Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Shelina masih duduk di tepi ranjang ketika Kaisar mematikan lampu utama, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur. Bayangan mereka jatuh samar di dinding, seolah ikut menahan napas.
Kaisar mendekat, duduk di samping Shelina tanpa menyentuhnya lebih dulu.
“Kamu yakin?” tanyanya pelan.
Shelina mengangguk kecil. Jantungnya berdegup cepat, tapi kali ini bukan karena takut. Ada kehangatan aneh yang mengalir di dadanya, perasaan yang sudah lama ia lupakan.
Kaisar mengulurkan tangan, ragu sepersekian detik. Shelina yang lebih dulu menggenggamnya. Jemari mereka saling bertaut, hangat, dan seolah memang diciptakan untuk saling menemukan.
“Kalau aku gemetar,” Shelina berbisik lirih, “jangan dilepas.”
Kaisar tersenyum tipis, matanya melembut.
“Aku nggak ke mana-mana.”
Dia menarik Shelina perlahan hingga berbaring, memberi ruang, memberi waktu. Tidak ada yang terburu-buru. Hanya napas yang mulai seirama, dan jarak yang pelan-pelan menghilang. Kaisar memeluk Shelina dari samping, lengannya mengitari tubuh wanita itu dengan hati-hati, seolah Shelina adalah sesuatu yang rapuh dan berharga.
Shelina menempelkan dahinya ke dada Kaisar. Detak jantung pria itu terdengar jelas dan tenang.
“Hangat,” gumamnya, nyaris seperti anak kecil yang akhirnya merasa aman.
Kaisar mengusap rambut Shelina pelan, berulang, ritmenya menenangkan.
“Tidur,” bisiknya.
Shelina memejamkan mata. Ketegangan yang sejak lama bersarang di pundaknya luruh satu per satu. Tangannya mencengkeram kaus Kaisar, bukan karena takut kehilangan tetapi melainkan karena ingin memastikan ini nyata.
Namun detik berikutnya, saat Shelina terlalu dekat, tubuhnya menangkap perubahan itu. Ada keheningan yang mendadak canggung, yang tak terucap. Dia tahu dan rasa malu langsung merambat ke pipinya. Kaisar pun menegang, bukan hanya karena jarak mereka, tapi karena kenyataan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Kai—” Shelina memanggil namanya lirih, hampir berbisik. Nada suaranya lembut, ragu sekaligus berani.
“Kalau … aku bisa bantu.”
Kaisar menarik napas.
“Shel—” katanya hendak menolak, gugup, dan jujur. Tapi sebelum kata itu selesai, ujung jari Shelina sudah menyentuh bibirnya. Isyarat kecil, namun tegas. Permintaan agar ia diam agar ia mendengar tanpa kata.
Mata mereka bertemu. Tidak ada lagi canggung, hanya pengakuan yang tenang. Shelina menatapnya dengan keyakinan yang lembut, seolah berkata bahwa ia memilih berada di sana, bersamanya, sepenuhnya.
Kaisar menelan ludah, lalu mengangguk pelan. Tangannya naik, menyentuh Shelina dengan kehati-hatian yang penuh hormat seperti sebuah janji tanpa suara. Malam pun kembali sunyi, menyelimuti dua hati yang belajar percaya pada langkah mereka sendiri.
“Pelan,” bisik Kaisar lagi, nyaris seperti permohonan.
Justru kata itu yang membuat Shelina menegang. Ia menarik napas, lalu berbalik membelakangi Kaisar dengan gerakan kecil yang jelas-jelas merajuk.
“Kenapa selalu ngomong pelan, sih?” gumamnya lirih, ada kecewa yang tak disembunyikan. “Aku sudah siap, Kai.”
Hening sekejap. Kaisar terdiam, lalu mendekat. Dari belakang, lengannya melingkari tubuh Shelina dengan hangat. Dagu Kaisar bertumpu ringan di bahu Shelina, napasnya menyentuh kulit leher wanita itu.
