NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Pagi di Balik Meja

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar, membentuk garis-garis emas yang menari di atas meja belajarku. Aku terbangun sebelum alarm berbunyi, sebuah kebiasaan dari kehidupan sebelumnya yang tetap terbawa meski tubuh ini masih tergolong muda. Aku duduk di tepi tempat tidur, merasakan keheningan rumah sebelum Rin mulai menciptakan keributan di dapur.

Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan pikiranku memproses semua variabel yang telah kukumpulkan kemarin. Utaha, Kato, Yui, Haruno, dan Eriri. Dunia ini bukan lagi sekadar narasi fiksi; setiap tarikan napas dan aroma cat di studio Eriri kemarin adalah bukti bahwa aku benar-benar di sini.

[Sistem Evolusi Pekerjaan]

[Template: Penulis Novel (Mangaka)]

[Kemajuan: 55%]

[Keahlian Bertarung: Senior - Siap Digunakan]

Aku berdiri, melakukan peregangan ringan. Otot-otot tubuhku terasa lebih padat dan responsif. Keahlian [Taekwondo Jin Mori] di tingkat Senior bukan sekadar data; aku bisa merasakan aliran tenaga yang siap meledak di setiap sendiku jika situasi membutuhkannya. Tapi hari ini, aku berharap lidahku adalah satu-satunya senjata yang perlu kugunakan.

"Kak! Cepat bangun! Kau mau aku meninggalkanmu dan berangkat duluan?!" teriakan Rin dari lantai bawah memecah ketenangan pagi.

Aku terkekeh pelan. "Suaramu bisa membangunkan orang mati, Rin. Berikan aku lima menit untuk mandi," balasku sembari meraih handuk.

Setelah bersiap, aku turun ke dapur. Aroma nasi hangat dan ikan panggang memenuhi ruangan. Rin sedang menata meja dengan ekspresi cemberut yang menjadi ciri khasnya di pagi hari. Dia mengenakan celemek di atas seragam sekolahnya, rambutnya masih sedikit berantakan.

"Kau lama sekali," gerutunya sambil menyodorkan semangkuk nasi. "Ini, makanlah. Jangan sampai kau pingsan lagi di jalan dan membuatku malu di sekolah."

Aku duduk dan mulai menikmati sarapan buatannya. "Rasa ikannya lebih seimbang hari ini, Rin. Kau mulai belajar bahwa garam bukanlah musuh utama dalam masakan, ya?"

Wajah Rin sedikit merona. "Terserah! Cepat habiskan!"

Kami berangkat bersama menuju stasiun. Udara pagi terasa segar, membawa aroma bunga sakura yang mulai mencapai puncak mekarnya. Di sepanjang jalan, aku melihat beberapa siswa Akademi Sakura lainnya, namun perhatianku teralihkan saat melihat sosok yang familiar berdiri di dekat peron stasiun.

Shizuka Hiratsuka.

Dia mengenakan mantel panjang berwarna krem yang menutupi jas gurunya. Wajahnya terlihat sedikit lebih segar pagi ini, meski matanya tetap menunjukkan tanda-tanda kurang tidur yang kronis. Dia sedang menatap rel kereta dengan tatapan kosong, seolah-olah sedang memikirkan dilema eksistensial yang berat.

"Rin, pergilah duluan. Aku melihat seseorang yang perlu kutelepon," ujarku pada adikku.

"Eh? Jangan lama-lama! Aku tidak mau terlambat karena menunggumu di gerbang!" Rin mendengus lalu melangkah masuk ke dalam gerbong kereta yang baru saja tiba.

Aku berjalan perlahan mendekati Shizuka. Aku tidak langsung menyapanya. Aku berdiri di sampingnya, ikut menatap rel kereta yang membentang jauh.

"Kereta itu tidak akan datang lebih cepat hanya karena kau menatapnya dengan penuh dendam, Sensei," ujarku tenang, suaraku nyaris tenggelam oleh bisingnya pengumuman stasiun.

