Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Malam di Lembah Kehidupan terasa mencekam. Di bawah naungan pohon-pohon purba, dua dunia yang terpisah ribuan tahun kini bersinggungan. Namun, alih-alih kehangatan, atmosfer di sekitar api unggun itu terasa sedingin es, bersumber dari pemuda yang duduk diam di atas bongkahan batu besar.
...
Sementara itu, Jauh dari kesunyian hutan ini, di pusat kota metropolitan Shanghai, Keluarga Lin adalah nama yang setara dengan kekuasaan mutlak. Sebagai pemilik Lin-Corp International, mereka menguasai rantai pasokan farmasi global dan teknologi mineral bawah laut. Namun, raksasa itu kini sedang sekarat. Lin Jianhua, sang patriark sekaligus kakek Lin Qingyan, terbaring koma akibat racun saraf 'Viper-X' yang disuntikkan oleh musuhnya.
Di koridor-koridor pencakar langit, Keluarga Zhao, rival bebuyutan mereka sudah menyiapkan rencana pengambilalihan paksa. Menurut mereka, Lin Qingyan yang memimpin ekspedisi ke Shennongjia adalah keputusan yang bodoh, bahkan kelompoknya sudah dianggap sudah mati atau gila oleh mereka.
Bagaimanapun juga, Shennongjia adalah tempat paling misterius dan berbahaya di daratan Tiongkok.
Namun yang tidak Mereka ketahui adalah bahwa di tengah hutan ini, gadis itu dan rombongannya sedang berhadapan dengan satu-satunya harapan yang tersisa, yang mungkin akan mampu membuat kakeknya terbebas dari cekikan Racun Viper-X. Seorang pemuda yang bangga dan memandang manusia modern dengan tatapan meremehkan.
Lin Qingyan mencoba mendekat ke arah batu tempat Xue Xiao duduk. Ia telah terbiasa dikelilingi oleh pria yang memuja kecantikannya atau gemetar di bawah otoritasnya sebagai pewaris tunggal Keluarga Lin. Namun, berbeda dengan pria ini.
Saat mata mereka bertemu, Lin Qingyan merasakan sensasi tajam yang menusuk, tatapan itu penuh dengan ketidakpedulian, Tidak ada gairah, tidak ada kekaguman, yang ada hanyalah kedinginan yang absolut. Xue Xiao menatapnya seolah-olah ia hanyalah sebatang pohon atau batu yang kebetulan berada di depannya.
"Ini obatnya," ucap Xue Xiao singkat, lalu melempar sebuah botol kulit kayu ke arah Qingyan tanpa sedikit pun mengubah posisi duduknya. "Berikan satu butir setiap tiga jam. Jika dia masih memiliki nafas, dia akan hidup."
"Terima kasih, Tuan Master," jawab Qingyan penuh syukur, sambil mencoba mempertahankan martabatnya. "Keluarga Lin akan memberikan apa pun yang Anda minta sebagai imbalannya. Kekayaan, kedudukan, atau apapun yang bisa keluarga Lin dapatkan pasti kami akan memenuhi keinginan Tuan."
"Aku tidak butuh janji manis dari seorang wanita," potong Xue Xiao tajam. Suaranya datar namun mengisyaratkan untuk tidak perlu banyak berbicara manis, dan sebaiknya membuktikannya dengan tindakan nyata.
Qingyan tertegun. Ia merasa seperti baru saja ditampar secara verbal. Selama dua puluh tahun ia hidup, belum pernah ada pria yang berbicara dengan kata-kata sinis seperti itu padanya. Alih-alih marah, ia justru merasa penasaran, rasa ketertarikan yang besar mulai tumbuh di hatinya. Siapa dia sebenarnya? Mengapa sikapnya begitu dingin, dan juga mengapa ada luka yang begitu dalam di balik mata itu? Semakin Xue Xiao mendorongnya menjauh, semakin Qingyan merasa ingin tahu apa yang tersembunyi di balik benteng es tersebut.
Di balik bayangan pohon, Kapten Arga menyaksikan interaksi itu dengan tangan yang mengepal hingga kukunya memutih. Sebagai pengawal pribadi yang telah mencintai Qingyan dalam diam selama sepuluh tahun, Arga merasakan ancaman yang nyata.
