Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.
Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengedong bayi
Suara tangis bayi yang baru saja pecah tiba-tiba tertutup oleh suara ledakan kecil di panel listrik lorong. Lampu rumah sakit berkedip lalu padam total. Dalam kegelapan itu, hanya lampu darurat berwarna merah yang menyala, memberikan suasana mencekam seperti di neraka.
Marvel langsung berdiri. Insting membunuhnya yang sempat tumpul karena rasa haru kembali tajam dalam sekejap. Ia mendengar langkah kaki taktis yang mendekat—bukan langkah perawat, melainkan langkah sepatu bot militer yang berat.
"Mereka belum menyerah," desis Marvel.
Seorang pembunuh bayaran berpakaian perawat muncul dari balik sudut lorong, menghujani pintu ruang operasi dengan tembakan peredam suara. Marvel menerjang, menjatuhkan pria itu ke lantai sebelum peluru mengenai sasaran. Tanpa ampun, Marvel mematahkan lehernya dengan satu gerakan efisien.
Di ujung koridor, tiga orang pria bersenjata otomatis muncul. Marvel yang kini tak bersenjata api harus menggunakan keadaan sekitar. Ia menyambar tabung pemadam api dari dinding, melemparkannya ke arah mereka, dan menembaknya dengan pistol yang ia rebut dari pembunuh pertama. BUM! Asap putih memenuhi lorong, membutakan lawan.
Marvel bergerak dalam kabut itu seperti hantu. Satu per satu, musuh-musuhnya tumbang dalam kesunyian yang brutal. Ia tidak lagi bertarung untuk organisasi; ia bertarung untuk menjaga pintu ruang operasi itu tetap tertutup bagi maut.
Saat musuh terakhir tersungkur, Marvel berdiri bersandar di pintu, napasnya tersengal. Tepat saat itu, lampu kembali menyala. Pintu geser terbuka, dan seorang suster keluar dengan wajah pucat melihat kekacauan di lorong, namun ia tetap menjalankan tugasnya.
"Tuan Marvel? Selamat... bayi Anda laki-laki. Ibu dan bayi dalam kondisi stabil," ucap suster itu gemetar.
Marvel terdiam. Di belakangnya, mayat-mayat bergelimpangan, namun di hadapannya, seorang malaikat kecil baru saja lahir. Ia menjatuhkan senjatanya ke lantai dengan bunyi berdenting yang nyaring—tanda bahwa ia selesai dengan dunia itu.
Marvel melangkah masuk ke dalam ruangan yang tenang, meninggalkan bau mesiu dan darah di koridor luar. Suster memberikan bungkusan kain biru yang hangat ke dalam pelukannya.
Saat tangan Marvel yang penuh bekas luka dan kapalan itu menyentuh kulit bayi yang begitu lembut, seluruh dunia seolah berhenti berputar. Bayi laki-laki itu berhenti menangis, jemari kecilnya menggenggam jari kelingking Marvel yang kuat.
"Dia memiliki matamu, Marvel," bisik Elara dari tempat tidur, suaranya lemah namun penuh kebahagiaan.
Marvel terdiam, tenggorokannya tercekat oleh emosi yang tak mampu ia lukiskan dengan kata-kata. Air mata—yang tak pernah jatuh bahkan saat ia disiksa musuh—kini mengalir di pipinya. Pria yang selama ini hanya tahu cara mencabut nyawa, kini akhirnya mengerti betapa berharganya menjaga satu nyawa.
"Namamu rexil Dewangsa," bisik Marvel lembut ke telinga putranya. "Dan aku bersumpah, tangan ini tidak akan pernah lagi menyakiti orang lain, kecuali untuk melindungimu."
Di bawah pengawasan ketat Sistem Keamanan Rumah Sakit, Marvel mendekap harta paling berharganya, menyadari bahwa perjalanan paling berdarah dalam hidupnya telah berakhir pada sebuah awal yang baru.
Pensiun dari dunia mafia bukanlah perkara mudah; sering kali dikatakan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah melalui "pintu kematian" atau penjara. Namun, demi Elara dan bayi rexil, Marvel mulai merencanakan strategi pelarian yang sangat rahasia dan berisiko tinggi.
dipertimbangkan Marco untuk benar-benar lepas dari organisasi:
"Mati" Secara Formal
Memalsukan Kematian: Marvel merencanakan sebuah skenario ledakan atau kecelakaan mobil yang membuat tubuhnya dianggap tidak dapat ditemukan. Dalam dunia kriminal, hilangnya jasad dalam insiden besar sering kali menjadi cara efektif untuk menghentikan pengejaran organisasi.
Identitas Baru: Melalui koneksi bawah tanah, Marvel menyiapkan paspor dan dokumen identitas baru untuk dirinya, Elara, dan rexil. Mereka tidak akan lagi dikenal sebagai keluarga mafia, melainkan keluarga kecil biasa yang pindah ke negara terpencil.
Membersihkan Jejak Keuangan
Pencucian Uang Terakhir: Marvel mulai mengalihkan aset-asetnya ke dalam bentuk yang sulit dilacak, seperti kripto atau emas, agar bisa membiayai hidup mereka di pengasingan tanpa terdeteksi oleh radar intelijen kartel.
Meninggalkan Takhta: Ia harus memilih penerus yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas organisasi namun cukup "berutang budi" padanya agar tidak memburunya setelah ia pergi.
Opsi Menjadi Informan (Jalan Terakhir)
Program Perlindungan Saksi: Jika pengejaran terlalu ketat, Marvel mempertimbangkan untuk menyerahkan data penting organisasi kepada pihak berwenang sebagai imbalan atas perlindungan penuh bagi anak dan istrinya, sebuah taktik yang pernah dilakukan oleh mantan bos mafia nyata seperti Michael Franzese atau Tommaso Buscetta.
Risiko yang Menghantui
Balas Dendam: Musuh-musuh lama mungkin tidak akan pernah berhenti mencari, bahkan jika Marco sudah pensiun.
Kode Etik Omerta: Melanggar sumpah setia kepada organisasi sering kali diganjar dengan hukuman mati bagi anggota dan keluarganya.
Marvel tahu bahwa "pensiun" baginya berarti hidup dalam kewaspadaan selamanya. Ia harus terus menatap ke belakang bahunya, memastikan bahwa bayang-bayang masa lalunya tidak pernah menyentuh masa depan rexil.