Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIT DAN TEKANAN
Dua minggu setelah kontrak dengan Klan Naga Hitam...
Wei Chen duduk di gubuknya, dikelilingi tumpukan bahan baku.
Kayu, besi, kristal kecil, dan berbagai logam yang dibeli dari pasar. Modal 200 koin emas sudah diputar semua untuk produksi pesanan 100 lampu dan 50 tungku.
Mei Ling masuk dengan sepiring nasi dan sayur. Meletakkannya di samping Wei Chen.
"Makan dulu. Sudah siang."
Wei Chen mengangguk, tapi matanya tidak lepas dari sketsa di depannya.
"Chen, makan."
"Nanti."
Mei Ling menghela napas. Dia tahu sifat Wei Chen kalau sedang fokus. Tapi dia juga tahu Wei Chen bisa lupa makan sampai lemas.
Dia duduk di sampingnya, mengambil sendok, menyuapi Wei Chen.
Wei Chen terkejut. Menoleh.
"Kau... ngapain?"
"Makan." Mei Ling tenang. "Buka mulut."
Wei Chen diam. Lalu, anehnya, dia membuka mulut.
Mei Ling menyuapinya. Satu. Dua. Tiga. Sampai nasi habis.
"Minum." Dia memberikan air.
Wei Chen minum. Masih tidak percaya.
"Kau... biasa saja melakukan ini?" tanyanya.
"Untuk orang yang keras kepala, harus." Mei Ling tersenyum. "Ibu dulu juga begitu ke ayah. Ayah suka lupa makan kalau kerja."
Wei Chen diam. Hangat di dadanya.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka diam. Tapi diamnya nyaman.
Sore harinya, Wei Chen pergi ke toko Toke Wijaya.
Bukan untuk belanja, tapi untuk bicara.
Toke Wijaya sedang duduk di beranda, minum teh. Melihat Wei Chen, dia tersenyum.
"Nak Wei! Duduk, duduk."
Wei Chen duduk. Langsung ke inti.
"Toke, aku dapat kontrak dari Klan Naga Hitam."
Toke Wijaya mengangguk. "Aku dengar. Selamat."
"Aku butuh bantuan Toke."
"Bantuan apa?"
"Bahan baku. Besi kualitas bagus. Kristal. Logam langka." Wei Chen mengeluarkan daftar. "Toke punya jaringan pemasok. Bisa bantu?"
Toke Wijaya membaca daftar itu. Matanya melebar.
"Ini... ini jumlah besar. Kau pasti untung banyak."
"Mudah-mudahan."
Toke Wijaya diam. Lalu, "Aku bisa bantu. Tapi..."
"Tapi?"
"Ada syaratnya."
Wei Chen menunggu.
"Aku minta 10% dari keuntungan."
Wei Chen mengerutkan kening. "Toke, aku datang minta bantuan, bukan minta mitra."
"Kau mitraku di toko ini." Toke Wijaya tersenyum. "Tapi bisnis ini di luar toko. Jadi aku minta bagian."
Wei Chen diam. Matanya tajam.
"Toke, selama setahun aku kerja di sini, aku kasih Toke untung banyak. Waktu aku buka toko sendiri, Toke tidak pernah keberatan. Bahkan Toke bantu referensi pemasok."
Toke Wijaya mengangguk. "Itu benar."
"Sekarang aku minta bantuan lagi. Dan Toke minta 10%?" Wei Chen menggeleng. "Maaf, Toke. Aku tidak bisa."
Toke Wijaya diam. Lalu tersenyum.
"Kau benar. Aku terlalu serakah." Dia menghela napas. "Maafkan aku, Nak. Aku hanya... iri."
"Iri?"
"Kau muda, pintar, berani. Aku tua, takut ambil risiko." Toke Wijaya menatapnya. "Melihat kau sukses, aku merasa... tertinggal."
Wei Chen diam. Mengerti perasaan itu.
"Toke, kalau Toke mau, Toke bisa jadi mitra resmi." Wei Chen mengeluarkan proposal sederhana. "Bukan minta bagian 10% dari satu kontrak. Tapi bagian tetap dari seluruh bisnis. Toke masukin modal, jaringan, pengalaman. Aku urus operasi."
Toke Wijaya membaca proposal itu. Matanya berbinar.
"Ini... ini serius?"
"Serius."
Toke Wijaya diam lama. Lalu tertawa.
"Kau benar-benar aneh, Nak." Dia mengulurkan tangan. "Setuju."
Mereka bersalaman. Mitra baru.
Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.
Dia terkejut. "Toke Wijaya jadi mitra?"
"Iya."
"Tapi dia... dia licik."
"Aku tahu." Wei Chen tersenyum. "Tapi orang licik itu berguna kalau ada di pihak kita."
Mei Ling menggeleng. "Aku tidak akan pernah mengerti caramu berpikir."
