinya tinggi-tinggi. Angin kencang tercipta dari gerakan gada tersebut, menunjukkan bahwa dia tidak menahan diri sedikit pun. Dia ingin mengakhiri pertandingan ini secepat mungkin untuk pamer di depan para tetua.
"Mati kau!" teriak Zhao Mo.
Gada itu turun dengan kecepatan luar biasa. Penonton sudah bisa membayangkan kepala Lu Chen yang hancur. Namun, tepat sebelum gada itu menyentuh rambutnya, Lu Chen bergerak.
Bagi penonton, Lu Chen seolah-olah terpeleset. Dia terhuyung ke depan, menghindari gada itu hanya dengan selisih satu inci. Tapi di balik gerakan canggung itu, Lu Chen menggunakan Langkah Bayangan Naga. Tubuhnya bergerak dalam frekuensi yang sangat tinggi sehingga dia tampak lambat padahal sebenarnya dia bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia.
Saat dia "terpeleset" melewati Zhao Mo, Lu Chen menjentikkan jarinya tepat ke arah pergelangan kaki Zhao Mo. Di ujung jarinya, Ignis melepaskan sedikit frekuensi resonansi naga—sebuah getaran murni tanpa api atau cahaya.
Brak!
Secara tiba-tiba, seluruh kekuatan di kaki Zhao Mo lenyap. Keseimbangannya hancur seketika. Karena momentum serangannya sendiri yang terlalu besar, tubuh kekarnya terpelanting ke depan, melewati tepi arena dan jatuh menghantam tanah dengan keras di luar area pertandingan.
Keheningan seketika menyelimuti arena nomor empat.
Semua orang terbelalak. Tidak ada ledakan energi, tidak ada teknik pedang yang indah. Yang mereka lihat hanyalah Lu Chen yang "beruntung" karena lawannya terpeleset dan jatuh sendiri akibat kecerobohannya.
"Pemenang: Lu Chen!" wasit mengumumkan dengan nada ragu dan tidak percaya.
"Apa?! Itu hanya keberuntungan!" teriak Han Wei dari barisan penonton. "Zhao Mo, kau bodoh sekali bisa jatuh seperti itu!"
Zhao Mo merangkak bangun, wajahnya penuh debu dan kebingungan. "Aku... aku tidak tahu apa yang terjadi! Tiba-tiba kakiku terasa seperti mati rasa!"
Di tribun atas, Han Feng menyipitkan matanya. Dia merasa ada yang aneh, namun dia tidak bisa mendeteksi fluktuasi energi dari tubuh Lu Chen. "Hanya kebetulan? Ataukah sampah ini benar-benar memiliki teknik tubuh yang aneh?"
[Ding! Misi Berhasil.]
[Target: Menang dalam 1 Serangan (Tuntas).]
[Kondisi: Tidak Menggunakan Energi Spiritual (Tuntas).]
[Hadiah Sedang Dikirim: Evolusi Ignis ke Fase 'Remaja' Dimulai secara Internal.]
Lu Chen turun dari panggung dengan wajah yang masih tampak "shok" dan ketakutan, seolah-olah dia sendiri tidak percaya bisa menang. Dia kembali ke sudutnya yang sepi, namun di dalam dirinya, dia merasakan perubahan besar sedang terjadi.
Ignis mulai bergetar hebat di bahunya. "L-lu Chen... energi hadiah ini... terlalu padat! Aku harus segera masuk ke dimensimu atau aku akan meledak di sini!"
Lu Chen segera bersembunyi di balik sebuah pilar besar dan dengan cepat memasukkan Ignis ke dalam dimensi sistem. Di dalam sana, semut hitam itu kini terbungkus dalam kepompong emas yang memancarkan aura kuno yang sangat kuat.
[Status Evolusi Ignis: 10%... 30%...]
[Peringatan: Evolusi Fase Remaja akan memicu 'Hujan Api Rohani' dalam radius 1 kilometer. Sistem sedang berusaha menekan fenomena alam tersebut.]
"Tahan, tetap sembunyikan!" perintah Lu Chen pada sistem.
Sambil menunggu evolusi Ignis, Lu Chen merasakan tubuhnya sendiri ikut menguat. Meridiannya melebar, dan penglihatannya menjadi begitu tajam sehingga dia bisa melihat aliran energi di dalam tubuh setiap orang di arena tersebut. Dia menyadari bahwa sebagian besar "jenius" di sini memiliki pondasi yang rapuh karena terlalu banyak mengonsumsi pil penguat.
Tiba-tiba, seorang gadis berpakaian pelayan berlari mendekatinya dengan wajah panik. "Lu Chen! Kau harus lari! Han Wei menyogok pengatur jadwal. Lawanmu berikutnya bukan murid sekte luar, tapi dia adalah murid sekte dalam yang sedang menyamar sebagai penguji!"
Lu Chen menoleh. Dia melihat Han Wei yang sedang menyeringai ke arahnya, memberikan isyarat leher tergorok dengan jempolnya. Di samping Han Wei, berdiri seorang pemuda kurus dengan mata yang tajam seperti elang—seorang pembunuh bayaran yang disewa dari sekte dalam.
Lu Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung bahaya laten. "Terima kasih atas peringatannya. Tapi sepertinya, justru dialah yang harus lari."
Di dalam dimensi sistem, kepompong Ignis retak. Sebuah raungan naga yang tak terdengar oleh telinga manusia bergema di dalam jiwa Lu Chen.
"Aku sudah siap, Lu Chen," suara Ignis kini terdengar lebih dalam, penuh dengan wibawa dan haus darah. "Mari kita tunjukkan pada mereka, apa yang terjadi saat semut ini memutuskan untuk menggigit langit."