Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian baru
Malam Selasa Kliwon itu bukan lagi malam penyiksaan bagi Mirasih, melainkan sebuah panggung sandiwara yang ia mainkan dengan seluruh sisa jiwanya yang hancur. Di dalam kamar yang pekat, aroma melati dan kenanga beradu dengan bau kemenyan yang menyesakkan. Saat hawa dingin yang menusuk tulang itu datang, menandakan kehadiran sang penguasa hutan, Mirasih tidak lagi meringkuk ketakutan di sudut dipan. Ia justru duduk tegak, membiarkan rambutnya yang panjang terurai di atas bahu, menanti sang mahluk dengan tatapan yang nyalang.
Wujud pria tampan jelmaan Ki Ageng Gumboro itu muncul dari balik kegelapan. Ia tampak lebih gagah dari sebelumnya, dengan sorot mata yang mengandung daya pikat ghaib sekaligus kengerian yang dalam. Namun, ia tertegun sejenak melihat Mirasih yang menyambutnya dengan tangan terbuka.
"Kau menungguku, Istriku?" suara mahluk itu bergema, menggetarkan kaca-kaca jendela.
Mirasih tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik mahluk itu ke dalam dekapannya. Dalam benaknya yang sudah terkontaminasi oleh dendam, ia menutup mata rapat-rapat. Ia membuang bayangan sosok mengerikan yang sedang menyentuhnya, dan dengan sekuat tenaga, ia memanggil wajah Aditya ke dalam imajinasinya. Ia membayangkan bahwa tangan yang membelainya adalah tangan Aditya. Ia membayangkan napas panas di lehernya adalah napas laki-laki yang ia cintai.
Kekuatan imajinasi itu membuat Mirasih yang biasanya kaku dan menangis pilu, berubah menjadi sosok yang liar dan penuh gairah. Ia membalas setiap sentuhan dengan keberanian yang tidak masuk akal. Penyatuan itu terjadi berkali-kali, lebih lama dan lebih intens dari malam-malam sebelumnya. Sang Genderuwo, yang tidak menyadari bahwa dirinya hanyalah "pengganti" dalam fantasi Mirasih, merasa sangat puas. Ia merasa energinya terserap dan menyatu dengan sempurna ke dalam raga Mirasih. Gairah liar Mirasih seolah menjadi nutrisi baru yang membuat kekuatan ghaib sang mahluk semakin memuncak.
Kamar itu seolah-olah terpisah dari dimensi waktu. Di ruang tengah, Paman Broto dan Bibi Sumi hanya bisa saling berangkulan di atas sofa, gemetar mendengar suara-suara aneh dan tawa lirih yang keluar dari kamar Mirasih. Mereka ngeri melihat betapa cepatnya keponakan mereka berubah, namun di sisi lain, keserakahan mereka berbisik bahwa semakin puas sang "Tuan", maka semakin banyak pula emas yang akan mereka terima pagi nanti.
Menjelang fajar, saat ayam hutan mulai berkokok sayup-sayup di kejauhan, intensitas di dalam kamar itu mereda. Cahaya rembulan yang mulai memucat menerangi wajah Mirasih yang penuh peluh dan rambut yang berantakan. Sang Genderuwo, masih dalam wujud manusia tampannya, duduk di tepi tempat tidur sambil membelai pipi Mirasih dengan jari-jarinya yang dingin namun kini terasa lebih lembut.
Ia menatap mata Mirasih dalam-dalam. Sebagai mahluk purba yang telah hidup ratusan tahun, ia bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Kepuasan fisik yang ia dapatkan malam ini sangat besar, namun ia merasakan getaran emosi yang aneh dari mempelainya. Ada kepahitan yang sangat pekat di balik setiap desahan Mirasih.
"Katakan padaku, Mirasih..." suara Ki Ageng Gumboro terdengar rendah dan berwibawa. "Kenapa malam ini kau begitu berbeda? Kenapa kau menyerahkan dirimu padaku dengan begitu berani, seolah kau memang mendambakanku sebagai suamimu? Aku bisa merasakan pedih yang luar biasa dalam sukmamu."
