NovelToon NovelToon
Hei Ying Tun Tian (Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)

Hei Ying Tun Tian (Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Budidaya dan Peningkatan / Transmigrasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri

Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.

Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.

Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.

Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.

Mereka salah.

Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.

Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Harga Sebuah Kekuatan

...Bab 2: Harga Sebuah Kekuatan...

Dua sosok bayangan berhenti tepat di depan pintu kamar Han Xuan yang sudah tidak tertutup rapat. Bau amis darah yang samar tertiup angin malam, menusuk hidung mereka.

Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka di pipi, memberi isyarat agar rekannya tetap waspada.

"Mana si Tikus Tua? Kenapa dia belum keluar dari sana?" bisik pria bertubuh kekar itu.

Rekan di sampingnya hanya menggeleng pelan. Napasnya memburu. Ia adalah seorang pelayan rendahan yang dipaksa ikut untuk menunjukkan jalan. Ketakutan yang memancar dari tubuhnya terasa begitu lezat bagi persepsi Han Xuan yang bersembunyi di balik lemari kayu tua.

Han Xuan memperhatikan mereka dari kegelapan. Tubuhnya terasa berat. Kenaikan instan ke Mortal Tempering level dua tadi memang memberikan kekuatan, namun efek sampingnya mulai terasa. Sebuah denyutan tajam menghantam pelipisnya.

Bisikan dari pengawal pertama yang ia telan tadi masih berdengung, mengulang-ulang nama seorang anak kecil yang menunggu ayahnya pulang.

Han Xuan menekan rasa sakit itu dengan kemauan baja. Ia tidak boleh kehilangan kendali sekarang.

Pria kekar itu melangkah masuk. Matanya menyipit melihat tumpukan abu di lantai. Ia menyentuh abu itu dengan ujung sepatunya, lalu segera menariknya kembali seolah tersengat listrik.

"Apa ini?" gumamnya ngeri.

"Mencari temanmu Tuan?"

Suara Han Xuan muncul dari sudut yang paling gelap. Dingin dan tanpa intonasi.

Pria kekar itu bereaksi cepat. Ia menarik pedang lebar dari punggungnya dan menebas ke arah suara itu berasal. Namun, pedangnya hanya membelah udara kosong.

Han Xuan tidak ada di sana. Dengan Dao Bayangan yang masih sangat mentah, ia hanya mampu memanipulasi persepsi cahaya di sekitar tubuhnya selama beberapa detik, namun itu cukup untuk mengecoh kultivator tingkat rendah.

Han Xuan muncul tepat di belakang si pengawal kekar. Ia tidak menggunakan senjata. Tangannya yang kurus menyentuh punggung pria itu, tepat di titik saraf utama.

"Mati."

Kekuatan Void Devouring meledak. Namun kali ini, prosesnya tidak semulus sebelumnya. Tubuh Han Xuan yang belum benar-benar pulih dari retakan meridian menolak aliran energi yang terlalu besar. Rasa sakit yang luar biasa menghujam jantungnya.

"Ugh!" Han Xuan terbatuk darah, namun tangannya tetap mencengkeram erat baju pengawal itu.

Pengawal kekar itu berusaha berbalik, namun ia merasa seolah-olah seluruh darah dalam tubuhnya tertarik menuju telapak tangan Han Xuan. Ia mencoba berteriak, tapi parunya mengempis seketika.

Berbeda dengan sebelumnya, Han Xuan sengaja melambatkan penyerapan ini. Ia ingin mempelajari batas kemampuan tubuh barunya.

Ia membiarkan energi itu mengalir tetes demi tetes, merasakan bagaimana Void Devouring Constitution memperbaiki jaringan ototnya yang rusak sambil secara bersamaan menghancurkan emosi bahagianya tentang masa kecil yang samar.

Setiap inci kekuatan yang didapat, satu kenangan hangat tentang ibunya di kehidupan ini pun memudar menjadi abu hitam.

"Tolong... jangan..." Si pelayan yang berdiri di pintu jatuh terduduk. Ia menyaksikan bagaimana rekan kekarnya berubah menjadi mumi kering di depan matanya sendiri.

Han Xuan melepaskan mayat yang sudah tidak bernyawa itu. Ia tidak langsung membunuh si pelayan. Sebaliknya, ia berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit goyah. Darah masih mengalir dari hidungnya, tanda bahwa beban mentalnya hampir mencapai batas.

"Siapa yang mengirimmu selain Han Feng?" tanya Han Xuan.

Pelayan itu gemetar hebat. "Nyonya... Nyonya Besar... dia ingin memastikan Anda tidak merusak reputasi klan di ujian besok... ampuni saya Tuan Muda!"

Han Xuan terdiam. Nyonya Besar. Istri pertama pemimpin klan. Jadi, bukan hanya Han Feng yang menginginkannya mati. Seluruh struktur kepemimpinan klan ini menganggap keberadaannya sebagai noda yang harus dihapus.

