Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: STASIUN TUA
Kereta itu berjalan lambat. Gemeretak. Berderit. Seperti mau copot kapan saja. Tapi Aryo nggak peduli. Yang penting pergi. Jauh dari preman. Jauh dari utang. Jauh dari semua.
Dewi duduk di sampingnya. Risma di pangkuannya. Tidur. Lelah. Tangan mungilnya masih menggenggam jari Dewi. Erat. Seperti takut ditinggal lagi.
"Mas..."
Suara Dewi pelan. Hampir tak terdengar di deru kereta.
"Mas, kita mau ke mana?"
Aryo diam. Ia nggak tahu. Sungguh nggak tahu.
"Ke kota sebelah dulu, Ri. Cari tempat tinggal sementara."
"Tapi uang kita cuma 50 ribu. Naik kereta aja udah 20 ribu. Sisa 30 ribu."
Aryo pegang tangannya. Tangannya dingin. Gemetar.
"Nanti kita cari kerja. Apa aja."
Dewi nggak jawab. Ia cuma memandang ke luar jendela. Gelap. Nggak ada lampu. Nggak ada apa-apa.
Kereta berhenti di stasiun kecil. Stasiun tua. Catnya mengelupas. Bangku-bangku kayu kosong. Hanya ada satu pedagang mie ayam dengan gerobak dorong.
Aryo turun. Gendong Risma. Dewi di belakang. Mereka jalan keluar stasiun.
Di luar, gelap. Hanya ada warung kopi yang masih buka. Lampu tempel berkedip-kedip.
"Mas, kita nginep di mana?"
Aryo lihat sekeliling. Nggak ada penginapan. Cuma rumah-rumah penduduk.
"Nggak tahu, Ri."
Dari warung kopi, seorang bapak-bapak keluar. Rambut putih. Badan kurus. Tapi matanya ramah.
"Mas, cari penginapan?"
Aryo mengangguk. "Iya, Pak. Ada?"
Bapak itu menghela napas. "Di sini nggak ada penginapan, Mas. Tapi kalau mau, numpang di rumah saya. Gratis."
Aryo kaget. "Nggak... nggak usah, Pak. Repot."
Bapak itu tersenyum. "Nggak repot. Saya tinggal sendiri. Istri sudah meninggal. Anak merantau. Rumah sepi."
Aryo pandang Dewi. Dewi mengangguk.
"Makasih, Pak. Makasih banyak."
Rumah bapak itu sederhana. Dinding papan. Lantai semen. Tapi bersih. Ada dua kamar. Satu kamar tamu, satu kamar bapak itu.
"Silakan pakai kamar tamu. Istirahat."
Aryo masuk. Letakkan Risma di dipan. Risma masih tidur. Capek.
Dewi duduk di sampingnya. "Mas, kita nggak tahu apa-apa tentang bapak ini."
Aryo menghela napas. "Tapi dia baik, Ri."
"Kita nggak tahu."
Aryo pegang tangannya. "Kita nggak punya pilihan, Ri. Uang 30 ribu. Nggak cukup buat nginep di mana pun."
Dewi diam. Lalu mengangguk.
Bapak itu ketuk pintu. Bawa dua gelas teh hangat.
"Ini, Mas. Minum dulu. Capek pasti."
Aryo terima. "Makasih, Pak. Saya Aryo. Ini istri saya, Dewi. Anak saya Risma."
Bapak itu tersenyum. "Saya Karman. Panggil saja Mbah Kar."
Mbah Kar duduk di kursi bambu. "Mas Aryo, kalau boleh tahu, mau ke mana?"
Aryo diam sebentar. "Nggak tahu, Mbah. Pokoknya pergi."
Mbah Kar mengangguk. "Lari dari masalah?"
Aryo nggak jawab. Tapi matanya berkata iya.
