NovelToon NovelToon
Lima Sekawan Ginza

Lima Sekawan Ginza

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulan Separuh

"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."

Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.

Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25. Gelombang Perlawanan di Kasumigaseki

Matahari pagi di distrik Kasumigaseki terasa sangat menyengat dan juga membakar kulit. Hana Tanaka menarik pinggiran topi hitamnya lebih rendah untuk menutupi sebagian wajahnya yang lelah.

Dia berdiri di pojok persimpangan jalan besar yang sudah dipenuhi oleh ribuan orang mahasiswa. Udara di sekitar gedung-gedung pemerintahan itu terasa sangat panas dan juga sangat menyesakkan dada.

Suara knalpot kendaraan dan juga sirine polisi bergabung menjadi satu kebisingan yang sangat memekakkan telinga. Hana bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya meskipun cuaca hari ini sangat terik sekali. Dia menggenggam erat tali tas ranselnya yang berisi cakram keras paling berharga di dalam hidupnya.

Kaito Fujiwara berdiri tepat di samping Hana dengan mengenakan jaket hoodie berwarna abu-abu yang sangat longgar. Dia terus memperhatikan sekeliling dengan tatapan mata yang sangat tajam dan juga sangat penuh kewaspadaan.

Kaito tahu bahwa agen keamanan yayasan pasti sudah menyebar di antara kerumunan massa yang sangat padat ini. Dia melihat beberapa pria berjas hitam berdiri kaku di depan gerbang utama gedung kejaksaan agung pusat. Para pria itu memegang foto wajah mereka berlima dan juga terus berkomunikasi menggunakan alat penyuara telinga.

Kaito menyentuh lengan Hana dengan sangat pelan untuk memberikan tanda agar mereka segera bergerak maju. Mereka harus segera masuk ke dalam barisan demonstran agar tidak terlihat mencolok oleh pihak musuh.

"Kita harus tetap berada di tengah kerumunan agar mereka sulit menangkap kita," ujar Kaito dengan suara rendah.

Hana mengangguk pelan dan dia mulai melangkah masuk ke dalam lautan manusia yang sedang berteriak lantang. Suara yel-yel tuntutan keadilan terdengar menggema di antara gedung-gedung pencakar langit yang sangat tinggi itu.

Poster-poster bertuliskan "Hentikan Gacha Kehidupan" dan juga "Pendidikan Milik Semua Orang" terlihat diangkat sangat tinggi. Hana merasa jantungnya bergetar hebat saat melihat begitu banyak orang yang peduli pada nasib remaja seperti dirinya.

Dia merasa tidak lagi menjadi seorang gadis miskin yang tidak berdaya di hadapan sistem yang sangat kejam. Perasaan bangga dan juga perasaan haru mulai menyelimuti seluruh sudut hati Hana Tanaka saat itu juga. Dia menyadari bahwa perjuangannya selama ini telah memicu sebuah gelombang perubahan yang sangat luar biasa besar.

Yuki Nakamura dan juga Akane Sato berjalan di sisi kiri Hana dengan membawa sebuah spanduk kain putih besar. Spanduk itu bertuliskan tuntutan untuk membubarkan dewan yayasan sekolah elit yang selama ini bertindak semena-mena.

Yuki mengenakan kacamata hitam besar dan juga masker medis untuk menutupi identitas aslinya dari kamera pengawas jalanan. Akane terus memantau pergerakan media sosial melalui ponsel pintarnya untuk mengetahui posisi terbaru tim keamanan yayasan.

Dia melaporkan bahwa pihak kepolisian mulai memperketat penjagaan di seluruh pintu masuk gedung kejaksaan agung tersebut. Narasi di internet sekarang sudah berpihak sepenuhnya kepada mereka berlima setelah Yuki mengunggah bukti awal tadi malam.

Ren Ishida berjalan di barisan paling depan dengan membawa sebuah botol air mineral berukuran besar untuk teman-temannya. Dia menggunakan tubuhnya yang atletis untuk membuka jalan bagi Hana dan juga bagi Kaito di tengah kerumunan.

Ren terus memberikan semangat kepada teman-temannya agar mereka tidak menyerah saat menghadapi rintangan terakhir ini. Dia sempat bercanda kecil mengenai cuaca yang sangat panas hanya untuk mencairkan ketegangan yang sangat luar biasa. Tawa kecil Akane terdengar sangat renyah dan juga memberikan sedikit rasa nyaman bagi jiwa mereka yang lelah.

Mereka berlima adalah satu kesatuan yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh ancaman kekerasan apa pun. Persahabatan mereka telah menjadi kekuatan utama dalam menghadapi badai ketidakadilan yang sedang menerjang mereka sekarang.