Mirasih terdiam sejenak. Ia bangkit, duduk bersandar pada kepala tempat tidur yang kini empuk, membiarkan kain jariknya menutupi tubuhnya yang penuh dengan tanda keunguan. Ia menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan hutan yang merupakan rumah bagi mahluk di hadapannya.
"Karena duniaku sudah kiamat, Tuan," ucap Mirasih datar, tanpa ada lagi air mata yang tersisa.
"Kiamat karena apa?" tanya sang mahluk. "Bukankah pamanmu kini kaya raya? Bukankah kau tinggal di kamar yang indah?"
Mirasih tertawa getir. Tawa yang terdengar sangat tua untuk gadis seusianya. "Semua itu sampah bagiku. Aku bertahan hidup selama ini hanya karena satu janji. Janji seorang laki-laki bernama Aditya. Tapi kemarin, aku menerima surat darinya. Dia membuangku. Dia meremehkanku karena aku hanya gadis desa yang tidak jelas masa depannya. Dia memilih dunianya di Jakarta dan menyuruhku mencari laki-laki lain."
Mendengar nama Aditya, aura di sekitar Ki Ageng Gumboro mendadak berubah menjadi gelap. Angin di dalam kamar bertiup kencang, menjatuhkan beberapa vas bunga di atas meja. Mahluk itu merasakan amarah yang hebat—amarah karena istrinya, permaisuri yang telah ia pilih, disakiti oleh manusia fana yang tidak berguna.
"Jadi, kau melakukannya tadi karena membayangkan dia?" tanya sang Genderuwo, suaranya mengandung ancaman ghaib yang berat.
Mirasih menoleh, menatap langsung ke mata merah yang tersembunyi di balik wujud manusia tampan itu. "Ya. Aku menggunakanmu untuk membunuhnya di dalam kepalaku. Dan sekarang, dia sudah mati bagiku."
Ki Ageng Gumboro terdiam. Keangkuhan mahluk ghaibnya tersinggung, namun di sisi lain, ia terpesona oleh kegelapan yang kini mendiami hati Mirasih. Ia melihat potensi dendam yang sangat besar yang bisa ia gunakan untuk mengikat Mirasih selamanya.
"Apakah kau ingin aku membunuhnya?" geram sang Genderuwo. "Katakan saja ,di manapun dia berada Aku bisa mengirimkan teluh yang akan menghancurkan organ dalamnya, atau aku bisa menjemput nyawanya malam ini juga."
"Tidak," jawab Mirasih cepat. Matanya berkilat dengan kebencian yang dingin. "Kematian terlalu mudah baginya. Aku tidak ingin dia menderita secara fisik."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin dia melihatku di puncak kejayaan. Aku ingin dia yang meremehkanku, dia yang membuangku seperti sampah, suatu hari nanti akan merangkak di bawah kakiku. Aku ingin dia bersujud meminta maaf, memohon cinta dan pengampunanku dengan air mata darah," ucap Mirasih dengan nada yang mengerikan. "Aku ingin dia hancur secara batin, seperti yang aku rasakan saat membaca surat itu."
Sang Genderuwo menatap Mirasih dengan kekaguman yang aneh. "Keinginanmu sangat kejam, Manusia Kecil. Kau lebih seperti kami daripada seperti bangsamu sendiri."
"Maka dari itu, berikan aku apa yang aku butuhkan untuk mencapainya," lanjut Mirasih. "Berikan aku harta yang tidak akan habis tujuh turunan. Berikan aku emas yang sanggup membeli harga diri siapa pun. Aku akan menjadi istrimu yang paling patuh, aku akan melayanimu setiap malam yang kau inginkan, asalkan kau menjadikanku wanita terkaya dan paling berkuasa di tanah ini."
Ki Ageng Gumboro mendekat, ia meraih dagu Mirasih dan mencium keningnya. Sebuah ciuman yang menandakan segel kontrak yang lebih dalam dari sekadar pesugihan biasa. Ini adalah pernikahan jiwa.