Mbah Kar menghela napas. "Saya juga pernah lari, Mas. 20 tahun lalu. Lari dari utang. Tinggalkan keluarga. Tapi utang nggak bisa lari. Keluarga nggak bisa lari. Yang bisa lari cuma diri sendiri."
Aryo diam. Kata-kata Mbah Kar mengena.
Malam itu, Aryo nggak bisa tidur. Ia duduk di teras. Memandangi langit. Bintang-bintang berkerlip. Indah. Tapi hatinya nggak indah.
Mbah Kar keluar. Duduk di sampingnya.
"Nggak bisa tidur, Mas?"
Aryo geleng. "Mikir, Mbah."
"Mas, saya lihat dari tadi. Istri Mas setia. Anak Mas butuh perhatian. Jangan sia-siakan mereka."
Aryo menunduk. "Saya nggak akan, Mbah."
"Lari itu bukan solusi, Mas. Saya sudah buktikan. 20 tahun lalu saya lari. Tinggalkan istri dan anak. Pas saya balik, istri sudah meninggal. Anak nggak kenal saya. Saya sendiri sampai sekarang."
Mata Mbah Kar berkaca.
Aryo pegang pundaknya. "Maaf, Mbah. Saya nggak tahu."
"Nggak apa-apa, Mas. Saya cerita biar Mas nggak salah langkah."
Mereka berdua diam. Menatap bintang.
Pagi harinya, Aryo bangun. Risma sudah bangun. Dewi gendong.
"Mbah Kar, saya mau cari kerja. Apa ada lowongan?"
Mbah Kar mikir. "Di pasar butuh kuli angkut, Mas. Tapi gaji kecil."
"Nggak apa-apa, Mbah. Yang penting halal."
"Bapak juga bisa jaga malam di warung saya. Gajinya 20 ribu semalam."
Aryo senang. "Makasih, Mbah."
Ia pamit ke pasar. Dewi tinggal di rumah Mbah Kar jagain Risma.
Di pasar, Aryo dapat kerja angkat karung. 30 ribu sehari. Capek. Tapi ia syukuri.
Pulang, badan pegal. Tangan lecet. Tapi lihat Risma minum susu, ia senang.
"Gimana, Mas?" tanya Dewi.
"Dapat 30, Ri. Lumayan."
Mbah Kar lihat dari dapur. "Mas, itu baru hari pertama. Besok pasti lebih baik."
Malamnya, Aryo jaga warung Mbah Kar. Dari jam 8 sampai jam 2 pagi. Sepi. Cuma beberapa pembeli mampir.
Jam 12, seorang pemuda masuk. Wajah kusut. Pakaian lusuh.
"Mas, beli kopi."
Aryo buatkan kopi. Pemuda itu minum. Diam.
"Mas, saya numpang nanya. Di sini ada lowongan kerja?"
Aryo ingat dirinya sendiri. "Nggak tahu, Mas. Saya juga baru."
Pemuda itu menghela napas. "Saya sudah 3 hari cari kerja. Nggak dapat-dapat. Istri saya hamil. Butuh uang."
Aryo diam. Lalu berkata, "Mas, besok coba ke pasar. Minta sama mandor. Saya juga kerja di sana."
Pemuda itu tersenyum. "Makasih, Mas."
Ia bayar kopi. Pergi.
Aryo pandangi pemuda itu. Ingat dirinya. Ingat perjuangan.
Hari kedua. Aryo ke pasar lagi. Dapat 30 ribu. Pulang, Risma rewel. Panas.
Dewi panik. "Mas, Risma panas."
Aryo pegang kening Risma. Panas. 38 derajat.
"Kompres, Ri. Cepet."
Dewi kompres. Tapi panas nggak turun.
"Ayo ke puskesmas."
Mereka bawa Risma ke puskesmas. Jalan kaki. 2 kilometer.
Di puskesmas, dokter periksa. "Infeksi ringan. Ini obatnya. 50 ribu."
Aryo kaget. 50 ribu? Uangnya cuma 60 ribu.
