Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. obrolan santai sebelum nerima Rapor
"Aku yang nyetir." Ucap Zayyan ia meminta sopir yang disewa oleh Aira untuk keluar dari mobil, lalu ia membayar upah sewanya.
Awal dia tidak mau menerimanya bayarannya karena dia belum menjalani tugasnya, tetapi karena bujukan Zayyan akhirnya sopir tersebut menerima gajinya tanpa bekerja seharian.
Akhirnya mereka pergi liburan bersama dengan dua mobil, baru Inara paham maksud bunda tadi pagi, ternyata mereka sudah merencanakannya dari awal tanpa memberitahu dirinya.
Mereka mengatur kembali tempat duduk mereka, yang awalnya satu mobil khusus untuk para gadis dan mobil satu lagi khusus para cowok-cowok, tetapi karena Gilang ingin Hasna satu mobil dengannya, dia tidak ingin berpisah.
Terpaksa mereka mengatur tempat duduk kembali, Zayyan menyetir mobil pertama yang ikut bersamanya adalah Aira, Inara dan Kenzo.
awalnya Varel ingin semobil dengan uninya tapi ia kalah cepat dengan Kenzo, dengan cemberut ia pindah ke mobil satu lagi, yang di bawa oleh Gilang, jadi dia semobil dengan teman uni-nya.
¤¤¤¤
Tidak terasa satu minggu sudah berlalu, tiba lah saatnya pengambilan rapor semester satu untuk melihat hasil belajar siswa-siswi SMA Swasta Padang selama 6 bulan ini.
Untuk pengambilan Rapor pihak sekolah mengundang orang tua masing-masing murid, tujuan para guru menyampai langsung kepada wali murid hasil belajar dan sikap prilaku anak-anak selama ini.
Inara sudah sampai disekolahnya, ia tidak datang bersama Bundanya karena dalam undangan pengambilan Rapor hanya jam 09.30, jadi bundanya nanti menyusulnya sekolah.
Inara dan kawan-kawan sedang berkumpul di kantin, karena mereka tidak belajar saat ini, hanya menunggu waktu pengambilan Rapor aja.
"Menurut kalian siapa yang mendapat nilai tertinggi di sekolah ini?." Tanya Aira kepada teman-temannya.
"Bisa di tebak aja, mungkin antara Kenzo dan Jefri ketua klub olahraga." Ucap Naura karena mereka berdua saling kejar mengejar dalam bidang akademik.
"Tidak juga sekarang sudah ada pendatang baru, yang akan mencetak rekor baru, mereka berdua sebentar lagi akan lulus jadi harus ada yang mencetak rekor baru kan?." Ucap Hasna juga ikutan.
"Siapa? Sejak kita sekolah belum ada yang bisa melawan mereka." Ucap Aira dan Naura penasaran mereka mendekati Hasna.
"Siapa lagi!, tuh yang disamping kita pendatang baru yang akan mencetak rekor baru?." Ucap Hasna lagi sambil menyenggol Inara dengan bahunya.
"Kalian begitu percaya padaku, tapi kalian lupa sesuatu selain aku masih ada satu orang lagi.? Ucap Inara sambil mengingat seseorang yang selalu bersaing dengannya untuk mendapatkan juara pertama.
"Siapa?" Tanya Hasna sedangkan Aira dan Naura saling pandan mereka sama-sama menebak siapa orangnya.
Karena mereka dimasa lalu satu kelas saat kelas X maupun saat masa SMP mereka satu kelas.
"Jangan bilang, pikiran kami sama dengan yang kamu pikirkan, Nar?" Ucap Aira sambil bertanya kepada Inara.
"Iya, Junaidi anak XI IPA2 dia selalu ingin mengalahkanku, waktu olimpiade pun dia juga terpilih dan bersaing dengan ku memperebutkan tingkat Nasional, tapi sayangnya dia tidak masuk olimpiade nasional karena skor nilai kurang dariku!." Ucap Inara lagi.
"Aku tahu siapa dia!" Ucap Hasna sambil menepuk tangannya. " dia yang kutu buku itu kan, selalu membawa buku kemanapun dia pergi, aku sering bertemu dengannya diperpus." Ucap Hasna lagi.