"Satu hal lagi, Mirasih..." bisik mahluk itu. "Jika nanti harinya tiba, saat laki-laki itu bersujud di depanmu dan memohon cintamu kembali... apakah kau akan goyah? Apakah kau akan menyerahkan kembali tubuh dan cintamu padanya?"
Mirasih tersenyum, sebuah senyuman yang sangat dingin hingga membuat suhu kamar semakin membeku. "Tidak. Aku tidak akan pernah menyerahkan tubuh ini padanya lagi. Tubuh ini milikmu, Tuan. Aku hanya ingin melihatnya hancur. Setelah dia hancur, aku akan meludah di wajahnya dan membiarkannya membusuk dalam penyesalan."
Sang Genderuwo tertawa sangat keras, suara tawanya bergema hingga ke seluruh desa, membuat anjing-anjing liar menggonggong ketakutan. "Bagus! Sangat bagus! Aku terima permintaanmu, Permaisuriku. Mulai besok, kau akan melihat bagaimana dunia bertekuk lutut di hadapanmu. Kemiskinan tidak akan pernah menyentuhmu lagi, dan setiap orang yang menghinamu akan memohon ampun padamu."
Mahluk itu perlahan menghilang bersamaan dengan datangnya cahaya fajar di ufuk timur. Saat ia pergi, ia meninggalkan sebuah peti kayu kecil di atas tempat tidur Mirasih.
Saat matahari mulai naik, Mirasih bangun dengan perasaan yang aneh. Tubuhnya terasa lebih kuat, seolah ada energi ghaib yang mengalir di nadinya. Ia membuka peti kayu yang ditinggalkan sang suami ghaib. Di dalamnya, tumpukan emas batangan dan perhiasan berlian yang berkilauan memenuhi peti tersebut. Nilainya jauh lebih besar daripada mahar-mahar sebelumnya.
Mirasih mengambil sebuah kalung berlian yang sangat indah, lalu memakainya di lehernya yang jenjang. Ia berjalan menuju cermin. Ia melihat dirinya yang baru. Bukan lagi Mirasih si pembantu yatim piatu yang malang, melainkan Mirasih sang nyonya besar yang dikawal oleh kekuatan kegelapan.
Ia keluar dari kamar. Di ruang tengah, Paman Broto dan Bibi Sumi sudah menunggu dengan wajah cemas. Mereka terbelalak melihat kalung berlian yang melingkar di leher Mirasih.
"Mirasih... itu... dari mana?" tanya Bibi Sumi gagap.
Mirasih menatap mereka berdua dengan tatapan merendahkan. "Dari suamiku. Dan mulai hari ini, jangan pernah lagi mengatur hidupku. Aku yang memegang kunci harta di rumah ini. Kalian boleh menikmati sisa-sisanya, tapi jangan pernah lupa bahwa kalian hidup karena kemurahhatianku."
Paman Broto menelan ludah. Ia ingin marah, namun melihat aura gelap yang terpancar dari Mirasih, ia merasa seolah-olah ada sosok raksasa yang berdiri di belakang keponakannya itu. Ia sadar, posisi telah berbalik. Mirasih bukan lagi aset yang bisa ia perintahkan; Mirasih adalah majikan baru di rumah itu.
Mirasih berjalan menuju dapur, ia menuangkan air putih dan meminumnya dengan tenang. Pikirannya terbang ke Jakarta, ke arah Aditya yang ia sangka telah menghianatinya.
Tunggu aku, Aditya, batin Mirasih. Emas ini akan menjadi peti matimu. Aku akan membelimu dengan harta ini, lalu aku akan menghancurkanmu sampai tidak ada lagi yang tersisa dari harga dirimu.
Di Jakarta, pada saat yang bersamaan, Aditya tiba-tiba jatuh tersungkur di lokasi proyek. Dadanya terasa sangat sesak seolah-olah ada tangan yang meremas jantungnya. Ia batuk darah, menatap ke arah langit dengan perasaan gelisah yang luar biasa. Ia tidak tahu bahwa surat yang ia kirimkan dengan penuh cinta telah berubah menjadi racun yang menciptakan monster di dalam diri wanita yang paling ia cintai.
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk