desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22: Pengkhianatan yang Tak Terduga
Kepercayaan itu seperti kertas. Sekali diremas, sulit kembali mulus. Sekali disobek, bekasnya akan selalu terlihat.
Aira tak pernah menyangka bahwa orang yang paling ia percaya—setelah Raka dan Arka—akan mengkhianatinya. Ibu Rosmini, wanita tua yang selama ini ia rawat, ia sayangi, ia bantu, ternyata menyembunyikan sesuatu.
Semuanya berawal dari sebuah pesan yang tak sengaja Aira lihat.
Hari itu, Aira sedang di dapur, mengambil air minum. Ibu Rosmini sedang duduk di ruang tamu, asyik dengan ponselnya. Aira hendak memanggilnya untuk makan siang, tapi tiba-tiba ia melihat ekspresi ibu Rosmini berubah. Wanita itu tampak tegang, gelisah.
Aira mengurungkan niatnya. Ia mengintip dari balik pintu.
Ibu Rosmini mengetik sesuatu di ponsel. Lalu tiba-tiba ia menangis. Menangis pelan, tertahan. Ia memandangi sesuatu di ponselnya—mungkin foto—lalu menciumnya.
Aira bingung. Ada apa?
Malam harinya, saat ibu Rosmini mandi, ponselnya bergetar di meja ruang tamu. Aira melihatnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tak tersimpan.
"Bu, jangan lupa target kita. Dokumen perusahaan Raka. Kita butuh untuk menghancurkan dia. Ingat, ini demi Wulan."
Aira terpaku. Membaca pesan itu berulang kali. Jantungnya berdetak kencang.
Dokumen perusahaan? Menghancurkan Raka? Demi Wulan?
Apa maksudnya?
Ia cepat-cepat memfoto pesan itu dengan ponselnya, lalu meletakkan kembali ponsel ibu Rosmini di tempat semula. Ia pura-pura tidak tahu apa-apa.
Tapi pikirannya kacau.
---
Malam itu, setelah ibu Rosmini tidur, Aira bercerita pada Raka. Ia menunjukkan foto pesan itu.
Raka membaca. Wajahnya berubah. Dari bingung menjadi marah, lalu menjadi sedih.
"Aira, kau yakin ini dari ponsel ibuku?"
Aira mengangguk. "Aku lihat sendiri. Dia juga tadi siang tampak aneh. Menangis sendiri."
Raka menghela nafas panjang. Tangannya mengepal.
"Aku sudah mulai percaya dia. Aku sudah mulai sayang. Tapi ini... ini..."
"Raka, kita harus selidiki dulu. Jangan langsung menuduh. Bisa jadi ada yang salah. Mungkin nomor itu palsu, atau dia sedang dalam tekanan seseorang."
Raka menatap Aira. "Kau masih bisa berpikir jernih dalam situasi begini?"
Aira mengusap perutnya yang besar. "Aku harus. Demi anak kita, demi Arka, demi keluarga kita."
Raka menghela nafas. "Baik. Kita selidiki."
---
Keesokan harinya, Raka pura-pura sakit. Ia tak masuk kantor, tapi diam-diam mengamati ibunya. Ibu Rosmini tampak biasa saja. Ia masak, bersih-bersih, main dengan Arka. Tak ada yang aneh.
Tapi siang harinya, saat Arka tidur siang dan Aira istirahat di kamar, ibu Rosmini pergi ke balkon. Ia menelpon seseorang.
Raka mengintip dari balik tirai.
"Iya, ini Ibu," bisik ibu Rosmini. "Ibu sudah coba, tapi susah. Raka jarang tinggalkan dokumen penting di rumah. Semua di kantor. Ibu nggak bisa masuk ke kantor."
Dia diam, mendengar lawan bicara.
"Iya, Ibu tahu. Tapi ini berat. Raka anak Ibu. Aira baik sama Ibu. Ibu... Ibu nggak tega."
Diam lagi.
"Tapi Wulan... iya, Ibu ingat. Ibu akan usahakan. Tapi kasih Ibu waktu."
Telepon ditutup. Ibu Rosmini menangis di balkon.
Raka mundur pelan. Hatinya hancur. Ibunya benar-benar punya rencana jahat. Dan ada orang di belakangnya yang menggunakan nama Wulan untuk memanipulasi.
---
Raka melapor pada Aira. Mereka berdiskusi panjang.
"Kita harus tahu siapa di belakangnya," kata Aira. "Dan apa hubungannya dengan Wulan."
"Bagaimana caranya?"
Aira berpikir. Lalu dapat ide.
"Kita pasang perekam di ruang tamu. Dan kita tunggu dia telepon lagi. Kita rekam semua."
Raka mengangguk. "Tapi kita harus hati-hati. Jangan sampai dia tahu."
Mereka memasang perekam kecil di bawah meja ruang tamu. Kecil, tak terlihat. Ponsel Aira terhubung langsung, bisa merekam dari jarak jauh.
---
Dua hari kemudian, perekam menangkap percakapan penting.
