Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSAINGAN YANG TIDAK SEIMBANG
Hafiz menyipitkan mata, mencoba menghalau cahaya matahari yang menusuk masuk ke gudang remang-remang itu.
"Membersihkan gudang, Gus. Biar tidak jadi sarang hama," jawab Hafiz datar.
Farid tertawa sinis. Ia melirik kotak-kotak kayu di pojok gudang.
"Ternyata selera marbot memang tidak jauh-jauh dari kotoran, ya? Memelihara ulat?"
Farid melangkah masuk sedikit, lalu menendang pelan salah satu balok kayu di dekat kaki Hafiz.
"Kamu tahu, Fiz? Saya sudah bicara dengan Kyai. Gudang ini akan diratakan"
Jantung Hafiz mencelos, tapi ia berusaha tetap tenang. Ia tahu Farid sedang memancing emosinya.
Tepat saat itu, Zahra muncul di belakang Farid. Wajahnya terlihat pucat dan penuh kekhawatiran.
"Gus Farid, bukankah kita harus kembali ke teras? Ayah sudah menunggu," sela Zahra cepat.
Farid berbalik, senyumnya berubah drastis menjadi sangat manis, namun terasa palsu di mata Hafiz.
"Ah, Zahra. Maaf, saya hanya ingin memastikan marbot ini tidak bekerja terlalu keras di tempat kotor."
Farid mendekati Zahra, sengaja berdiri sangat dekat hingga Zahra sedikit mundur karena risih.
"Zahra, kamu tahu? Saya sudah memesan marmer terbaik untuk menara masjid. Warna kesukaanmu, biru muda," ucap Farid lembut.
Hafiz mengepalkan tangan di balik punggungnya. Darahnya mendidih melihat Farid memperlakukan Zahra seolah-olah barang milik pribadinya.
"Gus, warna biru itu pilihan jamaah, bukan hanya saya," sahut Zahra pelan, matanya mencuri pandang ke arah Hafiz.
Farid menangkap lirikan itu. Matanya berubah tajam sesaat sebelum kembali tertawa lebar.
"Tentu saja. Apapun untukmu dan masjid ini. Uang bukan masalah bagi keluarga saya."
Farid kembali menatap Hafiz. Ia seolah ingin menunjukkan perbedaan kasta di antara mereka berdua.
"Fiz, mumpung ada Zahra di sini. Bagaimana kalau kamu tunjukkan sedikit bakatmu?"
Farid berjalan ke arah tumpukan kayu, lalu mengambil sebuah mushaf kecil yang tergeletak di sana mushaf pemberian Zahra.
"Saya dengar kamu sedang giat belajar. Mengapa tidak coba baca satu surat untuk kita?"
Hafiz membeku. Ia baru sampai pada tahap mengenal huruf di buku Iqra. Membaca Al-Qur'an secara langsung adalah hal yang belum ia sanggup.
"Gus Farid, sebaiknya jangan. Mas Hafiz baru saja bekerja, dia lelah," Zahra mencoba membela.
"Lelah? Hanya membaca beberapa ayat tidak butuh tenaga, kan?" Farid menyodorkan mushaf itu ke dada Hafiz.
"Ayo, marbot. Bukankah syarat jadi imam itu harus fasih membaca?" Ujar Farid.
Hafiz menatap mushaf itu, lalu menatap Zahra. Ada rasa malu yang luar biasa menghujam dadanya.
Ia, seorang pria yang dulunya bisa menandatangani kontrak triliunan rupiah, kini tak berkutik hanya karena beberapa baris ayat suci.
"Kenapa diam? Atau jangan-jangan... kamu memang belum bisa baca sama sekali?" tanya Farid, suaranya dikeraskan agar terdengar warga.
Tawa kecil pecah di antara kerumunan. Hafiz merasa dunia seolah sedang menertawakan kehancurannya.
"Saya masih belajar, Gus," jawab Hafiz dengan suara parau.
Farid mendengus sinis, ia merebut kembali mushaf itu dengan kasar.
Farid kemudian membuka mushaf itu secara acak. Ia mulai melantunkan ayat-ayat Surat Ar-Rahman dengan suara yang sangat merdu dan fasih.
Farid sengaja memanjangkan nada-nadanya, seolah ingin menunjukkan bahwa dialah penguasa di sini.
Zahra menundukkan kepala, ia merasa sedih sekaligus marah melihat Hafiz dipermalukan seperti itu.
Setelah selesai, Farid menutup mushaf dengan gaya teatrikal. Ia menatap Hafiz dengan pandangan penuh kemenangan.
"Itu namanya membaca, Fiz. Bukan sekadar memegang sapu lidi," ejek Farid.
Farid berjalan keluar.
