Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian6
Suasana kamar yang tadinya tenang seketika pecah. Aku tersentak bangun dengan jantung berdebar kencang Suara teriakan itu lagi.
Suara yang sudah menjadi musik latar di rumah ini sejak bertahun-tahun lalu.
Aku melirik jam, masih terlalu sore untuk sebuah kehancuran. Dengan tangan gemetar, aku melangkah keluar kamar dan berdiri di balkon lantai atas, melihat ke bawah.
Di ruang tengah, pemandangan itu tersaji lagi Papa dan Mama berdiri berhadapan seperti dua musuh di medan perang.
"Kamu memang nggak tahu malu!"
teriak Mama, suaranya parau karena tangis. "Kamu pikir aku buta? Aku lihat kamu sama wanita itu, Mas! Kamu tega selingkuh di belakangku!"
"Cukup, Maya! Jaga mulut kamu!"
Papa berteriak balik, wajahnya memerah padam.
"Aku kerja dari subuh sampai malam buat rumah ini! Aku nggak pernah selingkuh. Kamu saja yang selalu cari ribut, pikiranmu itu terlalu negatif, kotor!"
"Negatif kamu bilang?"
Mama tertawa sinis di sela isakannya. "Semua bukti sudah ada, tapi kamu tetap mengelak. Kamu egois!"
"Pikiranmu yang merusak keluarga ini! Kamu yang buat suasana rumah ini jadi neraka!"
Papa maju selangkah, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Lalu, emosi Mama meledak lebih hebat. Ia memukul dada Papa dengan kepalan tangannya yang lemah.
"Seandainya kamu tidak seperti ini, seandainya kamu lebih peduli pada keluarga kita, takkan mungkin putri kita... Hana... menjadi korban sampai seperti itu!"
Mama berteriak histeris.
"Hana hancur karena kita gagal menjaganya!"
Mendengar namaku disebut bersama luka lama itu, kakiku terasa lemas. Aku terdiam di balik pilar tangga, air mata mengalir deras tanpa suara. Kata-kata Mama seperti pisau yang mengiris kembali luka yang belum kering. Masa lalu itu... penjara itu... semuanya seolah berputar lagi di kepalaku.
Plak!
Suara tamparan keras menggema. Aku tersentak. Papa baru saja melayangkan tangannya ke pipi Mama.
"Diam kamu! Kamu nggak tahu apa-apa! Berhenti menyalahkan aku atas apa yang terjadi pada anak itu! Itu karena kamu yang selalu berpikir negatif!" bentak Papa.
Aku tidak tahan lagi. Aku berlari turun dengan sisa kekuatan yang ada.
"PAPA!!!" teriakku sekuat tenaga.
Aku langsung menghambur, memeluk Mama yang sudah terduduk lemas di lantai sambil memegangi pipinya.
"Apa-apaan ini? Papa keterlaluan!"
Papa menatapku dengan napas terengah-engah, matanya masih penuh amarah.
"Kamu juga diam, Hana! Masuk kamar! Ini urusan orang tua!"
Aku mendongak menatap Papa dengan mata yang sembap namun penuh perlawanan. Aku tidak akan lari lagi kali ini.
"Nggak, Pa! Aku nggak mau masuk kamar! Aku udah besar, aku bukan anak kecil yang bisa Papa suruh sembunyi terus!"
Aku berdiri di depan Mama, menjadi tameng untuknya.
"Apa kalian nggak punya rasa malu? Setiap hari bertengkar, setiap hari teriak. Apa kalian nggak pernah sekali saja mikirin perasaan aku? Rumah ini besar, tapi rasanya lebih sempit dari sel penjara karena kelakuan kalian!"
Suasana mendadak hening. Papa terdiam, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, sementara isak tangis Mama semakin menyayat hati. Aku berdiri di sana, gemetar, merasa linglung di tengah reruntuhan keluargaku sendiri.
Aku menatap Papa tepat di matanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak menunduk. Aku membiarkan seluruh kepedihan yang kupendam bertahun-tahun tumpah melalui tatapanku.
"Pa...Ma..," suaraku bergetar, namun aku memaksanya untuk tetap terdengar.