Shizuka sedikit terlonjak, menoleh ke arahku dengan tatapan tajam yang segera melunak saat menyadari siapa yang berdiri di sampingnya. "Saiba-kun? Kau suka sekali muncul seperti hantu di saat yang tidak tepat."

"Hantu tidak butuh tiket kereta, Sensei. Aku hanya seorang murid yang kebetulan melihat gurunya tampak seperti sedang berencana melompat ke rel karena depresi lajang berkepanjangan," balasku dengan nada puitis yang sarkastik.

Shizuka menghela napas panjang, lalu menyulut sebatang rokok—sebelum teringat ini adalah area bebas asap rokok dan segera mematikannya dengan kesal. "Lidahmu itu benar-benar harus diamplas, ya? Dan siapa yang kau panggil depresi lajang?"

"Hanya observasi analitis," aku memberikan senyum tipis yang menggoda. "Tapi sejujurnya, mantel itu sangat cocok untukmu. Memberikan kesan wanita karier yang sukses namun butuh seseorang untuk berbagi kopi hangat di sore hari."

Shizuka tertegun sejenak. Rona merah tipis muncul di pipinya yang biasanya dingin. Dia membuang muka, menatap ke arah lain. "Kau terlalu dewasa untuk anak seusiamu, Saiba. Terkadang itu membuatku lupa bahwa kau adalah muridku."

"Usia hanyalah angka dalam variabel waktu, Sensei. Kedewasaan adalah hasil dari seberapa banyak kita bernegosiasi dengan kepahitan hidup," jawabku tepat saat kereta berikutnya tiba. "Mari, Sensei. Setelah Anda."

Aku memberikan isyarat dengan tangan agar dia masuk duluan. Selama di dalam kereta, kami tidak banyak bicara, namun keheningan di antara kami tidak terasa canggung. Ada sebuah pengertian tanpa kata yang mulai terbangun.

Sesampainya di sekolah, suasana mulai memanas. Saat aku berjalan menuju loker sepatu, aku melihat kerumunan kecil di depan papan pengumuman. Di tengah kerumunan itu, Utaha Kasumigaoka sedang berdiri dengan tangan bersedekap, menatap sebuah poster kompetisi menulis tingkat nasional.

Begitu dia melihatku, senyum menantangnya kembali muncul.

"Jadi, si musafir akhirnya tiba," ucap Utaha cukup keras hingga beberapa orang menoleh. "Bagaimana tidurnya, Saiba-kun? Apakah kau bermimpi tentang 'variabel' yang kau bicarakan kemarin?"

Aku melangkah mendekatinya, membiarkan aura [Karisma Pasif] dari sistem bekerja sedikit lebih kuat. "Tidurku sangat nyenyak, Senpai. Dan jika kau ingin tahu, variabel dalam mimpiku ternyata jauh lebih kooperatif daripada yang berdiri di depanku saat ini."

Utaha tertawa pelan, melangkah selangkah lebih dekat hingga jarak kami hanya tersisa beberapa belas sentimeter. "Oh ya? Mari kita lihat seberapa kooperatif kau saat draf novelmu kubantai di depan klub sastra nanti sore."

Dia menyelipkan sebuah kertas kecil ke dalam saku seragamku dengan gerakan yang sangat halus, lalu berjalan pergi sembari melambaikan tangan.

Aku mengambil kertas itu. Hanya ada satu baris kalimat yang tertulis di sana:

"Atap sekolah. Istirahat pertama. Jangan terlambat jika kau masih ingin menyebut dirimu seorang penulis."

Aku menyeringai. Permainan ini semakin menarik. Tantangan dari Utaha adalah bumbu yang kubutuhkan untuk meningkatkan kemajuan template pekerjaanku. Namun, saat aku berbalik, aku melihat Haruno Yukinoshita sedang bersandar di pilar gedung seberang, memperhatikanku dengan tatapan yang sangat intens.

Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang.