"Tepat, karena gak ada yang kutu buku selain dia disekolah kita ini, meski ada tetapi gak seperti dia yang berlebihan." Ucap Naura membetulkan tebakan Hasna.
"Ku lihat dia masih dibawah Inara, buktinya dia tidak terpulih olimpiade Nasional." Ucap Hasna lagi sambil berpikir.
"Sudahlah, untuk apa kalian memusingkan itu, segera makan bakso kalian dah pada dingin." Ucap Inara lagi, lalu ia menghabiskan bakso yang telah mereka pesan.
Akhirnya mereka makan, tapi mulut mereka tidak berhenti mengobrol, ada-ada aja yang mereka bicarakan.
"Nar!, kemana bambang Kenzo mu, mengapa gak lihat batang hidungnya." Ucap Aira sambil melihat seluruh isi kantin ia tidak melihat Kenzo yang biasanya selalu menempel pada Inara.
"Dia banyak kerjaan sebagai ketua osis." Ucap Inara santai lalu ia lanjut makan bakso yang tersisa.
"Ya, Gilang juga sibuk katanya mempersiapkan ruangan untuk temu wali murid nanti." Ucap Hasna juga menambahkan.
"Oh ya Has, bentar lagi Gilang lulus tu, apa kamu tahu dia lanjut kuliah dimana?." Tanya Naura kepada Hasna.
"Katanya sich ingin ikut Kenzo, tapi aku tidak tahu di kota mana." Ucap Hasna sambil mengingat perkataannya Gilang.
"Kalau Bang Ken dia kuliah tempat kak Alya." Ucap Inara lagi, " kamu yakin dia ikut Bang Ken itu Jakarta lo." Kata Inara lagi.
"Aku kurang jelas soal itu, kita tunggu saja saat mereka lulus." Ucap Hasna lagi.
"Kalau ikut ke Jakarta berarti kalian pacaran jarak jauh dong." Ucap Aira lagi. " ku dengar pacaran jarak jauh jarang bertahan lama." Tambahnya lagi.
"Jangan dengarkan dia!, asalkan saling percaya, jujur satu sama lain, jika ada masalah bicarakan solusinya." Ucap Inara kepada Hasna.
"Jika tidak bisa bertahan ya lepaskan! Tapi jika dia bisa seperti yang dikatakan Inara barusan aku pertahanan, asalkan dia jujur." Ucap Hasna lagi dengan santai.
"Bagus jadi wanita tidak boleh lemah!!." Ucap Naura sambil menepuk bahu Hasna.
Tidak lama setelah utu mereka selesai makan, lalu mereka kembali kekelas untuk menunggu orang tua mereka.
"Nar! Siapa yang datang mengambil Rapormu." Tanya Naura kepada Inara, biasanya ayah Inara yang datang kesekolah.
"Bundaku yang datang!, ayah dia juga mengambil Rapor Varel kebetulan ayah juga mengajar disana." Ucap Inara lagi.
"Kita nunggu di gerbang aja yuk! Takutnya kalau disini mamaku susah mencariku." Ucap Aira lagi sambil mengajak teman-temannya keluar menunggu orang tua mereka digerbang.
"Oke, aku setuju bunda juga belum tahu kelasku dimana." Ucap Inara yang lainnya juga setuju, tak nunggu lama mereka langsung berjalan keluar sambil mengobrol ria.
Bunda Dewi yang datang pertama kali, sedangkan orang tua temannya belum pada datang.
"Bunda, kita tunggu orang tua Naura, Aira dan Hasna dulu ya, bun!." Tanya Inara sambil membawa bundanya ketempat duduk dibawah pohon yang sejuk.
"Baiklah, kalua masuk bersama-sama juga bagus, dari pada sendiri-sendiri." Ucap Bunda Dewi lebih baik dia menunggu orang tua dari temannya Inara, lagian dia juga sudah saling kenal, juga sama akrabnya seperti anak-anak mereka.
Setelah itu baru datang mama Aira dia langsung menyapa bunda Dewi dengan akrabnya, lalu ibu Naura juga datang bersamaan dengan ibu Hasna.
Setelah itu baru mereka masuk kedalam sekolah bersama-sama, Inara dan kawan-kawan membawa mereka keruangan pertemuan.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?