Hana melihat beberapa reporter televisi mulai mendekati barisan depan demonstran untuk melakukan siaran langsung berita pagi. Dia segera menundukkan kepalanya lebih dalam lagi agar wajahnya tidak tertangkap oleh lensa kamera yang sangat tajam.

Mereka harus sampai di depan pintu gerbang kejaksaan sebelum pihak kepolisian membubarkan paksa aksi protes mahasiswa ini. Hana merasa kakinya mulai terasa sangat pegal karena terus berjalan di atas aspal yang sangat keras dan panas. Namun bayangan wajah ibunya yang sedang sakit di rumah sakit memberikan energi tambahan bagi tubuhnya yang lemas.

Dia ingin memberikan sebuah kado terindah bagi ibunya berupa kemenangan atas kejujuran yang selama ini mereka pegang. Langkah kaki Hana menjadi jauh lebih mantap saat dia teringat pada semua pengorbanan yang sudah dilakukan ibunya.

Langkah mereka tiba-tiba terhenti karena ada barikade polisi yang sangat panjang dan juga sangat rapat di depan. Para petugas kepolisian mengenakan seragam anti huru-hara yang sangat lengkap dengan tameng plastik transparan yang besar.

Mereka berdiri sangat kokoh untuk menghalangi para demonstran yang ingin mendekati pintu masuk gedung kejaksaan agung pusat. Suara teriakan massa menjadi semakin riuh dan juga menjadi semakin emosional saat melihat barikade tersebut dipasang.

Hana merasakan tekanan udara di sekitarnya menjadi sangat berat karena ribuan orang saling berdesakan dengan sangat kuat. Dia sempat terdorong ke arah samping namun Kaito segera menangkap tubuhnya dengan sangat sigap dan juga kuat.

Kaito melihat ada sebuah celah kecil di sisi kanan gedung yang dijaga oleh hanya dua orang petugas polisi saja. Dia memberikan isyarat kepada Yuki dan juga kepada Ren untuk bergerak perlahan menuju ke arah celah sempit itu.

Mereka harus melakukan gerakan yang sangat alami agar tidak memancing kecurigaan dari para petugas keamanan yang berjaga. Hana merapatkan tas ranselnya ke arah dada agar cakram keras itu tetap aman dari benturan fisik yang keras. Dia merasa ketakutan yang sangat luar biasa kembali muncul saat melihat wajah-wajah petugas polisi yang sangat galak.

Namun, Kaito terus memegang tangannya dengan sangat erat untuk memberikan rasa percaya diri yang sangat besar. Mereka berlima terus menyelinap di antara celah-celah kecil tubuh para demonstran yang sedang sibuk berteriak keras.

Tiba-tiba ada seorang pria berjas hitam yang menyadari kehadiran mereka dari arah belakang barisan mahasiswa yang padat. Pria itu segera menunjuk ke arah Hana dan juga mulai berteriak menggunakan alat pengeras suara berukuran kecil.

Hana merasa dunianya seolah berhenti berputar sesaat saat mendengar teriakan pria suruhan yayasan sekolah tersebut. Beberapa petugas keamanan mulai bergerak memecah kerumunan massa untuk mengejar posisi Hana dan juga kawan-kawannya saat itu. Ren Ishida segera berdiri menghalangi jalan para pengejar itu dengan merentangkan kedua tangannya yang sangat lebar dan kuat.

Dia berteriak menyuruh Hana untuk segera lari menuju pintu gerbang gedung kejaksaan agung pusat secepat mungkin. Hana tidak memiliki pilihan lain selain berlari sekencang mungkin dengan sisa tenaga yang dia miliki.

Hana berlari melewati celah barikade polisi dengan sangat cepat hingga topinya terjatuh ke atas aspal yang kotor. Kaito Fujiwara terus mendampinginya di sisi kanan sambil menghalau beberapa orang yang mencoba menarik tas ransel milik Hana.

Napas Hana terasa sangat pendek dan juga terasa sangat panas di dalam kerongkongannya yang mulai mengering total. Dia bisa melihat pintu gerbang besar gedung kejaksaan agung hanya berjarak sepuluh meter lagi di depannya sekarang. Cahaya matahari memantul pada permukaan kaca gedung yang sangat megah dan juga terlihat sangat dingin itu.

Hana terus memacu kakinya meskipun dia merasa jantungnya sudah tidak sanggup lagi untuk berdetak lebih cepat. Harapan untuk mendapatkan sebuah keadilan yang murni terasa sudah sangat dekat di depan mata kepalanya sendiri.

