Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru dan kehidupan baru Hana dimulai
Deru mesin mobil mewah itu perlahan meredup saat berhenti tepat di depan pekarangan rumah Bude Minah. Cakra menggenggam kemudi dengan erat, jantungnya bertalu hebat. Setelah sekian lama mencari, akhirnya ia sampai di titik ini. Namun, ada yang ganjil. Rumah itu tampak sunyi, jendela-jendela tertutup rapat, dan tak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam.
Cakra turun dari mobil dengan langkah terburu, namun ia dihentikan oleh suara berat seorang pria paruh baya yang sedang melintas.
"Cari siapa, Den?" tanya pria itu, menatap Cakra dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik.
Cakra mengatur napasnya. "Maaf, Pak. Apakah betul ini rumahnya Hana?"
Pria itu mengangguk pelan. "Oh, Mbak Hana. Iya betul, Den. Tapi kalau boleh tahu, Aden ini siapanya Mbak Hana, ya? Maaf ya Den saya tanya begini, karena saya selaku RT di desa ini hanya tidak ingin terjadi fitnah terhadap Mbak Hana. Beliau itu punya citra yang sangat baik dan terhormat di kampung Bangorejo ini."
Mendengar pujian itu, sebuah senyum lebar terukir di wajah Cakra. Ada rasa bangga yang menyelinap di dadanya. "Perkenalkan Pak, nama saya Cakra. Saya adalah mantan suaminya Hana."
Mata Pak RT membelalak. Ia memandang mobil mewah di belakang Cakra, lalu kembali menatap wajah pria di depannya. "Waduh! Pantas saja wajahnya Den Cakra ini mirip sekali dengan El. Rupanya Aden ini Ayahnya El!"
Deg!
Dunia seolah berhenti berputar bagi Cakra. Jantungnya terasa mencelos. "Apa? El... adalah putraku?"
Pak RT tampak bingung melihat reaksi Cakra. "Loh, memangnya selama ini Den Cakra tidak tahu ya kalau Mbak Hana itu memiliki seorang anak laki-laki?"
Lutut Cakra terasa lemas. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia tidak hanya menemukan wanita yang dicintainya, tapi ia baru saja tahu bahwa ia memiliki seorang putra calon pewaris tunggal keluarga Ardiwinata yang selama ini ia ketahui bahwa Hana saat ia ceraikan sedang mengandung darah dagingnya.
Tanpa membuang waktu, Cakra segera memberi kode kepada beberapa bodyguard yang ia bawa. Dengan sigap, mereka langsung menyebar untuk mengamankan area rumah tersebut, memastikan tidak ada gangguan sekecil apa pun.
Cakra berlari kecil menuju pintu kayu rumah itu. Ia mengetuknya dengan keras, suaranya bergetar hebat antara bahagia dan ketakutan.
"Hana! Hana, ini aku!" teriaknya.
Tok! Tok! Tok!
Hening. Tidak ada jawaban. Cakra mencoba mengintip melalui celah jendela, namun semuanya gelap. Perasaan cemas yang luar biasa mulai menghimpit dadanya. Rumah itu terasa begitu kosong, seolah para penghuninya sudah lama pergi.
"Hana! El! Apakah kalian ada di dalam?" teriak Cakra lagi, suaranya mulai serak karena panik. "Hana, tolong buka pintunya! Ini aku, Cakra!"
Ia memutar gagang pintu berkali-kali, namun terkunci rapat. Keringat dingin mulai bercucuran. Di mana mereka? Apakah ia terlambat lagi?
Kepanikan Cakra memuncak hingga ke ubun-ubun. Bayangan buruk mulai menghantui pikirannya. "Dobrak pintunya!" perintah Cakra dengan suara menggelegar kepada para bodyguard-nya.
Brak!
Pintu kayu itu terbuka paksa. Cakra segera menghambur ke dalam, namun ia hanya disambut oleh keheningan yang menyesakkan. Rumah itu kosong. Tidak ada suara tawa anak kecil, tidak ada aroma masakan Hana. Yang tertinggal hanyalah lantai yang bersih dan beberapa furnitur yang tertutup kain putih.
"Hana! El!" Cakra menjambak rambutnya sendiri, frustasi. Ia terduduk di kursi kayu ruang tamu yang dingin. "Sial! Siapa... siapa yang memberi tahu dia?!" geramnya dengan mata memerah. "Bagaimana mungkin dia bisa tahu aku akan datang hari ini? Siapa yang berkhianat!"