Angin di atap sekolah berhembus lebih kencang daripada di koridor bawah, membawa hawa sejuk yang menyegarkan sekaligus aroma samar dari pembersih lantai yang baru saja digunakan di tangga darurat. Aku mendorong pintu besi berat itu perlahan. Suara decitannya tertelan oleh riuh rendah suara siswa di lapangan olahraga jauh di bawah sana.

Di dekat pagar pembatas, sosok Utaha Kasumigaoka berdiri membelakangiku. Rambut hitamnya menari liar dipermainkan angin, kontras dengan bando putihnya yang tetap kokoh di tempatnya. Dia tidak menoleh, seolah sudah tahu bahwa langkah kaki yang mendekat ini adalah milikku.

"Tepat waktu," gumamnya tanpa merubah posisi. "Setidaknya kau tahu cara menghargai waktu seorang wanita, Saiba-kun."

Aku melangkah hingga berdiri di sampingnya, menyandarkan kedua lenganku pada pagar besi yang terasa dingin. "Waktu adalah satu-satunya mata uang yang tidak bisa kita cetak ulang, Senpai. Melewatkan undangan darimu sama saja dengan membuang keberuntungan yang jarang datang dua kali."

Utaha akhirnya menoleh. Matanya yang sedikit sayu menatapku dengan intensitas yang bisa membuat pria biasa merasa diadili. "Retorika yang manis. Tapi aku membawamu ke sini bukan untuk mendengar pujian picisan. Aku sudah membaca sedikit draf yang kau tulis di perpustakaan kemarin—ah, jangan tanya bagaimana aku melakukannya. Seorang penulis punya cara untuk mencuri intip karya saingannya."

Aku menaikkan sebelah alis, sedikit terkejut namun tetap tenang. Sifat nakal dalam diriku mulai bereaksi. "Mencuri intip? Aku lebih suka menyebutnya sebagai bentuk ketertarikan yang tidak tertahankan pada variabel baru."

"Sebut sesukamu," Utaha mengeluarkan sebuah naskah dari tasnya, membolak-baliknya dengan gerakan elegan. "Gayamu sangat unik. Kau tidak menulis seperti remaja yang sedang kasmaran. Kau menulis seperti seseorang yang sudah hidup ribuan tahun dan bosan dengan segalanya, namun masih memiliki sisa romansa yang terkubur di balik sarkasme itu. Katakan padaku, Ren Saiba... siapa kau sebenarnya?"

Aku terdiam sejenak, menatap awan yang bergerak lambat di langit Chiba. "Aku hanyalah seorang pria yang mencoba memahami dunia melalui tinta, Senpai. Terkadang kita harus menjadi orang asing di dunia kita sendiri agar bisa melihat warna yang sebenarnya."

[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]

[Kemajuan: 65% - Diskusi Filosofis dengan Rival]

[Status: Hubungan dengan Utaha Kasumigaoka - Ketertarikan Intelektual Terjalin]

Utaha mendekat, jarak di antara kami kini sangat tipis hingga aku bisa mencium aroma lavendernya yang menenangkan. Dia meletakkan tangannya di atas tanganku yang berada di pagar besi. Kulitnya terasa halus dan dingin.

"Kau sangat menarik," bisiknya, suaranya kini lebih rendah dan sarat dengan nada menggoda yang dewasa. "Tapi jangan pikir kau bisa menang dariku begitu saja. Jika kau ingin aku mengakui draf ini, kau harus membantuku menyelesaikan satu adegan dalam novelku yang sedang macet. Aku butuh perspektif pria yang... 'berbeda' sepertimu."

"Perspektif seperti apa yang kau cari, Senpai?" tanyaku, menoleh langsung ke arah matanya.

"Sentuhan," jawabnya singkat. "Adegan di mana sang protagonis pria pertama kali menyentuh hati sang wanita tanpa menggunakan kata-kata. Tunjukkan padaku bagaimana kau akan melakukannya."

Aku tersenyum tipis. Sifat protektif dan dewasaku mengambil alih. Alih-alih menjawab dengan kata-kata puitis, aku mengangkat tanganku, perlahan merapikan helaian rambut yang menutupi wajahnya, lalu membiarkan punggung jariku mengusap pipinya dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh perasaan.

