desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30: Godaan di Tempat Kerja
Kebahagiaan itu seperti taman. Perlu dirawat setiap hari. Tapi kadang, tanpa diundang, datang hama yang mencoba merusaknya.
Tiga bulan sudah sejak pernikahan Lita dan Pras. Semua berjalan tenang. Aira sibuk dengan butik yang semakin besar. Raka sibuk dengan perusahaannya yang terus berkembang. Arka dan Pelangi tumbuh dengan sehat dan ceria.
Tapi di tempat kerja Raka, ada yang mulai berubah.
Namanya Vanya. Wanita cantik, 32 tahun, lulusan luar negeri, dan baru bergabung sebagai direktur pemasaran. Ia datang dengan reputasi gemilang: pernah bekerja di perusahaan multinasional, punya koneksi luas, dan dikenal sebagai pekerja keras.
Raka awalnya senang. Vanya membawa banyak ide segar. Proyek-proyek yang mandek jadi bergerak. Target penjualan meningkat. Raka sering memujinya di depan tim.
"Vanya, kerja bagus. Terima kasih."
Vanya tersenyum. Senyum yang manis, tapi ada sesuatu di baliknya.
"Terima kasih, Pak Raka. Saya hanya melakukan yang terbaik untuk perusahaan."
"Aku hargai itu. Lanjutkan."
Pertemuan demi pertemuan, Vanya selalu ada. Rapat pagi, rapat siang, rapat malam. Raka mulai sering lembur. Awalnya Aira maklum. Tapi ketika Raka pulang larut hampir setiap hari, ia mulai bertanya.
"Raka, kok akhir-akhir ini pulang terus larut?"
Raka menghela nafas. "Ada proyek besar, Sayang. Vanya dan tim harus deliver cepat. Aku harus supervisi."
Vanya. Nama itu mulai sering disebut.
"Vanya yang baru itu?"
"Iya. Dia pintar. Banyak membantu."
Aira mengangguk. "Hati-hati, jangan terlalu capek."
Raka mencium keningnya. "Iya, Sayang. Aku tahu."
Suatu malam, Aira tak sengaja melihat ponsel Raka yang tertinggal di meja. Sebuah pesan masuk dari Vanya.
"Pak Raka, terima kasih untuk malam ini. Saya senang bisa bekerja sama dengan Bapak. Besok kita lanjutkan ya? Oh ya, kopi favorit Bapak sudah saya siapkan. V."
Aira membaca pesan itu. Ada yang aneh. "Terima kasih untuk malam ini"? Kedengarannya... terlalu akrab.
Ia meletakkan ponsel itu. Mencoba tak berpikir macam-macam. Tapi hati kecilnya mulai gelisah.
Keesokan harinya, Aira memutuskan untuk datang ke kantor Raka. Ia ingin lihat sendiri. Bukan karena cemburu buta, tapi karena firasat.
Ia sampai di lobby. Receptionist mengenalnya.
"Selamat siang, Bu Aira. Ada perlu dengan Pak Raka?"
"Iya. Bisa tolong kabari? Saya bawakan makan siang."
"Silakan, Bu. Pak Raka di ruang rapat lantai 20."
Aira naik lift. Jantungnya berdetak agak kencang. Ia tak tahu kenapa.
Pintu lift terbuka. Ia berjalan menuju ruang rapat. Dari balik pintu kaca, ia melihat Raka duduk di kursi kepala. Di sampingnya, Vanya duduk sangat dekat. Terlalu dekat. Ia menunjuk sesuatu di laptop, tapi posisinya seperti menyender.
Aira membuka pintu.
Semua menoleh. Raka terkejut.
"Aira? Ada apa?"
Aira tersenyum, berusaha tenang. "Aku bawain makan siang. Tapi sepertinya kalian sedang sibuk."
Vanya berdiri. Tersenyum manis. "Oh, ini pasti Bu Aira. Saya Vanya. Senang bertemu."
Aira menjabat tangannya. Jabat tangan Vanya lembut, tapi terlalu lama. Seperti mengukur.
"Senang bertemu, Vanya. Raka sering cerita tentangmu."
Vanya tertawa kecil. "Semoga cerita baik ya. Kami memang sering bersama. Pak Raka ini bos yang luar biasa."
Ada nada pujian, tapi terdengar seperti... rayuan.
Aira mengalihkan pandangan. "Raka, makan dulu? Aku bawa soto favoritmu."
Raka menghela nafas. "Sebentar, Sayang. Kami masih diskusi. Nanti aku temui di kantor."
Aira mengangguk. "Baik. Aku tunggu."
Ia pergi. Tapi di hatinya, ada gumpalan yang tak nyaman.
Di kantor Raka, Aira duduk menunggu. Satu jam. Dua jam. Raka tak kunjung datang. Ia melihat dari jendela, ruang rapat masih ramai. Vanya masih di sana, tertawa, menyentuh lengan Raka saat bicara.
Aira memilih pulang. Ia sms Raka:
"Aku pulang dulu. Arka dan Pelangi nunggu."
Raka membalas:
"Maaf, Sayang. Rapat molor. Nanti aku pulang cepat."
