"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur bersama
"Wah! Bagus sekali." seru Nila terpukau,
Kedua matanya dibuat takjub oleh interior tempat yang telah menjadi miliknya. Gadis itu berjalan maju menuntun Elang hingga ke sofa,
"Sayang sekali, padahal aku mau dia ngelihat pemandangan ini." gumamnya perihatin, memandang pria yang baru saja duduk.
Elang terlihat tenang bersandar pada kursi empuk di depannya,
"Apa ini?! Kenapa aku bilang gitu, kalau gini aku sama saja kayak mereka yang mengejeknya?" celetuk Nila dalam hati menggurutui diri sendiri,
Sudah cukup, jangan sampai dia kembali mengeluh. Lagi pula tidak ada orang yang mau menjadi buta, pasti Elang juga mengalami hal sulit karena harus kehilangan penglihatannya.
Nila beranjak menduduki sofa, menempel pada pria yang terlebih dulu duduk disana. "Gimana menurutmu? Apa kamu merasa nyaman disini?"
"Ya sepertinya begitu." menyahuti santai,
"Lagipula semua ini ga terlalu berbeda untuk orang buta sepertiku."
"Tentu saja berbeda!" sontak Nila meninggikan suara, menoleh dengan raut penuh serius. Tak menerima keluhan yang pria tadi lontarkan,
Kenapa Elang malah bersikap menyedihkan?
"Dengerin! Walau ga bisa ngelihat, tapi kamu bisa merasakan." spontan meraih wajah Elang hingga menoleh padanya,
"Rasakan udaranya terasa lebih segar, tidak pengap seperti kosmu."
"Kursinya juga empuk, luas, udaranya juga dingin. Ada AC disini," dengan paksa menuntun tangan Elang demi meraba sekeliling.
"Mata bukan satu-satunya indra yang manusia punya. Jadi jangan bersikap menyedihkan," ungkap Nila terus berceloteh, tanpa sadar tangannya masih menggenggam telapak tangan Elang.
Blush...
Wajah Nila terasa panas, dia menyadari posisi mereka yang semakin dekat. Pria itu juga hanya diam menoleh, duduk patuh membiarkan tangannya digerakkan sesuka hati.
"Besar sekali," ucap Nila melirik tangan kekar hangat yang berada dalam genggaman.
Jemarinya terlihat sangat kecil dibandingkan dengan milik Elang, seakan terhanyut dalam lamunan kelima jari Nila menyelip ke sela jari Elang lalu menangkupnya dari belakang.
Sekilas dia kembali menatap wajah Elang untuk melihat reaksinya. Namun pria itu tetap diam dengan wajah datar,
Sepertinya tidak masalah kalau Nila bergerak lebih jauh. Itu yang dia pikirkan, sampai berani meraba dada bidang berbalut kemeja.
"Apa yang kamu lakukan?" seru Elang bergerak mundur, mulai panik melihat ekspresi di wajah Nila yang membuatnya takut.
"Aku cuma mau memastikan sesuatu." menjawab polos, dengan cepat menggerayangi tubuh yang terasa dipenuhi otot.
"Sudah cukup," tegasnya mengelak, menghempaskan tangan Nila.
"Bagaimana kamu bisa punya tubuh kekar seperti ini?" terlihat begitu penasaran, matanya tak henti melirik.
Seakan dibuat gila Nila bertindak di luar kendali, tangannya nyaris sampai namun berhasil dihentikan.
"Tentu saja-Ng...karena aku rajin olahraga." lugas Elang menggeratkan gigi, mencengkram erat pergelangan tangan Nila hingga tak berdaya.
Meski berusaha keras melawan, Nila benar-benar terkunci tak mampu bersaing dengan kekuatan seorang pria.
"..." Nila terdiam manyun, kedua alisnya bertaut karena gagal.
"Aku mau istirahat, tunjukkan kamarku..." pintanya singkat, melepaskan gadis yang sudah kembali tenang.
"Istirahat? Jam segini? Apa kamu terbiasa tidur siang?"
"Kalau gitu, barang bawannya aku beresin nanti saja. Ayo kita ke kamar!" ajak Nila sigap bangun bersiap meraih lengan pria di depannya,
"Kamu tunjukkan saja. Aku bisa jalan sendiri..." Elang menolak dengan halus, sepertinya merasa terancam setelah kejadian barusan.
"Lho, aku juga mau istirahat! Ayo kita tidur bersama," menyahuti santai,
"Apa maksudmu?!" Elang mengernyit, tak menyangka gadis itu berani mengatakan hal yang tak masuk akal.
"Tidur! Ayo tidur bareng." pintanya sekali lagi,
"Apa kamu ingin melakukan itu?" tanya Elang secara spontan.
"Hh, tidak. Maksudku bukan tidur bersama untuk melakukan itu---" menggeleng cepat, rautnya begitu panik karena tuduhan Elang.
Ucapannya justru membuat Nila tiba-tiba memikirkan hal kotor, sampai pipinya berubah ranum seperti tomat.