Utaha sedikit tersentak, napasnya tertahan sejenak. Matanya yang biasanya tajam kini sedikit melebar, menunjukkan celah pada dinding pertahanannya. Keheningan di atap itu terasa semakin pekat, seolah waktu berhenti hanya untuk momen ini.

Namun, sebelum momen itu berlanjut lebih jauh, suara tepuk tangan yang lambat dan sarkastik terdengar dari arah pintu atap yang tadi kututup.

"Wah, wah... aku tidak tahu kalau atap sekolah sekarang berubah menjadi lokasi syuting drama romansa murahan."

Aku menarik tanganku perlahan, menoleh ke arah sumber suara. Yukinoshita Haruno berdiri di sana, bersandar pada dinding beton dengan senyum manipulatif yang masih terpatri di wajah cantiknya. Di belakangnya, tampak Yukinoshita Yukino yang berdiri dengan wajah kaku dan mata yang penuh dengan ketidaksenangan.

"Haruno-san," aku menyapa dengan nada datar, seolah keberadaannya bukanlah gangguan besar. "Aku tidak tahu kau punya hobi mengintip urusan orang lain di jam sekolah."

"Hanya memastikan bahwa murid pindahan baruku tidak 'dimangsa' oleh penulis berbakat kita di sini," Haruno melangkah maju, menarik adiknya, Yukino, untuk ikut mendekat. "Yukino-chan di sini merasa terganggu karena suara-suara di atap mengganggu waktu bacanya di ruang klub di bawah. Benar kan, Yukino-chan?"

Yukino mendengus, matanya menatapku dengan dingin. "Aku tidak peduli apa yang kalian lakukan, selama itu tidak melanggar norma kesopanan sekolah. Tapi melihat posisimu tadi, Saiba-kun... sepertinya kau butuh bimbingan moral tambahan dari Hiratsuka-sensei."

Utaha kembali ke mode 'badai'-nya. Dia merapikan seragamnya dan menatap Haruno dengan tatapan tajam. "Keluarga Yukinoshita memang selalu tahu cara merusak suasana. Apa kalian tidak punya pekerjaan lain selain mencampuri variabel yang sedang kuuji?"

Haruno tertawa renyah, mendekati kami dan berdiri di antara aku dan Utaha. "Oh, jangan marah begitu. Aku hanya ingin mengajak Ren-kun bicara sebentar. Ada sesuatu tentang 'masalalu' keluarganya di Huaxia yang menarik minatku."

Aku menyempitkan mata. Haruno mulai menggali, dan itu adalah tanda bahwa aku harus bermain lebih hati-hati. Rahasia transmigrasiku adalah mutlak, namun identitas Ren Saiba yang lama adalah sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai pengungkit.

"Jika kau ingin membicarakan sejarah, Haruno-san, aku lebih suka melakukannya di perpustakaan," ujarku sembari mengambil tas sekolahku. "Untuk sekarang, kurasa pembicaraan di atap ini sudah cukup produktif."

Aku melirik Utaha, memberikan anggukan kecil sebagai kode bahwa pembicaraan kami belum selesai. Lalu, aku berjalan melewati Haruno dan Yukino tanpa ragu. Saat aku tepat berada di samping Haruno, aku berbisik sangat pelan, hanya untuk telinganya.

"Berhenti menggali tanah yang sudah rata, Haruno-san. Kau mungkin tidak akan suka dengan apa yang kau temukan di bawah sana."

Senyum Haruno sedikit memudar, namun matanya justru semakin berbinar karena tantangan itu. Aku terus melangkah, menuruni tangga menuju kelas.

[Status: Waspada - Yukinoshita Haruno memulai investigasi]

[Peringatan: Hindari kebocoran variabel pribadi]

Hari kedua baru saja dimulai, dan jaring-jaring drama ini sudah mulai mencekik. Namun, di balik semua tekanan itu, aku merasakan adrenalin yang menyenangkan. Inilah hidup yang tidak membosankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!