Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN TERAKHIR
Pagi itu di Bandung harusnya jadi hari yang sibuk sekali buat Rangga menyiapkan pembukaan cabang barunya yang terletak di pusat kota. Tapi, sebuah surat dengan kop resmi dari sebuah rumah sakit sosial di pinggiran Jakarta datang lewat kurir, memecah ketenangan di ruko yang baru saja selesai dibersihkan. Rangga tertegun saat membaca isinya. Jantungnya serasa berhenti sesaat, lalu berdegup liar menghantam rongga dadanya. Laras—wanita yang dulu pernah jadi dunianya sekaligus luka paling perih yang pernah ia rasakan—sedang dalam kondisi kritis. Surat itu bilang, Laras terus-menerus memanggil nama Rangga di tengah kesadarannya yang timbul tenggelam.
Rangga meremas kertas itu sampai lecek, dadanya terasa sesak sekali. Ada kemarahan yang sempat memercik di matanya, bayangan saat ia diusir bagai anjing buduk kembali berputar seperti kaset rusak. Tapi, amarah itu seketika padam saat dia menatap wajah Rinjani yang sedang asyik belajar mewarnai di pojokan ruko ditemani Galih. Dia bimbang bukan main. Buat apa lagi dia kembali ke kota yang penuh kepalsuan itu? Buat apa dia menatap wajah wanita yang dulu menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang pria?
"Mas, pergilah. Selesaikan semuanya sekarang juga biar nggak ada beban lagi yang nyangkut di hati," suara lembut Syakira membuyarkan lamunan Rangga yang gelap. Syakira berdiri tepat di sampingnya, menatap Rangga dengan pandangan yang begitu teduh, penuh pengertian yang luas sekali.
"Tapi Mbak Syakira... saya takut. Saya benci mengakui ini, tapi saya nggak mau kembali ke sana. Saya takut luka lama itu kebuka lagi kalau menatap dia," jawab Rangga dengan suara yang berat dan sedikit parau.
Syakira tersenyum kecil, lalu menggenggam telapak tangan Rangga yang kasar karena kerja keras. "Mas Rangga, dengar deh. Dendam itu cuma bakal jadi racun buat kebahagiaan kita nanti. Pergilah bukan sebagai mantan suaminya yang masih sakit hati, tapi sebagai manusia yang punya nurani. Selesaikan urusan kalian di sana supaya Mas bisa melangkah ke pernikahan kita dengan hati yang bener-bener bersih dan enteng. Saya nggak apa-apa kok, saya percaya sama Mas sepenuhnya."
Atas saran Syakira yang hatinya mulia sekali itu, akhirnya Rangga memantapkan tekad. Dia menitipkan Rinjani pada Emak dan berangkat ke Jakarta siang itu juga menggunakan kereta api. Selama perjalanan, Rangga cuma bisa menatap kosong ke luar jendela. Dia memikirkan betapa cepatnya hidup berubah. Beberapa bulan lalu dia menangis di stasiun ini karena diusir, dan sekarang dia kembali sebagai pria yang sukses untuk melihat kehancuran wanita yang mengusirnya.
Sesampainya di rumah sakit sosial di pinggiran Jakarta, hidung Rangga langsung disambut aroma obat-obatan yang tajam bercampur bau pengap dari sirkulasi udara yang buruk. Bangsal kelas tiga itu penuh sesak oleh derita manusia. Suara rintihan pasien yang kesakitan dan tangisan keluarga terdengar sahut-menyahut di lorong-lorong yang dindingnya sudah kusam dan mengelupas. Rangga berjalan pelan, mengikuti petunjuk perawat menuju ranjang nomor 24. Langkah kakinya terasa berat sekali, seolah ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya.
Saat dia sampai di balik tirai hijau yang sudah agak dekil dan berlubang di beberapa bagian, Rangga mematung. Dia menatap sosok wanita yang terbaring lemah di atas ranjang besi yang sudah berkarat. Laras. Tapi ini bukan Laras yang dulu ia kenal. Bukan Laras yang angkuh dengan tas-tas mahal dan riasan tebal.
Wanita di depannya itu sudah kurus kering, kulitnya pucat pasi cenderung menguning, dan tulang pipinya menonjol tajam karena kekurangan gizi dan beban pikiran yang berat. Rambutnya yang dulu selalu wangi dan indah kini tampak kusam, acak-adakan, dan menipis sekali. Kecantikannya yang dulu dia bangga-banggakan di depan Badru, kini hilang tak berbekas seutuhnya. Menatap pemandangan yang begitu menyayat hati itu, dinding pertahanan di hati Rangga yang keras seketika melunak. Rasa benci yang dia simpan berbulan-bulan mendadak luruh, berganti rasa iba yang amat dalam.
Laras membuka matanya pelan, gerakannya sangat terbatas karena berbagai selang infus dan oksigen yang terpasang di tubuhnya yang ringkih. Saat matanya yang cekung menangkap sosok pria yang berdiri di samping ranjangnya, air mata langsung mengalir deras di sudut matanya. Dia tidak menyangka Rangga beneran mau datang.
"Mas... Rangga... ini beneran kamu?" suaranya kecil sekali, hampir seperti bisikan angin yang lewat di sela jendela.