Ini adalah kabar baik. Semakin banyak musuh, semakin banyak "sumber daya" yang bisa ia panen tanpa beban moral.

"Pergilah" ucap Han Xuan tiba-tiba.

Pelayan itu tertegun. "Anda... melepaskan saya?"

"Bawa pesan ini pada Nyonya Besar. Katakan padanya bahwa Han Xuan yang ia kenal sudah mati di tangan para pembunuhnya. Dan katakan padanya untuk mengirim lebih banyak orang yang lebih kuat besok malam."

Pelayan itu tidak menunggu dua kali. Ia lari tunggang langgang meninggalkan area pemukiman kumuh itu.

Han Xuan kembali duduk bersila. Ia tidak mengejar. Ia membutuhkan saksi untuk menyebarkan ketakutan yang terkendali. Ketakutan adalah alat politik yang paling murah namun paling efektif.

Ia mencoba mengatur napasnya. Kenaikan ke level tiga ternyata jauh lebih sulit dari yang ia perkirakan. Meridiannya yang cacat mulai berdenyut protes.

Jika ia memaksakan diri menyerap pelayan tadi, kemungkinan besar jiwanya akan retak sebelum ia mencapai Qi Awakening.

Sabar... bisiknya pada diri sendiri.

Ia harus membangun fondasi yang kokoh. Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu terburu-buru hingga Langit menemukannya. Kali ini, ia akan menjadi parasit yang merayap perlahan hingga seluruh klan ini menjadi inangnya.

Saat fajar mulai menyingsing, Han Xuan merasakan sensasi aneh di matanya. Pandangannya menjadi lebih tajam, namun warna dunia di matanya mulai memudar menjadi abu-abu.

Inilah harga dari kenaikan kapasitas mentalnya. Kehilangan kemampuan untuk melihat keindahan warna adalah tumbal untuk melihat aliran energi yang tersembunyi.

Ia berdiri dan membersihkan sisa abu di kamarnya. Hari ini adalah ujian klan. Hari di mana semua orang mengharapkan dia dipermalukan atau diusir.

Han Xuan menatap bayangannya di air dalam tempayan. Wajahnya pucat, matanya dingin tak berdasar.

"Kehancuran klan Han akan dimulai dari sebuah ujian kecil" gumamnya.

Namun, saat ia melangkah keluar, ia merasakan sebuah tatapan tajam dari atas atap bangunan utama. Sebuah tekanan yang jauh lebih kuat dari sekadar pengawal rendahan.

Seseorang yang jauh lebih berbahaya sedang mengawasinya sejak awal.

Apakah rencananya sudah bocor sebelum dimulai?

Tatapan dari atap itu terasa seperti jarum es yang menusuk tengkuk Han Xuan. Ia tidak menoleh. Jika ia menunjukkan kesadaran akan keberadaan sosok itu, penyamarannya sebagai sampah yang beruntung akan hancur seketika.

Dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit pincang, ia berjalan menuju sumur tua di belakang paviliunnya untuk membasuh sisa darah di wajah.

Seseorang di tingkat Spirit Foundation batin Han Xuan sambil menunduk menatap pantulan air.

Di klan kecil seperti klan Han, tingkat Spirit Foundation adalah posisi penatua atau kepala instruktur. Han Xuan tahu ia belum sanggup melawan secara langsung.

Tubuhnya saat ini hanyalah wadah retak yang baru saja ditambal dengan Qi curian. Jika ia dipaksa bertarung habis-habisan, meridiannya akan meledak sebelum ia sempat melancarkan serangan kedua.

Ia membiarkan sosok di atap itu terus mengawasi. Ketidakpastian adalah senjata yang lebih mematikan daripada pedang. Biarkan mereka bertanya-tanya bagaimana seorang sampah bisa selamat dari tiga pembunuh dalam satu malam.

Fajar menyingsing sepenuhnya saat lonceng perunggu klan Han berdentang tiga kali. Suaranya menggema di seluruh lembah, memanggil setiap pemuda klan untuk berkumpul di lapangan utama.

Ujian tahunan ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah seleksi alam. Mereka yang gagal akan dikirim ke tambang batu roh di perbatasan atau dinikahkan dengan klan bawahan untuk memperkuat aliansi politik.

Han Xuan berjalan menyusuri koridor kayu yang retak. Di sepanjang jalan, bisikan sinis mengiringi langkahnya.

"Lihat si cacat itu masih berani muncul."

"Kudengar Han Feng mematahkan tulang rusuknya kemarin. Dia keras kepala atau memang bodoh?"

Han Xuan mengabaikan mereka. Fokusnya terbagi antara menekan bisikan jiwa pengawal yang ia telan dan mengatur aliran Qi yang masih liar di perutnya. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat.

Harga dari kenaikan realm ke tingkat dua semalam adalah hilangnya rasa hangat pada sinar matahari. Kulitnya terasa dingin, seolah ia adalah mayat hidup yang berjalan di bawah terik siang.