Dua orang petugas polisi mencoba menghentikan langkah Hana tepat di depan pintu gerbang besi yang sangat tinggi. Kaito segera berteriak bahwa mereka ingin bertemu dengan Jaksa Hiroshi Tanaka untuk menyerahkan bukti skandal besar.

Nama jaksa tersebut ternyata memberikan efek yang sangat mengejutkan bagi para petugas kepolisian yang sedang berjaga itu. Mereka berdua sempat ragu untuk melakukan penangkapan terhadap dua orang remaja yang terlihat sangat sungguh-sungguh ini. Kaito menunjukkan sebuah kartu identitas keluarga Fujiwara yang selama ini dia simpan dengan perasaan yang sangat benci.

Kartu identitas itu ternyata masih memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuka akses di gedung pemerintahan ini. Petugas polisi itu akhirnya mengizinkan Hana dan juga Kaito untuk masuk melalui pintu samping yang kecil.

Yuki dan juga Akane masih berada di luar barikade untuk membantu Ren Ishida menahan gerombolan pria berjas hitam. Hana menoleh ke belakang sejenak dan dia melihat teman-temannya sedang berjuang dengan sangat gagah berani sekali.

Dia merasa sangat sedih karena harus meninggalkan mereka di tengah kekacauan massa demonstran yang semakin tidak terkendali. Namun dia tahu bahwa tugas utamanya sekarang adalah mengantarkan bukti fisik itu ke tangan orang yang tepat. Kaito mendorong Hana untuk terus masuk ke dalam lobi gedung yang terasa sangat dingin karena pendingin ruangan.

Suasana di dalam gedung kejaksaan agung pusat terasa sangat sunyi dan juga terasa sangat sangat berbeda. Mereka berdua berjalan menyusuri koridor marmer yang sangat luas dengan langkah kaki yang masih gemetar hebat.

Seorang pria paruh baya dengan pakaian formal yang sangat rapi berdiri di ujung koridor lobi gedung tersebut. Pria itu memiliki tatapan mata yang sangat tenang dan juga memiliki aura wibawa yang sangat luar biasa kuat. Kaito segera mengenali pria itu sebagai Jaksa Hiroshi Tanaka yang merupakan musuh bebuyutan dari ayahnya sendiri.

Jaksa Hiroshi melihat ke arah Hana dengan tatapan yang penuh dengan rasa ingin tahu dan juga penuh simpati. Hana segera melepaskan tas ranselnya dan juga mengambil cakram keras itu dengan tangan yang masih sangat bergetar.

Dia mendekati sang jaksa dengan perasaan yang sangat campur aduk antara rasa takut dan juga rasa lega. Air mata Hana mulai jatuh membasahi pipinya saat dia menyodorkan cakram keras itu ke arah Jaksa Hiroshi.

"Kami membawa bukti manipulasi nilai dan juga bukti korupsi yayasan sekolah elit," ujar Hana dengan suara parau.

Jaksa Hiroshi menerima cakram keras itu dengan gerakan yang sangat lembut dan juga sangat penuh rasa hormat. Dia menatap wajah Hana yang kusam dan juga penuh dengan keringat akibat pelarian panjang yang sangat melelahkan.

Sang jaksa mengatakan bahwa dia sudah menunggu kedatangan mereka sejak berita tentang skandal ini meledak di internet. Dia berjanji akan melindungi Hana dan juga semua teman-temannya dari ancaman kekuasaan keluarga Fujiwara yang jahat. Hana merasa seluruh beban berat di pundaknya seolah menguap begitu saja ke udara yang dingin di ruangan itu.

Dia langsung terduduk di atas lantai marmer yang sangat keras karena kakinya sudah tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Kaito segera berlutut di samping Hana dan juga memeluk bahu gadis itu dengan penuh rasa sayang.

Di luar gedung, suara riuh demonstran masih terdengar sangat keras meskipun dinding gedung ini sangat tebal sekali. Hana tahu bahwa perjuangannya belum berakhir sepenuhnya karena proses hukum masih akan berjalan sangat panjang nanti.

Namun, dia merasa telah memenangkan pertempuran paling penting di dalam hidupnya sebagai seorang remaja biasa. Dia telah membuktikan bahwa sistem gacha kehidupan bisa dikalahkan oleh keberanian dan juga oleh sebuah kejujuran.

Kejujuran ternyata jauh lebih kuat daripada uang dan juga jauh lebih kuat daripada kekuasaan politik yang besar. Hana memejamkan matanya sejenak sambil membayangkan wajah ibunya yang akan sangat bangga melihat keberanian dirinya hari ini. Senyum tipis mulai muncul kembali di bibir Hana Tanaka di tengah rasa lelah yang sangat luar biasa mendalam.