Aira tak membalas. Di taksi, ia menangis. Bukan karena curiga, tapi karena ia merasa mulai kehilangan. Kehilangan perhatian, kehilangan waktu bersama.
Malam harinya, Raka pulang jam 10. Arka sudah tidur. Pelangi juga. Aira duduk di ruang tamu, sendirian.
"Maaf, Sayang. Rapatnya panjang."
Aira diam. Raka mendekat.
"Aira, kenapa? Kok diam?"
Aira menatapnya. "Raka, siapa Vanya?"
Raka mengernyit. "Vanya? Direktur pemasaran. Sudah aku cerita."
"Apa dia selalu sedekat itu denganmu?"
Raka mulai paham. "Aira, jangan cemburu. Itu urusan kerja."
"Aku tak cemburu. Tapi aku lihat dia duduk terlalu dekat. Tertawa terlalu akrab. Menyentuh lenganmu."
Raka menghela nafas. "Aira, itu profesional. Di luar negeri biasa."
"Aku tak peduli luar negeri. Ini aku, istrimu. Yang merasa mulai kehilanganmu."
Raka diam. Lalu duduk di sampingnya.
"Aira, aku sayang kamu. Hanya kamu. Vanya cuma kolega. Nggak lebih."
"Tapi dia ada lebih banyak waktu denganmu daripada aku. Setiap hari. Setiap malam."
Raka meraih tangannya. "Maaf. Aku akan atur waktu lebih baik. Janji."
Aira menatapnya. "Raka, aku percaya padamu. Tapi aku tak percaya padanya. Wanita tahu wanita."
Raka tersenyum. "Aku akan jaga jarak. Demi kamu. Demi kita."
Mereka berpelukan. Tapi di hati Aira, kegelisahan masih tersisa.
Keesokan harinya, Raka bicara dengan Vanya.
"Vanya, mulai sekarang kita harus jaga jarak. Mungkin posisi duduk, obrolan, hal-hal kecil. Istriku kurang nyaman."
Vanya tersenyum. Tapi senyumnya berbeda.
"Pak Raka, saya hanya profesional. Kalau istri Bapak cemburu, itu urusan beliau. Saya hanya kerja."
Raka menghela nafas. "Aku minta pengertianmu."
Vanya mengangguk. "Baik, Pak. Saya hormati."
Tapi setelah Raka pergi, Vanya tersenyum sinis.
"Cemburu, ya? Bagus. Berarti aku sudah di jalur yang benar."
Minggu-minggu berikutnya, Vanya memang menjaga jarak. Tapi ia lebih pintar. Ia tak perlu duduk dekat. Ia cukup tersenyum manis saat rapat. Memuji Raka di depan orang banyak. Mengirim pesan-pesan yang tampaknya profesional, tapi jika dibaca lebih dalam, ada nada berbeda.
"Pak Raka, presentasi Bapak tadi luar biasa. Saya kagum."
"Pak, terima kasih sudah bimbing saya. Saya belajar banyak dari Bapak."
"Pak, saya ada ide bagus. Bisa diskusi malam ini? Saya traktir makan."
Raka kadang membaca, kadang tak membalas. Tapi Vanya tak pernah menyerah.
Suatu malam, saat Raka lembur, Vanya datang ke ruangannya. Membawa kopi.
"Pak, kopi favorit Bapak. Saya buatkan."
Raka mengucap terima kasih. Vanya duduk di kursi tamu.
"Pak, boleh saya tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Bapak bahagia dengan pernikahan Bapak?"
Raka mengernyit. "Kenapa tanya?"
"Saya hanya penasaran. Bapak pria hebat, sukses, tampan. Tapi istri Bapak... maaf, dia hanya desainer biasa. Apa tidak ada rasa... bosan?"
Raka diam. Lalu berkata tegas, "Vanya, jaga bicaramu. Istriku wanita luar biasa. Aku tak mau dengar kata-kata seperti itu lagi."
Vanya tersenyum. "Maaf, Pak. Saya hanya peduli. Tapi baik, saya mengerti."
Ia pergi. Tapi di matanya, ada api. Api penasaran.
Aira mulai merasa ada yang aneh. Raka pulang lebih awal, lebih perhatian. Tapi ada jarak yang tak terlihat. Seperti ia menyembunyikan sesuatu.
Suatu malam, saat Raka mandi, ponselnya bergetar. Aira melihat. Pesan dari Vanya.
"Pak, terima kasih untuk malam ini. Saya tak akan lupa kebaikan Bapak. Sampai jumpa besok. V."
Aira membaca. Lagi-lagi "terima kasih untuk malam ini". Apa maksudnya?
Ia tak bertanya pada Raka. Tapi di hatinya, kegelisahan itu tumbuh jadi bayangan. Bayangan yang bisa jadi nyata, bisa jadi hanya ilusi.
Tapi satu hal pasti: badai baru sedang datang. Dan kali ini, bukan dari Lita atau masa lalu. Tapi dari tempat yang tak terduga: tempat kerja suaminya sendiri.
ayooo sebelum dia tmbah nyaman dgn ulat bulu itu