Di tengah lapangan, sebuah batu hitam setinggi manusia berdiri dengan angkuh. Itu adalah Batu Penguji Qi.

Han Feng berdiri di sana dengan pakaian putih bersih, dikelilingi oleh para pengikutnya. Saat matanya bertemu dengan Han Xuan, ekspresi terkejut melintas sejenak sebelum berubah menjadi seringai kejam.

"Xuan" panggil Han Feng dengan suara keras agar didengar semua orang. "Aku terkesan kau masih bisa berjalan. Kupikir kau sedang sibuk menyiapkan pemakamanmu sendiri."

Han Xuan berhenti tepat di depan Han Feng. Ia menatap sepupunya itu dengan mata yang kosong. Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kebencian.

Hanya ada penilaian dingin tentang berapa banyak energi yang bisa ia serap dari tubuh pemuda di depannya ini.

"Tuan Muda Han Feng" sahut Han Xuan pendek. "Terima kasih atas perhatiannya."

Han Feng mengerutkan kening. Ia merasa ada yang salah dengan nada bicara Han Xuan. Tidak ada getaran ketakutan yang biasanya ia nikmati.

Sebelum ia sempat membalas, seorang pria tua dengan jubah abu-abu melangkah maju ke podium.

Itu adalah Penatua Ketiga, pria yang bertanggung jawab atas urusan internal klan.

"Ujian dimulai!" seru Penatua Ketiga. "Sentuh Batu Penguji dan alirkan Qi kalian. Siapa pun yang berada di bawah tingkat Mortal Tempering level tiga akan segera dikirim ke tambang!"

Satu per satu pemuda klan maju. Cahaya redup muncul dari batu saat mereka menyentuhnya. Sebagian besar hanya mencapai level dua atau tiga. Han Feng maju dengan penuh percaya diri dan meletakkan tangannya. Batu itu bersinar terang dengan warna hijau pucat.

"Han Feng. Mortal Tempering Level Lima Puncak!"

Sorak-sorai pecah. Di usia tujuh belas tahun, level lima adalah pencapaian luar biasa bagi klan sekecil ini. Han Feng menoleh ke arah Han Xuan dengan sombong, memberikan isyarat agar Han Xuan segera maju dan mengakhiri lelucon ini.

Han Xuan melangkah maju perlahan. Setiap pasang mata tertuju padanya dengan antisipasi untuk melihat kegagalannya.

Namun, saat Han Xuan berdiri di depan batu hitam itu, ia merasakan getaran aneh dari dalam tanah. Bukan dari batu itu, melainkan dari bawah fondasi klan Han sendiri. Ada sesuatu yang terkubur di sana. Sesuatu yang haus.

Han Xuan meletakkan telapak tangannya pada permukaan batu yang dingin.

Ia tidak berniat menunjukkan level duanya yang tidak stabil. Sebaliknya, ia menggunakan Dao Ilusi yang sangat mendasar untuk membiaskan cahaya yang keluar dari batu. Ia ingin tetap berada di bawah radar, namun tidak cukup rendah untuk dibuang ke tambang.

Hanya level tiga pikirnya. Cukup untuk tetap tinggal dan cukup untuk membuat mereka lengah.

Namun, saat ia mulai mengalirkan Qi, bisikan jiwa di kepalanya mendadak berteriak histeris. Void Devouring Constitution bereaksi secara tak terduga terhadap Batu Penguji. Alih-alih mengalirkan energi ke batu, batu itulah yang mulai tersedot masuk ke dalam tubuh Han Xuan.

Retakan mulai muncul di permukaan batu hitam yang sakral itu.

Wajah Penatua Ketiga memucat. "Apa yang kau lakukan!"

Han Xuan terkejut. Jika batu ini hancur, rahasianya akan terbongkar saat itu juga. Ia harus membuat pilihan cepat: menghentikan penyerapan dan mengambil risiko kerusakan mental yang permanen, atau menghancurkan batu ini dan memicu kekacauan total.

Di sudut matanya, ia melihat sosok yang mengawasinya dari atap tadi mulai melompat turun.

Akankah Han Xuan mampu menyembunyikan kekuatannya sebelum sang ahli tiba di arena?

<>Cerita Bersambung

<>Tetap disini dan jangan kemana-mana, oke?

1
johanes ronald
idenya bagus sekali, dia ahli perang yg aesungguhnya
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: makasihh 🔥😄
total 1 replies
johanes ronald
balonku ada 5 ya? 🤣🤣🤣
cimownim
waah bagus ka ceritanya😍
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: makasih kak🔥 jadi semangat nih😄
total 1 replies
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
btw bisa kali Like sama Koment🔥
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
Inspirasi Novel Dari > Reverend Insanity (Fang Yuan), The Villain Of Destiny (Gu Change), Myst, Might, Mayhem / Legend Of Heavenly Chaos Demon (Cheon Ma), ada lagi tapi malas nulis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!