Ibu Rosmini menelpon seseorang. Kali ini suaranya lebih jelas.
"Halo, Andre? Ini Ibu."
Andre?
Aira dan Raka saling pandang. Andre? Andre yang di penjara?
"Iya, Ibu sudah cari dokumen. Tapi susah. Raka simpan semua di kantor. Ibu nggak bisa masuk."
Diam.
"Iya, Ibu tahu kau di penjara. Tapi kenapa kau masih bisa telepon?"
Diam.
"Ooo, pakai orang dalam. Ibu ngerti. Tapi Andre, Ibu nggak tega. Raka anak Ibu. Aira baik sama Ibu. Ibu nggak bisa—"
Tiba-tiba suara Andre meninggi. Marah. Meski tak terdengar jelas, intinya mengancam.
"Ibu ingat Wulan? Ibu mau fotonya disebar? Atau Ibu mau kuburan Wulan digali? Ibu lakukan atau tidak?"
Ibu Rosmini terisak. "Jangan, Andre! Jangan ganggu Wulan! Dia sudah meninggal!"
"Makanya lakukan! Ambil dokumen itu! Atau kau akan lihat apa yang terjadi."
Telepon ditutup. Ibu Rosmini menangis histeris.
Aira mematikan rekaman. Matanya berkaca-kaca.
"Raka, ibumu dipaksa. Andre mengancamnya dengan Wulan."
Raka mengepalkan tangan. "Andre... dia masih bisa berbuat jahat dari dalam penjara."
"Apa yang dia maksud dengan foto Wulan dan kuburan Wulan?"
Raka menghela nafas. "Wulan dimakamkan di kampung. Andre pasti tahu dari Lita. Mungkin dia kirim orang ke sana. Atau mungkin dia punya foto Wulan yang dipakai untuk ancam ibu."
"Ini berat. Ibumu dalam tekanan. Kita harus bantu dia."
Raka mengangguk. "Tapi bagaimana? Kalau kita langsung konfrontasi, dia bisa panik. Atau Andre bisa lakukan sesuatu."
Aira berpikir. Lalu berkata, "Kita hadapi dia dengan lembut. Tunjukkan bahwa kita tahu, tapi kita tak marah. Kita dukung dia. Lalu kita buat rencana untuk tangkap Andre."
"Tangkap Andre?"
"Iya. Kita laporkan ke polisi. Bahwa Andre masih bisa atur kejahatan dari penjara. Itu pelanggaran berat. Bisa tambah hukumannya."
Raka mengangguk. "Kau benar. Tapi kita harus pastikan ibu mau kerja sama."
"Biarkan aku bicara dengannya."
---
Sore itu, Aira memanggil ibu Rosmini ke kamarnya. Dengan lembut, ia menunjukkan rekaman itu.
Ibu Rosmini terpaku. Wajahnya pucat pasi.
"Bu, kami tahu. Kami tahu Ibu dipaksa Andre. Kami tidak marah."
Ibu Rosmini menangis. "Neng... Raka... maafkan Ibu. Ibu... Ibu terpaksa. Andre ancam mau gali kuburan Wulan. Mau sebarkan foto Wulan. Ibu... Ibu nggak tega."
Aira memeluknya. "Kami tahu, Bu. Kami di sini untuk bantu Ibu."
Raka ikut memeluk. "Ibu, kami sayang Ibu. Dan kami akan lindungi Ibu dari Andre."
Ibu Rosmini terisak. "Tapi Andre... dia jahat. Dia bisa apa saja."
"Kita akan lapor polisi. Dengan rekaman ini, dia bisa dihukum lebih berat. Dan kita bisa lindungi makam Wulan."
Ibu Rosmini mengangguk lemah. "Ibu... Ibu ikut saja. Ibu percaya sama kalian."
---
Malam itu, mereka pergi ke polisi. Melaporkan Andre. Rekaman jadi bukti. Polisi bergerak cepat. Andre dipindahkan ke sel isolasi, komunikasinya diputus. Orang dalam yang membantunya di penjara ditangkap.
Makam Wulan dijaga. Foto-fotonya diamankan.
Ibu Rosmini akhirnya bisa bernafas lega.
Di rumah, ia memeluk Aira dan Raka.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu hampir hancurin kalian."
Raka menggeleng. "Ibu korban. Bukan pelaku. Sekarang semuanya sudah selesai."
Aira mengusap air mata ibu Rosmini. "Bu, Ibu bagian dari keluarga ini. Selamanya."
Mereka berpelukan. Tiga generasi, bersatu melawan kejahatan.
---
Di penjara, Andre duduk di sel isolasi. Gelap. Sunyi. Ia hanya bisa memaki.
"Lita... kau yang buat aku begini," gerutunya.
Tapi Lita sudah jauh. Di kampung, bersama ibunya. Hidup tenang.
Mungkin ini karma. Atau mungkin ini keadilan.
Yang jelas, keluarga kecil itu selamat lagi. Dari badai yang hampir menghancurkan.
---