"Kalian terlalu sibuk dengan urusan kalian sendiri. Kalian sibuk saling menyalahkan, sibuk saling menyakiti, sampai kalian lupa kalau kalian punya anak. Aku di sini, tapi aku merasa seperti yatim piatu di rumah sendiri."
Aku menarik napas pendek yang terasa sesak.
"Kalian tega bertengkar hebat begini tanpa peduli ada aku yang mendengar setiap makian kalian. Apa kalian pernah sekali saja bertanya, aku sudah makan atau belum? Apa kalian pernah peduli apa yang terjadi di kampusku, atau sekadar bertanya bagaimana kabarku hari ini? Nggak pernah Pa, Ma. Nggak pernah."
Papa terdiam. Tatapannya yang tadi berapi-api perlahan meredup, berubah menjadi sayu. Ia menatapku seolah ingin bicara namun bibirnya kelu, seakan kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Ia akhirnya membuang muka, tak sanggup melihat air mataku. Sementara Mama mencoba meredam tangisnya, meski isak pelannya masih menusuk telingaku.
"Aku capek," bisikku dengan suara yang pecah.
"Aku benar-benar kecewa sama kalian. Setiap hari aku harus pulang ke rumah yang isinya cuma pertengkaran. Aku harus menghadapi trauma aku sendirian, sementara orang tuaku sendiri adalah sumber trauma yang lain buat aku."
"Aku benci berada di sini," ucapku final.
Tanpa menunggu balasan dari mereka, aku berbalik dan berlari menaiki tangga. Langkahku terasa berat, namun keinginanku untuk menjauh lebih kuat. Begitu sampai di kamar, aku membanting pintu dan menguncinya dari dalam.
Aku menyandarkan punggung di balik pintu, merosot jatuh ke lantai, dan menenggelamkan wajah di antara kedua lututku. Di luar sana, rumah ini mungkin mewah, tapi di dalam kamar ini, aku hanyalah seorang gadis yang hancur berkeping-keping.
"AAAAAAARRRRRGGGGGHHH!!!"
Aku berteriak sekeras-kerasnya, membiarkan suara itu meledak memenuhi sudut-sudut kamar yang pengap. Tanganku menyambar apa saja yang ada di atas meja rias botol parfum, sisir, tumpukan skincare dan membantingnya ke lantai. Suara kaca yang pecah berantakan seolah mewakili hatiku yang juga hancur berkeping-keping.
"Kenapa? Kenapa harus aku?!" isakku sambil memukul-mukul lantai.
Aku hancur. Aku benar-benar capek. Dunia terasa sangat berat, seolah semua beban diletakkan di pundakku tanpa ampun. Di rumah ini aku asing, di luar aku dihantui masa lalu.
Di tengah isak tangis yang menyesakkan dada, ingatanku tiba-tiba terseret mundur ke masa itu. Masa sebelum semuanya menjadi gelap. Di tengah kekacauan ini, aku justru merindukannya.
Sosok yang dulu pernah mengisi seluruh ruang di hatiku. Seseorang yang dulu selalu ada di sampingku menjadi telinga bagi setiap keluh kesahku, dan pelindung bagi setiap ketakutanku.
"Aku kangen kamu..." bisikku lirih di antara pecahan kaca.
Dulu, dia adalah satu-satunya orang yang tahu bagaimana cara membuatku tertawa sesulit apa pun hariku. Dia bukan sekadar pacar, tapi rumah kedua bagiku.
Dialah yang dulu membuatku percaya bahwa dunia tidak sejahat itu, sebelum akhirnya takdir dan orang tuaku sendiri menghancurkan segalanya dengan cara yang paling tragis.
Rasa rindu ini menyesakkan. Aku merindukan caraku bercerita apa saja padanya tanpa takut dihakimi. Aku merindukan kenyamanan yang ia berikan, yang kini terasa begitu jauh dan mustahil untuk kembali.
Aku meringkuk di atas lantai yang dingin, memeluk diriku sendiri, sambil terus memanggil namanya di dalam hati. Di kamar ini, aku kembali menjadi gadis kecil yang kehilangan arah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...