"Aku cuma mau kita tidur-tiduran terus ngobrol, biar kita makin akrab."
"Oh gitu. Aku pikir kamu mau melakukannya---jadi aku takut mengecewakanmu,"
"Coba saja aku tidak buta, pasti aku akan menggendongmu ke atas ranjang." ucap Elang berbasa-basi,
"Kamu ga harus menggendongku. Nanti kalau kita sudah saling mengenal, aku juga siap melakukan hubungan suami istri." gumam Nila tersipu malu,
"Ada apa dengannya?" batin Elang dibuat bingung,
Kenapa tiba-tiba gadis itu bertingkah seperti cacing kepanasan? Padahal di matanya, Elang hanyalah pria buta. Tapi kenapa Nila seakan salting untuk bertatap wajah,
"Kalau gitu, ayo! Aku tidak sabar mau ngelihat wajah tampanmu saat tertidur..."
"Aku benci wajah tampanku," sontak Elang dalam hati, merasa terpojok oleh ajakan gadis yang kini terlihat begitu nafsu menggandeng tangannya.
"Kamu duluan saja. Aku mau mandi dulu," tolak Elang melepaskan diri, melangkah mundur meraih tongkat yang disandarkan pada kursi.
"Aku akan membantumu," tawarnya polos dengan kedua mata membulat sempurna. Bak anak kecil yang tengah mengharapkan sesuatu,
"Jangan bertingkah terlalu jauh. Aku terbiasa mandi sendiri," tegas Elang melangkah pergi,
Nila mematung setelah mendapat penolakan, berdiam diri menatap punggung yang begitu pelan menjauh.
Berbekal tongkat di tangan, dia berjalan meraba dari ujung hingga berhenti di depan pintu ruang.
"Lho, kok dia bisa tahu kamar mandinya disitu? Aku kan belum ngomong apa-apa..." gumam Nila dibuat takjub, memandang pria yang baru saja masuk.
Entah setan apa yang merasukinya, secara serentak sensasi sentuhan ketika meraba tubuh kekar Elang tadi membuat tangan Nila terasa gatal.
Dari balik baju saja sudah sangat terasa, kira-kira bagaimana penampilannya dalam keadaan telanjang?
Tapi sepertinya pria itu tidak terlalu senang dan merasa risih, meski tahu akan hal itu Nila tidak kehabisan akal.
Dia menoleh bergegas mengambil handuk yang dibawa dari dalam tas.
Tok!
Tok!
Tok!
Diketoknya pintu dengan cukup keras, bibirnya tersenyum lebar memikirkan siasat. Namun tidak ada jawaban,
Nila mendekat menyandarkan telinga, berhasil mendengar gemericik air dari dalam lalu kembali memukulkan kepalan tangannya pada pintu.
"Ada apa?" tanya Elang dari dalam,
Sebenarnya dia hanya diam berdiri di samping shower, membiarkan air terus gemericik untuk mengelabui Nila.
Elang berusaha menghindar dan ingin mengulur waktu dengan berdalih membersihkan diri. Mungkin saja setelah keluar Nila sudah tertidur lebih dulu,
Tapi ternyata tidak semudah itu membohonginya, siapa sangka Nila akan berdiri menunggu di luar.
"Aku membawakanmu handuk!" pekik Nila agar terdengar,
"Buka pintunya!" sekali lagi mengetuk pintu.
"Gantungkan saja di luar, nanti ku ambil sendiri."
"Jangan! Nanti handuknya jatuh. Buka sedikit saja, berikan tanganmu nanti aku kasih handuknya.." seru Nila bersikeras,
"Tenang saja, aku ga akan ngintip." tambahnya berusaha membujuk.
Elang menghela nafas panjang, merasa tertekan dan tak memiliki cara lain. "Dasar keras kepala,"
Dengan cepat pria itu membuka kemeja yang dipakai lalu menekan botol sabun di sisi lain. Menggosok cepat untuk menyebarkan aroma ke seluruh ruang,
Dibasahinya lengan sebelum membuka pintu kamar mandi,
Nila yang mendengar suara pintu terbuka mulai tersenyum licik. Jangan sampai kehilangan kesempatan,
Dan benar saja saat lengan kekar Elang keluar, dia bergerak cepat hendak mengintip. Sialnya tak cukup kuat menarik pintu yang sudah di tahan dari dalam,
"Cepat berikan handuknya," pinta Elang sambil berusaha keras menarik gagang pintu.
Pria itu tahu kalau Nila tidak akan diam saja,
"Huh!" Nila mendengus kesal, terpaksa menyerahkan handuk.
Tak menyangka kalau Elang akan bersikap waspada, padahal dia mengira bisa melihat sedikit pemandangan di dalam.
"Arhg, kenapa sih aku? Kok jadi liar banget," rengek Nila merasa geram.
"Padahal dulu waktu pacaran, aku ga kayak gini."
"Kenapa sekarang jadi nafsuan..." menyesali perbuatannya yang memalukan,
"Kenapa jadi kayak tante cabul---"
"Arhg, suruh siapa sih ganteng banget?!"