Kaito Fujiwara menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Tokyo dari ketinggian gedung tersebut. Dia melihat ayahnya sedang melakukan konferensi pers di layar televisi besar yang ada di pojok lobi gedung.

Ayahnya terlihat sangat marah dan juga terus mencoba untuk membantah semua tuduhan yang diarahkan kepada yayasan. Kaito merasa sudah tidak memiliki keterikatan batin lagi dengan pria yang telah menghancurkan banyak masa depan siswa.

Dia merasa sangat bebas sekarang karena dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri yang jauh lebih bermartabat. Kaito ingin membuktikan bahwa nama Fujiwara bisa digunakan untuk hal-hal baik yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Dia menatap Hana dengan penuh rasa bangga karena gadis inilah yang telah merubah seluruh pandangan hidupnya.

Jaksa Hiroshi segera memanggil beberapa asistennya untuk mengamankan bukti fisik tersebut di dalam brankas yang sangat aman. Dia juga memerintahkan beberapa petugas keamanan gedung untuk membawa teman-teman Hana masuk ke dalam gedung ini.

Tidak lama kemudian, Ren, Yuki, dan juga Akane muncul di koridor lobi dengan pakaian yang sudah sangat berantakan. Mereka terlihat sangat lelah namun mereka langsung tersenyum lebar saat melihat Hana dan juga Kaito selamat. Mereka berlima berpelukan di tengah lobi gedung kejaksaan agung pusat dengan penuh rasa haru yang mendalam.

Kebersamaan mereka adalah bukti nyata bahwa persahabatan sejati bisa melewati rintangan yang paling sulit sekalipun. Mereka telah menuliskan sejarah baru bagi sistem pendidikan di negara mereka yang selama ini sangat kaku.

Malam mulai turun menyelimuti kota Tokyo yang penuh dengan lampu-lampu neon yang berwarna-warni sangat indah sekali. Hana dan teman-temannya diberikan sebuah ruangan khusus di dalam gedung kejaksaan untuk beristirahat dengan sangat aman.

Mereka makan malam bersama dengan menu sederhana yang disediakan oleh pihak kantin gedung kejaksaan agung tersebut. Hana merasa makanan itu adalah makanan paling enak yang pernah dia rasakan di dalam seluruh hidupnya. Dia tidak lagi merasa dikejar-kejar oleh bayang-bayang ketakutan yang selama ini menghantui setiap langkah kakinya.

Hari esok mungkin akan membawa tantangan baru yang jauh lebih besar dan juga jauh lebih rumit lagi. Namun, Hana Tanaka sudah tidak takut lagi karena dia tahu bahwa kebenaran selalu berada di pihak mereka berlima.

1
Filan
sudahlah Hana. Persahabatan tidak bisa dimulai dengan kebohongan. Lagipula pura-pura kaya itu sulit dibanding orang kaya pura-pura miskin.
Three Flowers
aduh kasihan... gak kebayang gimana malunya saat perut berbunyi. Terima saja Hana, lagian juga sudah ketahuan kalo kamu lapar🤣
Three Flowers
Karena di sekolah elit, kemiskinan adalah hal yang sensitif. Kalau ketahuan bisa dibully, ya..
Filan
ga dapat mbg dia?
Filan
duh kasihan. Tokyo kota mahal /Grimace/
PrettyDuck
iya sihh. takutnya nanti mereka dicap radikal.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
PrettyDuck
tapi akane ini peduli loh sama keadaan negaranya
PrettyDuck
yaiyalahh. mereka gak terdesak.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
Mentariz
Ya ampun mirisnya 🥲
Mentariz
Bagus, gak usah gengsi, isi perut itu nomor satu 👍
Mentariz
Udah terima aja rotinya, han, lumayan loh
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
perut memang tidak bisa diajak kompromi. dia terlalu jujur, karena memang dia butuh asupan
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
tengah hari, lagi puasa. tentu lapar lah 🤭
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
Kayak kondisi dimana yaaa/Doge/
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
-Thiea-
Akane gak mungkin ngejauhin Hana kan.. secara dia vokal banget sama urusan politik. dia kan juga pengen bantu orang-orang susah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak..
-Thiea-
beruntung Hana punya teman kayak akane.. dia sangat perhatian .🥹
Miu Nuha.
dimana2 keadaan itu sama ya 😫
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍
😾🍟 𝒾Ř𝓪 𝐌𝐀ү𝓪 🐚
suka banget sama ceritanya. salut buat Hana. keren! tx kak bulan udah nulis cerita ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semangat Kaito 💪🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga akan menjadi sejarah yang baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!