Rangga menarik kursi plastik pendek yang ada di sana, lalu duduk tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Laras yang menyedihkan itu. "Iya, ini aku, Ras. Aku datang karena Mbak Syakira yang minta," ujar Rangga jujur, tanpa ingin memberi harapan palsu.
"Mas... maaf... maafkan aku ya," isak Laras makin jadi, napasnya tersengal-sengal memburu udara yang seolah enggan masuk ke paru-parunya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya tampak seperti perjuangan hidup dan mati yang luar biasa berat. "Aku... aku sudah kena karmaku sendiri, Mas. Aku bodoh sekali sudah buang kamu demi laki-laki nggak bener itu. Aku cuma mau bilang... aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Keluargaku malu, temanku hilang semua..."
Laras mencoba menggapai tangan Rangga dengan jari-jarinya yang tinggal tulang, dan kali ini Rangga tidak menarik tangannya menjauh. Dia membiarkan tangan kurus itu menyentuh jemarinya. Dingin sekali tangan itu, seolah-olah nyawa Laras memang sudah berada di ujung kuku.
"Mas... soal Rinjani," Laras menjeda kalimatnya, dadanya kembang kempis menahan sesak yang hebat. "Aku lepaskan hak asuh Rinjani sepenuhnya buat kamu. Jangan biarkan dia kayak aku ya, Mas. Tolong... jaga dia baik-baik. Dan sampaikan ke calon istrimu itu... aku titip Rinjani. Bilang sama dia, tolong sayangi Rinjani lebih dari aku menyayanginya dulu. Aku... aku bukan ibu yang baik buat dia. Aku menyesal sekali..."
Suasana di bangsal yang pengap itu terasa begitu menyayat hati. Rangga menatap langit-langit bangsal yang berjamur, mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh di depan mantan istrinya. Dia tidak ingin terlihat lemah, tapi menatap Laras yang sedang meregang nyawa begini, nuraninya sebagai manusia tidak sanggup lagi menyimpan dendam kesumat.
"Ras, dengar ya," Rangga bicara dengan nada yang sangat tenang tapi dalam sekali. "Aku sudah memaafkanmu. Jauh sebelum kamu pingsan dan masuk rumah sakit ini, jauh sebelum kamu jatuh miskin begini, aku sudah berusaha memaafkan semuanya di Bandung. Aku nggak mau bawa dendam ini sampai aku mati, karena itu cuma bakal bikin langkahku berat."
Laras tersenyum tipis, tampak ada secercah kelegaan di wajahnya yang kuyu. "Terima kasih, Mas... kamu baik sekali. Apa... apa setelah ini kita bisa coba perbaiki semuanya? Apa kita bisa mulai lagi dari nol di Bandung?" tanya Laras dengan sisa-sisa harapannya yang sangat naif, mungkin karena pengaruh obat atau keputusasaan yang memuncak.
Rangga menggeleng pelan, membuat senyum di bibir Laras seketika pudar. "Aku memaafkanmu, Ras. Tapi itu bukan berarti kita bisa bersama lagi seperti dulu. Hidupku sudah ada di jalur yang beda sekarang. Hatiku sudah ada yang memiliki secara utuh, dan Rinjani sudah menemukan sosok Mama baru yang jauh lebih tulus sayangnya. Kita sudah selesai di bab yang lama. Aku ke sini cuma buat membasuh lukamu dan memberikan maaf, supaya kamu tenang, bukan buat menarikmu kembali ke hidupku. Kamu harus terima itu deh."
Mendengar kenyataan pahit itu, Laras menangis lagi, kali ini tangisannya lebih pelan dan pasrah. Dia akhirnya sadar sepenuhnya, bahwa kesalahannya di masa lalu adalah luka yang permanen bagi hubungan mereka. Meski dimaafkan, retakan di hati Rangga nggak akan pernah bisa halus lagi seperti sedia kala.
"Iya, Mas... aku paham kok. Aku memang nggak pantas buat kamu lagi. Terima kasih ya sudah mau datang dan kasih maaf. Kamu memang pria sejati," bisik Laras sebelum dia terbatuk keras hingga dadanya terguncang hebat.
Rangga berdiri, mengusap puncak kepala Laras sebentar untuk memberikan ketenangan terakhir yang bisa ia berikan. Semua beban batin yang selama ini menghimpit pundak Rangga, seketika luruh bersama angin yang berembus di lorong rumah sakit. Dia sudah memberikan maaf yang tulus, dan dia sudah menatap sendiri akhir dari sebuah kesombongan manusia yang silau akan harta.
Laras menutup matanya pelan, napasnya mulai teratur meski tetap lemah sekali. Rangga tahu, perjalanannya di kota Jakarta ini benar-benar sudah mencapai titik akhir. Dia melangkah keluar dari bangsal tanpa menoleh lagi, membawa perasaan yang jauh lebih ringan daripada saat dia datang tadi. Masa lalunya sudah benar-benar terkubur bersama maaf yang ia berikan, dan sekarang saatnya dia pulang ke Bandung, tempat masa depannya yang indah bersama Syakira dan Rinjani sudah menunggu dengan tangan terbuka.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,