Cakra merasa seperti sedang mengejar bayangan. Harapannya untuk memeluk putra yang baru saja ia ketahui keberadaannya, kini menguap menjadi debu.
.
.
Di sisi lain, di dalam sebuah mobil yang melaju membelah jalanan menuju kota, Hana tampak gelisah. Ia menatap ke luar jendela, membayangkan kemacetan dan hiruk-pikuk Jakarta.
"Apakah tidak terlalu berisiko kalau seandainya aku kembali tinggal di kota metropolitan itu lagi, Mas?" tanya Hana pelan, suaranya sarat akan keraguan.
Tama yang duduk di sampingnya hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan. "Justru mantan suamimu itu tidak akan pernah kepikiran kau tinggal di kota yang sama, Hana. Ia pasti akan mencarimu di kota lain atau pelosok desa, karena saat ini itulah yang ada di dalam pikirannya. Strategi terbaik adalah bersembunyi di depan matanya."
Mendengar penjelasan logis itu, napas Hana sedikit lebih teratur. Pak Sutoyo yang duduk di kursi depan ikut menoleh dan menenangkan putrinya.
"Kamu tidak usah khawatir, Putriku. Di rumahmu nanti akan dijaga dengan ketat. Kawasan kita adalah hunian para pejabat negeri ini, sistem keamanannya berlapis. Siapa pun tidak akan bisa menembusnya tanpa izin. Percayalah pada Papah."
Hana melemparkan senyum tipis, merasa sedikit lebih aman. Sementara itu, El-Barack yang duduk di antara mereka tampak antusias. Dalam hati kecilnya, ia merasa Jakarta adalah jembatan yang mungkin bisa membawanya bertemu dengan sosok "Ayah" yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.
.
.
Cakra pulang dengan membawa kekecewaan yang mendalam. Namun, rasa kecewa itu kini berganti menjadi obsesi yang membara. Fakta bahwa ia memiliki seorang putra, seorang Ardiwinata telah mengubah segalanya.
"Aku tidak akan menyerah, Hana. Bahkan sampai ke lubang semut sekali pun akan kucari!" tegas Cakra saat kembali ke kantornya, menatap pemandangan kota dari jendela lantai paling atas. "Kau harus kembali menjadi milikku. Tidak boleh siapa pun yang memilikimu kecuali aku!"
Kediaman Irjenpol Sutoyo Pradipta
Setibanya di kediaman mewah milik Pak Sutoyo, decak kagum tak henti-hentinya keluar dari bibir El. Matanya berbinar melihat kolam renang yang jernih dan taman yang luas.
"Kek, apakah ini rumahnya Kakek?" tanya El polos.
Pak Sutoyo berjongkok agar bisa sejajar dengan cucunya, menatap mata yang sangat mirip dengan pria yang tadi mendobrak pintu di Bangorejo. "Ini bukanlah rumah Kakek, El. Tapi ini rumahmu dan juga ibumu," jawabnya sambil mengusap lembut rambut El.
El langsung menghambur memeluk kakeknya dengan erat. "Terima kasih, Kek! Rasanya seperti mimpi saja kalau El memiliki rumah semewah ini!"
Tama yang menyaksikan momen itu merasa dadanya sedikit sesak. Ia membayangkan betapa menderitanya kehidupan Hana dan El selama ini hingga hal seperti ini terasa seperti mimpi bagi mereka. Ia kemudian mengantarkan Hana naik ke lantai dua.
"Ini kamarmu, Han. Papah sudah menyiapkan semua ini jauh-jauh hari," ucap Tama sambil membuka daun pintu besar menuju kamar utama.
Hana terpaku. Kemegahan kamar itu sempat mengingatkannya pada apartemen lamanya bersama Cakra, namun ia segera menepis ingatan pahit itu. Dengan penuh rasa haru, Hana berbalik dan memeluk Tama.
"Terima kasih, Mas Tama, atas semua bantuanmu. Semoga nanti kau akan selalu menjadi sosok kakak yang melindungi ku," bisik Hana tulus.
Tubuh Tama menegang. Seumur hidup, ia hampir tidak pernah bersentuhan dengan wanita sedekat ini selain mendiang ibunya. Ia adalah pria yang kaku dan sedingin es, namun pelukan Hana seolah menjadi api yang mencairkan segalanya.
Tama perlahan membalas pelukan itu, mengusap lembut punggung Hana. Ia memejamkan mata, menikmati kehangatan yang asing namun menenangkan. "Kalau ada masalah apa pun, ceritakan padaku. Aku akan selalu ada untukmu, Hana," jawabnya dengan suara rendah yang protektif.
Bersambung..