NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Tamat
Popularitas:481k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. TES KECIL

Pintu besar dari kayu ek tua terbuka perlahan ketika Edgar mendorongnya.

Engselnya mengeluarkan suara berat yang dalam, seperti gema dari masa lalu yang panjang.

Elara melangkah masuk.

Ruang Kepala Akademi Sihir Oberyn ternyata jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Langit-langitnya sangat tinggi, ditopang oleh pilar-pilar batu besar yang dipenuhi ukiran rune sihir kuno.

Di atas, jendela kaca patri yang tinggi membiarkan cahaya matahari masuk dan memantul ke lantai marmer putih. Cahaya itu berkilauan seperti serpihan kristal yang menari di udara.

Di sisi kiri ruangan terdapat rak buku raksasa yang penuh dengan gulungan kuno, buku sihir tebal, dan artefak yang memancarkan aura magis halus.

Di tengah ruangan berdiri sebuah meja panjang dari kayu hitam yang tampak sangat tua namun terawat sempurna.

Di sisi tengah tampak meja yang diduduki empat orang.

Satu orang yang duduk di tengah jelas adalah kepala akademi.

Ia seorang pria tua dengan janggut putih panjang yang terawat rapi. Rambutnya juga memutih seluruhnya, namun matanya masih tajam dan penuh kebijaksanaan. Jubahnya berwarna biru tua dengan bordir emas yang rumit.

Di sebelah kanan dan kirinya duduk tiga orang guru.

Seorang pria paruh baya dengan wajah ramah.

Seorang perempuan berkacamata dengan ekspresi tenang dan cerdas.

Dan seorang pria lain yang sejak awal hanya duduk diam dengan tatapan tajam dan dingin.

Edgar berhenti beberapa langkah di depan meja. "Elara Ravens telah tiba, Kepala Akademi," katanya dengan sopan.

Elara maju selangkah. Ia berdiri tegak lalu membungkuk dengan hormat.

"Saya memberi salam kepada Kepala Akademi dan para guru," ujar Elara. Sikapnya sangat sopan.

Sikap yang biasa diajarkan di keluarga Ravens.

Kepala Akademi tersenyum lebar. "Terima kasih Edgar, kau boleh kembali ke kelasmu."

Edgar pun pergi meninggalkan ruangan setelah melirik sebentar Elara.

"Ah, jadi kau Elara Ravens," ucap Kepala Akademi ramah. Suaranya berat namun hangat. "Selamat datang di Akademi Sihir Oberyn."

Dua guru lainnya juga tersenyum ramah.

Namun guru yang berwajah dingin hanya menatap Elara tanpa berkata apa-apa. Tatapannya tajam seperti sedang menilai sesuatu.

Elara tetap berdiri dengan tenang.

Kepala Akademi lalu menunjuk kursi di depan meja. "Duduklah, Nona Elara."

Elara mengangguk. "Terima kasih."

Ia duduk dengan sikap tegak.

Kepala Akademi melipat kedua tangannya di atas meja lalu berkata, "Baiklah. Sebelum kita mulai, izinkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah Magnus Alderion, Kepala Akademi Oberyn."

Ia lalu menunjuk satu per satu guru di sampingnya.

"Di sebelah kananku ini Profesor Adrian Holt."

Pria paruh baya yang ramah itu mengangguk sambil tersenyum. "Senang bertemu denganmu," sapanya.

Magnus kemudian menunjuk guru perempuan berkacamata.

"Ini Profesor Celestine Arkwright."

Perempuan itu tersenyum lembut. "Selamat datang di akademi."

Lalu Magnus menunjuk pria terakhir.

"Dan ini Profesor Garrick Thorne."

Pria itu hanya mengangguk singkat. Tatapannya masih tajam. Seperti seorang komandan militer yang sedang menilai calon prajurit.

Elara kembali membungkuk sedikit. "Senang bertemu dengan para profesor."

Magnus tersenyum. "Baiklah. Sekarang mari kita berbicara sedikit tentangmu. Kau adalah murid pindahan dari Kerajaan Aurelius. Putri dari Duke Alaric Ravens dan Duchess Liora Ravens."

Elara mengangguk. "Benar."

Magnus melanjutkan. "Kami juga sudah mendengar sedikit tentang kejadian yang terjadi padamu."

Elara tahu apa yang dimaksud. Ledakan energi sihir saat monster menyerang ibu kota.

Magnus menatap Elara dengan penuh minat. "Dari laporan yang kami terima, energi sihir itu tiba-tiba muncul dalam dirimu. Apakah ada anggota keluargamu yang memiliki kemampuan sihir?"

Elara menjawab dengan santai. "Tidak secara langsung. Tapi orang tua saya sudah melakukan penelitian tentang garis keturunan keluarga. Kemungkinan besar kemampuan sihir itu berasal dari garis nenek moyang ibu saya."

"Seorang penyihir kuno dalam silsilah keluarga," ucap Kepala Akademi.

Ketiga guru langsung mengangguk.

Profesor Adrian berkata, "Masuk akal. Sebagian besar sihir memang diwariskan melalui darah."

Profesor Celestine menyesuaikan kacamatanya. "Namun dari laporan Duke Arram. Sihir yang muncul dalam diri Nona Elara bukan sihir biasa. Melainkan energi sihir kuno."

Magnus mengangguk pelan. "Benar. Karena itulah Duke Arram mengirimkanmu ke Akademi Oberyn. Untuk mencari cara agar kau bisa hidup berdampingan dengan energi sihir itu."

Profesor Adrian mengangguk. "Pilihan yang tepat. Karena tidak ada yang lebih bahaya dibandingkan dengan sihir yang tidak terkendali. Mungkin ini akan menjadi penelitian baru kita. Bisa saja bukan hanya Nona Elara yang memiliki kebangkitan sihir kuno."

"Terlebih dari laporan, ledakan energinya bahkan mampu menghanguskan monster dalam sekejap," kata profesor Calestine. Ia mencondongkan tubuh. "Pertanyaannya ... tipe energi sihir apakah itu?"

Magnus menyilangkan jarinya. "Berdasarkan analisis awal. Kemungkinan besar itu adalah sihir kuno bernama Aether."

Ruangan itu menjadi sedikit hening.

Profesor Celestine terlihat terkejut, mengingat ia tahu tipe sihir itu, sihir yang tidak lagi ada yang memakainya. "Aether?"

Magnus mengangguk. "Tapi rincian lebih lanjut akan kita bahas nanti."

Elara hanya mendengarkan. Ia tidak benar-benar memahami apa arti semua itu. Namun ia tahu satu hal. Sihir dalam tubuhnya bukan sesuatu yang biasa.

Saat itu Profesor Garrick Thorne yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. Suaranya berat dan tegas. "Akademi ini tidak seperti tempat latihan bangsawan biasa. Pelajaran di sini keras. Jika ada yang tertinggal, maka dia akan ditinggalkan."

Elara menelan ludah pelan.

Aura pria itu benar-benar seperti komandan perang.

Garrick melanjutkan. "Aku juga mendengar bahwa kau dulunya berlatih sebagai kesatria."

Elara mengangguk. "Benar."

Garrick berkata singkat, "Kalau begitu kau kemungkinan besar akan ditempatkan di Divisi Vanguard. Divisi kesatria yang menggunakan atribut sihir."

Elara mengangguk.

Profesor itu menatap Elara tanpa berkedip. "Dan kebetulan ... aku adalah wali divisi Vanguard."

Elara merasakan sedikit tekanan. Namun ia tetap menjawab tegas, "Saya akan berusaha keras!"

Garrick mendengus kecil. "Kerja keras bukan hanya diucapkan saja. Buktikan. Jangan besar kepala hanya karena kau putri seorang Duke dari kerajaan tetangga. Aku tidak akan menurunkan standar pengajaranku."

Namun alih-alih gentar Elara justru merasa tertantang. Matanya bersinar dan menjawab, "Saya akan mengingatnya, Profesor."

Magnus tertawa kecil. "Baiklah, baiklah." Ia mengangkat tangan. "Profesor Thorne, jangan langsung memprovokasi murid baru."

Garrick hanya menyilangkan tangan.

Magnus kemudian berkata, "Sekarang kita akan mengukur tingkat sihirmu."

Elara sedikit bingung. "Mengukur?"

Magnus mengambil sebuah benda dari laci meja. Sebuah bola kristal transparan sebesar kepala manusia. Ia meletakkannya di atas meja.

"Ini adalah kristal pengukur sihir. Mendekatlah dan letakkan tanganmu di atasnya," suruh sang kepala akademi.

Elara berdiri. "Baik."

Ia melangkah maju. Kemudian meletakkan telapak tangannya di atas kristal.

Ruangan menjadi hening.

Beberapa detik berlalu.

Tidak terjadi apa-apa.

Elara mulai berpikir apakah ia melakukan sesuatu yang salah.

Namun kemudian ...

Cahaya kecil muncul dari dalam kristal.

Cahaya itu perlahan membesar.

Semakin terang.

Semakin terang.

Profesor Celestine mengerutkan kening.

Profesor Adrian mencondongkan tubuh.

Cahaya itu kini bersinar seperti matahari kecil.

Retakan kecil tiba-tiba muncul di permukaan kristal.

KREK ...

KREK ...

Magnus langsung berdiri.

Namun ...

KRASH!

Bola kristal itu pecah berkeping-keping.

Elara langsung menarik tangannya dengan panik. "Aku tidak melakukan apa pun!"

Gadis itu menatap Magnus dengan wajah cemas.

Namun ...

Tidak ada yang menjawab.

Keempat orang di ruangan itu hanya menatap pecahan kristal. Lalu menatap Elara. Dengan ekspresi tidak percaya.

Bahkan Profesor Garrick Thorne yang sebelumnya sangat dingin kini menatap Elara dengan mata tak percaya.

Kemudian ...

Profesor Garrick tiba-tiba tertawa. Tawa yang berat namun penuh kegembiraan.

"Ha! Sepertinya tahun ini akan menjadi kelas yang sangat menarik," katanya.

Elara berkedip bingung. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Magnus dan para guru lain langsung kembali memasang ekspresi santai. Magnus mengelus janggutnya.

"Jangan khawatir," kata Magnus. Ia tersenyum. "Kristal ini mungkin sudah terlalu tua. Karena itu dia pecah."

Elara masih sedikit ragu. "Benarkah?"

Magnus mengangguk. "Kau gadis yang cukup kuat. Jadi saranku sebagai Kepala Akademi adalah jangan menyerah. Dan tetaplah rendah hati. Nikmati menjadi murid di sini."

Magnus berdiri dan melanjutkan, "Selamat datang di Akademi Sihir Oberyn, Elara Ravens."

Elara tersenyum. "Terima kasih."

Magnus kemudian berkata, "Profesor Thorne."

Garrick menoleh.

"Antarkan dia ke kelasnya. Ajarkan juga aturan dasar akademi," perintah Magnus.

Garrick mengangguk. "Baik."

Profesor itu berdiri lalu membungkuk hormat kepada Magnus.

Elara juga membungkuk kepada Kepala Akademi dan para profesor lainnya. "Terima kasih atas bimbingannya," katanya.

Kemudian ia mengikuti Garrick keluar ruangan.

Pintu besar itu tertutup kembali.

Begitu Elara pergi ... suasana langsung berubah.

Profesor Adrian langsung berdiri panik. "Itu ... itu tidak mungkin!"

Profesor Celestine juga terlihat pucat. "Tingkat sihirnya terlalu tinggi! Tingkatnya bahkan tidak bisa diukur oleh kristal!"

Adrian menatap Magnus. "Kepala Akademi. Gadis itu!"

Celestine menambahkan dengan suara bergetar, "Dia adalah permata yang harus diasah. Masukkan saja dia ke dalam Divisiku, aku akan membimbingnya dengan sangat baik!"

Adrian menyela, "Tidak, tidak. Masukkan saja ke Divisiku. Aku yakin dia akan berkembang di sana!"

Magnus mengangkat tangannya. Memberi isyarat agar mereka tenang.

Ruangan kembali hening.