Ia bayar 50 ribu. Sisa 10 ribu.
Pulang, mereka jalan kaki lagi. Risma di gendongan. Lelah. Tapi nggak ada pilihan.
Mbah Kar lihat mereka datang. "Gimana, Mas?"
"Panas, Mbah. Udah dikasih obat."
Mbah Kar ambil uang 100 ribu. "Ini, Mas. Buat tambah."
Aryo geleng. "Nggak, Mbah. Udah numpang, nggak usah ngasih uang."
"Ambil, Mas. Saya ikhlas."
Aryo terima. Matanya basah. "Makasih, Mbah."
Hari ketiga. Risma sembuh. Aryo bisa kerja lagi.
Di pasar, ia ketemu pemuda semalam. Pemuda itu senyum.
"Mas, makasih. Saya diterima kerja di pasar."
Aryo senang. "Alhamdulillah, Mas."
Mereka kerja bareng. Angkat karung. Capek. Tapi ada teman.
Pulang, Aryo cerita ke Dewi. "Ri, ada teman baru. Dia juga berjuang."
Dewi tersenyum. "Bagus, Mas. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing."
Malam, Aryo jaga warung. Mbah Kar duduk di sampingnya.
"Mas, saya lihat Mas orang baik. Niat saya, Mas tinggal di sini aja. Bantu jaga warung. Saya kasih tempat tinggal."
Aryo kaget. "Mbah... nggak... nggak usah..."
"Saya serius, Mas. Rumah ini terlalu sepi buat saya. Kalau ada Mas sekeluarga, saya senang."
Aryo nggak bisa berkata apa-apa. Ia cuma bisa pegang tangan Mbah Kar.
"Makasih, Mbah. Makasih banyak."
Minggu pertama. Minggu kedua. Minggu ketiga.
Aryo kerja di pasar. Jaga warung malam. Uang mulai terkumpul. 300 ribu. 500 ribu. 800 ribu.
Dewi jualan gorengan di depan rumah Mbah Kar. Lumayan.
Risma tumbuh. Sedikit gemuk. Wajahnya mulai berisi.
Mbah Kar sayang Risma. Setiap pagi, ia gendong Risma. Jalan-jalan di halaman.
"Risma, kamu cantik, ya. Kayak ibumu."
Risma diam. Tapi matanya mengikuti Mbah Kar.
Aryo lihat itu. Hatinya hangat.
"Mbah, makasih udah sayang Risma."
Mbah Kar tersenyum. "Dia cucu saya sekarang."
Aryo nangis. Nangis haru.
Hari ke-30. Aryo hitung uang. Tabungan 1,5 juta.
Ia ingat utang bank 7 juta. Tapi itu sudah lama. Mungkin mereka lupa? Atau mungkin mereka cari?
Ia ingat preman. Ancaman mereka.
Tapi di sini, mereka aman. Jauh. Tenang.
Malam itu, mereka makan bersama. Mbah Kar, Aryo, Dewi, Risma. Sederhana. Nasi, sayur asem, tempe goreng.
Tapi hangat. Penuh tawa.
"Mas, kita bahagia di sini ya?" tanya Dewi.
Aryo mengangguk. "Iya, Ri. Sementara ini."
Tapi dalam hati, ia tahu. Bahagia ini sementara. Utang masih ada. Preman mungkin masih cari.
Tapi untuk sekarang, ia nikmati.
Risma di pangkuan Dewi. Tidur. Nyenyak. Tanpa beban.
Aryo pandangi anaknya. "Nak, Bapak janji. Bapak akan jagain kamu. Di sini. Se aman mungkin."
Dari luar, suara jangkrik. Malam tenang.
Tapi di kejauhan, lampu mobil melintas. Aryo nggak tahu, itu mobil preman atau bukan.
Yang ia tahu, ia harus waspada. Selalu.
[BERSAMBUNG]
-