“Kamu sadar nggak,” bisiknya lembut, namun ada nada rendah yang membuat jantung Shelina berdebar, “sejak tadi kamu yang memancing aku?”
Shelina tak menjawab, tapi tubuhnya tak menolak. Jemarinya menggenggam selimut, napasnya berubah dangkal.
Kaisar mempererat pelukannya, seolah ingin menenangkan sekaligus menegaskan.
“Kalau kamu sudah berani sejauh ini,” lanjutnya pelan, “aku nggak akan melepaskan kamu malam ini.”
Shelina memejamkan mata. Rasa kesal itu luruh, berganti hangat yang menjalar perlahan. Ia bersandar, membiarkan dirinya percaya kepada pelukan itu, pada bisikan itu, pada pria yang kini tak lagi ragu menjaga sekaligus menginginkannya.
Perlahan Kaisar membalikkan tubuh Shelina hingga wanita itu terbaring menghadapnya. Jarak mereka begitu dekat, napas saling bersentuhan. Shelina menahan debar di dadanya, matanya terbuka menatap wajah pria yang kini menjadi suaminya dan masih terasa asing, tapi tak lagi sepenuhnya jauh.
“Kai…” panggil Shelina lirih, suaranya bergetar.
Kaisar berhenti tatapannya turun, mencari mata Shelina.
“Kalau belum siap, nggak apa-apa kita tunda,” ucapnya pelan, jujur.
Shelina menelan ludah. Tangannya mencengkeram ujung baju Kaisar, seolah itu satu-satunya pegangan.
“Aku udah siap … tetapi aku cuma takut,” bisiknya.
Tak ada jawaban berupa kata. Kaisar menunduk, mengecup bibir Shelina dengan sentuhan pertama yang sangat pelan tetapi hampir seperti bertanya. Saat Shelina tak menarik diri, kecupan itu kembali mendarat, sedikit lebih lama, dan nafas Shelina tersengal halus.
“Kai … pelan,” katanya refleks, ,saat Kaisar mencium kasar bibirnya.
Kaisar tersenyum kecil di sela jarak bibir mereka.
“Dari tadi juga udah pelan,” balasnya lembut sembari menggoda, lalu kembali mengecup dan kali ini membuat Shelina menutup mata, membiarkan dirinya larut.
Jari-jari Kaisar menyelip di rambut Shelina, menahan dengan kehati-hatian. Shelina tanpa sadar mendekat, dadanya naik turun, hatinya berdebar tak karuan. Ada pergulatan kecil di dalam dirinya, antara malu, takut, dan keinginan untuk percaya.
“Aku tidak akan pernah pergi dari sini lagi,” bisik Kaisar di sela kecupan, seolah membaca kegelisahan itu. “Nggak akan ke mana-mana.”
"Ah, Kai..." Desahan pelan lolos dari bibir Shelina. Tangannya bergerak ragu, lalu berani, menyentuh Kaisar seakan memastikan bahwa semua ini nyata.
Kaisar berhenti lagi. Kecupan terakhir mendarat di kelopak mata Shelina, penuh rasa dan dahi mereka bersentuhan.
“Shelin…” suaranya rendah dan serius. “Aku mau lebih dari ini. Aku ingin, aku juga mau kamu ingin dan aku sudah tak bisa berhenti,"
Shelina membuka mata. Ada gugup di sana, tapi juga keyakinan yang perlahan tumbuh. Ia tak menjawab dengan kata-kata tetapi hanya menarik Kaisar lebih dekat, memeluknya erat.
Kaisar menghela napas, seolah menahan sesuatu yang selama ini ia pendam.
“Kalau sudah mulai,” bisiknya dengan nada setengah menggoda, setengah serius, “aku nggak janji bisa mundur.”
Shelina tersenyum tipis, pipinya memanas. “Aku juga nggak minta kamu mundur.”
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.