Magnus memandang pecahan kristal di meja. Lalu berkata pelan, "Ini akan menjadi rahasia kita untuk sementara."

Kedua profesor menatapnya.

"Jangan sampai kabar ini keluar dari ruangan ini," perintah Magnus. Magnus menatap pintu tempat Elara pergi. "Gadis itu bisa menjadi target bahaya dan politik jika sampai didengar. Saat ini dia bahkan belum memahami sihirnya sendiri. Biarkan dia belajar di sini. Biarkan dia menikmati masa remajanya. Tanpa terlibat dalam politik atau perebutan kekuatan."

Para profesor akhirnya mengangguk.

Mereka mengerti.

Namun dalam hati mereka semua tahu satu hal.

Hari ini ...

Akademi Sihir Oberyn baru saja menerima seorang murid yang mungkin akan mengubah masa depan dunia sihir.

1
Wenty Lucia Wardhani
astagaaaa merinding bacanya author ....keren banget 🥰🥰
Yuli Kenzo'sachiko Cundoro
buat filmya cerita ini pasti seru🤭
Archiemorarty: Aamiin 🤭
total 1 replies
Jelita S
terimakasih thor atas ceritamu yg indah ini😍😍😍
Archiemorarty: Terima kasih kembali kak selalu ngiktuin ceritanya 🥰
total 1 replies
mery harwati
Terimakasih author atas karyanya yang menghibur readers 🙏
Sehat selalu author ya ❤️
Lancar rejeki juga 🤲
Ditunggu karya berikutnya ya thor 🥰
Archiemorarty: Terima kasih kembali udah baca ceritanya kak, sehat selalu buat kakaknya 🥰
total 1 replies
RARA
akhirnya tamat
tq othor..ceritamu sangat keren ,dtunggu cerita keren selanjutnya 😍😍
Archiemorarty: Terima kasih udah ngikutin ceritanya dari awal sampai akhir kak 🥰
total 1 replies
my hoby
😭😭😭😭saya mewek
Musliha yunos
👍ceritanya ok
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Musa Johnathan
👍
Nunung Elasari
uwouwww happy ending 😍😍😍😍😍😍😍
Aang
ilmu
Andi Ilma Apriani
ditunggu thoorrr karya selanjutx
Andi Ilma Apriani
apakah itu reinkarnasi dari aether dan asgard 🤭
yumin kwan
finally... happy ending...
makasih Kakak atas karyanya. ditunggu karya selanjutnya 💪💪💪
Archiemorarty: Terima kasih kembali kak 🥰
total 1 replies
Miss Typo
telat baca karna rewang eh mlh dah tamat 😭
happy ending 👏👍
ada pertemuan pasti ada perpisahan, terimakasih othor atas cerita yg luar biasa, sukses dgn karya-karyanya di novel 🤲💪
Miss Typo: ditunggu karya barunya thor
total 3 replies
Reni Setia
selamat udah tamat karyanya
SunShine Kinanti
satu kata..

MaasyaaAllaahh..

jika dia adalah Asgard.... berarti kutukan nya, sudah akan berakhir...
Satriani Jamadu Mrf
cerita yg sangat menarik... tidak membosankan... ditunggu cerita selanjutnya...
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kakak 🥰
total 1 replies
Satriani Jamadu Mrf
aaahhhh... ditunggu kisah jeremi n kembarannya yah othor...
Archiemorarty: Siap kakak 🥰
total 1 replies
mery harwati
Reinkarnasi Asgard dalam tubuh Edgar & Harmonia dalam tubuh Elara, Aester dalam tubuh Aaron, brati Asterlina dalam tubuh siapa nih? Sudah pasti dalam tubuh author 😄 karena berhasil membuat miasma hingga readers keracunan teka teki author 😛
Author zeennyyeengg 😘❤️
Archiemorarty: Ayo kao gelud dengan othor aja, othor baik hati ramah tamah rajin menabung kao pitnah terus
total 1 replies
Ayu Oktaviani
semangat sllu dlm berkarya thor cerita mu semua bagus² &kerenn 🥰
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak semoga menghibur waktu senggangnya ya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!