Zahra sempat menoleh ke belakang. Matanya berkaca-kaca, menatap Hafiz dengan pandangan minta maaf.
Hafiz hanya bisa berdiri mematung.
"Brengsek!" umpat Hafiz pelan sambil memukul balok kayu di sampingnya.
Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa hina di hatinya.
Tantangan Farid bukan sekadar soal bacaan, tapi soal kelayakan. Dan Hafiz sadar, di mata dunia, ia memang tidak layak.
Ia menatap kotak ulatnya. Ulat-ulat itu menggeliat di dalam tanah, bekerja dalam diam, tidak peduli seberapa hina tempatnya.
"Aku akan membuktikannya," desis Hafiz.
Sore itu, Hafiz tidak beristirahat. Ia terus bekerja sampai seluruh badannya mati rasa.
Ia harus menyelesaikan sistem budidayanya secepat mungkin sebelum Farid benar-benar meratakan gudang ini.
Ketika matahari benar-benar tenggelam, Hafiz berjalan gontai menuju sumur masjid untuk membersihkan diri.
Ia merasa sangat kesepian. Di desa ini, ia adalah orang asing yang dicap sampah.
Setelah membersihkan diri, Hafiz duduk di teras masjid yang sepi. Angin malam mulai menusuk kulitnya yang hanya tertutup kaos tipis.
Ia mengambil buku Iqra-nya. Dengan bantuan lampu teras yang remang, ia mulai mengeja kembali huruf-huruf itu.
"Alif... Ba... Ta..." suaranya gemetar.
Setiap huruf yang ia ucapkan terasa seperti duri yang menyangkut di tenggorokannya. Mengapa hal sesederhana ini terasa begitu sulit?
Tapi, sebuah bayangan muncul di lantai teras masjid.
Zahra berdiri di sana, membawa bungkusan berisi makanan dan segelas kopi. Wajahnya terlihat sangat sedih.
"Mas Hafiz..." panggil Zahra lirih.
Hafiz buru-buru menutup buku Iqra-nya dan menyembunyikannya di balik punggung. Ia tidak ingin Zahra melihat kelemahannya lagi.
"Zahra? Belum tidur? Gus Farid mungkin akan marah kalau melihatmu di sini," kata Hafiz, mencoba terdengar ketus meski hatinya bergetar.
Zahra tidak peduli. Ia duduk di lantai teras, sekitar satu meter dari Hafiz.
"Biarkan saja dia marah. Saya tidak suka caranya memperlakukan Mas tadi sore," ucap Zahra dengan nada tegas yang jarang ia tunjukkan.
Hafiz hanya terdiam. Ia menatap lurus ke arah kegelapan pelataran masjid.
"Mas, jangan menyerah. Saya tahu Mas orang hebat," lanjut Zahra sambil menyodorkan bungkusan makanan.
Hafiz menoleh perlahan. Ia melihat ketulusan di mata Zahra, sesuatu yang tidak ia temukan pada siapapun sejak ia keluar dari penjara.
"Kenapa kamu peduli, Zahra? Kamu dengar sendiri, kan? Saya bahkan tidak bisa baca Al-Qur'an."
Zahra tersenyum kecil, sebuah senyuman yang terasa seperti obat bagi luka Hafiz.
"Dulu Mas bisa mengelola perusahaan besar tanpa tahu cara bertani, kan? Belajar agama juga sama. Yang penting hatinya, bukan seberapa cepat Mas hafal."
Hafiz merasakan dadanya sedikit melonggar. Kata-kata Zahra seperti siraman air dingin di tengah padang pasir.
"Gus Farid bilang... kalian akan membahas soal lamaran?" tanya Hafiz, suaranya sangat pelan, hampir tertelan angin malam.
Zahra terdiam sesaat. Ia menunduk, memainkan ujung kerudungnya.
"Itu keinginan dia, Mas. Bukan keinginan saya. Tapi Ayah... Ayah merasa berhutang budi karena bantuan renovasi itu."
Hafiz mengepalkan tangan di atas lututnya. Kekuatan uang Farid benar-benar mencekik leher Kyai Abdullah.
"Saya harus segera menghasilkan uang," gumam Hafiz penuh tekad.
Zahra menatap Hafiz dengan bingung. "Maksud Mas? Ulat-ulat itu?"
Hafiz mengangguk mantap. "Kalau saya bisa melunasi biaya renovasi masjid ini sebelum Farid, Kyai tidak akan punya alasan untuk merasa berhutang, kan?"
Zahra terbelalak. Ide itu terdengar gila, namun sangat masuk akal bagi seorang mantan CEO.
"Tapi Mas, dana renovasi itu ratusan juta. Bagaimana mungkin dari ulat-ulat ini...?