"Syukurlah." Wei Chen menatapnya. "Kalau semua orang mengerti aku, hidup akan membosankan."
Mei Ling tertawa. Lalu tiba-tiba, batuk.
Batuk kecil. Tapi Wei Chen melihat — ada bercak merah di tangannya.
Dia memucat. "Mei Ling!"
"Aku... aku baik-baik saja." Mei Ling menyembunyikan tangannya. "Hanya batuk biasa."
Wei Chen meraih tangannya. Memaksa melihat. Darah.
"Ini bukan batuk biasa."
Mei Ling diam. Matanya berkaca-kaca.
"Ini mulai," bisiknya. "Kutukannya."
Wei Chen menggenggam tangannya erat.
"Aku tidak akan biarkan."
Mei Ling tersenyum — senyum getir yang biasa.
"Chen... mungkin ini sudah takdir."
"Takdir?" Wei Chen menggeleng. "Takdir bisa diubah."
"Kau terlalu percaya diri."
"Aku selalu percaya diri."
Mei Ling menatapnya lama. Lalu, tanpa bicara, dia memeluk Wei Chen.
"Makasih," bisiknya. "Makasih sudah berusaha."
Wei Chen diam. Tapi di dalam hatinya, tekadnya menguat.
Berapa pun biayanya. Berapa pun waktu yang dibutuhkan. Aku akan sembuhkan dia.
Esok harinya, Wei Chen bekerja lebih keras.
Dia bangun sebelum subuh. Produksi lampu dan tungku. Mengawasi kualitas. Mencatat bahan. Menghitung biaya.
Mei Ling membantu sebisa dia. Tapi Wei Chen melarangnya kerja berat.
"Kau istirahat. Aku urus."
"Aku bisa—"
"ISTIRAHAT."
Suaranya tegas. Nada CEO yang dulu. Mei Ling menurut.
Tapi di matanya, ada kesedihan. Bukan karena sakit. Tapi karena melihat Wei Chen bekerja begitu keras untuknya.
Seminggu kemudian, Tua Li datang lagi.
Bukan untuk memeriksa, tapi untuk memperingatkan.
"Klan Naga Hitam bukan satu-satunya yang tertarik padamu," katanya. "Ada klan lain mulai melirik."
"Klan mana?"
"Klan Bunga Naga." Tua Li menatapnya. "Mereka klan menengah, tapi ambisius. Mereka bisa coba rebut teknologimu."
Wei Chen diam.
"Dan ada satu lagi." Tua Li menurunkan suaranya. "Seseorang dari ibu kota. Namanya... Hartono Lim."
Wei Chen membeku.
Hartono.
Tua Li melihat reaksinya. "Kau kenal?"
"Tidak." Wei Chen berusaha tenang. "Siapa dia?"
"Pengusaha besar. Baru dua tahun di ibu kota, tapi sudah punya perusahaan besar — Naga Emas Trading." Tua Li mengamatinya. "Dia juga cari teknologi seperti punyamu."
Wei Chen mengangguk. Wajahnya datar. Tapi di dalam, hatinya bergolak.
Hartono ada di sini. Dan dia sudah dekat.
Malam harinya, Wei Chen tidak bisa tidur.
Dia duduk di beranda, menatap bintang. Pikirannya kacau.
Hartono. Di sini. Mencari teknologi yang sama.
Apakah ini kebetulan? Atau dia sudah tahu Wei Chen ada?
Mei Ling keluar. Membawa selimut. Menyelimuti Wei Chen.
"Dingin."
Wei Chen menoleh. Wajah Mei Ling pucat di bawah cahaya bulan.
"Kau seharusnya tidur."
"Kau juga."
Mereka diam.
"Chen... ada apa?" tanya Mei Ling. "Kau berbeda sejak tadi."
Wei Chen diam. Lalu, "Hartono Lim. Orang yang bunuh aku di kehidupan lama. Dia ada di sini."
Mei Ling membeku.
"Di ibu kota. Mencari teknologi." Wei Chen mengepalkan tangan. "Dia sudah dekat."
Mei Ling meraih tangannya.
"Chen... apa yang akan kau lakukan?"
Wei Chen menatap bintang.
"Aku tidak tahu." Jujur. "Tapi aku tahu satu hal: dia tidak boleh tahu aku ada di sini. Belum."
"Kenapa?"
"Karena aku belum siap. Masih lemah. Masih belum punya apa-apa." Wei Chen menatapnya. "Tapi suatu hari... aku akan cari dia."
Mei Ling memeluknya.
"Aku di sini," bisiknya. "Apa pun yang terjadi."
Wei Chen membalas pelukannya.
Malam itu, di bawah bintang-bintang, mereka berpelukan. Menghadapi ketakutan bersama.
Tapi di kejauhan, bayangan Hartono mulai mendekat.
Chapter 9 END.