Ia benci melihat Qingyan yang biasanya angkuh kini tampak memohon perhatian dari seorang pemuda liar. Baginya, Xue Xiao adalah saingan cinta yang harus disingkirkan.
"Kapten, lihat cara Nona menatapnya," bisik Rio, salah satu anak buahnya. "Dia tidak pernah melihat kita seperti itu."
"Diam!" geram Arga. "Dia hanya orang liar yang beruntung dengan sedikit pengetahuan medis. Begitu kita sampai di kota, dia akan menyadari bahwa kekuatannya tidak ada artinya di depan senjata api dan uang. Aku akan memastikan dia tahu tempatnya."
Arga tidak tahu bahwa kecemburuannya adalah api kecil yang mencoba membakar gunung es yang tak tergoyahkan.
Untuk menguji klaim Xue Xiao tentang pil yang ia berikan, Qingyan memberikan sebagian kecil pil tersebut pada salah satu prajurit yang masih lemas akibat racun kabut. Dalam hitungan detik, mata prajurit itu terbelalak karena terkejut, lalu dengan sedikit lompatan ia berdiri tegak, wajahnya yang pucat kini kembali merona seketika. Kekuatan fisik prajurit itu seolah berlipat ganda.
Keajaiban medis ini membuat para personel Garda Bayangan ketakutan sekaligus takjub. Doni, sang teknisi, memberanikan diri menunjukkan sebuah tablet militer kepada Xue Xiao, mencoba membangun hubungan baik dan memecah kebekuan. Ia memperlihatkan gambar kota Shanghai yang megah dengan lampu-lampu neon yang menari.
Xue Xiao melirik sekilas ke layar itu. "Kota yang berisik," komentarnya dingin, sebelum berdiri dan berjalan menuju gubuknya tanpa menoleh lagi.
Sikap dingin Xue Xiao membuat Doni yang mencoba membangun hubungan baik terpaku ditempatnya dengan canggung, "Eh, apakah aku menunjukkan sesuatu yang salah?"
Berbeda dengan kecanggungan Doni, Sikap dingin Xue Xiao justru membuat Lin Qingyan semakin penasaran. Ia adalah wanita yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, namun pria ini, dia tampak seperti puncak gunung es yang tak tersentuh oleh pesona maupun kekuasaan.
Keesokan paginya, saat fajar menyingsing, Xue Xiao keluar dengan tas kulit pohon di bahunya. Ia menghampiri Yin-Yin, si Rusa Bertanduk Perak. Tanpa kata-kata, ia mengelus dahi rusa itu, sebuah perpisahan bisu antara dua sahabat yang telah bertahun-tahun hidup bersama sebagai penghuni hutan.
Rombongan itu mulai bergerak keluar. Xue Xiao berjalan di depan, bergerak dengan langkah yang sangat ringan seolah ia melayang di atas dedaunan kering. Saat mereka mencapai perbatasan hutan, sebuah helikopter hitam dengan lambang Keluarga Lin mendarat dengan suara gemuruh baling-baling yang memekakkan telinga.
Xue Xiao berdiri diam, membiarkan angin kencang menerpa rambut panjangnya. Matanya menatap monster logam raksasa itu dengan ketidaksukaan yang jelas. "Di Alam Abadi, bahkan kapal terbang yang jauh lebih besar dari benda ini tidak se berisik benda ini," gumamnya dengan tidak puas.
"Naiklah, Master Xue," ajak Lin Qingyan dengan senyum lembut, berharap bisa mencairkan suasana.
Xue Xiao hanya meliriknya dengan mata dingin yang membuat senyum Qingyan membeku. Tanpa bantuan tangga, Xue Xiao melompat masuk ke kabin helikopter dengan satu gerakan lincah, duduk di sudut paling gelap, dan memejamkan mata, mengabaikan semua orang di sekitarnya.
Setelah semua orang memasuki kabin, Helikopter itu pun lepas landas, membawa sang Alkemis Abadi menuju dunia modern yang penuh dengan tipu daya, sementara Lin Qingyan duduk di seberangnya, tak mampu mengalihkan pandangan dari sosok misterius yang baru saja menariknya ke dalam misteri yang tak berujung.